"Lapor, ledakan terjadi di lantai 2, 3 dan 5!" Teriak salah satu petugas keamanan lalui HTnya.
"Gawat, cepat nyalakan alarm!"
Semua orang sudah berlarian ke mana-mana. reka awalnya rehkan guncangan tadi karena nganggap itu cuma sebuah gempa yang kecil. Namun, reka tidak nyangka bahwa guncangan tadi itu sebenarnya adalah bom yang telah ledak.
Hiasan lampu, foto di dinding dan dekorasi ruangan sudah jatuh berserakan. Jika diperhatikan dengan baik, dinding tiap lantai mulai retak semuanya. Orang-orang yang panik ini beranggapan bahwa setiap saat gedung ini bisa runtuh kapan saja.
Dokun-dokun dan komputer sudah terjatuh karena guncangan yang dihasilkan oleh ledakan beruntun tadi. Kertas-kertas tersebut sudah terinjak-injak dan kertas yang awalnya putih tersebut sudah penuh dengan jejak kaki.
Semua orang tidak tahu harus lari ke mana ketika reka keluar dari ruangan reka. Pada saat ini, kaca jendela di aula koridor lantai reka tiba-tiba ikut pecah.
Orang-orang yang berada di dekat kaca terkena pecahan kaca ini dan terluka parah. Hal ini justru mperkeruh suasana yang mang sudah kacau itu. Kaca-kaca itu nancap dengan kuat dan terus ngalirkan darah tanpa henti.
Para pejalan kaki yang lewati gedung perusahaan Cendrawasih itu terkejut ketika ndengar suara ledakan dan rasakan guncangan yang nggetarkan kaki reka. Pada saat ini, reka dapat lihat api yang mulai keluar dan kaca-kaca gedung yang berhamburan ke mana-mana. reka juga dapat ndengar suara teriakan tanpa henti dari dalam gedung.
"Ada apa?"
"Apa gedung itu dibom?"
"Ya ampun, apa gedung itu akan roboh?"
Semua pejalan kaki itu mulai ketakutan, apalagi kaca-kaca dari gedung mulai berjatuhan ke jalan. Pada saat ini, tiba-tiba reka dapat ndengar dengan jelas suara ledakan dari dalam gedung.
Di lantai 3, tiba-tiba api dapat terlihat berkobar dengan hebat. Terlebih lagi, reka bisa ndengar suara teriakan tragis seseorang.
Pria itu sedang terbakar dan seluruh mukanya penuh dengan kaca. Sepertinya dia sudah berada di penghujung nyawanya. Karena tidak bisa lihat ke mana dia lari, dia lompat turun dari lantai 3 dan ndarat dengan kepala duluan.
Ketika dia ndarat di bawah, orang itu sudah berhenti bergerak sedangkan api masih lahap dirinya.
lihat kejadian ini, orang-orang njadi panik dan segera nelepon polisi dan pemadam kebakaran.
Tidak lama kemudian, polisi, ambulans, mobil pemadam kebakaran bahkan mobil dia TV sudah nuhi sisi jalan perusahaan Cendrawasih.
Di bawah tatapan mata reka, terdengar satu ledakan lagi yang dahsyat yang mbuat seluruh gedung itu goyang. Kali ini gedung perusahaan nomor 1 di kota ini mulai goyah dan ngeluarkan suara yang keras, sepertinya gedung akan roboh!
Randika yang masih ada di aula koridor itu ngerutkan dahinya. Dia yang sekarang sudah mbuang pikirannya untuk ncari siapa pelakunya. Tugasnya dia sekarang adalah nyelamatkan orang-orang yang ada di dalam gedung karena ada ribuan orang yang bekerja untuk perusahaan ini.
"AH!!!"
Pada saat ini, terdengar suara teriakan dari dalam laboratorium. Teriakan ini mbuat hati Randika ngepal.
"Viona!"
Randika langsung berlari sekuat tenaga. Pada saat ini, laboratorium parfum tersebut sudah kacau. Berbagai macam bahan dan alat sudah berserakan di lantai. Tabung-tabung reaksi juga pecah dan pecahannya nuhi lantai. Parfum-parfum yang masih dalam bentuk cairan itu ngalir ke mana-mana dan nggenang njadi satu.
Komputer dan dokun-dokun sudah lama diinjak-injak oleh orang. Bahkan atap ruangan juga ikut runtuh dan mperlihatkan kabel-kabel yang ada.
