Font Size
15px

Ketika sosok Randika muncul di hadapannya, resepsionis itu tersenyum dan nyapa Randika. Randika sendiri mbalas sapaan tersebut dengan senyuman. Resepsionis itu ingat ketika dirinya bertemu dengan Randika pertama kalinya, pada saat itu dia tidak percaya bahwa Randika ngatakan bahwa dia adalah suami dari Inggrid Elina.

Namun, pada saat ini, dia tidak nyangka bahwa sepertinya Randika manglah suami dari bosnya itu.

Ketika dia berjalan nuju lift, Randika terlihat tersenyum terus. Sepertinya sejak saat dia pulang ke Indonesia dia rasa bahwa hidupnya itu makin terberkati. Jika dia tahu bahwa bisa hidup bahagia bersama Inggrid, dia mungkin tidak akan berpetualang ke seluruh dunia. Tetapi jika dia tidak berkeliling dunia, maka kemampuannya tidak akan sehebat seperti sekarang.

Di laboratorium milik departen parfum, orang-orang sedang sibuk bekerja. Para ahli parfum ini sedang berusaha ngejar target reka yang terlambat itu. Namun, reka harus tetap berhati-hati ketika ramu parfum-parfum ini.

Karena beberapa formula sangat sensitif dengan jumlah bahan yang dipakai, beda sedikit saja maka akan nghasilkan hasil yang berbeda.

Pekerjaan yang nuntut ketelitian ini sama dengan para ahli teknisi komputer ketika ngurus coding.

Ketika Randika masuk ke dalam ruangan, suara teriakan orang-orang dapat terdengar.

"Ambilkan bahan yang ada di lantai bawah."

"Jangan campur bahan itu dengan parfum tadi!"

"Siapa yang ngerjakan sampel nomor 5 ini? Sudah kubilang kan bau yang aku inginkan itu bukan lavender."

Di tengah-tengah situasi yang manas ini, Randika dengan santai berjalan nuju tempat duduknya. lihat orang-orang ini bekerja keras, Randika rasa tidak enak. Namun, dia segera mbuang rasa bersalah tersebut!

Bukankah posisinya di perusahaan ini sudah sama dengan Inggrid? Karena perusahaan ini milik istrinya berarti perusahaan ini miliknya bukan? Kenapa dia harus rasa bersalah? Bukankah perusahaan ini mbayar besar jasa reka?

Randika lalu bermain HP dengan santai. Ketika beberapa bawahannya itu lihat Randika yang santai, reka semua tersenyum pahit. Rasa iri hati selalu tumbuh ketika lihat rumput tetangga yang lebih hijau.

Pada saat ini, Viona yang habis ngambil bahan dari lantai lain masuk ke dalam ruangan dan lihat sosok Randika. Sambil terkejut, dia nghampiri Randika. "Randika?"

"Hahaha, apa kamu terkejut lihatku?" Randika langsung ngantongi HP miliknya.

Viona tersenyum dan duduk di samping Randika. "Bukan begitu, aku pikir kamu tidak masuk hari ini. Jadwal masukmu itu sungguh aneh tahu!" Katanya sambil njulurkan lidahnya.

Viona lalu kembali bekerja, sedangkan Randika mulai nilai penampilan Viona hari ini. Hmm hari ini dia makai stocking berwarna hitam, benar-benar nggoda.

Yah apa pun yang dipakai Viona nurutnya akan cocok, lagipula Viona manglah perempuan yang cantik.

Pikiran Randika mulai ke mana-mana. lihat Viona yang polos itu bekerja, Randika sudah berandai-andai bahwa dirinya nindih perempuan ini di atas ja. Belum lagi Randika ngingat-ingat pakaian dalam yang dimiliki Viona, selera Viona mang bagus. Apakah sekarang dia sedang makai Thong? Ah mikirkannya saja sudah mbuat adiknya njadi keras.

Akhirnya Randika mbulatkan tekadnya, dia harus berhubungan badan dengan Viona secepat mungkin.

Bagaimanapun juga, Viona adalah calon anggota haremnya.

"Vi, apa kamu bisa mbantuku ngambil barang di bawah?" Tanya Randika sambil tersenyum.

ndengar hal ini wajah Viona njadi rah, tentu dia ngerti arti ajakan Randika ini. Tetapi ketika lihat rekan-rekannya itu sibuk semua, Viona nguatkan diri untuk nolak ajakan Randika.

Randika yang lihat penolakan ini hanya bisa tersenyum pahit.

Randika kembali bermain HP dan, pada saat ini, tiba-tiba ada panggilan tidak dikenal di HPnya.

Dia lalu berjalan keluar dari ruangan dan ternyata yang neleponnya adalah Jeffry.

