Ketika ledakan beruntun itu hampir selesai, lantai ruangan Inggrid sudah runtuh ke bawah. Tanpa pikir panjang, Randika lompat ke arah Inggrid.
"Inggrid!" Randika dengan cepat lompat dan nangkap Inggrid.
"Pegangan yang kuat!"
Seketika itu juga Inggrid luk erat Randika. Di atas reka, atap ruangan serta atap bangunan itu ikut terjun bersama reka. Ketika nanti reka berhasil ndarat, reka harus nghadapi bahaya yang datang dari atas tersebut.
Karena reka berada di lantai 10, reka terjun ke bawah cukup lama karena 3 lantai di bawah reka itu juga sudah hancur sepenuhnya.
Anna ndengus dingin lihat Randika dan Inggrid itu masih hidup dari teropongnya. Tetapi seharusnya 2 orang itu akan mati apabila lihat gedung yang runtuh itu akan nimpa reka.
Di saat Randika lihat lantai yang masih setengah hancur tidak jauh darinya, dia ngerutkan dahinya. Jika dia dan Inggrid berhenti di lantai tersebut, jelas reka akan tertindih dari atas.
Randika sendiri tidak mpunyai pilihan karena dia sama sekali tidak bisa nghindari reruntuhan dari atas tersebut, terlebih lagi tangannya yang satu gang Inggrid.
Ketika dirinya lihat ke atas, dia dapat lihat berbagai macam barang dan reruntuhan siap mbunuhnya kapan saja. Kejadian hari ini justru lebih ngerikan daripada saat nghadapi gedung yang diledakkan oleh Shadow.
Ketika Randika sibuk berpikir, tiba-tiba pilar di lantai tempat dia akan ndarat itu runtuh. Seluruh tubuh Randika sudah dilapisi oleh tenaga dalamnya. Dia lalu nghancurkan pilar tersebut karena khawatir lantai yang sudah setengah hancur itu akan runtuh apabila berat pilar itu ditambahi berat reruntuhan dari atap.
Ketika dia sudah ndarat, reruntuhan dari atas sudah sangat dekat dengannya dan sudah tidak mungkin dia bisa nghindarinya.
"Tutup matamu!" Kata Randika.
Inggrid tidak ragu-ragu nuruti Randika dan nutup matanya dengan cepat. Sambil luk Inggrid, Randika langsung mbelakangi reruntuhan itu dan berusaha nahan apa saja yang akan nimpanya.
BOOM!
Sebuah batu besar nabrak punggung Randika dengan keras, hebatnya batu itu langsung hancur. Namun, reruntuhan lain segera nyusul dan sekarang Randika dan Inggrid tertindih olehnya.
Bersamaan dengan ini, keadaan mulai njadi tenang skipun debu masih berkeliaran di mana-mana. Pada saat ini, bagian sisi utara gedung perusahaan Cendrawasih sudah hancur lebur!
Para penonton di bawah itu sudah terpana lihat kejadian ini. Para polisi dan pemadam kebakaran tidak berani masuk dengan gegabah ke dalam gedung tidak stabil seperti itu.
lihat gedung yang sudah setengah hancur itu, peralatan yang dibawa reka sangatlah tidak madai.
"Kapten, kita tidak bisa masuk kalau begini!"
"Bersabarlah, markas akan segera mbawakan alat-alat yang dibutuhkan. Untuk sentara ini selamatkan yang ada!"
Mungkin sebagian orang akan nganggap para polisi dan pemadam kebakaran yang tidak segera bergerak itu tidak berani nyelamatkan orang-orang yang di dalam gedung. Namun, di hadapan gedung yang tidak tahu kapan bisa roboh itu dan reruntuhan yang nghalangi jalan masuk, reka mang tidak berdaya. Bagaimanapun juga, reka tetaplah manusia bukan Tuhan. Justru masuk dengan terburu-buru dan tanpa rencana adalah tindakan bodoh.
Deviana juga datang ke lokasi kejadian. Karena jabatannya mulai naik, dia miliki lebih banyak anak buah sekarang.
Ketika ndengar bahwa perusahaan Cendrawasih dibom, hati Deviana benar-benar cemas. Dia tahu bahwa Randika bekerja di perusahaan ini, dia tidak tahu bagaimana keadaan temannya itu.
Sekarang yang bisa dilakukan para pemadam kebakaran dan polisi ini adalah mbuat rencana penyelamatan yang ndetail sekaligus nentukan di mana titik-titik yang rawan bahaya. Baru setelah itu reka bisa rencanakan evakuasi yang benar.
Garis polisi sudah terbentang dengan luas dan nghalangi para orang awam untuk masuk ke dalam lokasi kejadian. Pada saat ini, suara sirene tidak kunjung berhenti terdengar. Dari jauh, mobil dari satuan khusus dapat terlihat sedang laju ke arah lokasi kejadian.
