Font Size
15px

Setelah berkata seperti itu, Serena tertawa sekali lagi dan duduk dengan tenang. Sedangkan wajah Randika terlihat murung, dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Awalnya imannya itu benar-benar kuat ketika nolak Serena tetapi lama kelamaan imannya mulai goyah. Kalau saja tidak ada Viona dan Hannah, dia mungkin sudah ngajak Serena lakukannya di dalam toilet.

ndengar perkataan Serena itu, Hannah rasa sedikit lega namun masih waspada. Dia lalu ngajak Viona untuk duduk kembali dengan benar. Sebelum dia duduk, Hannah mberikan tatapan tajam penuh makna kepada Randika seakan-akan berkata bahwa jangan berbuat aneh-aneh atau dia akan laporkannya pada Inggrid.

Randika hanya bisa tersenyum pahit, peringatan adik iparnya ini benar-benar mbuat nyalinya njadi ciut.

Tidak lama kemudian, akhirnya pesawat reka lepas landas. Para pramugari mulai berkeliling dan nawarkan produk-produk reka.

Pada saat ini, dua penumpang terlihat sedang ngobrol dengan asyik.

"Tumben baca koran? mangnya ada kejadian apa di koran?"

"Kamu ini ya, aku tahu kamu tidak suka mbaca tetapi setidaknya kamu harus tahu apa yang sedang terjadi di dalam negeri!"

"Oh? mangnya ada apa dengan negara tercinta kita ini?"

"Kamu tahu serangan teroris di Jakarta kapan hari tidak?"

Temannya itu nggelengkan kepalanya dengan semangat, tatapan matanya seolah-olah minta temannya ini untuk nceritakan apa yang telah terjadi di Jakarta.

"Jadi kapan hari itu ibu kota kita itu benar-benar kacau karena satu orang. Wah dia benar-benar gila karena semua polisi di Jakarta ngejar orang ini sampai-sampai reka ngerahkan 10 helikopter untuk mbantai orang tersebut. Kejar-kejaran reka itu sampai ngganggu kediaman keluarga Alfred dan dia telah mbunuh semua anggota keluarga itu tanpa ampun!"

"Bohong! Mana mungkin satu orang bisa lakukan semua itu?" Temannya ini jelas tidak percaya.

"Terserah mau percaya atau tidak, tetapi apa yang kukatakan itu semua benar. Tetapi akhir-akhir ini dia berita ncoba ngalihkan isu ini. Dari yang selama ini kubaca dan kudengar, teroris itu katanya mbajak pesawat dari kota kita Cendrawasih terlebih dahulu sebelum ke Jakarta."

ndengar kata-kata ini, temannya makin tidak percaya.

Sambil tersenyum, akhirnya dia nanyakan masalah ini pada pramugari yang lewat. "Permisi aku mau tanya, apa ada kejadian pembajakan pesawat akhir-akhir ini? Aku dengar ada pesawat dari Cendrawasih yang dibajak."

Pramugari itu awalnya ragu-ragu untuk njawab, dia pada akhirnya ngangguk. "Benar."

Percakapan kedua orang itu jelas telah nggugah rasa penasaran orang-orang. Sudah banyak orang yang mulai tertarik dengan diskusi kedua orang ini. Lagipula, kejadian di Jakarta itu benar-benar nggemparkan seluruh negeri.

Salah satu orang tiba-tiba angkat bicara. "Aku dengar dari temanku yang pramugari di Cendrawasih, ada pesawat yang nuju ke Jepang yang dibajak oleh kelompok teroris sebelumnya."

Kali ini semua orang terkejut, kejadian ini tidak pernah keluar di dia berita.

"Bagaimana ceritanya?" Semua orang sudah penasaran. Orang tersebut seperti hendak ngatakan sesuatu tetapi nelan kembali kata-katanya

Di suasana tegang seperti ini, Serena natap Randika dan tersenyum kepadanya. Dengan nada suara yang lantang, perempuan itu berkata pada semua orang. "Aku tahu kejadian itu."

Dia tahu?

Dalam sekejap semua tatapan mata tertuju pada Serena, para pramugari juga ikut natapnya.

"Bagaimana kejadian yang sebenarnya?" Tanya salah satu penumpang dengan wajah serius.

