"Apa rencana kalian berdua setelah ndapatkan hadiah ini?" Si penjaga kios itu nyerahkan microphone kepada Hannah.
Hannah langsung berkata tanpa pikir panjang. "Tentu saja kami akan nghabiskannya untuk belanja dan bermain. Kami akan nghabiskannya hari ini juga!"
Hari ini juga?
Semua orang jelas terkejut ketika ndengarnya, semua laki-laki sudah mberikan tatapan simpati pada Randika. Ternyata laki itu ndapatkan cewek matre sebagai pasangannya, kasihan sekali!
Seandainya saja reka tahu berapa kekayaan yang dimiliki Randika dan Hannah, mungkin reka sudah muntah darah ketika ndengarnya. Hannah begitu bersemangat karena ini pertama kalinya dia nangkan hadiah yang rupakan hadiah utama.
Dua ratus juta bukanlah apa-apa baginya. Terlebih lagi, perusahaan Cendrawasih milik Inggrid sudah lewati masa krisis dan keuntungan yang didapatnya sudah ncapai miliaran. Jika tidak ada masalah, hanya masalah waktu saja baginya untuk ndapatkan keuntungan di angka triliun.
Randika, tentu saja, sebenarnya tidak kesusahan sama sekali. mang dia sekarang tidak gang uang tetapi penghasilan illegal dari gangster yang sudah dikuasainya terus ngalir tanpa henti. Belum lagi kartu yang telah diberikan Catherine padanya.
"Benar-benar perempuan yang narik." Si penjaga kios itu bertepuk tangan, hal ini mbuat Hannah tersipu malu.
"Apa sudah ada rencana mau bermain ke mana Anda?"
"Kalau dipikir-pikir, aku sangat ingin pergi ke Makau!"
Si penjaga kios tadi tersenyum. "Kalau begitu saya ucapkan selamat bersenang-senang untuk kalian berdua. Pertanyaan terakhir untuk sang pacar, apa ada trik rahasia untuk ndapatkan hadiah utama ini atau semua hanya karena keberuntungan saja?"
Randika ngedipkan matanya. "Aku rasa mandi di pagi hari tadi mbuatku cukup beruntung."
Para penonton tertawa, si penjaga kios itu kembali nambahkan. "Kalau begitu terima kasih karena telah berpartisipasi di acara ini, kami ucapkan selamat sekali lagi pada pasangan penang ini!"
Di sampingnya, sudah ada perempuan yang mbawa papan cek besar yang bertuliskan 200 juta rupiah. reka mberikan papan ini sekaligus sebuah kartu ATM pada Randika, lalu perempuan yang mbawakannya tersenyum ke arah Randika dan berbisik di telinganya. "Passwordnya adalah 983412."
Ketika lihat papan itu, Hannah kembali lompat kegirangan.
Ketika reka turun dari atas panggung, tatapan iri langsung nuhi suasana. Tetapi mau bagaimana lagi? Namanya saja undian, jelas yang beruntunglah yang pada akhirnya tertawa!
Hannah masih terpacu adrenalinnya. "Aku harus mberikan kabar baik ini pada kak Inggrid!"
"Ayo kak, cepat kita pergi dari sini!"
Setelah berkata seperti itu, Hannah nyeret Randika ke parkiran mobil dan mbawanya ke perusahaan kakaknya itu. Namun, karena Hannah belum pernah ke gedung yang baru itu, terpaksa yang nyetir adalah Randika.
Sesampainya di gedung perusahaan, Hannah berlari nuju lift disusul oleh Randika. Di dalam lift, wajah girang Hannah sama sekali tidak bisa disembunyikan.
"Kak, nurutmu kak Inggrid terkejut atau tidak ya? Aku sudah lama ingin pergi ke Makau! Kita harus pergi bersama-sama dan ncoba kasino di sana, sudah lama aku ingin ncoba peruntunganku!"
Randika nggaruk kepalanya. "Han, bagaimana ujianmu?"
"Tidak masalah, aku baru ujian lagi bulan depan kok. Masih banyak waktu." Jawabnya sambil tersenyum.
Ketika lift itu ncapai lantai 6, Randika ngingat bahwa dia sudah lama tidak ngunjungi departen yang ditanganinya itu jadi dia ingin ngunjunginya terlebih dahulu.
"Han, kamu bisa ncari kakakmu sendirian kan? Aku mau riksa tempat kerjaku bentar." Setelah berkata seperti itu, Randika turun di lantai 6 dan Hannah langsung nuju kantor kakaknya berada.
"Kak, kak, coba tebak apa yang baru saja aku alami!" Hannah begitu bersemangat ketika mbuka pintu ruangan kakaknya itu. Duduk di kursinya, Inggrid tersenyum ke arah adiknya yang tersayang itu. "Ada apa?"
"Kak Inggrid pasti kaget hihihi." Kata Hannah sambil tertawa. "Jadi tadi aku ke mall sama kak Randika dan nang undian berhadiah!"
