Keesokan harinya Randika terbangun dengan perasaan yang puas.
Ketika dia terbangun, yang ada hanyalah bau Inggrid yang mbekas di tubuhnya. Sedangkan Inggrid sendiri sudah tidak ada di atas kasur.
Inggrid selalu njaga dirinya dengan njaga pola hidupnya dan jam tidurnya. Dia juga terbiasa bangun pagi-pagi untuk nghirup udara segar, hal inilah yang cukup mbuatnya segar bugar sepanjang hari.
Setelah terbangun, Randika langsung ncuci mukanya dan berganti pakaian. Ketika dia turun, dia lihat Inggrid sedang nyiapkan sarapan.
Setelah ncicipi makan malam yang dibuat oleh Inggrid kemarin malam, Randika sudah yakin dengan kemampuan masak istrinya itu. Akhirnya penderitaan terbesar di dalam hidupnya itu sudah berakhir.
Randika lalu berjalan perlahan nuju punggung istrinya yang sedang masak tersebut. Inggrid sama sekali tidak nyadarinya karena dia sedang fokus. lihat senyuman wajah Inggrid, Randika bisa lihat bahwa suasana hati istrinya itu sedang bagus. skipun makai baju rumah, kecantikan Inggrid tetap tidak berubah. Apalagi sekarang Inggrid makai celana super pendek, bokongnya yang mirip buah persik itu sungguh nggoda.
Randika semakin ndekat dan sosok istrinya itu sungguh nggoda. Sambil ngangkat tangan kanannya, Randika langsung nyambar pantat istrinya itu. Tiba-tiba sensasi seperti tersengat listrik nuhi tubuh Inggrid. Ketika dia noleh, dia lihat Randika sedang remas pantatnya. "Hei, aku sedang masak!"
"Sayang, kenapa kamu selalu ninggalkanku? Aku kesepian tahu." Keempukan pantat Inggrid itu nuhi tangan Randika, cintanya itu makin kuat.
Inggrid tersipu malu. "Sudah ah jangan genit seperti itu, aku hari ini perlu masuk pagi. Salah sendiri kamu tidak bangun-bangun, kalau iya kita kan bisa lakukannya sebelum pergi."
Randika tertawa, kata-kata Inggrid ini ada benarnya juga.
Tidak lama kemudian, sarapan yang dimasak Inggrid sudah selesai dan keduanya makan bersama di ja makan.
"Kenapa kamu perlu masuk pagi-pagi? Ada masalah kah?" Tanya Randika.
"Tidak ada masalah, perusahaanku baik-baik saja kok." Jawab Inggrid.
Randika ngangguk dan makan makanannya. Setelah berganti pakaian, reka berdua berangkat bersama nuju kantor.
Sesampainya di kantor, Inggrid langsung nuju ruangannya sedangkan Randika nuju laboratorium Kelvin. Namun pada saat ini, HP miliknya tiba-tiba berbunyi.
lihat nomor HP yang neleponnya, Randika langsung ngangkatnya.
"Iya tante ada apa?"
"Dika, apa kamu hari ini bisa datang?" Tanya Ayu.
"Bisa kok, apa ini ngenai penyakit jantung kenalannya tante?"
"Iya, reka sudah tidak sabar bertemu denganmu."
"Baiklah kalau begitu, tolong suruh reka tunggu sekitar 1 jam dulu ya." Setelah nutup teleponnya, dia langsung bertemu dengan Kelvin dan mberikan arahan. Setelahnya dia langsung nuju rumah Ayu.
Ketika lihat sosok Randika yang pergi, salah satu karyawan itu rasa iri. Enak sekali njadi seorang bos, dia bisa pergi kapanpun dia mau dan tetap dapat gaji besar. Sedangkan dia? Sudah harus bekerja keras dan lembur terus nerus, gaji yang didapatnya tetap tidak sepadan.
Hahhhhh kapan dia yang njadi seorang bos?
Pada saat yang sama, Randika sudah berada di depan gedung perusahaan Cendrawasih dan manggil taksi untuk segera berangkat nuju rumah Ayu.
Ketika Randika masuk ke dalam taksi, sesosok misterius yang ngekorinya sejak awal lepas topinya. Sambil natap tajam taksi yang semakin njauh itu, kebenciannya yang dia pendam itu luap-luap.
Sosok misterius ini telah ngikuti Randika sampai ke kota Cendrawasih. Setelah beberapa hari ncari, akhirnya dia berhasil lacak keberadaan Randika.
