Wajah Randika langsung berubah njadi muram, orang-orang seperti ini selalu ngundang masalah.
"Sekarang kita lihat, seberapa tangguhnya dirimu sekarang!" Wajah Liu Changhai sudah dibakar oleh api kebencian.
Li Zhen di sisinya tertawa. "Sepertinya aku tahu kenapa hidungmu sampai terluka begitu hahaha! Tetapi tenang saja, kali ini aku akan mberikan keadilan untukmu."
Viona dan Hannah jelas ngetahui sosok Liu Changhai, Hannah langsung angkat bicara. "Kamu tuli atau apa? Bukankah sudah kita bilang jangan ganggu kami lagi?"
"Hmm perempuan yang berani." Li Zhen nganggukkan kepalanya. "Seleramu ternyata bagus juga temanku."
Setelah itu Li Zhen nepuk kedua tangannya. Tiba-tiba, sekumpulan pengawal berdiri di belakangnya. Jika dihitung, Li Zhen mbawa kurang lebih 20 orang pengawal berbadan kekar.
Orang-orang ini sebelumnya nunggu di dalam mobil, reka nunggu sinyal dari tuan reka sebelum reka keluar.
"Jadi kalian belum kapok juga?" Kata Randika sambil nghela napas.
Viona dan Hannah sudah sembunyi di belakang Randika, sedangkan Randika sendiri sudah langkah maju dan natap tajam ke arah 2 pemuda kaya tersebut. "Aku akan mberikan kalian kesempatan untuk lari."
ndengar hal ini, Liu Changhai njadi marah. "Kau pikir kau itu siapa? Hari ini aku akan mbuatmu nyaksikanku mperkosa wanitamu itu!"
Li Zhen juga ikut tersulut amarahnya. "Sialan, rakyat jelata sepertimu berani-beraninya lawan? Apa kau tidak tahu kau sedang berhadapan dengan siapa? Justru aku yang mberimu waktu untuk lari atau aku akan mbunuhmu di tempat ini."
"Hah? Jangan bertindak selayaknya kalian yang punya kota ini! Cepat pergi atau kita akan nghajar kalian sampai mati!" Teriak Hannah di belakang Randika.
"Hahaha aku tidak sabar ndengar rintihanmu. Kita lihat saja nanti apakah kamu masih bisa bersifat sok tangguh seperti itu atau tidak." Kata Li Zhen sambil nyengir. Dia lalu natap Randika. "Bunuh pria itu, jangan lama-lama."
ndengar hal itu, para pengawalnya itu nerjang ke arah Randika. Hentakan kaki yang nyerupai sangkakala perang itu nggetarkan langit.
Para pengawal Li Zhen ini rupakan pengawal elit, tidak ada alasan untuk reka bisa kalah dengan orang biasa.
Tetapi apa yang dilihatnya mbuat Li Zhen terkejut bukan main, dia rasa matanya itu hampir copot dari kantong matanya.
Apa-apaan itu?
Mustahil!
Ketika pengawalnya dan Randika bertukar pukulan, pengawal yang nerima pukulan Randika itu terpental sejauh 10 ter! Sedangkan Randika masih berdiri dengan tegak, seolah-olah serangan yang diterimanya itu tidak berarti sama sekali.
Kejadian berikutnya justru mbuat dua pemuda terkuat di Makau ini makin tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Karena para pengawal reka ini sama sekali tidak berdaya di hadapan Randika.
Satu per satu dari reka dihajar oleh Randika, teriakan demi teriakan terus terdengar. Yang lebih ngenaskannya lagi, para pengawal elit ini tidak dapat layangkan pukulannya sama sekali!
Sedangkan Randika, dia sedang sibuk nghajar satu per satu orang yang berani berdiri di hadapannya. Pukulan maupun tendangannya berhasil mbuat siapapun yang nerimanya terpental hingga nabrak mobil ataupun sisi jalan.
Bahkan salah satu pengawal itu nerima pukulan secara telak dan langsung tewas karena tubuhnya tidak dapat nerima dampaknya!
Ketika satu per satu pengawal itu mulai terkapar di tanah, Randika masih berdiri dengan wajah tenang. Erangan kesakitan mulai nuhi lokasi pertempuran ini.
Li Zhen dan Liu Changhai hanya bisa natap bingung para pengawal reka yang dikenal 'elit' itu terpental dan terkapar di tanah. Keadaan sudah berbalik!
Keringat dingin mulai mbanjiri Li Zhen, dia baru pertama kali ngalami kejadian seperti ini.
Tidak lama kemudian, kurang dari 1 nit, akhirnya pengawal terakhir telah terkapar di tanah.
Randika lalu nepuk-nepuk bajunya sekaligus rapikannya, tatapan matanya sekarang tertuju pada Li Zhen dan Liu Changhai.
