Font Size
15px

Setelah turun dari pesawat, Randika, Viona dan Hannah berniatan untuk naruh barang terlebih dahulu di hotel. Saat reka hendak berpisah, Serena luk Randika dan berbisik di telinganya. "Jangan lupa nghubungiku, aku akan ndatangimu walau itu di ujung dunia sekali pun." Setelah itu dia ncium pipi Randika dan nghilang.

lihat sosok Serena yang nghilang, Hannah yang marah berkata pada Viona. "Kak Viona, ayo kita pergi dari sini."

Setelah berkata seperti itu, Hannah nyeret Viona dan pergi ninggalkan Randika. Ketika Viona ragu-ragu, tangannya sudah ditangkap oleh Hannah dan diseret bersamanya. Sedangkan untuk koper-koper reka, sudah jelas bahwa Randika yang akan mbawanya.

Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sekarang harus mbawa 3 koper dan nyusul Hannah yang semakin njauh.

Tidak lama kemudian, akhirnya Randika berhasil nyusul.

"Han, itu semua bukan salahku jadi tolong bantu aku bawa barang-barang ini." Kata Randika sambil terus nyeret 3 koper dan 1 tas ransel miliknya.

"Oh? Jadi seorang pahlawan tidak bisa mbawa beberapa koper?" Hannah malingkan wajahnya. Sedangkan Viona sudah tidak tega dan nawarkan bantuan. "Ran, sini aku bantu bawain."

"Kak! Sudah jangan hiraukan pria hidung belang itu. Kalau kak Randika bisa nghabisi teroris dengan tangan kosong, bukankah barang-barang kita itu hanya hal sepele baginya?"

Randika hanya bisa tersenyum pahit, sejak kapan adik iparnya itu njadi pintar?

"Han, jangan begitu dong. Nanti kalau barang-barangmu ini dicuri bagaimana? Aku tidak bisa nangkap sekaligus njaga semua barang ini bukan?" Kata Randika.

"Oh jadi kakak tidak mau mbawakan barang-barang kita?" Wajah Hannah terlihat jahat. "Kalau begitu, mungkin nanti pulang aku akan nceritakan perempuan yang duduk di sampingmu tadi ke..."

"Hahaha aku bercanda kok, apa tidak ada barang lagi yang bisa kubawakan?" Kata Randika sambil pura-pura tertawa.

lihat hal ini, Viona hanya bisa tertawa sedangkan Hannah ndengus dingin. Sepertinya nama Inggrid Elina sudah njadi senjata untuk naklukan kakak iparnya.

Randika hanya bisa nggigit bibirnya, kalau saja tidak ada Viona mungkin dia sudah akan lawan Hannah.

Kemudian reka bertiga naik ke dalam taksi dan berangkat nuju hotel reka.

Setelah beberapa saat, reka tiba di hotel reka. Kamar reka ada di lantai 7. Untuk acara kali ini, Hannah san dua kamar. Satu untuk Randika dan satu untuk dirinya dan Viona.

Ketika reka berada di pintu kamar reka, Randika hanya bisa natap Hannah yang bersiul dan terlihat gembira. Viona hanya bisa tersenyum pada Randika, dia berharap senyumannya itu cukup sebagai penghiburan bagi Randika.

Ketika Viona hendak berbicara, dia sudah diseret ke dalam oleh Hannah.

Randika hanya bisa pasrah ketika lihat pintu kamar itu tertutup. skipun sedih, dia akhirnya tertawa. Apa adik iparnya itu pikir bahwa sebuah pintu bisa nghalangi rencana haremnya?

Kamar hotel ini nggunakan sebuah kartu untuk mbuka pintu kamar, tetapi hal ini percuma apabila di hadapan seorang Ares. Randika hanya perlu nembakkan tenaga dalamnya ke arah kunci dan mbukanya secara perlahan.

Karena kamar reka bersebelahan, setelah naruh barang-barangnya, Randika nempelkan telinganya pada dinding kamar. Dengan pendengaran supernya, dia dapat ndengar kedua perempuan sedang ngobrol. Hmm Bukankah seharusnya reka sedang lepas baju reka sekarang?

Berkat tenaga dalamnya juga, dia dapat ndengarkan apa yang terjadi di balik dinding dengan jelas. Kemudian hati Randika ngepal, jelas itu suara baju yang dibuka!

Di balik dinding ini kedua perempuan cantik sedang mbuka baju reka, kalau dia tidak mbuka pintu itu jelas dia bukanlah seorang pria!

