Bandara Cendrawasih, pukul 8 pagi.
Berkat koneksi yang dimiliki Inggrid, ketiga orang ini berhasil ndapatkan visa dalam waktu yang relatif cepat. Setelah lakukan check-in, reka nunggu kedatangan pesawat reka selama 30 nit.
Hari ini Hannah dan Viona terlihat sangat cantik. Hannah makai sweater setengah badan yang nonjolkan bagian perut dan pusarnya, untuk bagian bawahnya dia makai jeans pendek. Penampilannya sangat fresh dan siap ngarungi negara tetangga!
Sedangkan untuk Viona, skipun penampilannya tidak seterbuka seperti Hannah, dia mberikan kesan yang unik. Dia makai set dress mini berwarna hitam yang nonjolkan lekuk-lekuk badannya yang dipadukan dengan jaket crop top jeans!
reka bertiga berjalan bersama dengan Randika berada di tengah. Ketiga orang ini narik perhatian semua orang yang lewati reka, tetapi mata reka lebih tertuju pada kedua perempuan tersebut.
reka tidak habis pikir kenapa bisa ada 2 perempuan secantik itu di dunia ini? Semua lelaki yang lihat reka akan terdiam dan tertegun. Mata reka tidak bisa berhenti nelanjangi Hannah dan Viona. Setelah 2 sosok malaikat itu nghilang dari hadapan reka, barulah reka semua sadar dari delusi reka.
"Gila, dua perempuan itu benar-benar cantik!"
"Benar, sepertinya reka itu supermodel."
"Aduh tapi ngapain tukang angkut barangnya itu jalan di tengah-tengah reka? rusak pemandangan saja."
"Tapi sadar tidak? Kecantikan reka nutupi kejelekan si lelaki itu!"
"Sialan, seandainya saja pacarku seperti itu aku rasa anakku sudah 10!"
Semua lelaki yang ada di bandara itu ngontari sosok Hannah dan Viona. Dengan pendengaran super yang dimilikinya, Randika benar-benar puas. Orang-orang iri mang hanya bisa iri dan bermimpi!
Ketika reka duduk untuk nunggu kedatangan pesawat reka, tiba-tiba perut Randika bergejolak.
"Aku ke toilet sebentar ya, titip barang-barangku."
"Iya kak, jangan lama-lama lho ya!" Hannah ngibaskan tangannya dan kembali ngobrol dengan Viona. Keduanya benar-benar sudah seperti kakak adik.
Randika segera ncopot tas yang dibawanya dan berlari ke arah toilet. Ketika dia sampai di toilet, dia segera masuk ke bilik toilet. Dari dalam bilik, dia bisa ndengar ada beberapa orang keluar masuk.
Karena lupa mbawa HP miliknya, Randika hanya bisa noleh ke kanan dan ke kiri sampai urusan perutnya ini selesai. Dia sampai mbaca berulang kali peringatan tentang bagaimana cara buang air besar yang benar di dinding.
Apabila dia perhatikan baik-baik, dia juga lihat coretan di dinding yang berbunyi. "Jangan coret-coret di dinding apalagi sampai nulis nomor HP untuk open BO!" dan di kanan bawahnya juga ada coretan serta anak panah yang ngarah pada coretan sebelumnya "Dilarang coret-coret ko****!"
lihat hal ini, Randika tertawa sendiri. Ada-ada saja kelakuan orang Indonesia, mang netizen tidak ngecewakan!
Setelah selesai buang air besar, Randika kembali berjalan nuju tempat duduk reka sebelumnya. Tetapi ketika dia berjalan, dia lihat seorang polisi berseragam sedang berdiri diam dan ngintai orang. Polisi tersebut adalah Deviana!
lihat wajah serius Deviana, Randika tidak ingin ngganggunya. Namun ketika Deviana hendak pergi, ada seorang laki-laki berjalan nghampiri Deviana dari belakang.
Di tangan kanannya, terlihat bilah pisau yang sangat tajam.
Gawat!
Randika ngerutkan dahinya dan berlari nuju Deviana sekuat tenaga.
Rudi natap dendam pada Deviana, tatapan matanya sudah benar-benar dingin. Polisi di depannya itu telah mbunuh saudara-saudaranya, hari ini dendam saudara-saudaranya itu akan terbalaskan!
Rupanya orang ini rupakan salah satu dari komplotan penjahat yang berhasil kabur dari insiden ketika Deviana ngepung aparten berisikan para penyelundup narkoba. Pada saat itu, Rudi tidak berada di aparten tersebut.
Hari demi hari Rudi nunggu kesempatan untuk balas dendam, dia harus mbalaskan dendam saudara-saudaranya itu!
Deviana sama sekali tidak sadar telah diikuti, dia sedang mperhatikan orang-orang yang berjalan di bandara ini. Hari ini dia ndapatkan misi untuk nangkap para penjahat yang hendak kabur dari kota Cendrawasih, dia telah ngerahkan anak buahnya untuk ngamankan semua gerbang.
Tetapi secara tidak terduga, kasus lamanya justru sedang ngincar dirinya dari belakang!