"Aku tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum dendam keluargaku itu terbalaskan! Sekarang kau akan nerima hukuman yang jauh lebih kejam daripada kematian!"
Sosok misterius itu mbawa tas ransel di punggungnya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan Cendrawasih. Petugas keamanan tidak naruh kecurigaan padanya karena mang dia tidak ncurigakan sama sekali. Ketika dia sudah naik ke lantai 2, dia ncari ruangan kosong dan masuk ke dalamnya.
Hal ini dia lakukan berkali-kali di lantai yang berbeda. Karena gerak-geriknya itu tidak ncurigakan sama sekali, tidak ada yang nyadari tindakan orang ini.
....
Setelah sampai, Randika langsung nekan bel pintu rumah. Setelah beberapa saat, Ayu keluar sambil tersenyum dan mpersilahkan Randika masuk.
"Tunggu tante bentar ya, tante ganti baju dulu."
Setelah Ayu ngganti bajunya, reka masuk ke dalam taksi dan berangkat bersama nuju daerah utara kota.
"Semoga kamu bisa nyembuhkan anaknya kenalan tante ini ya." Ayu cuma bisa berharap.
"Tenang saja tante, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Kata Randika sambil tersenyum.
"Tante percaya kok sama kamu." Ayu pun ikut tersenyum.
"mangnya kenalannya tante ini orang penting ya?" Tanya Randika.
Ayu ngangguk dan wajahnya terlihat bernostalgia. "Dulu dia ngejarku bertahun-tahun."
Randika terkejut, dia tidak nyangka perkembangan cerita seperti ini.
Setelah beberapa saat, reka tiba di suatu aparten kecil. reka lalu naik ke lantai 5 dan ngetuk pintu kamar nomor 520.
Tidak lama kemudian, pria berumur 50an mbuka pintu.
"Ayu?" Jeffry terkejut bukan main lihat sosok Ayu.
"Kenapa? Apa kamu tidak senang lihatku datang berkunjung?" Ayu pura-pura terlihat judes.
"Hahaha mana mungkin aku seperti itu bukan? Ayo, ayo, silahkan masuk." Jeffry lalu ngundang reka berdua masuk.
Mata Jeffry jatuh pada sosok Randika, dia lalu bertanya pada Ayu. "Hmm? Apa dia anakmu?"
Ketika Randika berusaha ngenalkan diri, Ayu sudah motong dirinya. "Aku perkenalkan padamu, dia adalah calon nantuku. Namanya adalah Randika, nanti kalau dia nikah dengan anakku kamu harus mberinya banyak hadiah."
ndengar hal ini Randika nghela napasnya, kenapa Ayu seperti tante-tante sombong seperti itu?
"Aku tidak nyangka akhirnya Christina akan nikah, benar-benar kabar yang luar biasa bagus!" Jeffry terlihat senang. "Kabari saja kalau kalian akan nikah, aku pasti datang mberikan ucapan selamat pada kalian."
Ketika reka masuk ke dalam dan duduk di sofa, Jeffry bertanya. "Tetapi Ayu, apa kamu datang ke sini cuma untuk nyampaikan kamu sudah punya nantu?"
"Tentu saja tidak, aku datang ke sini karena penyakit anakmu itu." Kata Ayu dengan nada jengkel. "Bukankah terakhir kali kamu bercerita tentang penyakitnya yang mulai parah itu? Hari ini aku mbawa Dika bersamaku untuk nyembuhkannya."
Wajah Jeffry langsung terkejut. Pada saat ini, tiba-tiba muncul perempuan cantik yang masih berumur sekitar 21-22 dari dalam kamar. Setelah nguping perkataan Ayu, tatapan matanya berbinar-binar dan dia pun langsung keluar dari kamarnya. "Apa benar aku bisa sembuh?"
"Ayu, terima kasih banyak atas bantuanmu!" Jeffry sudah berurai air mata. reka sudah lama berjuang nghadapi penyakit anaknya ini. Karena penyakit jantung ini tidak bisa disembuhkan, reka harus lakukan rawat jalan yang nghabiskan kantong reka.
Karena sejak kecil dia miliki penyakit ini, Felicia tidak berani lakukan kegiatan yang terlalu berat. Dari kecil hingga sekarang, dia tidak pernah rasakannya yang namanya berlari ataupun berenang. Karena dia pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya, ayah dan ibunya itu benar-benar waspada dengan kesehatannya.
Tetapi ketika ndengar kenalan ayahnya ini bisa nyembuhkan dirinya, Felicia benar-benar senang.
"Terus di mana dokter itu? Kapan kita bisa nemuinya?" Jeffry sudah bersemangat untuk bertemu sang dokter.
