Font Size
15px

Ketika ndengar kata-kata itu, Christina nghela napasnya dan nghampiri Randika. Ketika orang-orang lihat Christina, reka semua njadi bersemangat. Benar-benar perempuan yang cantik, pikir reka. Sangat disayangkan perempuan secantik itu dimiliki oleh orang yang berwajah biasa.

Jika Randika tahu bahwa orang-orang itu ngejek dirinya, mungkin dia sudah nghajar reka semua. Berwajah biasa? Apa reka tidak tahu orang sejenteln seperti dia ini sangat tampan? Bahkan bunga tercantik di kota ini sudah njadi istrinya, mana mungkin dia berwajah biasa?

Dengan pola pikir seperti itu, tentu orang-orang itu akan jomblo seumur hidup.

nerima uang dari tangan Christina, Randika nyodorkan uangnya tersebut ke dalam genggaman si pawang. "Ambil uang itu, jangan berani-berani minta lebih. Mulai hari ini monyet itu adalah milikku."

"Kau!"

Si pawang itu mulai marah, tetapi rasakan aura yang dimiliki oleh Randika, si pawang ini tidak berdaya. Setelah beberapa saat natap tajam Randika, dia berbalik badan dan pergi dari tempat itu.

Si monyet itu terlihat senang ketika lihat pawangnya itu pergi ninggalkan dirinya.

Kemudian Randika ngambil HPnya dan nelepon Deviana. Ketika ndengarkan permintaan Randika, Deviana terdengar dingin. Namun, dia tidak bisa nolak permintaan Randika tersebut.

Sambil nunggu kedatangan Deviana, Randika bermain dengan si monyet bersama dengan Christina.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil polisi parkir tidak jauh dari taman dan polisi tersebut nghampiri Randika.

"Permisi, apakah Anda pak Randika?" Kata si polisi muda itu sambil tersenyum.

"Benar, kamu siapa ya?" Randika terlihat bingung.

"Aku diutus oleh ibu Deviana untuk nggantikannya. Beliau sedang tidak bisa keluar dari kantor." Jawab si polisi. Dia lalu lihat monyet yang duduk di pundak Randika dan berkata padanya. "Apakah ini hewan yang perlu diserahkan pada kebun binatang?"

Randika lalu mberikan monyet itu pada si polisi. "Benar, tolong bantuannya."

"Tidak masalah." Polisi itu kembali tersenyum. "Aku dengar dari Ibu Deviana kalau Anda sudah sering mbantu kami jadi permintaan seperti ini jelas tidak sebanding dengan jasa Anda."

lihat polisi itu pergi bersama si monyet, Randika nggaruk-garuk kepalanya. Apa namanya itu sudah nyebar di kepolisian kota ini?

Randika dan Christina kembali nikmati keindahan taman ini berdua. Setelah berjalan beberapa nit, Christina berkata pada Randika. "Kalau begitu aku pulang dulu ya."

"Eh? Secepat itu?" Wajah Randika terlihat pahit. "Kita sudah lama tidak bersama-sama, apa kita tidak berjalan lebih lama lagi?"

ndengar kata-kata ini, Christina natap tajam Randika. "Kamu pikir aku baru ngenalmu sehari saja?"

Randika tidak bisa terlihat malu ketika ndengar jawaban Christina ini. Sialan, sejak kapan rencananya bersraan itu terkuak? Atau jangan-jangan ini cuma gertakan?

Seiring berjalannya waktu, sifat Christina sudah berubah jauh dari sebelumnya. Awalnya dia adalah perempuan dingin yang tidak ingin dekat dengan pria manapun. Tetapi setelah bersama dengan Randika, perempuan cantik berintelektual ini njadi gadis kecil yang baru pertama kali rasakannya bagaimana jatuh cinta. Namun, dia masih belum terbiasa bersraan dengan Randika.

"Kalau begitu sayang sekali, aku padahal sudah mpersiapkan hadiah untukmu." Kata Randika sambil nghela napas.

"Hadiah apa?" Christina mulai penasaran.

"Kalau begitu ikuti aku." Randika kembali nggandeng tangan Christina dan reka berdua tiba di sebuah dinding yang sepi.

Christina bersandar di tembok dan natap Randika yang naruh tangan kanannya di atas tembok persis di samping wajahnya. Keduanya saling natap satu sama lain.

Satu detik, dua detik, tiga detik telah berlalu.

