Font Size
15px

Tanpa diduga, perjalanan nuju Makau ini ternyata adalah ajang foto-foto dan tanda tangan bagi Randika. mang masyarakat suka dengan pahlawan!

Randika benar-benar senang, tetapi Hannah terlihat cemberut. Hati Hannah benar-benar resah dan marah, entah kenapa dia rasa begitu resah terhadap kakak iparnya itu.

lihat hal ini, Viona tersenyum pada Hannah. "Han, wajar kok Randika disukai banyak orang."

"Apa kak Viona termasuk juga?" Hannah natap Viona. ndengar pertanyaan ini, wajah Viona njadi rah. Namun, Hannah tidak lanjutkan pertanyaannya ini. Dia hanya natap Randika yang kesenangan karena dikerubungi oleh beberapa perempuan. Dia mutuskan untuk tidak dulikan kakak iparnya itu lagi.

Para pramugari juga natap kagum pada Randika, reka juga ingin ngenal sang sosok pahlawan kota Cendrawasih ini.

Setelah beberapa saat ladeni orang-orang, Randika kebelet pipis. Setelah berusaha mati-matian keluar dari lautan manusia itu, akhirnya Randika bisa lepaskan diri.

Ketika dia hendak masuk ke dalam toilet, Randika didatangi oleh seorang pramugari.

Randika natap si pramugari, boleh dikatakan bahwa kecantikannya tidak kalah dengan Viona. Alis matanya bergetar dan wajahnya benar-benar rah. Tatapan matanya yang tidak bisa lihat dirinya dan suaranya yang gagap itu lumayan imut bagi Randika.

Randika tersenyum padanya. "Ada yang bisa aku bantu?"

lihat senyuman Randika, si pramugari mberanikan diri untuk bertanya padanya. "Bisa minta nomor teleponmu?"

"Oh? Kenapa?" Senyuman Randika ini mbuat hati si pramugari njadi leleh.

"Karena" Si pramugari itu ngambil satu langkah maju dan berdiri tepat di hadapan Randika. Dalam sekejap, wangi parfum langsung masuki hidung Randika. Dada si pramugari yang kenyal itu juga nempel di tubuh Randika.

Wajah cantik si pramugari itu sudah sangat rah dan tatapan matanya natap mata Randika. "Apa kamu ingin lakukannya denganku di sini?"

"Hmm? Kita mau lakukan apa mangnya?

nghadapi godaan ini, Randika nundukan kepalanya dan berbisik di telinga si pramugari.

rasakan napas hangat Randika, tubuh si pramugari ini makin terangsang. Randika rasa kenapa pramugari ini begitu sensitive?

"Aku ingin kita berhubungan badan." Tangan si pramugari mulai berenang di dada Randika, sedangkan selangkannya sudah nggesek-gesek paha Randika.

skipun si pramugari masih makai pakaiannya, Randika masih bisa rasakan kelembutan darinya.

"Sekarang?"

nghadapi godaan si pramugari ini, Randika pura-pura terlihat polos. Setelah Randika bertanya seperti itu, si pramugari langsung mbuka pintu kamar mandi dan narik masuk Randika.

Di dalam bilik toilet, Randika langsung luk erat si pramugari dan nyenderkannya di tembok. Dengan tangannya bersarang di pinggangnya yang ramping, Randika nerkam bibir rah si pramugari tersebut.

Dalam sekejap isi kepala si pramugari langsung kosong, dia luk erat leher Randika dan sangat bersemangat nerima ciuman dari Randika.

Tangan kanan Randika sudah mulai tidak tahan, dia mulai rogoh rok si pramugari!

Tetapi dia tidak berani lakukan hubungan badan di tempat ini. Pertama-tama ada Hannah dan Viona di luar. Tetapi alasan paling utama adalah reka ada di dalam pesawat. Akan sangat ncurigakan apabila reka berdua nghilang dalam jangka waktu yang lama.

skipun sangat ingin lakukannya, hal ini sangat tidak bagus untuk hubungannya dengan Hannah dan Viona.

Randika masih nikmati tubuh dan ciuman dari si pramugari. Setelah remas pantatnya berkali-kali, sekarang Randika berfokus pada dadanya.