Ketika ndengar pertanyaan itu, Ayu ngerutkan dahinya sedangkan Randika sudah nggaruk-garuk kepalanya. Apa dia terlihat tidak bisa diandalkan?
"Apa dokter itu sedang dalam perjalanan ke sini? Tidak masalah, aku akan nunggunya sampai kapan pun." Jeffry berserta Felicia pergi ke dapur dan ngambilkan Randika dan Ayu secangkir teh.
"Aku sudah lama khawatir tentang penyakit yang diderita anakku ini, aku cuma ingin dia tumbuh dengan sehat. Aku sendiri heran kenapa dia bisa ndapatkan penyakit ini." Jeffry nghela napasnya. "Aku benar-benar senang ketika ndengar kamu kenal orang yang bisa nyembuhkan penyakitnya itu. Aku harap biaya dokter ini tidak terlalu mahal."
Ayu lalu natap Randika dan nggelengkan kepalanya. Dia lalu berkata pada Jeffry. "Hei, orangnya itu sudah di sini tahu."
"Oh dia sudah di depan?" Jeffry lalu berdiri dan mbuka pintunya, tetapi dia tidak nemukan siapa-siapa. Dia lalu kembali ke ruang tamu dan bertanya dengan wajah bingung. "Tidak ada orang tuh."
Randika lalu nggaruk-garuk kepalanya lagi, orang ini tidak peka atau bagaimana?
Ayu sudah tidak tahan dengan adegan bodoh ini, dia lalu ngatakan. "Jeff, kamu ini bodoh atau apa? Orang yang kumaksud adalah nantuku ini."
Jeffry dan Felicia yang sudah senang itu langsung njadi murung.
"Kamu pasti bercanda bukan?" Jeffry nghela napasnya ketika lihat wajah Randika.
Masih muda begini sudah njadi dokter? Apalagi dia bisa nyembuhkan penyakit jantung?
Jelas aku tidak akan mpercayainya!
Ayu jelas njadi marah lihat tatapan tidak percaya Jeffry. "Kamu ini tidak sopan! Aku kasih tahu ya, nantuku ini ahli dalam pengobatan tradisional. Penyakit anakmu itu hanya perkara kecil baginya!"
"Sudahlah jangan bohong seperti itu." Jeffry nggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. "Aku tidak tahu di mana kamu belajar ilmu pengobatanmu itu tetapi aku sudah berkeliling kota Cendrawasih, Surabaya dan Jakarta, semua dokter ngatakan hal yang sama bahwa penyakitnya Felicia itu tidak dapat disembuhkan."
Ketika tatapan matanya bertemu dengan Randika, Felicia hanya bisa maksa dirinya untuk tersenyum.
Felicia sendiri setuju dengan penilaian ayahnya. Dia sudah berkeliling ke kota besar dan tidak ada dokter yang percaya diri ngatakan bahwa dia bisa sembuh. Penyakit jantungnya ini hanya bisa dikontrol bukan disembuhkan.
"Kamu kira aku pembohong?" Darah Ayu mulai ndidih. "Apa aku terlihat seperti pembohong? Kalau aku ngomong nantuku ini bisa nyembuhkan ya pasti bisa!"
Jeffry hanya nghela napasnya. "Ayu sudahlah, aku tahu kamu perhatian dengan anakku tetapi mang beberapa penyakit itu tidak bisa disembuhkan."
lihat Jeffry yang nyerah itu, Ayu benar-benar marah. Dia selama ini sudah khawatir dengan keadaan Felicia dan sekarang setelah nemukan solusinya dia malah dicap sebagai pembohong?
"Jeff, kamu tahu kan aku punya rematik? Apa kamu tahu bahwa nantuku inilah yang nyembuhkanku?" Ayu lalu nekan kata-katanya. "Aku yakin nantuku ini bisa nyembuhkan anakmu."
Jeffry sudah tidak tahu harus tertawa atau nangis. Penyakit jantung disamakan dengan rematik yang mudah untuk dirawat.
Jeffry benar-benar tidak percaya Randika bisa lakukannya.
"Sudahlah jangan khawatir, aku akan ncari cara lain untuk nyembuhkan Felicia." Kata Jeffry.
Randika yang daritadi diam itu akhirnya mulai jengkel, kenapa pak tua ini rehkanku sedemikian rupa?
natap Jeffry dan Felicia, Randika berkata dengan nada santai. "Bagaimana kalau aku riksanya dulu? Tidak ada ruginya bukan?"
Reviews
All reviews (0)