Serigala ngangguk. "Baiklah, cepat kita selesaikan pekerjaan kita."
Di lain sisi, Singa sedang ngacungkan pistolnya kepada seorang gangster tepat di dahinya. Setelah mbunuh seluruh teman-temannya dan bosnya, Singa nyisakan seorang ini untuk nyebarkan cerita pembantaian ini. Bagaimanapun juga, dia harus nyebarkan nama agung tuannya.
lihat Singa dan anak buahnya pergi, gangster itu nghela napas lega sebanyak-banyaknya. Wajahnya sudah benar-benar pucat dan punggungnya sudah basah oleh keringat.
"Kota ini akan bermandikan darah malam ini."
.......
Arena tinju bawah tanah Cendrawasih, Phoenix Gym
Phoenix gym rupakan sarang dari geng nomor satu di kota Cendrawasih yaitu geng Black Blood.
Tentu saja, sarang ini bukanlah sarang utama dari Black Blood. Phoenix gym dijadikan tempat Black Blood naruh pasukannya, hal ini sudah cukup mbuat reka njadi geng nomor 1 di Cendrawasih.
Cabang dari Black Blood ini sudah bertahun-tahun berada di Cendrawasih dan sudah ngakar dengan kuat. Arena tinju illegal ini dibuat oleh reka dan rupakan tempat yang cukup bagus untuk nghasilkan uang. Pertarungan sampai mati itu bisa ndatangkan kekayaan bagi si penang dan kematian bagi yang kalah.
Sekarang ini, dua orang sedang bertarung mpertaruhkan nyawa reka. Namun petinju dari Eropa itu mberikan pukulan keras pada lawannya hingga dia terjatuh.
Tapi pertandingan belum selesai. Pemuda dari Bandung itu berdiri dengan kaki yang getar dan ngelap darah di mulutnya. Dengan sekuat tenaga, dia kembali bertarung dengan lawannya.
Darah yang ngalir dan kekerasan yang tidak bisa dilihat dari olahraga tinju biasa mbuat darah para penonton njadi ndidih, khususnya yang bertaruh.
"Bunuh dia, bunuh!"
"Orang Eropa itu tidak kalah-kalah sejak seminggu yang lalu, percuma anak itu tetap berdiri."
"Sialan, aku kira 2 ronde sudah cukup untuk nghabisi bocah itu."
"Tahu gini aku masang bocah itu dapat bertahan sampai ronde akhir!"
Di sebuah ruangan VVIP di barisan paling atas dari arena ini, duduk seorang pria paruh baya. Matanya nyapu semua penonton yang bersorak, dia ngangguk puas dengan volu penonton ini.
Dia adalah pemimpin dari Black Blood cabang Cendrawasih yang dijuluki sebagai Robert si anjing gila.
"Pak Robert, ini hasilnya malam ini. Tolong diperiksa." Seorang bawahannya mberikannya sekoper uang beserta catatan jumlah uangnya.
Robert hanya ngibaskan tangannya. "Coba kamu lihat ke bawah, apa yang kamu lihat? Aku hanya lihat orang-orang heboh dengan sendirinya dan masang uang reka. Tidak peduli berapa uang yang kita hasilkan, itu semua masih kecil apabila kita nambahkan narkoba di nu kita. Bagaimana proses supplier kita?"
Dengan cepat bawahannya itu mberitahu proses perkembangannya. Robert ngangguk pelan dan kembali natap arena. Namun, tiba-tiba dia ngerutkan dahinya. Petinju Eropa itu berhasil matahkan leher petinju dari Bandung dan sekarang dia sedang berselebrasi. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang naiki arena.
Para penonton ini semuanya bingung, ada apa ini? Kemudian reka tertawa, apa orang itu mau mbalaskan dendam temannya yang mati itu? Bodoh sekali dia nantang orang Eropa.
"Hei, hei, cepat aku bertaruh 10 juta buat orang Eropa itu."
"Bunuh dia!"
rasa bahwa ada petarung baru yang akan bertanding, para penonton ini makin nggila. Seorang staf nghampiri Dion dan berusaha mbujuk Dion untuk keluar dari tempat ini karena sekarang bukanlah gilirannya untuk tampil. Dion hanya terdiam, dia lalu nampar staf tersebut dengan keras. Gigi yang copot sekaligus diikuti dengan darah langsung nghujani para penonton. Sedangkan staf tersebut sudah terkapar tidak sadarkan diri.
lihat adegan ini, para penonton terkejut dan bawahan Robert langsung bertanya pada bosnya. "Tuan, apa kau ingin aku ncegahnya?"
Robert terdiam sentara waktu, dia lalu berkata setelah beberapa saat. "Usir dia keluar."
