Font Size
15px

"Ran, ayo kita makan."

Viona dan Hannah mulai makai pakaian reka.

"Ayo kita makan seafood!" Kata Hannah dengan semangat.

"Bukannya kamu benci ikan?" Kata Randika dengan nada sinis.

"Aku cuma benci ikan ntah." Kata Hannah sambil tersenyum.

reka bertiga kemudian pergi nuju restoran seafood.

Pada saat yang sama, di hotel yang diinapi Randika, ndadak didatangi oleh banyak orang.

"Minggir, minggir! Halangi jalan saja."

Para pria berbadan besar ini nendang siapapun yang berani nghalangi jalan reka, reka benar-benar kasar.

Para staf hotel mulai ketakutan, si resepsionis nghampiri reka. "Pak, apakah ada yang bisa di."

Namun, sebelum dia selesai berbicara, dia telah ditendang oleh satu orang.

"Diam! Pergi dan jangan ganggu kita." Kata salah satu pria berbadan besar sambil ndengus dingin. Wajahnya benar-benar terlihat bengis.

Wajah resepsionis itu njadi pucat pasi, para staf yang lain juga ikut takut. Pada saat yang sama, ada seorang pria paruh baya yang berjalan keluar dari barisan orang berbadan besar itu.

lihat wajah tenang dan percaya diri pria tersebut, orang-orang yang akrab dengan dunia kasino langsung berubah njadi pucat pasi.

Orang itu? Kenapa dia ada di sini!

"Sebelum kau pergi, carikan orang yang bernama Randika!" Katanya pada si resepsionis.

"Dia sedang keluar!" Balasnya dengan cepat.

Pria paruh baya itu lalu njawab. "Tidak masalah, kita akan nunggunya."

ndengar hal ini, para pria berbadan besar itu langsung ngambilkan sebuah kursi untuknya. Pada saat yang sama, pria paruh baya itu langsung dijaga ketat oleh reka.

Dalam sekejap, lobi hotel ini njadi tempat yang paling nakutkan.

Di lain sisi, Randika dan kedua malaikatnya itu sedang bersenang-senang. Setelah makan, reka awalnya ingin lanjut jalan-jalan tetapi Viona nyarankan untuk pulang sebentar agar bisa nyegarkan diri terlebih dahulu.

Karena reka baru saja berenang di air laut, jadi lebih baik reka mandi terlebih dahulu. Hal ini langsung disetujui oleh Hannah.

reka bertiga berjalan nuju hotel sambil bercanda ria.

Tetapi ketika reka bertiga berjalan nuju lobi hotel, tiba-tiba, ekspresi ketiganya langsung berubah. Bisa dikatakan bahwa suasana lobi hotel ini benar-benar ncekam.

Di tengah-tengah lobi, banyak pria berbadan besar berdiri dengan tatapan mata yang tajam. Dan pada saat yang sama, di tengah-tengah reka duduk seorang pria paruh baya.

Pria itu hanya duduk dengan wajah yang tenang dan penuh percaya diri, jelas bahwa dia adalah pemimpinnya. Rasa tenang sebelum badai ini nunjukan bahwa dia adalah orang yang berpengalaman dalam bidang seperti ini.

Orang-orang biasa yang lihat sosok pria tersebut akan rasakan ketakutan yang luar biasa tetapi Randika berbeda, wajahnya tetap tenang.

Di lobi hotel ini juga banyak berkumpulnya orang, reka sendiri penasaran dengan apa yang akan terjadi. Awalnya reka semua ngira bahwa orang-orang ini datang untuk rampok hotel ini tetapi ternyata reka datang untuk nemui seseorang.

Dan orang yang reka tunggu akhirnya telah datang.

Di sepanjang lobi ini suasana benar-benar hening, tidak ada orang yang berbicara. Sekarang semua tatapan mata tertuju pada tiga orang yang baru datang ini.

Viona sudah berlindung di belakang Randika sedangkan Hannah dengan wajah garangnya berkata dengan lantang. "Apa lihat-lihat? Apa kalian tidak pernah lihat perempuan cantik sebelumnya?" Teriaknya dengan Bahasa Inggris yang mantap.

