Ketika Randika masuk ke dalam kamar para perempuan, dia sama sekali tidak nemukan sosok reka. Namun, dia ndengar suara dari arah kamar mandi.
"Han, jangan pegang-pegang terus ah!" Kata Viona.
"Kak, aku benar-benar iri sama ukuran dadamu." Kata Hannah sambil tersenyum.
ndengar suara tersebut, Randika jelas kegirangan dan adrenalinnya sudah terpacu. Ketika dia ngendap-endap ke kamar mandi, dia ngetahui bahwa pintunya terkunci dengan rapat.
Suasana hati Randika langsung berubah njadi murung. Ketika Randika hendak kembali ke kamarnya, dia nyadari bahwa ada 2 koper terbuka terbaring di atas tempat tidur.
Koper yang terbuka ini milik Hannah dan Viona, dapat terlihat baju dan barang-barang sehari-hari. Karena reka berdua perempuan, barang bawaan reka jauh lebih banyak daripada dirinya.
Namun, yang mbuat Randika tertarik bukanlah barang bawaan reka lainkan pakaian dalam yang reka bawa!
Hati Randika yang murung itu kembali hidup, dia tidak mungkin lewatkan kesempatan ini!
Sebelum itu, Randika mastikan bahwa pintu kamar mandi itu tertutup rapat. Dia mperkirakan bahwa kedua perempuan itu tidak akan keluar dalam waktu dekat. Seharusnya waktunya cukup.
Randika dengan cepat nghampiri kedua koper itu. Dan tentu saja, berbagai macam pakaian dalam dapat terlihat.
Pakaian dalam wanita sudah seperti karya seni, barang-barang ini dapat naikkan tingkat kecantikan seseorang apabila digunakan dengan benar. Jadi sebagai lelaki, Randika sangat ngapresiasi pakaian tempur para perempuan ini.
Tangannya masuk ke dalam koper yang di sebelah kanan dan begitu pula dengan tangan kirinya. Sekarang dia gang celana dalam berwarna rah dan putih, jelas rah adalah punya Viona dan putih adalah Hannah.
Randika mulai rasakan kelembutan yang dimiliki celana dalam ini. skipun lelaki lebih suka lihat perempuan telanjang, justru pakaian dalam sexy seperti ini akan ningkatkan gairah reka terlebih dahulu.
Sedangkan Randika, dia sedikit miliki fetish stocking. Dia sangat suka lihat kaki perempuan yang putih dan mulus itu terbungkus dengan stocking hitam maupun jala.
Ketika Randika berusaha lihat-lihat pakaian dalam yang lain, tiba-tiba, pintu kamar mandi itu terbuka. Hal ini sangat ngejutkan bagi Randika, tetapi semuanya sudah terlambat. Ketika Randika noleh, dia sudah lihat Hannah dan Viona natap dirinya.
"Randika!?"
Viona benar-benar terkejut karena di hadapannya sekarang ini, Randika sedang gang celana dalam miliknya dan Hannah di kedua tangannya.
Hal ini sudah sama seperti seorang pencuri pakaian dalam yang sedang milih-milih barang jarahannya.
"KAK RANDIKA!" Hannah benar-benar marah. Bagi perempuan, pakaian dalam rupakan hal paling privat, bisa-bisanya kakak iparnya itu nggeledah kopernya?
Suasana kamar langsung njadi canggung, namun tiba-tiba wajah Randika berubah njadi serius. "Han, aku cuma ngecek apakah pakaian dalam yang kamu punya ini higienis atau tidak."
Higienis atau tidak?
Jelas Hannah tidak percaya. "Kakak sebelumnya bilang ada penyusup, dan sekarang kak Randika tiba-tiba peduli dengan kebersihan gitu?"
"Kamu ini bicara apa? Pakaian dalam perempuan khususnya celana dalam sangat penting untuk kesehatan kalian!" Randika masih mpertahankan wajah seriusnya. "Aku kebetulan lihat koper kalian terbuka jadinya sekalian aku ngecek apakah tidak ada masalah dengan pakaian dalammu."
Viona sudah nghela napasnya, Randika benar-benar tidak pandai berbohong. Kenapa dia tidak ngaku saja?
"Jadi nurut kak Randika apakah pakaian dalamku itu baik-baik saja?"