"Terus? Apa ini hadiah yang kamu maksud?" Akhirnya Christina tidak bisa nahan diri untuk tidak bertanya, wajahnya benar-benar terlihat bingung.

"Hmm? Kamu tidak rasakan apa-apa?" Randika sendiri terlihat bingung, bagaimana caranya lakukan kabe don [1]?

"Hah? Kamu ngomong apaan sih?" Christina benar-benar bingung. Dia sendiri heran kenapa Randika tiba-tiba nyuruhnya bersandar di tembok seperti ini. mangnya apa yang seharusnya dia rasakan?

Randika benar-benar terkejut, artikel yang dia baca di internet jelas ngatakan kabe don ini akan mbuat suasana njadi romantis.

Sepertinya posisinya yang salah, dia harus nggantinya.

"Sebentar, biarkan aku ncobanya lagi." Kata Randika. Dia ngambil kembali tangan kanannya lalu namparkannya ke dinding. Untuk mperdalam suasananya, tubuhnya itu sudah condong ke depan.

Keduanya lalu bertatap-tatapan sekali lagi. Satu detik, dua detik, tiga detik telah berlalu.

"Sudah cuma itu saja?"

"Kamu beneran tidak rasakan apa-apa?" Tanya Randika.

"Jujur aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan ini." Christina terlihat bingung. "Aku sendiri tidak rasakan apa-apa."

Randika kehabisan kata-kata, internet telah nipunya! Katanya dengan lakukan kabe don ini suasana akan njadi romantis dan perempuan yang awalnya malu-malu akan pasrah dan ngatakan perasaannya yang sesungguhnya ketika terpojok seperti ini. Ternyata semua itu hanyalah tipuan!

Pasti ini tipuan, tidak mungkin Randika yang tampan dan gagah ini gagal untuk kedua kalinya!

"Bukannya kamu ngatakan ada hadiah untukku?" Kata Christina.

Randika nghirup napas dalam-dalam, skipun cara internet ini gagal, masih ada caranya sendiri.

"Hadiahku adalah" Wajah Randika yang mang awalnya sudah dekat dengan Christina itu tiba-tiba ncium bibir Christina!

Christina yang awalnya nolak itu mulai tertelan oleh nikmatnya ciuman reka ini. Keduanya lalu saling luk satu sama lain dan tenggelam dalam atmosfer cinta reka.

Tiba-tiba ada pria tua yang sedang ngajak anjingnya jalan-jalan berjalan lewati reka. Ketika anjingnya nggonggong ke arah Randika, pak tua itu marahinya.

"Dasar anjing bodoh! Sudah jangan ganggu reka, kalau kamu tetap nakal tidak ada makan buatmu hari ini!"

Anjing itu langsung takut ketika lihat pemiliknya yang ramah itu tiba-tiba marah. Pak tua itu berjalan sambil nggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar anak muda, moral bangsa semakin hancur kalau terus seperti ini.

Tetapi Randika dan Christina tidak sadar akan kehadiran pak tua tersebut, reka masih tenggelam dalam dunia reka sendiri. Butuh waktu lama untuk reka akhirnya berpisah, Christina sudah terengah-engah dan ekspresi wajahnya sudah seperti kecanduan.

lihat ekspresi dan wajah Christina, Randika tertawa. Sepertinya dia tidak perlu ngikuti arahan internet yang penuh tipuan itu, caranya sendiri sudah mbuat perempuan-perempuan klepek-klepek dengan dirinya.

Tetapi sebenarnya, kabe don itu tergantung orangnya. Christina sudah berumur 28 tahun dan dia rupakan perempuan terpelajar. Dia sendiri jarang tertarik dengan adegan romantic.

"Bagaimana hadiahku? Apa kamu nyukainya?" Kata Randika sambil tersenyum.

"Biasa saja, sudah aku mau pulang sekarang." Wajah Christina sudah rah padam, ciuman Randika selalu mbuatnya layang-layang.

"Ingatlah untuk datang lebih pagi besok." Setelah lepaskan diri dari pelukan Randika, Christina berjalan pergi.

lihat sosok Christina yang nghilang, Randika tertawa.

Setelah pergi dari taman, Randika tidak langsung pulang. Malahan dia pergi jalan-jalan, lagipula dia sudah ngabari kalau pulang agak terlambat.

Setelah sekian lama tidak berjalan-jalan ngelilingi kota, Randika mulai nikmati kebebasannya ini.

Pada pukul 8 malam, akhirnya Randika sampai di rumah.