Kata-katanya ini mbuat beberapa orang tertawa dalam hati, sepertinya nona cantik ini tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terlebih lagi, berkata seperti itu di depan lawannya cukup sembrono.

Pria paruh baya yang duduk di tengah-tengah lobi itu akhirnya berdiri lalu letakkan kedua tangannya di belakang punggungnya.

"Apa kamu yang bernama Randika?" Kata pria paruh baya tersebut, aura pria tersebut mbuat suasana makin berat.

"Kalau aku tidak salah nebak, kamu pasti penguasa di balik kota ini bukan? Kalau tidak salah namamu adalah Li Weilong." Randika masih berwajah tenang.

"Karena kamu orang yang pintar, berarti aku tidak perlu repot-repot njelaskan kenapa aku datang ke sini." Tatapan mata Li Weilong benar-benar dingin. Barusan saja kemarin, anaknya Li Zhen datang kepadanya dengan lengan kanannya yang patah. Dia langsung mbawa anaknya ke rumah sakit dan ndapati bahwa luka anaknya ini akan makan waktu 3 tahun sebelum pulih seperti semula. Jadi untuk sekarang, Li Zhen harus hidup dengan satu tangan.

skipun mang anaknya itu terkadang bertindak bodoh dan sena-na, bagaimanapun juga, dia tetap anaknya dan tidak pernah ada orang yang berani lawan keluarganya sebelumnya. Terlebih lagi, Li Zhen rupakan anak tertua dari Li Weilong, jadi nghina anaknya berarti ngajak perang seluruh keluarganya!

Oleh karena itu, Li Weilong benar-benar murka. Dia langsung lacak keberadaan Randika dan mbawa orang-orangnya ke hotel.

"Aku tidak tahu apa maumu. Mungkin penguasa kota ini ingin minta maaf karena anaknya bersikap kurang sopan padaku? Tetapi tenang saja, aku sudah ndisiplinkan anakmu untukmu." Kata Randika dengan santai, dia lalu berjalan lewati reka dengan wajah santai.

"Hum." Li Weilong ndengus dingin, dia sudah malas bersikap sopan lagi. Dia lalu berkata dengan nada dingin. "Aku, Li Weilong, adalah orang nomor 1 di kota ini dan siapapun yang lihat aku akan mbungkuk hormat. Dan kau dengan beraninya nyakiti anakku, jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup."

Saat ndengar kata-kata ini, semua orang yang lihat kejadian ini terkejut. Ternyata pemuda itu berani lukai anak dari penguasa kota ini? Benar-benar gila!

Randika yang berjalan itu lalu berhenti.

"Tidak bisa keluar?" Randika natap jijik pada pria berbadan besar yang dibawa Li Weilong tersebut. Orang-orang ini masih natap tajam pada Randika, di dalam hatinya reka juga sudah tertawa. Orang ini berani nyinggung bosnya? Jelas dia ncari mati!

Orang-orang sudah angkat tangan dan ngucapkan belangsukawa pada Randika. ncari gara-gara dengan Li Weilong? Benar-benar tindakan yang tidak bijaksana. Di Makau, Li Weilong sudah seperti pemimpin bayangan yang ngatur kota ini dari balik kegelapaan. Bahkan para politikus negerinya sangat nghormati Li Weilong.

"Kalau aku tidak bisa keluar, ya aku tinggal tiduran di kamarku saja." Di tengah-tengah suasana ncengkam ini, Randika lontarkan sebuah lelucon tidak masuk akal.

Sekarang pendapat orang-orang pada Randika sudah berubah, dia bukan hanya bodoh tetapi pemberani!

Li Weilong sudah muak dengan omong kosong ini. "Tenang saja aku tidak akan mbunuhmu. Karena kau telah matahkan lengan anakku, aku akan matahkan lengan dan kakimu. Lalu kedua perempuanmu itu akan kubawa dan kupaksa layaniku."

ndengar hal ini, semua orang njadi heboh. Bukannya nghajar tetapi matahkan lengan anaknya Li Weilong? Kelewatan Tindakan orang itu sudah kelewatan!

