Font Size
15px

Inggrid natap bingung pada Randika. Tiga hari? Terdengar mustahil! skipun dia tahu bahwa kemampuan suaminya satu ini itu luar biasa, tetapi 3 hari mang terdengar sangat mustahil.

"Kak, kenapa kamu suka nyombongkan diri sih?" Hannah cah keheningan.

Randika natap Hannah. "Kalau begitu bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau aku berhasil kamu yang harus mbuka handukku nanti."

"Hush, tidak boleh taruhan!" Inggrid mukul paha Randika dengan pelan.

Hannah sendiri aslinya tidak mau nerima tawaran Randika, dia tahu pasti kakak iparnya miliki trik hingga dia bisa terlihat percaya diri seperti itu.

"Hmm kalau begitu serahkan masalah ini padaku." Kata Randika pada Inggrid.

Inggrid hanya ngangguk.

Kemudian Randika berjalan keluar nuju halaman rumah. Sesampainya dia di halaman, HP miliknya berbunyi.

Ternyata itu adalah pesan dari Serigala. reka telah ndapatkan informasi ngenai Anna, tetapi informasi ini mbuat Randika ngerutkan dahinya.

Anna telah kabur dari kota Cendrawasih!

Setelah berpikir sesaat, Randika mbalas pesan Serigala yang isinya nyuruh reka ngejar Anna. Jika Anna masih ada di Indonesia, dia tidak akan bisa lari dari genggaman pasukannya.

Pada saat yang sama, Randika sendiri pergi nuju perusahaan yang dikendalikan oleh Black Blood.

Perusahaan ini baru berdiri beberapa tahun, tetapi karena Black Blood nggunakannya sebagai tempat pencucian uang, perusahaan ini dengan cepat njadi jajaran atas di bidang ekonomi kota ini. Mungkin apabila dirangking, perusahaan yang bergerak di bidang sabun ini berada di peringkat 10 teratas.

Randika dengan santai berjalan nuju resepsionis dan berkata padanya. "Panggil bosmu kemari."

Bos yang dimaksud Randika adalah pemimpin perusahaan yang rupakan anak buah dari Black Blood.

"Apakah tuan sudah ada janji sebelumnya?" skipun tamunya ini terdengar kasar, si resepsionis tetap berusaha sopan. Dia njunjung tinggi kesopanan.

Janji? mangnya Randika perlu lakukan hal sepele seperti itu?

Randika tersenyum. "Aku tidak perlu mbuat janji untuk bertemu dengannya, cepat kasih tahu bahwa aku datang ke sini untuk nemuinya."

"Maaf tapi itu tidak bisa." Resepsionis itu nolak. "nurut aturan perusahaan kami, seorang tamu harus mbuat janji terlebih dahulu sebelum bisa bertemu dengan pimpinan kami."

Pada saat yang sama, dari arah lift, pemimpin perusahaan bernama Marvin ini keluar bersama jajaran pimpinan yang lain.

Resepsionis itu tanpa sadar mbungkuk ke arah pimpinan perusahaannya, tatapan matanya terlihat kagum. Kemudian dia kembali noleh ke arah Randika dan berkata padanya. "Maaf tuan tapi aku harus maksamu untuk keluar."

Namun, sosok Randika sudah ninggalkannya dan sudah berjalan nuju Marvin dkk. Randika lalu nghadang reka dengan berdiri di hadapan reka.

"Siapa kamu?" Marvin ngerutkan dahinya.

"Tuan Marvin, orang ini datang untuk nemui Anda." Si resepsionis buru-buru ngejar Randika dan njelaskan situasinya.

"Aku sama sekali tidak ngenal orang ini." Wajah Marvin terlihat marah. "Singkirkan anjing ini, aku tidak punya waktu nghadapinya."

"Baik, maafkan aku." Si resepsionis sudah berkeringat dingin, sekarang kariernya di perusahaan sedang diuji.

Randika nampar tangan si resepsionis yang berusaha nyeretnya pergi.

"Kamu tuli? Cepat pergi dari sini!" Temannya Marvin mulai ikut marah dengan sikap Randika.

"Pergi atau kami akan panggil keamanan." Tambah reka.

Randika masih berdiri dengan kokoh, dia lalu tertawa dan ngatakan. "Aku suka dengan gedung ini. Mulai hari ini, gedung ini adalah milikku."

Semua orang yang ndengarnya terkejut dan tertawa, orang ini sudah pasti orang gila.

"Ternyata orang gila yang datang."

"Sudah, cepat pergi atau kami akan maksamu pergi."

Randika ncueki reka dan ngeluarkan HP miliknya, dia terlihat sedang nelepon seseorang.

