Di saat Randika larut dengan pikirannya, Anna kembali berkata padanya dari balik layar. "Ketika kau mbunuh 180 anggota keluargaku dan lucuti kekuatan keluargaku, aku tidak nyangka bahwa aku juga bisa lakukan hal yang sama." Tiba-tiba ekspresi Anna kembali njadi bengis. lihat ke arah kara, dia rasa bahwa dia sedang natap Randika secara langsung.
"Kebencian ini, dendam ini, semuanya akan dibayar oleh darahmu! Tidak Sebelum itu, aku akan nyiksa dan mbunuh orang-orang yang ada di sekitarmu, baru aku akan mbunuhmu!" Anna sama sekali tidak nyembunyikan kejahatan yang telah nyelimuti dirinya.
"Randika, jangan harap kamu bisa kabur dari takdirmu ini. Bahkan iblis pun tidak akan sanggup nyeretku ke neraka sebelum aku berhasil mbunuhmu."
"Ini baru awal dari permainan kita, nantikan kejutanku berikutnya."
Anna lalu ndengus dingin, tatapan tajamnya seolah-olah bisa nembus layar dan nusuk tulang punggung Randika. Setelah itu video tersebut mati dan rumah ini kembali njadi hening.
Inggrid ngangkat kepalanya dan natap Randika. Dengan lembut, dia mbelai wajah Randika.
"Kenapa sayang?" Randika nangkap dan ncium tangan Inggrid.
Inggrid lalu mbenamkan kepalanya di pelukannya Randika, Randika lalu berkata padanya. "Apa kamu khawatir sama suamimu ini?"
Inggrid ngangguk. "Anna terlihat benar-benar mbencimu, aku khawatir dia akan lukaimu."
"Hahaha." Randika lalu ncubit hidung Inggrid. "Dasar bodoh, mana mungkin dia bisa lukai suamimu yang kuat ini?"
"Jangan khawatir, masalah ini akan kubereskan secepatnya." Kata Randika sambil tersenyum.
Inggrid ngangguk dan kembali mbenamkan kepalanya di dada Randika.
Randika terdiam dan dengan lembut ngelus kepala Inggrid. Namun pada saat ini, Inggrid dapat ncium aroma rokok di tubuh Randika.
"Kamu habis rokok?"
Randika jelas terkejut, istrinya ini anjing? Hidungnya benar-benar peka!
"Pikiranku tadi sedang penuh, jadinya aku hisap satu batang." Kata Randika.
"Mulai sekarang tidak ada rokok lagi, rokok itu tidak sehat!" Kata Inggrid.
"Baiklah, apa pun untuk istriku yang tercinta." Kata Randika sambil tersenyum. Pada saat yang sama, tangannya sudah berenang-renang di tubuh Inggrid.
"Hentikan!" Inggrid lepaskan diri dan terlihat marah, dia juga nampar tangan Randika yang jahil. "Aku tidak suka bau rokok, sudah mandi sana dulu."
"Ayolah, sekali saja." Randika ncium leher Inggrid.
"Tidak mau!" Inggrid bersikukuh nolak. "Mandi dulu!"
lihat perlawanan Inggrid, Randika hanya bisa nyerah. "Baiklah."
Dia tidak nyangka bahwa istrinya akan mbenci rokok segitu hebatnya. Kalau saja dia tahu, Randika tidak akan rokok tadi.
lihat ekspresi sedih dan tidak berdaya Randika, Inggrid tertawa kecil. "Omong-omong, hari ini Ibu Ipah pulang."
Randika ngangguk, dia dengan cepat ke kamar mandi.
Ketika Randika baru saja masuk, pada saat yang sama, pintu rumah reka terbuka dengan keras.
"Kak, kak, apa kakak baik-baik saja!" Hannah tiba-tiba masuk sambil berteriak.
"Hannah?" Inggrid terlihat bingung. Hannah lalu lihat kakaknya itu sedang duduk di sofa, dia langsung nghela napas lega. Dengan cepat dia nghampiri dan luk Inggrid. "Kak, aku baru tahu bahwa kantor kak Inggrid itu dibom! Maafkan aku yang baru datang!"
lihat ekspresi khawatir adiknya, Inggrid rasa tersentuh. "Sudah berhenti nangis dulu, yang terpenting kakak selamat bukan?"
"Siapa pelakunya? Apa kakak sudah tahu siapa pelakunya?"
Inggrid terdiam untuk beberapa saat, dia lalu berkata pada Hannah. "Pelakunya Anna dari keluarga Alfred."
"Oh ya?" Hannah benar-benar terkejut, dia lalu berkata dengan nada marah. "Kenapa dia tega lakukan semua itu? Banyak orang tidak berdosa di dalam gedung."
"Sudah, biarkan masalah ini ditangani oleh polisi." Kata Inggrid. "Aku harap kejadian kemarin itu tidak terlalu banyak nelan korban."
"Kak, bagaimana dengan perusahaan kakak?" skipun ragu, Hannah berusaha mberanikan diri untuk bertanya. Bisa dikatakan bahwa perusahaan kakaknya ini hancur lebur dan tidak bisa beroperasi.
"Gedung perusahaan kakak masih dalam investigasi jadi proses renovasi masih belum bisa dilakukan, jadi kita harus bersabar." Kata Inggrid sambil nghela napasnya.
Hannah terdiam untuk beberapa saat, dia lalu bertanya. "Di mana kak Randika?"
"Di atas."
Hannah dengan cepat berlari ke atas. "Kak Randika!"
Ketika namanya dipanggil, Randika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang lilit tubuh bagian bawahnya saja.
Ketika Hannah lihat penampilan Randika, hatinya ngepal dan disusul oleh teriakan terkejut.
