Randika nggelengkan kepalanya. "Jangan khawatir. Jika reka mati, reka tidak pantas bekerja di bawah perintahku."
Sesudahnya Randika berkata seperti itu, tiba-tiba, satu per satu ruangan terdengar jeritan tragis. Dapat terdengar bahwa teriakan itu terbatas pada minta tolong ataupun mohon ampun atas nyawa reka.
"Ran, suara apa itu!" Deviana yang cemas itu segera nggenggam baju Randika dan narik-nariknya. Dia akhirnya sudah tidak tahan lagi dan nyuruh anak buahnya untuk bersiap nerobos masuk. "Bersiap untuk masuk!"
"Sudah santai saja, tunggu 5 nit lagi." Randika nghentikan Deviana. "Kamu boleh mukulku jika aku berbohong."
"Ran, ini bukan masalah kecil." Deviana rasa jengkel dengan Randika yang terus terlihat tenang itu. Bagaimanapun juga, kasus ini sendiri cukup besar dan bisa mpengaruhi kariernya.
"Sudah tidak usah khawatir, orang-orang yang masuk itu orang-orangku." Randika tersenyum kecil. Suasana hatinya yang jenuh itu kembali mbaik sedikit.
Para polisi ini tidak sependapat dengan Randika. ndengar jeritan-jeritan tragis dan suara tembakan, keenam orang itu pasti sudah disiksa habis oleh para kriminal. reka berpikir bahwa orang ini sungguh bodoh.
Pada saat ini, dari aparten terdengar suara teriakan panik. "Ah tidak!! Jangan ke sini!"
Setelah teriakan itu, suasana hening kembali. Ketika ndengar teriakan itu tadi, para polisi dan Deviana sudah terkejut bukan main. reka rasa bahwa pernah ndengar suara orang itu, bukankah itu suara target reka?
Kalau begitu, teriakan-teriakan tragis tadi berasal dari para penjahat?
mikirkan hal ini, ekspresi para polisi berubah semua. Ketika reka lihat sosok Randika, wajah reka tampak bingung.
Beberapa saat berikutnya, Serigala dan anak buahnya keluar dari dalam gedung. Ekspresi anak buah Serigala sudah bagaikan zombie, benar-benar terlihat kosong.
lihat orang-orang bersimbah darah ini, semua polisi rinding bersamaan.
Wajah Serigala masih tetap terlihat tenang skipun darah telah nuhi wajahnya, dia terlihat bagaikan binatang buas yang baru saja makan mangsanya.
Ketika Serigala datang ke hadapan Randika, dia sedikit rasa malu. "Tuan, kami di dalam lepas kendali untuk sesaat. Kami tidak sengaja mbunuh reka semua, apakah kita seharusnya nangkap reka hidup-hidup?"
Semua telah dibunuh?
Deviana dan bawahannya jelas terkejut ketika ndengarnya. reka telah di sini semalaman ngepung dan bertempur susah payah dengan reka.
Dan sekarang Randika dan orangnya masuk cuma 10 nit dan reka telah mbunuh reka semua? reka dengan gampangnya ngatakan bahwa 6 orang ini berhasil mbunuh sebuah organisasi penyelundup? Sulit untuk dipercaya!
Di saat semuanya masih bingung, Randika ngangguk dan noleh ke arah Deviana. "Targetmu telah mati semua, apakah tidak apa-apa?"
Deviana ngangguk sambil tidak tahu harus berkata apa. Dia dengan cepat mberi sinyal pada bawahannya dan nyuruh reka masuk ke dalam gedung untuk riksa keadaan lebih lanjut.
Setelah masuk, para polisi ini nemukan bahwa para pengedar narkoba ini sudah tergeletak di mana-mana dan berlumuran darah. Terlebih lagi, wajah reka terlihat ketakutan dan senjata reka sudah kosong tidak berpeluru.
"reka benar-benar telah mati."
Semuanya saling mandang satu sama lain, kejadian ini benar-benar tidak masuk akal.
Para polisi ini segera nyebar ke seluruh lantai. Pada saat ini, seorang polisi nyadari bahwa korban yang ada di hadapannya ini mati seperti orang yang lehernya telah dipatahkan.