Dalam sekejap Randika mulai bersemangat, kalau dia njalankannya dengan baik maka Hannah dan Viona akan jatuh ke dalam pelukannya.

Karena kamar reka terhubung dengan connecting door, Randika mbukanya secara perlahan dan nahan napasnya. Namun, tidak ada orang di dalam kamar!

Randika benar-benar bingung, dia lalu berjalan ke tengah ruangan. Pada saat ini, terlihat dua bayangan di dalam kamar mandi.

Asyik!

Kedua bola mata Randika sudah siap rekam kejadian ini baik-baik, telinganya dapat ndengar suara kedua perempuan itu ngobrol.

Sudah dapat dipastikan bahwa kedua sosok perempuan cantik itu sedang mandi bersama-sama!

mikirkan adegan di dalam kamar mandi itu, Randika hampir mimisan.

Hati Randika benar-benar sudah terbakar api semangat, kakinya sudah ngendap-endap ke arah kamar mandi.

Pintu kamar mandinya tidak tertutup secara rapat, sepertinya Hannah benar-benar ceroboh karena berpikir bahwa dirinya aman oleh sebuah pintu. Berkat hal ini, Randika bisa manfaatkan hal ini!

Di dalam kamar mandi, Hannah dan Viona sama sekali tidak sadar dengan keberadaan Randika.

"Kak, kakak benar-benar punya tubuh yang luar biasa!" Hannah terpukau dengan dada Viona, dia lalu remasnya dengan kedua tangannya. Darah di hidung Randika sudah hampir keluar.

Kedua perempuan ini masuk ke dalam bathtub yang miliki banyak gelembung. Tetapi berkat tindakan Hannah ini, keduanya terekspos dan mperlihatkan tubuh telanjang reka.

YA TUHAN!

Randika nelan air liurnya. Adik iparnya sendiri itu sepertinya sudah ngalami perubahan sejak selamat dari dalam gua, sepertinya ukuran dadanya bertambah lagi!

Sedangkan untuk Viona, ini pertama kalinya Randika lihat kedua dadanya itu dengan jelas. Benar-benar dada nomor 1 di dunia!

"Han, kamu sendiri juga tidak kalah kok." Viona mbalas Hannah.

lihat sosok keduanya itu saling nyentuh dan raba satu sama lain tadi benar-benar sudah terekam di ingatan Randika.

Kedua tangan Viona dan Hannah saling remas dada reka masing-masing. Keduanya muji satu sama lain dan ngatakan bahwa reka sama-sama cantiknya.

Keduanya lalu tertawa dan ngobrol di dalam bathtub yang penuh gelembung itu.

Mata Randika benar-benar terpaku dengan kejadian ini, sudah berkali-kali dia nelan air liurnya. Sayangnya, pintu kamar mandi hanya terbuka kecil jadi dia tidak bisa lihat semuanya dengan jelas.

"Sedikit lagi, sedikit lagi!" Randika terus bergumam, matanya tidak pernah lepas sosok kedua perempuan di dalam. Ketika Hannah dan Viona mbanding-bandingkan tubuh reka, tiba-tiba reka berdiri dan saling nyemprotkan air.

Ini dia!

Tetapi sayangnya, sosok punggung reka lah yang nuhi mata Randika.

"Ayo putar, putar badanmu untuk ayah!" Randika remas pintu kamar mandi itu dengan kuat, dia sangat berharap lihat sosok telanjang reka sekali lagi.

Bisa dikatakan bahwa dia itu berada di faksi dada walaupun faksi pantat tidak kalah bagusnya.

Randika terus nerus bergumam pada dirinya, dia sangat berharap lihat dada-dada kelas dunia itu lagi.

Namun, Randika tidak dapat lihatnya lagi karena Hannah dan Viona akhirnya berdiri dan makai handuk.

lihat kedua perempuan di dalam hendak keluar, Randika langsung tersadar dan berniat untuk pergi. Namun, Hannah secara tidak sengaja dapat lihat sosok bayangan dari celah pintu.

Dalam sekejap, Hannah langsung nutup dadanya yang sudah berbalut handuk itu dan berteriak dengan keras. "Siapa itu!"

ndengar hal itu, Viona juga ketakutan. Apa ada penyusup di dalam kamar reka?

Kedua perempuan itu berjalan perlahan ke arah pintu sedangkan Randika yang berada di balik pintu itu sudah ketakutan.