Bawahannya tersebut lalu mbawa beberapa orang bersamanya dan berjalan keluar nuju arena.
Para penonton yang sudah terlanjur masang taruhannya itu mulai ketakutan sedangkan yang belum langsung berbondong-bondong masang buat Dion.
"100 juta untuk pendatang baru!"
"50 buat pria hitam itu."
Taruhan demi taruhan dipasang untuk mpertarungkan Dion dengan petinju Eropa tersebut.
lihat penghinaan ini, petinju Eropa itu mulai marah dan sudah ngeluarkan aura mbunuhnya.
"Jika kau berani langkah, jangan salahkan aku jika ncabut nyawamu." Dion dengan santai rehkan petinju Eropa tersebut. ndengar kata-kata ini, jelas dia rasa tersinggung dan langsung nerjang ke arah Dion.
Sebuah tinju yang keras layang ke arah wajah Dion tetapi Dion terlihat tenang dan tidak bergerak. Ketika sorakan para penonton itu makin keras, situasi pertarungan ngarah pada situasi yang benar-benar tidak terduga.
Tinju Dion bertemu dengan tinju orang Eropa tersebut. Namun, wajah orang Eropa itu benar-benar terlihat pucat pasi.
Tinju Dion sudah bagaikan baja yang nghantam keras tangannya, jelas bahwa tulang jari-jarinya itu sudah hancur.
Petinju Eropa itu mundur beberapa langkah dan natap takut pada Dion. Dion lalu berjalan maju dan layangkan sebuah pukulan tepat di wajahnya.
Ketika para penonton lihat bahwa petinju Eropa itu mundur, reka sudah ngerti apa yang akan terjadi berikutnya maka dari itu reka mberinya semangat. "Jangan nyerah! Habisi dia! Kami bertaruh banyak untukmu!"
Petinju Eropa itu ngangkat kedua tangannya di depan wajahnya untuk ncoba nghalau serangan Dion. Tetapi semua sudah terlambat, tinju Dion sudah ndarat tepat di wajahnya. Sorakan para penonton yang riuh itu langsung terdiam ketika lihat darah bermuncratan dan gigi yang terlempar.
Dalam sekejap suasana arena tinju illegal ini sunyi senyap.
Dion yang berhasil njadi penang itu natap ruangan VVIP yang ada di atas.
Pada saat mata Dion ngarah padanya, tubuh Robert sudah getar tidak karuan. Dia rasa bahwa tatapan itu bisa mbunuhnya kapan saja.
Keringat dingin mulai nuhi dahi Robert, wajahnya terlihat tegang. Dia baru pertama kali rasakan perasaan tertekan seperti ini.
Pada saat yang sama, bawahan Robert yang mbawa beberapa temannya itu sudah ngepung Dion. Namun, pasukan Dion yang mbaur dengan para penonton itu berdiri semua dan ngeluarkan senapan serbu reka.
DOR! DOR! DOR!
Suara senapan yang ditembakkan itu ngejutkan semua orang. Suasana sunyi senyap itu berubah njadi kacau dalam sekejap. Dion sendiri berjalan nghampiri ruangan VVIP dengan santai.
......
Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di ruangan VVIP. Keesokan harinya Dark Blood, geng nomor 1 di Cendrawasih, telah resmi ngeluarkan diri reka dari kota Cendrawasih!
Semua dunia bawah tanah di Cendrawasih ngalami hal yang sama, reka telah diserang oleh pasukan yang datang entah dari mana. Semalam rupakan neraka bagi reka semua.
Seluruh geng berkekuatan besar ataupun sedang telah dihancurkan tanpa alasan yang jelas, serangan itu benar-benar terlalu ndadak. reka hanya punya 2 pilihan yaitu nyerah atau mati.
Dalam sehari kekuatan kegelapan dari kota Cendrawasih telah hancur lebur. Keesokan paginya, sudah tidak ada geng yang berkuasa di Cendrawasih.
Dalam sehari, bulan yang bersinar indah itu diwarnai oleh rah darah.
Pada saat yang sama, Randika mberikan perintahnya pagi hari itu juga. Dalam sekejap, semua orang yang tersisa di dunia bawah tanah itu ncari seorang penjual yang njual bahan peledak.
Karena reka sudah nyerah pada pasukan Ares, semua gangster yang selamat itu bekerja dengan tekun demi ncarikan informasi bagi Randika.
Ketika Randika sedang sarapan, HP Randika bunyi.
Ketika dia mbuka pesannya, foto dan informasi ngenai Anna terpampang jelas. Di dalam pesan itu juga ada bahan peledak apa yang dia beli dan hotel mana dia nginap.
Reviews
All reviews (0)