Font Size
15px

"Ran, kamu benar-benar luar biasa!" Viona semakin kagum dengan Randika.

Hannah juga tidak kalah kagum. "Kak Randika mang hebat, aku paling benci orang seperti itu. Dia pikir dia bisa mbeli segalanya dengan uang.

Randika masih rangkul keduanya dengan tangannya, bau parfum reka segera nuhi hidungnya. Randika sendiri juga rasa dirinya keren tadi, dia lalu berkata dengan santai. "Siapapun yang berani rebut Viona dan Hannahku yang cantik, aku akan nghajar reka tidak peduli dia seorang presiden sekalipun!"

Setelah berkata seperti itu, dia lirik ke arah keduanya dan terbatuk sekali. "Seharusnya sekarang kalian bertepuk tangan."

"Benar!" Viona langsung bertepuk tangan, Hannah lalu ikut bertepuk tangan.

"Yah bantuan kak Randika kali ini benar-benar hebat, nanti aku akan nceritakan kisah heroik kak Randika ke kak Inggrid!" Kata Hannah sambil tersenyum.

Randika lalu narik reka ke tengah dan berbisik pada reka. "Sepertinya malam ini kita perlu tidur satu kamar, ini untuk jaga-jaga saja."

Tentu saja, rencana impian Randika ditolak ntah-ntah.

"Tidak mau!" Hannah dengan cepat lepaskan diri dari rangkulan Randika dan nolak usulan Randika. "Aku sama kak Viona itu wanita lemah lembut, serigala seperti kak Randika tentu saja akan mangsa kita ketika kita tidur!"

Lemah lembut?

Sepertinya kata-kata itu tidak cocok untukmu bukan?

ngingat-ingat kelakuan Hannah yang dulu-dulu, bukankah nona muda ini sering ncari gara-gara ke orang lain dengan perkataan kasarnya? Dari mana coba dia itu lemah lembut?

Randika yang awalnya semangat tadi njadi loyo bagaikan balon yang kempes, Viona yang masih dia rangkul itu tersenyum dan berkata padanya. "Sudah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita sekarang makan dulu?"

"Makan? Ayo, ayo! Mau makan apa kita?" Hannah njadi bersemangat kembali.

Setelah berjalan sebentar, reka nemukan sebuah restoran.

"Kak Viona, kakak pesan saja apa yang kakak mau. Uang kita banyak!" Ketika reka duduk, Hannah langsung lambaikan tangannya manggil pelayan.

Randika sendiri tidak sungkan-sungkan san, makanan yang dia pesan sudah sama seperti porsi seorang sumo.

"Ran makannya pelan-pelan dong." Viona yang duduk di sampingnya itu mbersihkan mulut Randika yang cemot dengan makanan. Hannah sendiri juga ngunyah makanannya dengan cepat.

Kedua orang itu makan dengan lahap, lalu di atas ja tinggal setusuk sate daging sapi yang tebal.

Hening suasana ja makan ini njadi hening!

Mata Hannah dan Randika saling lotot satu sama lain, akhirnya Hannah cah keheningan dengan berkata pada kakak iparnya. "Jika kakak berani ngambil makananku, aku akan nceritakan ini ke kak Inggrid."

"Han, makan banyak akan mbuatmu gemuk." Balas Randika.

"Aku tidak gemuk kok." Jawab Hannah sambil tersenyum.

Ketika Randika hendak mbalas perkataannya, dia rasa ada seseorang yang nepuk pundaknya. Ketika Hannah noleh, ternyata tidak ada apa-apa. Namun ketika dia lihat ke arah piring, sate daging sapinya sudah masuk ke dalam mulut Randika.

"Ah, ah, ah kak Randika curang!"

Hannah dengan cepat berusaha rebut sate tersebut.

"Sudah toh Han, nanti kamu tambah gemuk!"

Suasana makan malam reka ini benar-benar mirip sebuah keluarga yang bahagia.

Di saat yang sama, Liu Changhai ndapatkan informasi tempat hotel Randika nginap.

Tetapi Liu Changhai tidak mbuat amarahnya ini ngaburkan penilaiannya. Karena dia gagal sendirian nghadapi Randika, sekarang dia akan minta bantuan temannya.

Jadi Liu Changhai nelepon Li Zhen.

