ndengar teriakan orang-orang yang berlarian ketakutan, hati Randika mulai terbakar oleh amarah.
Dia sangat mbenci orang yang narget orang tidak bersalah seperti ini. mang dia nyandang nama Ares karena telah mbunuh orang yang begitu banyak tetapi sama sekali tidak ada setetes darah orang tidak bersalah yang nodai tangannya.
Oleh karena itu, aura mbunuh Randika keluar dengan hebat. Dia akan mbunuh orang yang biadab ini!
Pada saat ini, gedung ini masih bergoyang-goyang dan lampu-lampu yang mberikan reka penerangan itu satu per satu mulai jatuh dan pecah. Keadaan gelap ini semakin mbuat orang ketakutan dan reka segera berbondong-bondong ingin segera keluar dari gedung ini.
Namun pada saat ini, Randika mikirkan Inggrid yang berada di lantai paling atas. Hatinya itu segera ngepal.
"Jika musuh ngincarku, sudah pasti dia ngincar Inggrid juga. Sialan, Inggrid berarti dalam bahaya!" Dalam sekejap, hati Randika itu njadi khawatir.
"Vi, kamu dan yang lain harus tetap di dalam ruangan. Jangan khawatir, gedung ini tidak akan roboh. Kalian harus tetap di dalam ruangan kalau tidak kalian bisa terkena pecahan kaca." Kata Randika dengan cepat. "Sembunyilah di bawah ja."
Setelah berkata seperti itu, Randika berlari keluar dengan sekuat tenaga.
"Randika!" Viona dengan cepat neriaki nama Randika. Tetapi sosok pria yang dicintainya itu sudah nghilang dan ninggalkan dirinya, hatinya langsung dingin. Dia tidak tahu ke mana perginya Randika.
"Pak Randika mau ke mana?" Tanya teman Viona yang berwajah pucat itu. Dia jelas belum pernah ngalami kejadian ini jadi dia sudah ketakutan dari sejak awal gempa.
"Kata-kata pak Randika tadi benar. Kita lebih baik bersembunyi di bawah ja dan tidak keluar dari ruangan. Ledakan yang terjadi tadi seharusnya sudah dilihat oleh banyak orang dan bantuan akan segera datang. Lebih baik kita nunggu di sini sampai bantuan tiba untuk nyelamatkan kita." Kata Kelvin dengan nada yang nenangkan.
Orang-orang dalam ruangan ini setuju dengan penilaian Kelvin. Pada saat yang sama, Randika berlari nuju ruangannya Inggrid dengan cepat. Di saat dia berusaha ncapai tangga darurat, ratusan orang berusaha lari ke bawah untuk dapat keluar dari gedung secepat mungkin.
Karena alasan keamanan, lift telah berhenti beroperasi maka satu-satunya jalan keluar adalah tangga darurat. Oleh karena itu, tangga darurat ini njadi penuh oleh orang.
"Larilah ke bagian selatan, di sana aman!" Randika berteriak ke arah kerumunan orang yang nghalanginya itu. Tetapi para massa yang panik ini jelas tidak ndengarnya karena reka sibuk nyelamatkan diri reka sendiri. Lagipula buat apa reka tetap tinggal di gedung ini? Kalau roboh bagaimana?
Kata-kata Randika ini masuk akal. Bagian selatan gedung tidak banyak terbuat dari kaca jadi titik yang paling aman adalah bagian selatan gedung. Lagipula pengeboman ini sama sekali tidak ngincar fondasi gedung jadi tidak mungkin gedung ini akan roboh skipun gedung bergoyang.
Pada saat ini, keadaan masih kacau balau tanpa arahan yang jelas. Randika sendiri masih berusaha lewati lautan manusia itu nuju ke lantai atas.
Di dalam lift sendiri terdapat orang-orang yang terjebak di dalamnya; reka naiki lift ini sebelum bom pertama kali ledak. Ketika bom pertama ledak, lift ini berhenti bergerak dan reka terjebak di dalamnya. reka getaran di dalam ruangan kecil itu dan berdoa lift yang reka naiki itu tidak akan terjun bebas newaskan reka.