"Tentu saja!" Randika gang celana dalam berwarna putih itu dengan kedua tangannya. "Coba lihat celana dalammu ini. Kainnya sangat lembut jadi sangat bagus untuk sirkulasi darah karena tidak nekan pinggangmu. Dan juga seharusnya kain ini bisa mpertahankan posisi pantatmu agar tidak kendor. Tetapi seharusnya kamu niru punya Viona karena punyamu itu kurang nggoda bagiku."
ndengar kata-kata ini wajah Viona sudah tersipu malu. Karena liburan ini ada Randika, dia mbawa pakaian dalam yang bagus-bagus untuk jaga-jaga.
"Oh? Apa hubungannya dengan kesehatan?" Kata Hannah dengan nada ragukan.
"Kalau kamu pakai celana dalammu yang polos ini lama-lama, bisa-bisa jiwa mudamu itu njadi jiwa ibu-ibu!"
Hannah benar-benar kehabisan kata-kata, apa hubungannya dengan kesehatan?
"Baiklah kalau begitu, kita lihat yang berikutnya." Randika ngambil secara acak tanpa noleh dan ngambil sebuah celana dalam berwarna kuning dengan gambar Pikachu.
"Hahaha celana dalam ini benar-benar lucu dan lembut, pantatmu akan terlindungi dengan baik. Tetapi nurutku ini kurang baik untukmu karena bagian karetnya agak kendor. Lagipula kalau kamu lama-lama makai celana dalam seperti ini, bisa-bisa kamu ditertawakan kalau terlihat oleh teman-temanmu!"
Hannah dan Viona natap kosong pada Randika, skipun dia gagah dan perkasa sepertinya dia tidak tahu kapan harus berhenti.
"Baiklah kalau begitu, kita lihat yang berikutnya." Randika dengan santai naruh celana dalam kuning itu dan ngambil kembali dari koper.
"TIDAK!" Dalam sekejap, Viona berteriak dengan kencang. Wajahnya sudah benar-benar rah karena Randika barusan saja ngambil celana dalam miliknya.
"Ah? Apakah ini punyamu Vi? Tenang aja, ini demi kesehatanmu!" Randika tersenyum dan lihat apa yang ada di tangannya, dia benar-benar terkejut.
Di tangannya sekarang bisa dikatakan bahwa celana dalam itu benar-benar tipis dan hampir tembus pandang. Jika tidak salah ngingat, ini seharusnya celana dalam tipe Tanga!
"Nah ini baru celana dalam yang sehat! Coba kalian lihat, tali tipis ini tidak akan ninggalkan jejak di kulit kalian dan juga bagian depannya cukup ramping dan pas nutupi area privat. Sedangkan bagian belakangnya juga dapat mpertahankan kepadatan pantat!" Randika ngagumi celana dalam hitam Viona ini. Dia sudah jatuh cinta dengan pakaian dalam ini!
"Ran! Cepat taruh! Wajah Viona benar-benar rah, nada suaranya saja sudah sangat tinggi. Dia sangat malu karena ada Hannah di sampingnya.
"Benar-benar cerdas, kalau semua perempuan makai celana dalam ini jelas semua orang akan sehat! Luar biasa!"
"Ran.." Viona sudah mbenamkan kepalanya di kedua tangannya.
lihat Viona yang sudah seperti itu, Randika naruh celana dalam tersebut di atas kasur. Kemudian dia ngambil kembali ke dalam koper milik Hannah. Kali ini dia ngambil satu set bikini berwarna biru yang cukup tipis baginya.
"Jadi untuk yang ini." Ketika Randika ingin njelaskan, Hannah sudah tidak tahan lagi.
"Sudah cukup!" Hannah benar-benar marah. Jika ini diteruskan, bisa-bisa seluruh koper akan dikontari oleh Randika.
"Han, kamu kenapa?" Randika dalam hati sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kak, ayo kita hajar kak Randika bersama-sama!" Kata Hannah pada Viona, Hannah sudah ngambil sebuah bantal sebagai senjatanya.
"Iya!" Viona juga ngepalkan kedua tangannya.
Randika rasa sudah kelewatan.
"Sudah, sudah jangan cari ribut. Ini sudah malam!"
"Kak Viona serang kakinya ya!" Hannah jelas tidak ngindahkan peringatan Randika.
"!!" Randika langsung berusaha lari, tetapi Hannah berhasil nangkapnya dan Viona juga berhasil rangkulnya.
"Tidak!"
Randika masih berusaha lepaskan diri, tetapi Hannah tetap nariknya sekuat tenaga. "Bawa kak Randika ke kasur kak!"
Randika sukses dilempar ke kasur.
"Mau apa kalian?" Tanya Randika dengan wajah ketakutan.
Hannah dan Viona hanya tersenyum ke arahnya.
Tidak!!!
Reviews
All reviews (0)