Li Zhen rupakan teman baik Liu Changhai, kedua keluarga reka sama-sama rintah Makau dari balik layar. Berbeda dengan Liu Changhai, Li Zhen berdomisili di Makau jadi jaringannya jauh lebih besar daripada yang dimilikinya. Terlebih lagi, ayah Li Zhen adalah dewa judi Makau.

Karena kekuasaan keluarganya yang absolut, Li Zhen sering berbuat onar di Makau. Ketika Liu Changhai berkunjung ke Makau, reka berdua sering berjalan bersama-sama.

"Kenapa kamu telepon aku malam-malam? Aku sedang ngesex bodoh!" Di balik telepon terdengar suara perempuan ndesah.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang sibuk. Bagaimana kalau aku nebus kesalahanku ini? Aku nemukan 2 perempuan cantik untuk kita berdua." Kata Liu Changhai.

"Serius?" Nada suara Li Zhen terdengar ragu-ragu.

"Serius, reka lebih cantik dari simpananmu biasanya. Bagaimana, apa kamu tertarik?"

"Sialan, cepat kasih tahu alamatnya." Dari balik telepon terdengar orang makai baju.

"Tapi kamu harus bawa pengawalmu lebih banyak daripada sebelumnya, aku khawatir reka akan nolak kita dengan keras." Kata Liu Changhai.

Li Zhen tertawa. "Jangan khawatir, Makau adalah milikku. Siapa mangnya yang berani lawanku?"

Lalu Liu Changhai dan para pengawalnya nunggu di depan hotel untuk waktu yang lama. Dan akhirnya Li Zhen datang dan masuk ke dalam mobil Liu Changhai.

"Hei, kamu tidak bohong kan? Li Zhen duduk di samping Liu Changhai dan mperhatikan sekelilingnya. Tetapi tiba-tiba Li Zhen terkejut ketika lihat penampilan temannya itu.

"Bajingan, kenapa kamu penuh perban gitu?"

Pada saat ini, hidung Liu Changhai dibalut oleh perban.

Liu Changhai nggelengkan kepalanya. "Sudah, penampilanku ini tidak penting."

"Terus mana perempuan cantik yang kamu maksud?" Li Zhen nghargai dan ngganti topik. Dari awal pertemanan reka, reka berdua sering niduri perempuan cantik tetapi baru kali ini Liu Changhai muji kecantikannya jadi jelas Li Zhen penasaran.

"Kamu akan tahu ketika nanti kamu lihatnya." Setelah berkata seperti itu, tatapan mata Liu Changhai njadi berbinar-binar. "Sini, lihat ke sana!"

Li Zhen langsung noleh dan lihat tiga orang sedang berjalan nuju ke dalam hotel. Di bawah sinar rembulan itu, kecantikan Hannah dan Viona tersorot dengan sangat jelas.

"Hahaha tidak heran kamu nyebut reka cantik!" Ekspresi wajah Li Zhen sudah bagaikan serigala siap nerkam mangsanya.

Matanya tertuju pada Viona. Pada saat ini, Viona noleh ke arahnya sambil tersenyum. Mon ini langsung terabadikan di hati Li Zhen.

Cantik Benar-benar cantik!

"Aku akan ngambil perempuan itu." Li Zhen nunjuk ke arah Viona.

Liu Changhai tidak peduli, tatapan matanya yang penuh kebencian itu tertuju pada Randika. Dengan nada suara yang dingin, dia berkata pada Li Zhen. "Jangan senang dulu, pria itu tidak selemah yang kamu kira. Lebih baik pengawal kita nghajar dia duluan sebelum akhirnya kita niduri perempuannya itu."

"Baiklah kalau itu maumu, kalau gitu tunggu apalagi? Cepat kita turun, aku sudah tidak sabar." Li Zhen langsung mbuka pintu mobilnya.

Kemudian Li Zhen dan Liu Changhai berjalan nghampiri Randika.

"Kak Viona, besok kita mau ke mana lagi?" Tanya Hannah sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau kita ke pantai?" Viona tersenyum manis. "Aku dengar pantai di Makau benar-benar indah."

Randika baru saja mau berbicara tetapi ekspresi wajahnya berubah njadi serius ketika dia lihat ke arah depan.

Di hadapannya sekarang, ada sosok Liu Changhai dan pemuda lainnya yang nghalangi jalan reka bertiga.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 350: Awal Pembalasan Dendam Liu Changhai on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.