Font Size
15px

Serigala natap hormat tuannya.

Di sampingnya adalah Singa. Dia masih terlihat tampan seperti seorang ksatria dari jaman dahulu. mang dia adalah dulu adalah seorang bangsawan jadi etika dan perilakunya adalah yang paling sopan dari antara semuanya. Singa mberikan hormatnya yang paling terdalam untuk Randika.

Tetapi jangan tertipu dengan sikap sopannya itu, ketika bertarung Singa sudah bertarung selayaknya seekor binatang buas sungguhan. Dengan keberaniannya yang luar biasa, dia nebar teror pada semua lawan yang berani nghadangnya!

Orang ketiga terlihat tersenyum terus nerus ketika natap Randika, sikapnya ini kurang pantas. Ketika Randika natapnya, Jin berusaha ngol tentang perjalanan reka yang ndadak ini.

"Bajingan, kau berani sekali ya ngol seperti itu! Apa kamu tidak tahu tugas kita adalah layani tuan kita!" Kata Singa kepada Jin.

Jin lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Cih, untung saja ada tuan kita di sini. Kalau tidak sudah kuhajar kau!"

Terakhir adalah orang berbadan besar yang terlihat ngerikan, dia adalah Dion!

Randika natap keempatnya dan bertanya sambil tersenyum. "Sudah berapa lama kalian nunggu?"

"Kami telah nunggu 2 jam." Jawab Serigala.

Randika ngangguk dan berkata pada reka. "Tujuanku manggil kalian adalah karena aku butuh bantuan kalian."

"Katakan apa yang perlu kami lakukan tuan." Singa yang terlihat tenang rasa darahnya mulai ndidih. "Apakah ini ngenai Bulan Kegelapan? Setahu kami dia sedang berada di Arika dan bersembunyi dari kejaran pasukan kita."

"Benar, aku curiga dia ngirim beberapa orang ke sini untuk nyerangku. Tetapi belum tentu juga hal ini berkaitan dengan Bulan Kegelapan." Jawab Randika.

"Kalau begitu siapa lawan kita tuan?" tanya Jin.

"Bodoh! Kalau tuan kita sudah tahu, jelas dia sudah mbunuhnya dengan tangannya sendiri!" Singa marah terhadap Jin yang tidak peka.

"Sudah jangan bertengkar terus, luapkan semangat kalian ini pada misi kalian." Kata Randika sambil tersenyum, tetapi senyumannya ini penuh makna.

"Aku ingin kalian mbersihkan kota ini dari bahaya tersembunyi. Apa cukup satu hari?"

mbersihkan kota Cendrawasih dalam satu hari?

Jika orang lain yang ndengarkan permintaan Randika ini mungkin reka akan maki Randika. Apa Randika tidak tahu betapa luas dan dalamnya lumpur di kota Cendrawasih?

Sebagai kota besar berikutnya yang dikatakan akan ngalahkan kebesaran ibukota, Cendrawasih rupakan tempat dimana air dan minyak bersatu. Konflik kepentingan terjadi setiap harinya tanpa disadari oleh orang awam. Segala macam cara digunakan untuk nguasai kota ini baik dari dalam maupun luarnya. Bisa dikatakan bahwa orang-orang nggunakan trik-trik kotor di dunia bawah tanah kota Cendrawasih.

Namun, tantangan seperti ini justru mbuat keempatnya ini bersemangat.

"Tuan, apa tuan rehkan kita? Satu hari? Jangan khawatir, ketika tuan bangun besok pagi kita semua sudah mbereskan kota ini! Anak buahmu ini siap mati lindungimu."

Dion juga ngatakan. "Aku rasa subuh ini selesai kok."

"Kalau begitu, aku serahkan tugas ini pada kalian berempat. Atur sendiri strategi apa yang kalian perlukan dan jangan terlalu narik perhatian publik. Setelah misi selesai bersembunyilah dan tunggu kabarku. Ah Dion, sebelum kamu pergi aku ingin berbicara berdua denganmu. Sedangkan kalian bertiga boleh pergi sekarang." Kata Randika sambil tersenyum.

"Baik." Jin, Singa dan Serigala lalu pergi sedangkan Dion tetap tinggal di tempat.

"Bagaimana perkembangan Bulan Kegelapan di Arika?" Tanya Randika.

"Dia masih dalam jangkauan kita." Randika lalu nyuruh Dion berdiri dan duduk bersamanya di kursi taman halaman rumahnya.

"Bulan Kegelapan tidak berani nunjukan dirinya dan kekuatannya di Jepang maupun di Arika terus terkikis oleh pasukan kita. Kalau boleh aku ngatakan, Jepang sudah njadi milik kita lagi dan para politikus sudah tidak berani nawarkan bantuannya pada Bulan Kegelapan.

"Jadi apakah nurutmu Bulan Kegelapan ngirim pasukannya diam-diam ke Indonesia untuk nyerangku secara diam-diam?" Tanya Randika dengan wajah serius.