"Aduh HPnya saja murahan, gitu mimpi punya gedung ini." Salah satu teman Marvin natap jijik HP yang digunakan Randika.

Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya telepon Randika itu tersambung.

lihat Randika yang sedang sibuk bertelepon, seseorang sudah tidak tahan dengan kejadian ini. "Sudah apa maumu itu? Kau itu sudah gila atau ingin ngejek pemimpin kami?"

"Sudahlah kita tinggal saja orang ini, percuma berbicara dengan orang gila." Seseorang berjalan pergi dan diikuti beberapa yang lain. Marvin ngingatkan Randika sekali lagi. "Pergi atau orang-orangku akan paksa kau pergi."

Tetapi Randika sama sekali tidak gentar, hal ini mbuat semuanya makin geram. Tidak pikir panjang, reka akhirnya manggil keamanan dan nunggu untuk lihat Randika yang akan diseret pergi.

Ketika para petugas keamanan itu datang, Randika sudah matikan teleponnya. Semua orang natap dingin ke arah Randika. Jika saja Randika mau nuruti reka untuk pergi daritadi, dia tidak akan berurusan dengan para petugas keamanan ini.

Para petugas keamanan ini sudah ngepung Randika. Lalu tanpa njelaskan apa pun, salah satu dari reka berusaha nangkap tangan Randika.

"Ini bukan tempat umum untuk orang sepertimu, cepat keluar dari sini." Katanya dengan nada dingin.

Randika masih tidak njawab.

Para petugas keamanan ini sama sekali tidak bergerak, akhirnya salah satu teman Marvin berkata pada reka. "Tunggu apa lagi? Cepat tangkap dan usir dia!"

reka telah bekerja lama di perusahaan ini, ini pertama kalinya reka berurusan dengan hal seperti ini jadi reka agak bingung harus berbuat apa.

"Tangkap dia!"

Semua petugas keamanan tersebut nerjang dan berusaha nangkap Randika, tetapi pada saat ini, suara keras yang nggetarkan hati dapat terdengar dari belakang. "Berhenti!"

Semuanya berhenti bergerak dan noleh ke belakang, reka dapat lihat seseorang berjalan masuk ke dalam gedung. Semua bawahan dan teman Marvin ngerutkan dahi reka ketika lihat pria itu.

"Siapa kamu? Apa kamu orang gila lainnya yang mau rebut gedung ini?"

Namun, Marvin berwajah pucat pasi ketika lihat sosok pria tersebut. Kenapa orang itu ada di sini?

Marvin sudah getar tanpa henti. Baru-baru ini, Robert telah nghubungi seluruh sekutunya yang berada di Cendrawasih. Robert nghubungi reka untuk ngatakan bahwa kekuasaan Black Blood telah diserahkan kepada Dion.

Jadi bisa dikatakan bahwa, Dion telah njadi penguasa dari Black Blood! Pada saat itu, beberapa orang nentang keputusan ini. Tetapi Dion langsung mbunuh reka yang berani nentang dirinya. Hanya dengan satu tangan, Dion matahkan semua leher yang berani berkata tidak.

Pada saat itu, orang-orang yang lihat Dion dengan mudahnya mbunuh ingin mbalas tetapi reka sudah dibunuh duluan oleh pasukannya Dion!

skipun orang-orang yang masih hidup tidak tahu apa yang telah terjadi di internal Black Blood, reka tahu dengan pasti bahwa ketua baru dari gangster ini tidak boleh disinggung.

Marvin lihat Dion berjalan nghampiri dirinya. Ketika teman-temannya itu mau maki Dion, Marvin sudah nampar reka satu per satu. "Diam atau kubunuh kalian!"

Dengan cepat, dia mbungkuk ke arah Dion dan minta maaf atas kelakuan teman-temannya. Dion tidak dulikannya, dia berjalan lewati reka dan mbungkuk hormat pada Randika.

"Ini gedung yang bagus." Randika terlihat puas.

"Untungnya saja gedung ini gratis." Dion juga ngangguk puas, dia lalu mbawa Randika masuk ke dalam.

lihat bahwa dia tidak terlibat dalam masalah ini, Marvin benar-benar lega. Namun tiba-tiba, Randika berhenti berjalan dan tersenyum ke arah Marvin dkk.

Dion mberi sinyal dengan tangannya pada pasukannya, orang-orang tersebut langsung tersenyum sambil lihat ke arah Marvin dkk. Dalam sekejap Marvin sudah tahu apa yang akan nantinya.

"Hukumlah kami tetapi tolong ampuni nyawa kami."

Dion dan Randika naik lift nuju lantai atas sedangkan Marvin dan teman-temannya nerima sambutan yang ramah dari pasukan milik Dion di belakang parkiran.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 336: Gedung Baru! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.