Ketika ndengar saran Randika tersebut, Jeffry terlihat ragu-ragu. lihat wajah serius Randika, Jeffry lalu bertanya padanya. "Apa kamu benar-benar bisa nyembuhkannya?"
Tatapan mata Felicia benar-benar penuh harap ketika nunggu jawaban Randika.
Harapan seperti ini tidak akan pernah bisa dingerti oleh orang yang tidak ngidap penyakit yang sama dengannya.
Randika masih berwajah serius. "Tenang saja, aku akan ncoba semaksimal mungkin. nurutku tingkat keberhasilannya lebih dari 90% kok."
Wajah Jeffry terlihat tidak percaya, 90%? Tinggi sekali!
Jeffry kembali nilai Randika sekali lagi, wajah maupun auranya itu benar-benar tidak mirip dengan seorang dokter.
"Sudahlah Jeff, biarkan nantuku ini riksanya dulu. Lagipula kita juga tidak mungut uangmu sama sekali kok nanti, jadi tidak ada ruginya kan?" Ayu sendiri sudah muak dengan sikap Jeffry yang tidak percaya dengan Randika.
ndengar kata-kata itu, Jeffry ngangguk. Sejujurnya uangnya sudah mulai habis oleh penyakit anaknya ini. ndengar dia tidak perlu mbayar, tidak ada salahnya kan ncoba?
"Kalau begitu, apa yang kamu perlukan?" Tanya Jeffry.
"Alkohol, lilin, seember air panas dan tempat yang sunyi." Kata Randika.
Setelah ncatat barang yang diperlukan, Jeffry segera pergi untuk nyiapkan. Sedangkan untuk tempat yang sunyi, Randika bisa nggunakan kamar anaknya.
Randika lalu dibawa masuk ke dalam kamar oleh Felicia. Perempuan satu ini terlihat tegang ketika berjalan nuntun Randika.
"Sudah tidak usah tegang seperti itu, aku datang untuk nyembuhkanmu bukan mbunuhmu." Kata Randika dengan wajah tersenyum.
ndengar kata-kata ini, Felicia jadi sedikit lega. Bagaimanapun juga, usia reka hampir sama jadi mungkin Felicia nganggap Randika jauh lebih tua darinya jadinya dia berusaha bersikap lebih sopan.
Tidak lama kemudian, Jeffry masuk ke dalam kamar dan letakkan semua barang yang dibutuhkan Randika.
Ketika Randika mulai mpersiapkan diri, dia natap Jeffry yang terlihat serius. "Paman, bisa tolong keluar? Aku perlu berkonsentrasi penuh soalnya."
"Ah! Baik, baik. Kalau ada apa-apa panggil saja ya." Jeffry dengan cepat berjalan keluar dan nutup pintunya rapat-rapat.
Sekarang, hanya reka berdua saja di dalam kamar.
"Buka bajumu." Kata Randika sambil masukan alkohol ke dalam air panas. Setelah nyalakan pemantiknya, air panas tersebut terbakar.
Setelah ncelupkan jarum akupunturnya ke dalam air, Randika sudah siap njalankan prosedurnya. Namun, Felicia justru terlihat panik dan gang kedua dadanya dengan tangannya.
Sialan, kenapa dia nganggapku sum seperti itu?
Randika geleng-geleng, dia lalu berkata setelah nghela napasnya. "Ayo cepat buka bajumu."
"Kenapa kamu nyuruhku seperti itu?" Wajah Felicia dengan cepat njadi rah, selama ini dia belum pernah bertemu dengan dokter yang nyuruhnya untuk mbuka baju.
"Terus kamu mau aku bagaimana? Aku tidak bisa nyembuhkanmu sebelum kamu mbuka bajumu." Randika lalu mperlihatkan jarum akupunturnya. "Jika kamu tidak mbuka bajumu, bagaimana mungkin jarum ini bisa nancap di punggungmu?"
lihat jarum-jarum itu, hati Felicia sedikit njadi lega tetapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, dia belum pernah pacaran dan jarang bergaul dengan pria seumurannya. Dan sekarang dia harus mbuka bajunya di hadapan pria yang tidak dikenalnya?
Randika nggaruk-garuk kepalanya, dia lalu berkata padanya. "Sudah jangan takut, kalau aku macam-macam tinggal teriak minta tolong ke ayahmu bukan? Dia kan ada di luar."
ndengar kata-kata itu, keraguan Felicia belum hilang. "Tapi"
Randika lalu lihat api yang ada di dalam ember, dia lalu ngatakan. "Api ini cuma bertahan 3-4 nit, jika sudah mati maka semua sudah terlambat."
ndengar kata-kata Randika, Felicia nggigit bibirnya dan mulai lepas bajunya. Dengan tangan yang getar, dia mbuka bajunya.