"Pada saat itu, ada sekelompok teroris yang hendak nculik semua orang di dalam pesawat dan njadikan kami sandera." Serena mulai nceritakan awal mula kejadian negangkan tersebut, semua orang sudah nahan napas reka. Dari cerita Serena, teroris tersebut mbawa berbagai macam senjata, bagaimana mungkin reka bisa selamat?

Tidak dapat dipungkiri, semua orang rasa penasaran dan nyimak Serena dengan serius.

"Saat itu aku kira kita semua sudah tamat." Tambah Serena.

"Waktu itu siapapun yang berani lawan akan dibunuh tanpa pandang bulu."

Semua orang mulai tidak sabar, reka nantikan bagaimana cara para penumpang tersebut berhasil ngalahkan para teroris yang bersenjata itu.

"Aku dengar dari temanku ada seorang penumpang yang gagah berani lawan reka semua sendirian." Akhirnya salah satu pramugari angkat bicara.

"Sendirian? Tidak mungkin." Kata salah satu penumpang sambil nggelengkan kepalanya. Mana mungkin satu orang bisa lumpuhkan sekelompok teroris yang bersenjatakan senjata api? Rasanya pramugari itu terlalu banyak mbaca komik.

ndengar diskusi ini, Randika terbatuk dan noleh ke arah Serena. Perempuan itu natapnya lekat-lekat, sudah jelas dia ingin mbocorkan identitas Randika.

Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sama sekali tidak berdaya untuk nghentikan Serena. skipun dia telah miliki kekuatan dan kekayaan, Randika berusaha untuk low profile. Tetapi sepertinya impiannya ini akan hancur berantakan sebentar lagi.

Hannah dari awal sudah ngikuti pembicaraan ini, dia benar-benar penasaran dengan cerita seperti ini.

Sekarang semua mata masih tertuju pada Serena yang terlihat tersenyum, dia lalu berkata dengan wajah serius. "Apa yang dikatakan pramugari itu benar, kami semua diselamatkan oleh satu orang. Orang ini benar-benar kuat dan jago bela diri, dia nghajar semua teroris itu dengan tangan kosong."

"Ah? Bohong!" Jelas semua orang tidak percaya, sedangkan si pramugari itu terlihat lega karena cerita yang didengarnya itu ternyata benar bukan sebuah hoax.

"Percaya atau tidak percaya, aku lihat aksinya dengan mata kepalaku sendiri. Situasi kita waktu itu benar-benar gawat tetapi orang itu berhasil naklukan semua teroris itu sendirian. Bahkan para teroris itu tidak bisa berbuat apa-apa."

Banyak orang rasa terkagum-kagum ndengar cerita Serena tetapi beberapa masih tidak percaya. "Ceritamu terlalu ngada-ngada."

"Eh bukannya itu masuk akal? Apa kalian lupa dengan insiden Jakarta? Bukankah pelakunya satu orang? Jangan-jangan pelakunya sama."

"Benar juga!"

Semuanya mulai heboh dengan pendapat reka masing-masing, salah satu dari reka akhirnya bertanya pada Serena. "Apa kamu tahu siapa orangnya?"

ndengar pertanyaan ini, hati Randika ngepal.

"Tentu saja aku tahu." Serena ngedipkan matanya. "Waktu itu orang itu duduk di sampingku."

ndengar hal ini, semua orang njadi penasaran.

"Seperti apa orangnya?"

"Kamu pasti ngenalnya bukan?"

Bahkan para pramugari juga ikut penasaran dengan sosok Randika. Sebelum ini, kejadian pembajakan pesawat itu ditutup rapat-rapat oleh pihak penerbangan jadi tidak ada informasi jelas ngenai masalah ini. reka tidak nyangka bahwa akan bertemu dengan salah satu penumpang dari kejadian tersebut.

Randika terbatuk-batuk tetapi tidak ada yang nyadari sosoknya. Semua mata tertuju pada Serena, nunggu jawaban dari perempuan cantik ini.

Mata Serena sempat lirik ke arah Randika untuk sesaat, hal ini mbuat Hannah makin geregetan dengan Serena. Apa yang direncanakan wanita satu itu?

"Sebenarnya aku benar-benar beruntung hari ini karena aku bisa duduk dengannya lagi hari ini." Kata Serena sambil tersenyum. Secara serentak, semua orang benar-benar terkejut.

Dalam sekejap, semua mata tertuju pada Randika yang duduk di samping Serena.