Bisa dibilang karena ini adalah kejadian paling nghebohkan dalam sejarah kota dan targetnya rupakan perusahaan nomor 1 di kota ini, para politikus dan petinggi negara yang berdiam di kota Cendrawasih ini ngerahkan seluruh kekuatan reka. Tentu saja, hal ini dilakukan untuk naikkan citra reka.
Oleh karena itu, beberapa satuan gabungan telah berdiskusi ngenai rencana evakuasi sekaligus penyelamatan. Tujuan utama reka adalah nyelamatkan sebanyak mungkin sebelum gedung ini roboh seluruhnya.
reka juga ngerahkan anjing-anjing polisi yang terlatih untuk lacak keberadaan orang yang mungkin saja tertimbun oleh reruntuhan.
"Mari kita mulai."
Setelah rencana ditetapkan, para penyelamat ini mulai bekerja. Dengan nggunakan kara digital yang bisa lacak suhu tubuh manusia dan anjing polisi, reka bergegas masuk ke dalam gedung.
Orang-orang dari dia TV maupun koran juga liput kejadian ini. Bahkan para dia TV lakukan siaran langsung untuk mberikan berita terbaru setiap saat.
Kejadian ini benar-benar njadi sorotan publik. Terlebih lagi kota Cendrawasih rupakan kota yang cukup besar dan digandang-gandang sebagai pesaing dari Jakarta ataupun Surabaya. Namun, tiba-tiba ujung tombak kota ini telah dibom. Tentu kejadian ini sangat narik dikaji oleh dia.
Pada saat yang sama, para karyawan yang terperangkap di bagian gedung yang masih berdiri itu bertemu dengan tim penyelamat.
"Hei, ada orang di sini!" Seorang polisi yang mbawa anjingnya itu nemukan tanda-tanda kehidupan. Dalam sekejap, timnya langsung bergegas untuk mindahkan reruntuhan. Tidak lama kemudian, beberapa orang yang bersimbah darah dan tertindih bebatuan dapat terlihat.
Dengan sigap, salah satu dari tim penyelamat ngeluarkan tandu dan mbawa reka ke ambulans. Sekarang musuh reka adalah waktu.
Misi penyelamatan dilakukan kembali dengan cepat dan efisien. Orang demi orang reka temukan dan nyawa demi nyawa terus reka selamatkan.
Pada saat ini, salah satu dari reka nemukan seorang pria yang tertindih oleh banyak batu besar dan rupanya dia masih bernapas. Ini benar-benar sebuah keajaiban kalau lihat betapa besar beban yang nindih dirinya.
Namun, apabila dilihat baik-baik, reka nemukan bahwa orang tersebut luk seorang perempuan! Pada saat reka hampir selesai mindahkan reruntuhannya, pria itu tiba-tiba bergerak.
"Masih sadar?" Tentu saja para tim penyelamat ini benar-benar terkejut, reka tidak nyangka bahwa orang tersebut masih bisa bergerak. Karena takut beban yang dia tahan dengan punggungnya itu runtuh ngenai Inggrid, Randika akhirnya mutuskan untuk nunggu bantuan. Setelah 90% reruntuhan itu terangkat, akhirnya Randika bisa bergerak dengan bebas sekali lagi.
Tubuhnya itu penuh debu dan punggungnya penuh luka sekaligus mar, darah terus ngucur dari mulutnya tetapi kedua matanya itu terlihat bersinar.
skipun dia sudah ngalirkan tenaga dalamnya untuk lindungi dirinya, reruntuhan sebesar itu tetap lukai tubuhnya. Untungnya saja, Inggrid tidak terluka sama sekali berkat dirinya.
Ketika orang-orang nghampiri Randika, dia hanya nggelengkan kepalanya dan berkata pada reka. "Aku tidak apa-apa."
Setelah itu, Randika nggendong Inggrid keluar dari reruntuhan. Para penyelamat itu nawarkan bantuan untuk mbawa Inggrid ke rumah sakit tetapi niat baik reka telah ditolak oleh Randika. Pada saat ini, Inggrid mbuka matanya dan natap Randika. Hatinya terasa sedih lihat Randika yang terluka.
"Kamu tidak apa-apa?" Katanya sambil neteskan air mata.
"Tentu saja, apa kamu pikir aku akan mati ninggalkanmu?" Kata Randika sambil tersenyum.
Dalam perjalanannya nuju pintu keluar, ratusan pertolongan dari tim penyelamat telah ditolak oleh Randika. Dia hanya ingin mbawa Inggrid ke tempat yang aman.
Di dalam hati Randika, kemarahannya sudah muncak. Tidak peduli siapa, tidak peduli di mana dia bersembunyi, dia akan mburu siapa pun yang berani nyerangnya!
Seluruh kemarahannya ini tertuju pada satu nama yaitu Bulan Kegelapan.
Reviews
All reviews (0)