Dalam sekejap, punggung telanjang Felicia dapat terlihat. Jika dilihat dari depan dadanya juga cukup bagus dan kencang, tetapi kalau dibandingkan Inggrid dan Viona, dia bukanlah tandingan reka.
Ketika dirinya hanya ngenakan beha, wajahnya itu sudah rah padam. Dengan ragu-ragu dia mulai mbuka pengait behanya.
"Hmm? Kenapa kamu mbuka beha milikmu?" Kata Randika.
Felicia terlihat bingung, Randika lalu nambahkan. "Kamu tidak perlu lepasnya, jika kamu lepasnya nanti ayahmu bisa mbunuhku. Lagipula aku cuma mintamu lepas bajumu bukan?"
Wajah Felicia kembali rah, dia benar-benar salah paham. Di saat Felicia mbuka bajunya, Randika sudah nilai perempuan itu secara nyeluruh. skipun Felicia berparas cantik, dia masih sangat jauh apabila dibandingkan dengan Inggrid, Viona dan Christina.
"Duduklah." Kata Randika. Felicia lalu ngambil sebuah kursi dan duduk dengan tenang.
Randika lalu ngambil tangannya dan riksa denyut nadinya. Setelah beberapa saat, wajahnya njadi serius. Dia sudah ngerti letak permasalahannya di mana.
Penyakit Felicia bukanlah penyakit bawaan ataupun yang terlalu serius. Sepertinya waktu dia masih kecil, ada sebagian jantungnya yang tidak berkembang dengan sempurna. Jika dia mberi rangsangan dengan tenaga dalamnya, seharusnya masalah ini akan terselesaikan.
Bisa dikatakan bahwa penyakit Felicia hanyalah seperti sebuah pilek di hadapan Randika.
Ketika lihat wajah serius Randika, Felicia benar-benar gugup. Randika lalu ngambil 3 buah jarum dan masukannya ke dalam ember. Ketiga jarum itu dengan cepat njadi steril.
"Jangan bergerak." Kata Randika dengan nada serius. Ketika ndengar kata-kata tersebut, Felicia tidak berani bergerak sekecil apa pun.
Randika duduk di hadapan Felicia dan nutup matanya. Setelah beberapa detik terdiam, Felicia mulai njadi cemas. Tiba-tiba Randika mbuka matanya dan tangan kanannya mulai bergerak. Dengan cepat 3 jarum tersebut nancap di area sekitar jantung Felicia!
Ketiga jarum ini sudah berisikan tenaga dalam Randika dan segera nyebar ke dalam jantungnya. Dalam sekejap, tenaga dalamnya itu berkumpul di jantung Felicia dan mulai nstimulasi jantungnya.
Namun, sepertinya tenaga dalamnya itu terlalu sedikit karena jantung Felicia seperti tidak terjadi apa-apa skipun berisikan tenaga dalam miliknya. Setelah riksa kembali denyut nadinya, Randika dapat mastikan bahwa mang tenaga dalamnya yang tersalurkan itu terlalu sedikit.
Ketika Felicia rasakan jantungnya itu gatal, dia juga rasakan ada hawa hangat di dalam dadanya. Hawa hangat ini sangat nyaman baginya.
Apakah ini tanda bahwa dirinya mulai sembuh?
Felicia mulai bersemangat. Randika sendiri nutup matanya dan ngambil kembali beberapa jarum. Dalam sekejap, Randika sudah nusukan beberapa jarum di sekitar dada Felicia.
Titik-titik baru ini dimaksudkan untuk mbantu kinerja tenaga dalam yang berkumpul di jantung Felicia sebelumnya. Namun, salah satu titik akupuntur di dada Felicia berada di bagian bawah dadanya. Jadi mau tidak mau tangan Randika masuk ke dalam behanya, dia dapat rasakan keempukan dada perempuan satu ini.
Wajah Felicia benar-benar rah, tetapi ketika dia lihat wajah serius Randika, dia tahu bahwa ini demi pengobatannya.
Tetapi Randika sendiri sudah ngangguk puas di dalam hatinya, benar-benar empuk.
Randika kemudian ngambil beberapa jarum lagi dan nsterilkannya di dalam ember. Kemudian dia berdiri dan nusukan jarumnya itu di punggung Felicia. Dengan jarum-jarum yang baru ini, ini akan sangat mbantu prosesnya.
"Aku mulai kesulitan bernapas." Kata Felicia.