Ekspresi wajah Liu Changhai sudah panik, dia dapat ngingat betul betapa ngerikannya kekuatan Randika sebelumnya.
Li Zhen yang ketakutan itu mberanikan diri untuk berkata pada Randika. "Kau pikir nang dari para pengawalku itu cukup ngalahkanku? Keluargaku nguasai seluruh kasino di kota ini, kau masih berani untuk lawanku?"
Kesombongan Li Zhen ini mang dapat dimaklumi karena keluarganya itu mang miliki hampir semua kasino di Makau. Kekuatan yang berdiri di belakang keluarganya itu benar-benar ngerikan, lawan dirinya berarti lawan seluruh Makau!
Setelah ndengar ini apakah pria di hadapannya itu masih berani?
Wajah Li Zhen benar-benar arogan, dia natap tajam pada Randika. lihat Randika yang terdiam, Li Zhen benar-benar senang. Sepertinya gertakannya itu berhasil mbuat pria tersebut berpikir 1000x sebelum mbuat dirinya njadi lawan.
Tetapi detik berikutnya mbuat Li Zhen terheran-heran.
Randika yang terdiam itu tiba-tiba nghilang dan dalam sekejap sudah berdiri di hadapan Li Zhen. Dengan satu tangan, Randika nangkap pergelangan tangan Li Zhen dan remukannya.
Dalam sekejap rasa sakit yang luar biasa langsung rasuki Li Zhen.
ARGH!!
Dalam sekejap Li Zhen ngerang kesakitan, keringat dingin langsung nuhi tubuhnya. Namun, penderitaannya itu tidak berakhir sampai situ saja. Randika dengan mudah nghancurkan tulang tangannya!
Tangan Randika sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya, bisa dikatakan bahwa satu genggaman bertenaga ini telah remukan seluruh lengan Li Zhen. Bahkan dengan bantuan teknologi zaman sekarang, akan mbutuhkan waktu setidaknya 3 tahun agar dapat digunakan lagi.
Para pejalan kaki sudah tidak berani ndekati Randika ketika lihat puluhan orang yang tergeletak di tanah. skipun reka dapat ndengar teriakan Li Zhen, reka terus berjalan tanpa noleh.
Wajah Li Zhen sudah pucat pasi, keringat terus ngalir dari tubuhnya. Bahkan pandangannya yang sekarang mulai terasa kabur.
Sedangkan Liu Changhai yang berada di sampingnya sudah getaran tanpa henti. Dia sudah berniat untuk kabur skipun kakinya terasa lemas, tetapi dia nyadari tatapan tajam Randika.
Tatapan matanya benar-benar ngerikan! Liu Changhai rasa jantungnya telah berhenti berdetak ketika lihat kedua bola mata Randika.
Liu Changhai benar-benar kapok, dia tidak nyangka Randika akan sekuat ini. Bahkan dia sudah nggabungkan kekuatannya dengan Li Zhen, reka tetap bukan tandingannya!
"Sesuai kata-kataku tadi, aku akan mbunuhmu jika kau berani nggangguku lagi." Kata Randika sambil tersenyum.
Sebelum Liu Changhai dapat mbalas, tangan kanannya telah tertangkap oleh Randika. Dengan satu remasan, tenaga dalam Randika langsung remukan seluruh lengan kanannya itu. Dalam sekejap, rasa sakit langsung njalar di tubuh Liu Changhai.
ARGH!!
Sama seperti Li Zhen, Liu Changhai ngerang kesakitan karena seluruh tulang lengan kanannya telah patah.
Dengan wajah bengis, Randika natap kedua pemuda itu. "Ini peringatanku yang terakhir, jika aku bertemu dengan kalian lagi maka aku tidak akan segan-segan mbunuh kalian."
Setelah berkata seperti itu, Randika mbawa Hannah dan Viona masuk ke dalam hotel. Di luar hotel reka, tergeletak kurang lebih 20 orang. Setelah bertarung dengan rasa sakitnya, Li Zhen dan Liu Changhai akhirnya mampu berdiri kembali skipun reka sekarang tidak bisa nggerakan lengan kanan reka.
Setelah masuk ke dalam kamar, Randika ngambil HPnya dan nelepon.
Randika sangat paham kekuatan dari Li Zhen dan Liu Changhai. skipun dirinya tidak takut sama reka, kedua bocah itu bisa njadi duri di jalannya yang akan datang.
Oleh karena itu, Randika nelepon Yuna untuk ngirim beberapa orang ke Makau. Karena seharusnya, Li Zhen dan Liu Changhai akan manfaatkan kekuatan dunia bawah tanah reka untuk nghabisi Randika. Namun, kedua pemuda itu baru bisa ngirim orang besok pagi jadi ini mberikan Randika waktu untuk bersiap-siap.
Setelah minta tolong pada Yuna, Randika segera nutup teleponnya dan masuk ke dalam kamar Viona dan Hannah.
Reviews
All reviews (0)