Yang lainnya nemukan bahwa para penjahat ini ada yang dihajar sampai babak belur hingga mati dan ada yang sampai tangan dan kakinya remuk semua!
Jika dilihat baik-baik, semua penjahat ini mati oleh tangan kosong.
mikirkan hal ini, para polisi ini nghirup udara dalam-dalam.
Monster seperti apa reka sebenarnya?
Keahlian bela diri pasukan Ares benar-benar ngerikan.
Pada saat ini, Randika sudah kembali nuju markas sentara pasukannya. Berkat perintahnya, seluruh dunia bawah tanah Cendrawasih kembali bekerja. Di bawah ancaman pasukan Ares, para gangster yang masih bertahan telah ngerahkan seluruh kekuatan reka untuk ncari Anna.
Di bandara, stasiun kereta api, pangkalan bemo, pangkalan bis, semua orang terlihat gang foto Anna di tangan reka. Bisa dikatakan bahwa hampir semua titik transportasi di Cendrawasih telah dikepung oleh pasukan Ares.
Ketika Randika pulang ke rumah, Inggrid nghampirinya. "Ran, ini tadi pagi ada paket untukmu. Aku taruh di ja makan."
Paket?
Randika belum pernah ndapatkan paket seperti ini sebelumnya, hati Randika langsung njadi waspada. Dia ngangguk ke arah Inggrid dan berjalan nuju paket tersebut.
Paket itu terbungkus dengan rapi dan duduk manis di atas ja. nurut penglihatannya, itu tidak mungkin sebuah bom.
Ketika dia mbukanya, tidak disangka-sangka ternyata itu adalah sebuah kaset CD; Randika terlihat bingung.
Kemudian dia mutar kaset tersebut di DVD player yang ada di ruang tamu. Tidak lama kemudian, sosok Anna muncul di balik layar!
Dalam sekejap aura mbunuh Randika keluar dengan hebat.
Jelas ini rupakan rekaman yang dibuat oleh Anna sendiri. Pada saat ini, wajah Anna terlihat sedang ngejek dan puas.
"Bagaimana hadiah yang kupersiapkan untukmu Randika? Apakah itu nyenangkan?"
Wajah Anna benar-benar bengis, nada suaranya ngandung kebencian yang sangat ndalam. Setelah itu ekspresinya berubah njadi sedih. "Tetapi sayang sekali, aku tidak bisa mbunuh pelacur yang kamu sebut istri itu. Lain kali aku akan mastikan bahwa Inggrid akan nemani adikku di liang kuburnya."
Suara TV yang diputar ini lumayan keras sehingga Inggrid yang ada di dapur penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh Randika. skipun wajah suaminya itu terlihat tenang, tubuhnya benar-benar kaku. Ketika matanya tertuju pada TV, Inggrid terkejut bukan main. "Anna?"
Anna rupakan kakak dari Hans dan rupakan anak keempat dari Ivan. Sebelumnya Inggrid pernah bertemu dengannya karena keluarga Alfred dan keluarga Laibahas adalah teman lama.
Randika tidak berbicara sama sekali, Anna yang terlihat sedih itu kembali tersenyum.
"Tapi itu tidak masalah, aku masih punya banyak waktu untuk bermain dengan kalian semua. Aku hanya penasaran saja, apa sebaiknya aku bunuh Inggrid pakai bom lagi atau perlu aku nyewa orang untuk mperkosanya baru mbunuhnya?"
Anna lalu tertawa dengan liar, ekspresinya sudah mirip orang gila. Bila diperhatikan baik-baik, kegilaannya ini sudah mirip Shadow.
Inggrid hanya berdiri dengan tubuh yang getar, dalam sekejap dia langsung luk Randika.
lihat istrinya yang ketakutan itu, Randika dengan lembut ngelus kepalanya dan berkata dengan nada yang nenangkan. "Jangan khawatir, aku ada di sini."
"Baiklah." Inggrid ngangguk dan jamkan matanya, dia tidak berani natap sosok perempuan yang ada di TV itu lagi.
Wajah Randika benar-benar terlihat dingin. Seekor semut berani nantang sang raja hutan? Dia bodoh atau gila?
Aku sudah mbunuh hampir semua anggota keluargamu, apa kamu pikir aku tidak bisa mbunuhmu?
Reviews
All reviews (0)