"Tahan!"
Setelah selesai nusukan jarumnya, Randika letakan tangannya di tengah-tengah punggung Felicia. Tiba-tiba, dari tangan Randika, muncul aliran tenaga dalamnya yang besar itu dan mulai masuk ke dalam tubuh Felicia!
Tenaga dalam itu langsung berkumpul di area sekitar jantung Felicia. Tenaga dalamnya itu semua berkumpul lalui arahan Randika dan nyerang jantung Felicia!
Proses ini mang tidak bisa dilihat tetapi efeknya benar-benar nyata. Di bawah serangan tenaga dalam ini, Felicia mulai kesulitan bernapas.
Tetapi dengan tenaga dalam ini, bagian jantung yang kurang berkembang itu mulai nunjukan tanda-tanda positif. Berkat tenaga dalam Randika ini, detak jantung Felicia berdetak jauh lebih kuat daripada sebelumnya!
Felicia mbuka matanya yang tertutup itu dan rasakan bahwa beban seperti gunung itu terlepas dari dadanya dan dia mulai bisa kembali bernapas dengan normal.
Randika juga mbuka matanya, setelah beberapa saat, tangannya juga dia ambil kembali dan ncabut jarum yang ada di punggung.
"Kamu sudah sembuh, seharusnya kamu sudah tidak apa-apa sekarang."
Randika mulai ncabuti jarum yang ada di depan dan mbereskan barang-barang.
Felicia kemudian letakan tangannya di atas jantungnya, dia rasa mang ada sesuatu yang berbeda. Dia dengan cepat berdiri dan lompat-lompat. Setelah beberapa kali loncat, dia rasa baik-baik saja.
Jeffry dan Ayu nunggu di luar ruangan. Bahkan Jeffry selama ini tidak bisa duduk dengan tenang dan terus mondar-mandir di ruang tamu. Ayu benar-benar kehabisan kata-kata lihat tingkah laku Jeffry.
"Jeff, bisa berhenti mondar-mandir? Risih tahu lihatnya, sudah duduk dan cobalah untuk nenangkan diri."
"Aku benar-benar khawatir." Jeffry tersenyum pahit. Namun pada saat ini, tiba-tiba pintu kamar anaknya itu terbuka dan Felicia keluar dengan wajah tersenyum.
"Aku sudah sembuh!"
"Sungguhan?"
Jeffry benar-benar terkejut, wajahnya nunjukan bahwa dia tidak mpercayai apa yang telah dia dengar.
"Sungguhan, aku sudah sembuh!" Felicia lalu lompat-lompat untuk nunjukan bahwa dia baik-baik saja.
"Tuh kan, apa kubilang." Ayu terlihat bangga. Salah sendiri Jeffry tidak mau percaya dengan nantunya, tidak ada yang bisa ngalahkan nantunya dalam hal pengobatan!
Jeffry masih berdiri dengan mulut ternganga, dan pada saat ini Randika keluar dan berkata pada dirinya. "Anakmu sudah sembuh."
Jeffry benar-benar masih tidak percaya, anaknya benar-benar sembuh! Proses ini bahkan tidak lebih dari 15 nit, di rumah sakit sendiri pun dia harus nunggu berjam-jam untuk sekedar riksanya.
"Feli, sini papa ingin lihat kamu dari dekat." Kata Jeffry.
"Bagaimana? Apa kamu masih ragukan kemampuan nantuku?" Ayu masih terlihat bangga. "Nanti kalau anakku sudah nikah awas saja kalau amplopmu itu tipis, setidaknya isinya harus setara dengan rumah!"
"Ayu, kalau anakku ini benar-benar sembuh, kamu mau 10 rumah pun aku rela ngeluarkannya." Kata Jeffry sambil berurai air mata. Baginya tidak ada yang lebih mbahagiakan hidupnya selain lihat anaknya itu sehat.
Ayu ndengus dingin. "Huh, aku benci sifat cengengmu itu."
Randika di sisi lain malah tersenyum. "Paman, kamu tidak perlu khawatir lagi dengan anakmu. Kamu boleh mbawanya ke rumah sakit untuk riksa kalau tidak percaya."
"Ini nomor teleponku, kabari saja kalau ada apa-apa." Kata Randika.
"Hahaha kamu mang seperti pahlawan." Kata Jeffry sambil tertawa.
Jeffry lalu mbawa Felicia untuk diperiksa kembali di rumah sakit. Setelah masalah ini telah selesai, Randika ngantarkan Ayu ke dalam taksi dan dia sendiri kembali ke kantornya.
Reviews
All reviews (0)