Dia harus kabur!

Ketika dia hendak lari, Hannah sudah mbuka pintu dan nemukan sosok Randika.

Hannah benar-benar terkejut, rasa terkejut itu berubah njadi marah. Kakak iparnya ngintip reka berdua mandi?

Ketika lihat sosok Randika, wajah Viona njadi rah. Dia tidak nyangka Randika akan lakukan tindakan hina seperti ini.

Bagaimanapun juga, ngintip itu rupakan perbuatan hina.

Randika hanya bisa berdiri diam di tengah ruangan, dia rasa malu. Ketika dia noleh ke arah Hannah dan Viona, dia hanya bisa tersenyum pahit dengan hati yang sudah siap dioli.

Tidak ada alasan yang terpikirkan olehnya sama sekali.

"Jadi bisa dijelaskan kenapa kak Randika ada di kamar kita? Apa kakak barusan ngintip kita mandi?" Nada Hannah benar-benar terdengar ngerikan.

"Han, bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu! Aku bukan orang yang seperti itu!" Tanpa diduga, Randika terlihat tenang.

ndengar jawaban ini, Hannah makin marah. "Bukan orang yang seperti itu?"

"Han biarkan aku njelaskannya. Aku dengar kamu teriak jadi aku mastikan bahwa kalian baik-baik saja." Kata Randika dengan nada yang yakinkan.

Bahkan Viona dapat ngerti bahwa alasan Randika ini benar-benar payah.

"Aku rasa kamulah si penyusupnya." Hannah sudah ngepalkan tinjunya.

"Beneran, aku dengar kamu teriak 'siapa itu!' jadi aku bergegas ke sini sapa tahu ada penyusup." Kata Randika dengan nada yang tenang. "Aku juga sempat ndengar langkah kaki seseorang, jadi aku bergegas masuk ke kamarmu tanpa pikir panjang."

lihat wajah serius Randika, Hannah makin ragu. Wajah kakak iparnya ini terlihat bukan dibuat-buat, apalagi dia ngingat kejadian Shadow kapan hari jadi bisa jadi apa yang dikatakan kakak iparnya ini benar.

"Ketika aku hendak nghajarnya ternyata di dalam ruanganmu itu tidak ada siapa-siapa, baru saat itu kalian keluar dari kamar mandi dan lihatku." Kata Randika.

ndengar kata-kata itu, Viona sedikit ketakutan; dia berpikir bahwa mungkin penyusupnya masih bersembunyi di sini. Sedangkan Hannah, dia tidak tahu harus berkata apa.

"Jadi aku sarankan kalian makai baju dulu di kamar mandi dan aku akan ngamankan kamar kalian dulu." Setelah berkata seperti itu, Randika mulai riksa seluruh sudut ruangan. Karena ruangan reka terhubung, Randika juga pura-pura riksa kamarnya.

lihat wajah serius Randika, keraguan Hannah makin besar dan dia mulai percaya dengan Randika.

"Sialan, dia sudah kabur!" Tiba-tiba suara Randika terdengar dari kamarnya dan Hannah serta Viona segera ke sana. Dia lihat jendela kamar yang terbuka lebar.

Randika nghirup udara dalam-dalam. "Kurang ajar, dia benar-benar telah nipuku dengan bersembunyi di kamarku. Untung saja dia tidak berbuat macam-macam pada kita."

Viona yang ndengar kata-kata Randika itu njadi panik. "Ran, bagaimana ini?"

"Sudah kalian berdua tenang saja, mulai hari ini aku akan berjaga-jaga agar hal ini tidak terulang lagi. Serahkan masalah ini padaku."

"Jadi bagaimana kalau kalian berdua makai baju terlebih dahulu? Setelah itu bagaimana kalau kita ncari makan?" Randika lalu nuntun reka berdua kembali ke kamarnya dan ngatakan bahwa dia akan mandi terlebih dahulu sebelum pergi.

Hannah semakin curiga ketika lihat Randika yang buru-buru ingin pergi ini. Tiba-tiba matanya berbinar-binar. Bukankah ini aneh? Bukankah reka ada di lantai 7? Jadi jika penyusup itu lompat turun, bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?

Dalam sekejap, Hannah berhenti berjalan. "Tunggu!"

Ketika Randika hendak nutup connecting doornya, dia rasakan firasat buruk. Sialan, apakah dia sudah ketahuan?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 345: Ada Penyusup! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.