Rudi sudah nggenggam erat pisaunya yang ada di balik jaketnya, pada saat yang sama, langkah kakinya makin cepat dan jarak reka berdua sudah sangat dekat.
Deviana rasa ada sesuatu yang aneh. Ketika dia noleh, dia lihat seorang pria hendak nghampirinya dengan pisau tajam di tangan kanannya.
Deviana bergerak dengan cepat, dia langsung raih pistolnya. Tetapi karena jarak reka sudah dekat, ayunan pisau Rudi lebih cepat dari reaksi Deviana.
MATI KAU!
Tatapan Rudi sudah terbakar oleh api dendam sedangkan Deviana sudah nutup matanya karena dia sudah tahu bahwa reaksinya itu sudah terlambat. Namun reka kedua terkejut dengan kejadian saat ini.
Keduanya rasa bahwa pisau itu gagal bersarang di tubuh Deviana. Ketika reka perhatikan baik-baik, pergelangan tangan Rudi ditangkap oleh tangan seseorang dan pisau tersebut masih berjarak 2 cm dari perut Deviana.
Randika tersenyum, lalu dia remas tangannya yang nggenggam tangan Rudi. Secara tiba-tiba, Rudi rasa bahwa tangannya itu remuk dan segera lepaskan dirinya. Sedangkan untuk pisaunya, Randika sudah nginjaknya dan mbuatnya njadi kepingan salju.
lihat sosok Randika, Deviana benar-benar lega. Sekarang Randika natap tajam ke arah Rudi.
lihat bahwa aksi balas dendamnya ini berantakan, Rudi benar-benar marah. Dia nerjang maju ke arah Randika tanpa pikir panjang, dia akan mbunuh siapa pun yang berani nghalangi rencananya.
Deviana segera kembali raih pistolnya, tetapi tangan Randika nyuruhnya untuk tetap diam. Ketika Rudi sudah berada di jangkauannya, kepalan tinju Randika sudah bersarang di wajahnya dan dia pun terpental.
Para bawahan Deviana sudah berlari nuju lokasi dan nangkap Rudi yang terkapar kesakitan di lantai.
"Tangkap dia!" Teriak Deviana.
Semua orang yang ada di bandara langsung berhenti beraktivitas dan lihat adegan ini.
"Kamu berhutang budi lagi padaku." Kata Randika sambil tersenyum. "Lama-lama hutangmu ini jadi bukit lho."
Deviana nghela napasnya. "Kenapa kamu bisa ada di bandara?"
"Aku berniat untuk pergi liburan." Randika kembali tersenyum. "Akhir-akhir ini aku sibuk jadi aku ingin bersantai-santai."
"Enak sekali hidupmu, aku jarang liburan." Kata Deviana.
"Kalau kamu sudah capek dengan pekerjaanmu, bagaimana kalau aku mberi tahumu pekerjaan yang nyenangkan?" Randika tertawa dan berbisik padanya. "Bagaimana kalau kamu njadi istriku saja?"
"Apa maksudmu!" Mata Deviana hampir copot dari kantongnya.
"Bukankah njadi istriku akan njadi pekerjaan yang nyenangkan? Kita bisa pergi ke mana pun yang kita mau." Randika ngelus dadanya. "Apalagi kalau anak kita nanti sudah lahir, kita bisa pergi liburan bersama-sama."
"Siapa siapa yang mau jadi istrimu!" Wajah Deviana sudah benar-benar rah, suaranya sendiri sudah seperti orang gagap.
"Tentu saja kamu, bukannya aku sudah lindungimu berkali-kali selayaknya seorang suami?" Kata Randika sambil tersenyum. "Kalau kamu nikah denganku, aku anggap hutang budimu itu lunas semua."
"Aku tidak berhutang padamu."
"Kamu mang tidak pandai berbohong. Barusan saja aku nyelamatkanmu, bisa-bisanya kamu masih mbantahnya?" Randika nghela napasnya.
"Apa susahnya ngakui kebaikan orang? Jangan-jangan kamu malu ngakuinya karena kamu nyukaiku?"
ndengar kata-kata ini, wajah Deviana kembali rah. Namun dia tahu, semakin banyak berdebat dengan Randika, semakin gila dirinya. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi ninggalkan Randika.
lihat tubuh Deviana yang semakin nghilang, Randika nghela napasnya. skipun tubuhnya itu tertutup oleh baju polisi, kemolekannya tidak dapat ditutupi. Sayang sekali dia masih belum bisa rasakannya secara langsung.
Randika hanya bisa berharap bahwa mon itu akan tiba suatu saat nanti.
Setelah nyelesaikan kasus Deviana, akhirnya Randika kembali ke tempat duduk Hannah dan Viona.
"Kak, kenapa kakak lama sekali?" Hannah kehabisan kata-kata. "Kalau kakak sakit perut, sudah tidak usah ikut pergi."
"Sudah Han, yang penting Randika sudah ada di sini." Viona berusaha nenangkan. "Sebentar lagi pesawat kita datang."
Setelah nunggu beberapa saat, akhirnya reka mulai masuk ke dalam pesawat reka.
Reviews
All reviews (0)