"AH!"
Ketika Inggrid ndengar teriakan ini, dia terkejut beberapa saat. Namun dia teringat bahwa suaminya itu seharusnya baru selesai mandi.
Jika digabungkan dengan teriakan adiknya itu, Inggrid bisa nebak apa yang tengah terjadi. Dia hanya bisa nyesal tidak ngatakannya pada adiknya terlebih dahulu.
Randika hanya bisa nutup kupingnya ketika dirinya disambut oleh teriakan luar biasa keras itu. Sialan, bukankah aku pakai handuk? Buat apa teriak begitu keras?
"Kenapa kamu teriak begitu keras?" Randika nghela napasnya. "Bukankah kamu pernah lihatku telanjang?"
Hannah kehabisan kata-kata, bukan berarti dia pernah lihat terus kakak iparnya ini bisa berkeliling rumah hanya makai handuk!
"Kak, kenapa kakak begitu sum!" Hannah yang malingkan wajahnya itu tidak kuasa nahan diri untuk tidak ngingat betapa kekar tubuh Randika.
"Lha kamu sendiri yang manggilku tadi bukan?" Randika tertawa. "Aku kira kamu ingin lihat apa yang ada di balik handuk ini jadi aku buru-buru keluar nyambutmu."
Hannah semakin cemberut. "mangnya siapa yang mau lihat kak Randika bugil, apa bagusnya coba?"
Randika natap Hannah dan tertawa. "Han, jangan-jangan kamu masih malu ya? Sudah besar kok malu hahaha!"
"Hah? Siapa yang malu!" Hannah makin marah. "mangnya kak Randika berani lepas handuknya?"
Wah, dia nantang?
"Kamu kira aku takut untuk lepas handukku?" Randika bersiap untuk mbuka. "Tapi kalau aku lepas handukku, jangan coba-coba untuk lari."
Hannah lihat bahwa kakak iparnya itu sudah siap-siap lepas handuknya, dia langsung tersipu malu. Tetapi karena sudah sejauh ini, tidak ada kata mundur!
Mundur bukanlah gaya seorang Hannah!
"Ayo jangan ngomong saja, lepas!" Hannah natap Randika dengan tajam. Dia berharap kakak iparnya ini ngalah dan njauh.
"Kalau itu maumu baiklah!" Randika tertawa dan lepas handuknya. Tetapi tidak disangka-sangka ternyata Randika makai boxer.
Ketika lihat Hannah yang mau berteriak, Randika tertawa keras.
"Hahaha kamu ngarep ya!" Kata Randika.
"Sudah kuduga kakak tidak berani!" Hannah terlihat seakan-akan dirinya telah nang.
Lalu di bawah tatapan mata Hannah, Randika perlahan lorotkan boxernya tersebut.
Apa kakak iparnya ini sungguhan akan lepasnya?
Di saat Randika perlahan berusaha lepas boxernya, Hannah sudah terkesima dengan tubuh kekarnya Randika. Hati Hannah makin berdebar-debar ketika tangan Randika berada di boxernya.
Lalu yang ditunggu-tunggu telah tiba, Randika mbuka boxernya dan telanjang!
"AH!" Hannah langsung nutup mukanya dengan kedua tangannya dan berteriak.
"Kak Randika benar-benar sum!"
Randika berkata padanya. "Hahaha kamu kira aku nunjukan tubuhku begitu saja?"
Hmm? Apa maksudnya?
Hannah lalu lihat dari sela-sela jarinya dan lihat Randika sudah handukan lagi.
"Han, kamu benar-benar terlalu berharap." Kata Randika sambil tertawa. Sebenarnya dia makai kecepatan supernya untuk makai kembali handuknya.
Hannah njadi marah dan berusaha nginjak kaki Randika, tetapi Randika yang sekarang sudah siap dengan serangan adiknya itu.
lihat Hannah yang pergi dengan wajah marah, Randika berkata padanya. "Han, apa kamu benar-benar ingin lihat?"
Hannah dengan marah njawab. "Lepas sana di depan kak Inggrid, aku tidak sudi lihat muka kak Randika lagi!"
Randika nggaruk kepalanya. Tentu saja dia ingin nunjukkannya pada Inggrid, tetapi karena adik iparnya ini ada di rumah jadi reka harus nunda acara suami istri ini.
Randika makai pakaiannya dan berjalan ke lantai bawah. Pada saat ini, Hannah dan Inggrid sedang ngobrol. Ketika Randika nghampiri reka, Hannah berbisik ke Inggrid.
Inggrid hanya bisa nggelengkan kepalanya. "Han, kakakmu itu cuma usil saja."
"Benar, aku cuma suka njahilimu saja." Kata Randika sambil tersenyum lalu duduk di sofa.
"Huh!" lihat Randika yang duduk, Hannah malingkan wajahnya dan ncuekinya.
Kekerasan kepala inilah yang mbuat jiwa usil Randika mbara.
"Kak, apa kakak sudah ada pandangan ke depan ngenai perusahaanmu?" Tanya Hannah.
Inggrid nggelengkan kepalanya. "Kita yang sekarang hanya bisa nunggu waktu saja sampai investigasi polisi selesai. Lagipula renovasi gedung juga pasti makan waktu yang lama."
Dengan kata lain, kembali berbisnis dalam waktu dekat rupakan hal yang sangat mustahil bagi perusahaan nomor 1 kota Cendrawasih ini.
Randika lalu tersenyum dan luk Inggrid. "Sayang, serahkan masalah ini padaku. Dalam tiga hari perusahaanmu itu sudah kembali seperti sedia kala!"
Reviews
All reviews (0)