Bersamaan dengan itu, Hannah mbusungkan dadanya.
Inggrid tertawa kecil ketika lihat tingkah laku adiknya yang masih kekanak-kanakan itu. "Kamu nang hadiah apa? Boneka atau setrika?"
"Kak tolonglah! Kenapa kakak sarkas seperti itu?" Hannah njadi cemberut, wajahnya lalu berubah njadi sombong. "Aku baru saja nangkan hadiah utama yang hadiahnya 200 juta rupiah!"
ndengar hal ini, Inggrid njadi terkejut. Dia tidak nyangka adiknya akan nangkan uang segitu banyak.
"Jadi ceritanya gini kak. Pada saat itu, kak Randika lompat dan ngambil tiket itu di udara lalu .. " Hannah mulai bercerita dari awal hingga akhir, Inggrid ndengarkannya ini sambil tersenyum.
Setelah selesai ndengarkan cerita Hannah, Inggrid ngedipkan matanya. "Han, kamu ingin pergi ke Makau?"
"Iya kak! Aku rasa kita butuh liburan sekaligus rayakan ujianku yang telah selesai." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Maaf Han tapi pekerjaan kakak tidak sesantai kamu. Kakak masih berusaha mbangun kembali perusahaan ini jadi banyak masalah yang harus kakak tangani." Kata Inggrid sambil nghela napasnya.
"Belum lagi penyelidikan polisi ngenai pengeboman itu dan biaya-biaya baru yang bermunculan. Belum lagi kakak harus nuhi kuota produksi yang terhambat itu jadi maaf kakak tidak bisa pergi bersamamu."
Hannah terlihat kecewa. "Kalau kakak tidak pergi, percuma dong."
"Bagaimana kalau kamu pergi sama Randika saja? Aku yakin dia tidak keberatan nemanimu." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Randika sendiri sedang ngobrol dengan Viona di aula koridor.
Rupanya pekerjaan di departen parfum telah berjalan dengan baik dan reka tidak sesibuk departen lain. Untungnya saja, Kelvin yang cekatan itu nyimpan beberapa formula secara digital jadi reka tidak terlalu tertinggal dalam proses produksi. Tetapi untuk amannya, Randika mbantu reka di awal pembuatan parfum reka. Setelah bisa berjalan sendiri, Randika lepas reka.
"Ran, kenapa kamu tidak datang akhir-akhir ini?" Viona rindukan sosok Randika di hidupnya.
"Aku ada pekerjaan sendiri yang harus kutangani. Oh ya, kapan kamu punya waktu luang? Bagaimana kalau malam ini kita makan malam berdua?" Randika langsung ngalihkan pembicaraan. Sejujurnya, dia sendiri rasa waktu berduaan dengan Viona mang njadi sedikit. Terakhir kali reka pergi bersama, reka makan malam lalu pergi ke bar. Setelah nyanyikan sebuah lagu untuk Viona, reka buru-buru lampiaskan cinta reka di rumah Viona. Namun, orang tua Viona tiba-tiba sudah berada di rumah dan rgoki reka.
Jika ngingat mon itu, air mata selalu ngalir di mata Randika.
Oleh karena itu, kali ini Randika harus milih tempat yang tepat dan njadikan Viona anggota haremnya.
"Benarkah?" Wajah Viona terlihat bahagia.
"Sejak kapan aku pernah berbohong padamu?" Randika mbusungkan dadanya.
"Kebetulan aku ndapatkan libur karena tidak pernah ngambil cuti. Bagaimana kalau kita pergi liburan berdua?" Tanya Viona.
Pada saat ini, Hannah yang sedih itu tidak sengaja bertemu dengan reka berdua.
"Hannah?" Randika noleh ke arah Hannah.
"Kak Inggrid tidak bisa ikut, dia terlalu sibuk." Hannah lalu natap Viona. Hannah dan Viona rupakan teman baik karena dulu Hannah pernah bertemu dengan Viona saat belanja dengan Inggrid. Sejak saat itu, Hannah terkadang belanja bersama Viona di hari liburnya.
"Kak, apa kak Viona libur besok? Bagaimana kalau kita ke Makau bersama-sama?" Tanya Hannah sambil tersenyum.
"Makau?" Viona terkejut ketika ndengarnya, dia natap Randika yang sedang nggelengkan kepalanya.
"Ah! Jangan khawatir, liburan ini gratis kok jadi kak Viona tidak usah keluar uang sama sekali." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika rasa ada siasat di balik senyuman adik iparnya itu.
"Kak Randika akan mbayar liburan kita ini jadi kita berdua bisa bersenang-senang selama di sana!"
ngerti bahwa Randika akan ikut, Viona ngiyakan ajakan Hannah ini.
Setelah san tiket pesawat untuk tiga orang dan nunggu visa reka selama 3 hari, reka langsung bersiap untuk berangkat nuju Makau!
Reviews
All reviews (0)