Puluhan mata natap Randika, semua mata tersebut terbelalak ketika lihat sosok Randika. Mustahil! Orang itu adalah pahlawan yang telah nyelamatkan puluhan nyawa dari teroris?

Untuk sesaat suasana benar-benar sunyi. Hannah dan Viona juga sama terkejutnya dengan yang lain. Hannah benar-benar bingung, kapan kakak iparnya itu lakukan hal heroik seperti itu?

Sedangkan Viona sudah terkagum-kagum, Randika mang lelaki yang gagah dan pemberani!

Para pramugari juga tidak kalah terkejut dengan yang lain, reka natap Randika lekat-lekat. Eh? Bukankah dia terlihat tampan?

skipun begitu, tatapan kebanyakan orang tidak percaya dengan kata-kata Serena.

"Apa kamu tidak salah orang?" Tanya salah satu penumpang.

Serena lalu berkata sambil tersenyum. "Tidak, orang ini adalah pahlawanku waktu itu. Berkat dia kami semua bisa selamat dari kejadian ngerikan itu."

lihat wajah serius Serena, semua orang akhirnya mpercayai kata-katanya.

Randika terlihat gelisah karena tatapan mata orang-orang. "Jangan begitu, waktu itu keadaan terdesak jadi aku terpaksa turun tangan."

"Apa benar kamu nghajar semua orang itu sendirian?" Tanya seseorang.

"Sepertinya." Randika tersenyum.

"Apa kamu jago bela diri?" Lanjutnya.

"Hmm mungkin?" Randika terlihat seperti orang bodoh.

"Bukankah para teroris itu punya senjata? Bagaimana caramu ngalahkan reka?"

Satu per satu pertanyaan mulai dilontarkan orang-orang, tetapi orang-orang masih ragu dengan sosok Randika. Bagaimanapun juga, sosok Randika sama sekali tidak lambangkan sesosok pahlawan.

Tidak dapat dihindari, beberapa dari penumpang ingin lihat Randika beraksi.

"Tunjukan otot-ototmu!"

"Benar, coba angkat apa gitu."

Dalam sekejap semua orang njadi antusias.

Randika nghela napasnya. "Apa kalian ingin lihatnya?"

"IYA!" Semua orang satu suara.

"Baiklah." Randika ngangguk.

Ketika suara Randika itu terdengar, semua mata sudah natap Randika lekat-lekat. Namun, Randika sama sekali tidak bergerak. Randika hanya gang topinya dengan tangannya lalu makainya.

Semuanya natap Randika, berharap lihat sesuatu yang nakjubkan. Tetapi Randika hanya tersenyum dan berkata pada reka. "Sudah!"

Sudah?

Semua orang terlihat bingung, apanya yang sudah?

Namun, pada saat ini, beberapa orang nyadari apa yang dimaksud oleh Randika.

"Bukannya tadi dia tidak gang topi?"

ndengar hal ini, semuanya terkejut. Benar! Randika tidak gang topi daritadi.

"Dari mana topi itu?"

"Benar, dia daritadi tidak mbawa topi apa pun di tangannya!"

"Eh, apa kita tidak salah lihat saja? Mana mungkin tiba-tiba dia punya topi?"

Semua orang terbagi njadi 2.

Pada saat yang sama, seseorang lihat topi yang dikenakan Randika lalu langsung gangi kepalanya. Dengan nada yang terkejut, dia berkata dengan lantang. "Mana topiku!?"

Pada saat ini, Randika tersenyum dan berjalan nghampirinya. "Maafkan aku, aku hanya ingin mperlihatkan sedikit kemampuanku."

Dalam sekejap semua orang terkejut bukan main. Orang itu bisa ngambil topi orang lain tanpa diketahui orang-orang? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi!

Tanpa diragukan lagi, hal ini mbuat semua orang terkagum-kagum; semua orang mulai bertepuk tangan.

"Pahlawan asli!"

"Hebat, hebat!"

Beberapa orang mulai minta tanda tangan dan foto, bahkan para perempuan berebutan narik perhatian Randika dan minta nomor teleponnya.

"Bisa minta tanda tanganmu?"

"Hmm? Di mana aku harus tanda tangan?" Randika ngambil sebuah bolpen dan tersenyum.

"Di sini." Perempuan itu nunjuk dadanya. Randika hanya bisa lihat lembah dada yang begitu besar dan nelan air liurnya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 343: Kisah Sepak Terjang Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.