"Randika ya? Terima kasih banyak atas bantuanmu, anakku sudah sehat!"

Suara Jeffry terdengar bahagia dan bersemangat, dia tidak nyangka anaknya itu akan benar-benar sembuh. Awalnya dia sama sekali tidak percaya dengan Randika, tetapi setelah riksanya di rumah sakit, dokter ngatakan tidak ada penyakit lagi di tubuh Felicia. Jadi bisa dikatakan bahwa anaknya itu sudah terlepas dari belenggu yang nahannya sejak dia masih kecil.

Randika sendiri tersenyum di balik telepon. "Sama-sama."

"Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau tidak bertemu denganmu." Jeffry masih rasa rasa terima kasihnya itu tidak cukup. "Om juga minta maaf dengan kata-kataku yang kurang ajar sebelumnya. Maaf kalau aku tidak terlalu mpercayaimu sebelumnya."

"Aduh sudah jangan khawatir." Randika tertawa. "Aku sendiri sudah lupa kok om ngatakan apa."

"Hahaha." Jeffry juga tertawa. "Ayu pasti bangga mpunyai nantu sepertimu. Oh ya, apa kamu sedang bekerja sekarang? Kapan kamu libur? Om ingin ntraktirmu makan malam."

"Aduh om tidak usah repot-repot. Aku sendiri tidak berbuat banyak kok."

"Justru tidak ntraktirmu apa-apa itu om rasa bersalah." Jeffry ngerutkan dahinya. "Kamu benar-benar penyelamat hidupnya anakku. Sudah jangan khawatir, nanti kalau kamu nikah amplopnya om itu pasti yang paling tebal kok. Kamu pasti bisa beli mobil atau ncicil rumah dengan uang itu nanti. Kalau kamu rasa kurang, kamu tinggal telepon om saja kok. Tetapi om sendiri rasa sayang kamu sudah punya calon istri. Kalau tidak anaknya om ini sudah siap jadi istri yang baik lho."

Kata-kata Jeffry awalnya mbuat Randika tidak enak hati, tetapi kalimat terakhir mbuatnya tersenyum pahit. Lagi-lagi urusan nikah, kenapa orang tua jaman sekarang mudah sekali nawarkan anaknya?

Randika tahu bahwa dirinya itu mang tampan dan gagah, tetapi dia tidak nyangka para orang tua yang ditemuinya itu semuanya mulai nawarkan anaknya padanya.

Randika mau mbalas, tetapi tiba-tiba, gedungnya itu mulai berguncang.

Guncangan ini benar-benar terlalu ndadak, seakan-akan fondasi yang nopang seluruh gedung itu goyang. Semua orang yang di dalam gedung ini langsung bersembunyi di bawah ja, reka sendiri mulai ketakutan.

Guncangan ini tiap detiknya makin besar. Tetapi sama seperti kedatangannya, guncangan itu tiba-tiba berhenti begitu saja.

Semuanya mulai keluar dari bawah ja satu per satu, reka ngira bahwa gempa ini akhirnya telah selesai. Untungnya saja tidak ada yang terluka.

Randika sendiri rasakan guncangan ini, ketika dia hendak riksa apa yang tengah terjadi, guncangan itu akhirnya berhenti.

"Aku rasa ini cuma gempa kecil, sudah semuanya kembali bekerja!" Teriak Kelvin.

"Aduh kejam sekali pak Kelvin ya." Keluh seseorang dengan suara yang pelan.

"Sialan, kenapa kantor ini tidak ambruk saja biar kita libur sebulan!"

Orang-orang dengan cepat kembali bekerja, tentu saja gempa sekecil tadi tidak mungkin bisa robohkan gedung tinggi ini.

Randika yang berdiri di aula koridor sudah ngerutkan dahinya dengan hebat. Ada yang tidak beres!

Guncangan ini bukan mirip gempa, dia sering rasakan guncangan seperti ini ketika dia berkeliling dunia.

Pada saat itu, untuk mancing dirinya keluar, musuhnya itu ledakan seluruh bangunan. Guncangan ini persis dengan yang dirasakannya sebelumnya.

Insting Randika ngatakan bahwa gedung ini dalam bahaya. Pada saat ini tiba-tiba ada suara ledakan dari ruangan yang tidak jauh darinya.

DUAR!

Ledakan itu cahkan semua kaca jendela dan disusul oleh ledakan berikutnya.

DUAR!

Suara ledakan ini tidak terdengar dari satu lantai saja, sepertinya ledakan ini terjadi di lantai yang berbeda. Orang-orang mulai berlarian dengan panik.

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Gumam Randika.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 326: Awal dari Bencana on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.