Si pramugari itu kehabisan napas karena ciuman panas reka berdua, dia rasa bahwa Randika tiba-tiba mbuka kancing bajunya.

Wajahnya langsung njadi rah, skipun dia sendiri yang minta "kasih sayang" Randika, dia masih rasa malu karena ini masih di dalam pesawat. Tetapi lihat sosok pahlawan ini mbugili dirinya, dia rasa tidak berdaya. Di dalam pikirannya sekarang adalah dia ingin nanam benih lelaki ini dan lahirkan pahlawan generasi berikutnya.

Bagaimanapun juga, semua perempuan akan terkagum-kagum dengan pria gagah dan pemberani seperti Randika.

Randika mulai lihat sosok kedua gunung itu di matanya, sedangkan si pramugari terlihat ragu-ragu ketika nanti tiba-tiba Randika ingin lakukannya hingga akhir. Namun ketika baju itu akhirnya terlepas, tiba-tiba pintu toilet reka digedor oleh orang dari luar. Dalam sekejap wajah si pramugari njadi gugup dan bingung.

Dengan cepat, Randika nyalakan keran air untuk mberi sinyal bahwa ada orang di dalam. Dia lalu lihat wajah malu si pramugari dan berkata padanya. "Sudah jangan khawatir."

Pramugari itu tidak mbalas sama sekali, sedangkan tangan Randika sudah berenang kembali di dadanya. Tetapi tiba-tiba, pintu toiletnya itu lagi-lagi digedor yang mbuat si pramugari tersebut njadi ketakutan.

Tentu saja, inilah resiko lakukannya di dalam toilet. Lagipula, Randika sudah beberapa nit di dalam toilet ini jadi wajar jika ada orang yang akan ndatangi reka.

Randika minta si pramugari itu tetap diam. Jika dia mbuka pintu itu sekarang juga, bisa-bisa karier si pramugari itu akan hancur dan Randika sendiri tidak punya wajah untuk bertatap muka dengan Hannah dan Viona.

skipun begitu, adrenalin mbuat kejadian ini benar-benar negangkan!

"Sebentar!" Teriak Randika. Bersamaan dengan itu, Randika dapat ndengar suara langkah kaki yang njauh.

Randika lalu mbuka pintu toilet itu pelan-pelan dan minta si pramugari untuk pergi terlebih dahulu. Si pramugari tersebut sudah mbetulkan pakaiannya tetapi wajahnya masih tersipu malu karena kejadian barusan. Dia lalu mberikan kartu namanya kepada Randika dan berkata padanya. "Ini nomor teleponku, rumahku ada di Cendrawasih jadi kita bisa bertemu kapan-kapan."

Setelah nyerahkan kartu namanya, pramugari itu pura-pura ngambil barang dan kembali ke tempat duduknya.

Randika nyimpan kartu nama si pramugari ke dalam saku bajunya, yang masih nyimpan bau dan kehangatan si pramugari tadi.

Kembali ke tempat duduknya, Hannah dan Viona tidak curiga sama sekali karena mang sebelumnya di bandara Randika buang air besar. Tetapi Serena yang duduk di sampingnya dapat ncium bau parfum yang lekat di Randika.

"Ini... bau parfum pramugari tadi!" Serena tersenyum. "Sepertinya aku punya kesempatan, apa kamu ingin lakukannya denganku?"

Randika hanya bisa tersenyum pahit, kenapa indera penciuman Serena mirip dengan seekor anjing pelacak?

lihat keraguan di wajah Randika, Serena malingkan wajahnya. "Dasar pria, kalian semua itu sama saja." Serena lalu nghela napasnya. "Aku sudah mberikan nomor teleponku bukan? Nanti kalau kamu sudah bisa ngelabui kedua perempuan itu, teleponlah aku dan aku akan datang ke hotel mana pun yang kamu mau."

Randika hanya bisa tersenyum dan ngangguk. "Baiklah kalau begitu, nanti kalau sempat aku akan neleponmu."

Hannah nyadari bahwa kakak iparnya itu natap Serena dengan tatapan sum, Hannah semakin cemberut. Dia sangat heran kenapa kakak iparnya ini masih mau nggoda wanita lain padahal dia sudah mbawa 2 malaikat bersama dirinya!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 344: Serena Masih Memiliki Kesempatan! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.