Belum lagi reka terus ndengar suara ledakan tanpa henti, nasib reka sepertinya sudah jelas!
Randika masih berusaha berlari ke lantai ruangan Inggrid berada. Setelah naiki 2 lantai, keadaan njadi lebih baik karena orang-orang di lantai atas sudah berbondong-bondong keluar daritadi.
Randika sama sekali tidak ragu, apa pun yang terjadi dia akan nyelamatkan Inggrid. Karena dia sedang terburu-buru, dia tidak nyadari adanya sosok tas kecil berwarna hitam di aula koridornya.
Dari gedung seberang, Anna dengan teropongnya itu lihat sosok Randika yang berlari. Wajahnya langsung tersenyum lebar. "Akhirnya kamu datang juga? Aku kira kamu sudah lari ninggalkan perempuan itu."
Anna tidak ragu-ragu nekan tombol detonasi yang ada di tangannya. ndadak, aula koridor yang dilewati Randika tadi ledak dengan hebat. Api langsung nelan koridor dan tangga sehingga nutupi jalur kabur Randika!
Ditambah lagi, atap dari aula koridor itu runtuh dan nghalangi jalan.
Tidak peduli dengan hal tersebut, Randika masih berlari nuju ruangan Inggrid berada. Sesampainya di sana, dia nendang keras pintunya dan nemukan Inggrid sedang duduk di kursinya.
Pada saat ini, Inggrid sendiri sebenarnya ketakutan tetapi karena dia sudah ngalami situasi hidup dan mati bersama Randika, perempuan itu tetap terlihat tenang skipun wajahnya pucat pasi.
lihat Inggrid yang masih hidup, Randika nghembuskan napas lega. Pada saat ini, tatapan mata Anna terlihat berbinar-binar.
Sekali lagi dia nekan tombol detonasi di tangannya. Dalam sekejap, sisa-sisa bom yang belum ledak langsung ledak sekaligus!
Bom kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bom ini lebih kuat dan bertujuan untuk luluh lantahkan seluruh lantai!
Di dalam ruangan Inggrid, lantai-lantainya itu sudah mulai retak dan atap ruangannya juga siap nimpa siapapun yang ada di bawahnya.
"AWAS!" Randika langsung berteriak sambil berlari ke arah Inggrid.
Kapan saja ruangan ini bisa roboh dan reka akan terjun bebas ke bawah.
Karena ledakan bom barusan, gedung ini akhirnya mulai roboh dari lantai paling atas nuju ke bawah. Ini sudah seperti bermain balok susun, satu per satu bagian mulai runtuh ke bawah. Untungnya saja, gedung yang roboh ini hanya pada satu sisi saja. Jika seluruh gedung itu roboh maka dipastikan bahwa korban akan ncapai ribuan.
Bagaimanapun juga, bom yang digunakan Anna ini sudah cukup banyak untuk runtuhkan gedung ini sepenuhnya jadi kemungkinan gedung ini runtuh sepenuhnya masih tinggi.
Di sisi lain, para penonton kejadian ini sudah terkejut bukan main.
Gedung besar itu mulai roboh dan barang-barang mulai berjatuhan dari atas. Di antara barang-barang itu tidak jarang reka lihat orang-orang yang ikut terjun bersama barang-barang tersebut. Teriakan tragis reka dapat terdengar, ketika reka sudah sampai di bawah barulah teriakan tersebut terhenti.
Kejadian ini benar-benar ngerikan!
Semua orang lihat dengan mata kepala reka sendiri dan langsung ngerti betapa kecilnya nyawa manusia di hadapan bencana seperti ini.
Tidak lama kemudian, gedung yang roboh itu akhirnya berhenti bergerak dan sepertinya gedung perusahaan Cendrawasih masih selamat!
skipun yang roboh hanya sisi utara, ratusan nyawa telah layang karena kejadian ini. Belum lagi reka yang terjebak di antara reruntuhan, reka masih nunggu dengan penuh harap bahwa bantuan akan segera datang sambil terus berteriak minta tolong.
Dalam sekejap, gedung nomor 1 di kota Cendrawasih ini sudah setengah roboh.
Reviews
All reviews (0)