"Bisa jadi Tetapi nurut pemahamanku kemungkinan ini kecil tetapi tetap ada. Lagipula kita juga tidak tahu seberapa besar kekuatannya yang asli."

Mau tidak mau, Randika sendiri nganggap bahwa serangan bom tadi itu bukanlah Bulan Kegelapan. Seharusnya dia tahu bahwa serangan seperti itu tidak akan mbunuhnya. Tetapi, dia tidak bisa nutup kemungkinan bahwa dalang sebenarnya adalah Bulan Kegelapan. Oleh karena itu, untuk jaga-jaga dia minta Yuna untuk ngirim pasukan ke Indonesia untuk mbereskan masalah ini untuknya.

"Untuk program reorganisasi pasukan kita, posisi yang kosong sebagian besar sudah terisi. Apabila tuan lihat orang-orang yang kita rekrut itu, tuan pasti terkejut."

Randika ngangguk. "Kalian sudah bekerja dengan baik."

Dion lalu lihat langit. "Indonesia mang negara yang ngagumkan."

"Yah lumayan." Kata Randika sambil tersenyum.

Keduanya lalu berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya berpisah. Ketika Randika masuk ke dalam rumah, hatinya rasa tenang. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi karena pasukannya telah tiba.

Malam hari ini, dunia bawah tanah di kota Cendrawasih penuh oleh teriakan tragis dan muncratan darah. Dalam sekejap, kekuatan kegelapan di kota ini telah hancur.

....

Bagian barat kota di sebuah gedung besar.

Ini adalah markas geng terbesar kota Cendrawasih untuk saat ini yaitu geng Pedang Badai. reka terkenal bengis dan selalu resahkan masyarakat. reka napak njadi yang terkuat berkat bantuan para politisi yang reka dukung.

Dua pengawas geng Pedang Badai ini berjaga di depan pintu masuk. Tiba-tiba reka bertemu dengan sosok misterius yang nutupi wajahnya.

"Berhenti atau kubunuh kau! Apa kamu tidak tahu ini adalah markas Pedang Badai?"

"Justru aku ke sini untuk mbunuh kalian." Suara Jin yang bersemangat itu ngejutkan reka berdua. Tanpa ragu-ragu, Jin nerjang ke arah reka. Sebelum reka bisa ngeluarkan senjata reka, Jin sudah matahkan leher reka.

"Cih, kenapa kalian lemah sekali." Kata Jin sambil nggelengkan wajahnya. Pada saat ini, orang-orang di dalam gedung sudah ndengar kegaduhan yang terjadi di luar. reka langsung ngambil senjata api reka dan nerjang ke luar.

lihat Jin dan anak buahnya, reka langsung mbidik lawan reka itu tanpa ragu-ragu. Namun, reka tidak sempat nembakkan senjata reka sama sekali. Justru dahi reka sudah bersarang sebuah peluru.

"Hmm lumayan, lumayan. Tidak salah aku milih kalian jadi anak buahku." Jin ngangguk puas pada anak buahnya. Dia lalu mbawa anak buahnya ke dalam gedung tersebut.

Ketika reka masuk ke dalam gedung, para gangster itu sudah ditakdirkan mati. Ketika Jin nerjang masuk, teriakan tragis langsung terdengar bersamaan dengan suara tembakan tanpa henti.

Jin ngangguk puas ketika lihat kinerja anak buahnya yang bagus itu, tidak percuma dia latih reka begitu lama.

Pada saat ini, pria berbaju jas berusaha lari dari pintu belakang; dari penampilannya bisa dikatakan bahwa dialah pemimpin geng ini. Ketika dia berlari, sebuah sosok misterius muncul di hadapannya.

Ketika bos tersebut ngacungkan senjatanya, Jin hanya berkata dengan nada ngancam padanya. "nyerah atau mati, pilihanmu."

"Aku nyerah." Kata si bos tersebut sambil nggertakan giginya.

Jin ngangguk dan lambaikan tangannya. Dalam sekejap, anak buah Jin berhenti mbantai. Namun semua itu sudah terlambat, hampir seluruh gangster itu sudah mati.

Bos itu lihat Jin malingkan wajahnya, tatapan matanya langsung bersinar. Ketika tangannya berusaha raih pistol yang ada di balik bajunya, di hadapan matanya sudah ada kilau pisau yang dingin. Dalam sekejap Jin sudah mbenamkan pisau itu pada dahinya.

"Aku paling benci orang bodoh sepertimu." Kata Jin.

Dalam waktu 5 nit, geng Pedang Badai sudah hancur seluruhnya.

Pada saat yang sama, di sebuah gang tidak jauh dari sana.

Serigala dan pasukannya nari di atas puluhan mayat gangster yang telah reka bunuh.

"Tinggal berapa lagi?" Tanya Serigala.

"Kurang 5 lagi tuan." Kata anak buahnya dengan hormat.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 331: Membersihkan Kota Cendrawasih on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.