Lampu-lampu ruangan sudah pada pecah, hanya tersisa 1 ataupun 2. Reruntuhan atap itu juga nindih beberapa orang.
Situasi di dalam ruangan benar-benar kacau, beberapa orang mulai panik. "Cepat bantu angkat batu-batu ini!"
"Padamkan api yang nyala!"
Namun pada saat ini, tiba-tiba ada orang yang berteriak. "Viona awas!"
Di bawah tatapan mata orang-orang, Viona yang sedang berusaha mbantu ngangkat batu yang nindih temannya itu, atap yang berada di atas Viona itu mulai runtuh dan terjun bebas nuju Viona!
Viona hanya bisa pasrah karena dia terlambat nyadarinya, namun pada saat ini, Randika sudah berada di dalam ruangan dan langsung luk erat Viona. Sambil nunduk dan ngangkat tangan kanannya, Randika nahan reruntuhan atap tersebut dengan satu tangannya.
DUAK!
Ketika Viona berpikir bahwa dia sudah mati, dia rasa bahwa dia dibungkus oleh sepasang tangan yang kuat dan badan yang hangat. Dia tidak perlu mikirkan siapa yang telah nyelamatkannya, sudah pasti pria yang dicintainya telah nyelamatkan dirinya.
"Vi, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Randika dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa." Viona nggelengkan kepalanya, hatinya sudah nghangat. Asalkan ada Randika di sampingnya, dia tidak mungkin terluka.
Orang-orang nghembuskan napas lega. "Untung saja pak Randika datang tepat waktu."
Kelvin sendiri sebenarnya masih tidak tahu apa yang telah terjadi, dia masih sibuk nyelamatkan anak buahnya yang tertindih itu sambil terus berusaha tenang dan tidak lakukan hal gegabah.
Pada saat ini, tiba-tiba ledakan kembali terjadi. Ledakan kali ini adalah yang paling kuat dan paling nghasilkan guncangan.
Wajah Randika terlihat dingin, namun di dalam pikirannya dia samar-samar sudah mperkirakan letak ledakan itu terjadi. Setelah mperkirakan 5 ledakan yang telah terjadi, Randika sudah dapat nebak taktik yang digunakan oleh musuhnya itu.
Bom ini tidak ngancam fondasi gedung ini, bom ini jelas diatur untuk mbuat dirinya keluar!
Dengan kata lain tujuan dari kelima bom ini adalah mbuat kekacauan agar orang-orang njadi panik dan berlarian ke mana-mana. Di saat Randika lengah, si pengebom tersebut sepertinya akan layangkan rencananya yang sebenarnya.
Pada saat ini, di gedung seberang perusahaan Cendrawasih, berdiri sesosok misterius ngenakan topi. Dengan wajah tersenyum lebar, dia mperhatikan perusahaan nomor 1 di kota ini hancur berantakan njadi puing. Dia nggunakan teropong untuk lihat mon balas dendam keluarganya ini. lalui teropongnya itu, dia nunggu pertunjukan terakhir yang akan terjadi di ruangan pemimpin perusahaan yaitu ruangan milik Inggrid Elina!
"Belum juga datang?" Tatapan orang itu sungguh dingin, hatinya sudah dikuasai oleh dendam dan kebencian.
Jika kamu mbunuh seluruh keluargaku, aku akan mbalaskan dendam reka!
Anna gang tombol detonasinya di tangannya dengan erat. Karena Randika tidak datang-datang ke ruangan Inggrid Elina, dia tidak ragu-ragu nekannya lagi!
Dalam sekejap, ruangan di 2 lantai bawah kantor pemimpin perusahaan Cendrawasih itu ledak dan njadi porak poranda. Api dengan hebat nelan seluruh ruangan. Jika dilihat dari teropong, Anna dapat lihat orang-orang yang berlarian ketakutan. Hal ini mbuatnya bahagia bukan main!
Perasaan ini, iya perasaan ini! Inilah indahnya balas dendam.
Anna sudah njadi gila, dia sudah lama bermimpi mbunuh pembunuh keluarganya itu!
Tetapi tatapan matanya itu kembali tenang, sekarang dia sudah seperti singa yang nunggu mangsanya untuk datang. Karena dia sudah repot-repot nyiapkan rencana ini, dia ingin mbunuh Randika dan Inggrid sekaligus dengan satu ledakan.
Di dalam gedung, Randika terus nerus dapat ndengar suara orang berlari sambil berteriak ketakutan. Ledakan besar tadi mbuat semuanya njadi lebih panik.
Reviews
All reviews (0)