"Entah dia bodoh atau tolol, tetapi bisa-bisanya dia matahkan lengan anak dari Li Weilong?"

"Tidak heran Li Weilong sampai ngejarnya ke tempat ini, tamat sudah riwayatnya."

"Li Weilong itu orang kejam, tidak mungkin dia puas dengan hanya matahkan lengan dan kakinya saja?"

Orang-orang sudah siap manggil ambulans, nasib Randika sudah pasti!

Bagi reka, tidak mungkin Randika bisa lawan orang sebanyak itu sendirian.

Kabur? Bagaimana mungkin Randika bisa kabur di kota yang dimiliki oleh Li Weilong ini? Kabur dari hotel ini saja reka tidak yakin Randika bisa.

nyerah? Jika Randika nyerah jelas lengan dan kakinya akan patah sesuai dengan pernyataan Li Weilong. Tentu saja tidak bisa bergerak seperti itu akan sangat mbebani hidup.

Bisa dikatakan bahwa nasib Randika tidak ada yang bagus.

Randika natap Li Weilong dengan tajam, dia berkata dengan nada serius. "Maaf aku tidak ndengarnya, bisa tolong diulangi lagi?"

"Tidak ada yang perlu diomongkan lagi, aku akan mbalaskan dendam anakku."

"Bukan itu permasalahannya." Wajah Randika terlihat sangat serius. "Di awal bukankah kamu bertanya apakah namaku Randika?"

Semua orang termasuk Li Weilong jelas terkejut, reka tidak tahu apa yang dimaksud. Tetapi kata-kata Randika berikutnya mbuat reka semua tertawa.

"Aku bukan Randika, aku itu Radinka. Kita ini anak kembar, aku rasa kamu ncari kakakku itu bukan? Seharusnya dia masih ada di pantai. Maaf kalau aku sudah mbuang waktumu." Kata Randika dengan nada serius. "Cepat cegat kakakku itu sebelum dia kabur lagi."

Kata-kata Randika yang di luar dugaan ini mbuat semua orang hampir tertawa. reka tidak nduga bahwa Randika bisa lawak di suasana tegang seperti ini.

Sedangkan Viona sendiri terlihat kebingungan, apakah orang di hadapannya ini bukan Randika?

Sedangkan Hannah sudah nampar dahinya, dia tidak nyangka kakak iparnya ini benar-benar bodoh.

"Aku tidak peduli kamu siapa, hari ini aku akan matahkan semua tulangmu!" Wajah Li Weilong sudah dipenuhi kebencian. Pemuda ini benar-benar tidak nghormati dirinya, yang ada hanyalah kematian untuknya!

Dengan satu sapuan tangan, tiba-tiba, seluruh pria berbadan kekar itu berjalan nghampiri Randika. Otot-otot reka yang besar itu bisa nghajar orang bagaikan tulang ayam.

"Jangan ndekat! Kalian mau apa?" Kata Randika yang pura-pura ketakutan itu. Orang-orang yang lihatnya jelas tertipu dengan sandiwara Randika. reka ngira bahwa ini adalah hukumannya karena telah berani lawan Li Weilong.

Semua orang ngira bahwa Randika akan dihajar habis-habisan tetapi reka nyadari ada yang salah. Ketika ada sesosok orang yang jatuh, kenapa justru yang terkapar itu pria berbadan besar bukan Randika?

Ada apa?

Orang-orang semakin bingung ketika para pengawal Li Weilong itu mulai jatuh satu per satu bahkan layang dan nabrak tembok.

Setelah nghabisi semua orang yang berani ndekati dirinya, Randika berkata pada Li Weilong. "Hanya segini kekuatan penguasa Makau? Kuperingatkan kau sekali saja, lawanku berarti cari mati."

"Hah? Kenapa semua orang itu kalah?" Semua orang sudah terheran-heran, semua pria berbadan besar itu takluk di bawah tinju Randika hanya dalam waktu 2 nit.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 354: Namaku Bukan Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.