Ketika dia pulang, dia nemukan hanya ada Inggrid sendirian di rumah.

"Suamiku sudah pulang." Inggrid senang ketika lihat sosok Randika, sekarang dia terlihat sedang gang panci.

lihat adegan ini, hati Randika ngepal. Dia dengan cepat berkata pada Inggrid. "Biarkan aku mbantumu."

"Sudah kamu duduk saja, sudah mau selesai kok." Kata Inggrid sambil tersenyum

Hati Randika rinding ketika ndengarnya, sepertinya makan malam kedua versi neraka sebentar lagi akan tiba.

Inggrid kembali masak. Dan kali ini dia tidak mbiarkan Randika ndekati dapur karena dia ingin masak sendirian.

Randika tidak punya pilihan selain nurutinya, dia tidak ingin istrinya itu marah. Tidak lama kemudian, Inggrid telah selesai masak.

"Sayang, waktunya makan." Kata Inggrid dengan bahagia. Randika lihat isi panci itu dan berkata padanya. "Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu."

"Nanti saja sekalian kamu pas mandi." Kata Inggrid.

"Aduh, kepalaku tiba-tiba pusing." Kata Randika sambil gangi kepalanya.

"Kalau begitu pas, sup sehat yang kubikin ini cocok ngobati penyakit kepala." Inggrid dengan cepat nyeret Randika. Dia lalu duduk di seberang suaminya yang tercinta itu.

Dengan ini Randika sudah kehilangan alasan untuk nolak.

Randika sudah tersenyum pahit, dia tidak berani nolak istrinya ini. Akhirnya setelah diambilkan semangkuk penuh oleh Inggrid, dia ngambil sepotong daging di dalam sup dengan garpunya dan makannya.

Eh?

Wajah Randika benar-benar terkejut, Inggrid lalu bertanya dengan perasaan gugup. "Kenapa? Apa tidak enak?"

"Tidak, justru masakanmu ini benar-benar enak!" Kata Randika, dia langsung makan supnya dengan lahap.

Awalnya dia ngira makanan yang dimasak oleh Inggrid ini akan seburuk sebelumnya, tetapi dia tidak nyangka istrinya itu akan berkembang sejauh ini dalam waktu yang singkat. skipun aslinya tidak seberapa enak, bagi Randika ini sudah layak dimakan dan jauh lebih enak daripada masakan pertama Inggrid.

Ketika mikirkan betapa hitam dan pahit daging yang dia makan dulu, sup ini jadi semakin enak.

"Apa Ibu Ipah belum kembali?" Tanya Randika sambil makan.

Inggrid yang senang lihat Randika makan dengan lahap itu njawab. "Belum, Ibu Ipah ngomong kalau dia masih butuh beberapa hari lagi sebelum kembali. Makannya pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti itu."

Bagi Inggrid ada tiga hal yang mbuatnya bahagia di dunia ini. Pertama adalah bergandengan tangan dengan Randika dan nikmati waktu reka bersama-sama seakan-akan dunia ini milik reka bertiga. Kedua adalah lihat Randika makan dengan lahap masakan yang dia buat. Dan ketiga ketika Randika mbelai rambutnya dan ngatakan dia adalah perempuan tercantik di dunia.

Ahhh mbayangkannya saja mbuat Inggrid tersipu malu.

"Hannah di mana?" Tanya Randika.

"Hannah terpaksa ngerjakan banyak tugas karena dia absen hampir 2 minggu. Untungnya saja dosennya itu masih baik hati mberinya tugas." Kata Inggrid sambil tersenyum.

Mata Randika berbinar-binar, berarti malam hari ini reka akan berdua saja di rumah ini?

Benar-benar kesempatan yang bagus!

Hati Randika langsung mbara.

"Sayang bagaimana kalau malam ini kita." Tatapan panas Randika sudah dapat dirasakan oleh Inggrid, dia hanya ngangguk pelan sambil tersipu malu.

"Aku sudah mpersiapkan gaya baru buat kita dan beberapa cara agar lebih nggairahkan." Randika mulai bersemangat. lihat ekspresi malu Inggrid, Randika semakin tidak sabar mpraktekannya.

"Habisin makananmu dulu." Inggrid berusaha nutupi wajahnya yang tersipu malu. Tetapi, dia tidak nolak ajakan Randika.

"Baik!"

Randika mulai makan semua makanan yang ada di atas ja. Lima nit kemudian, seluruh makanan itu tidak tersisa sama sekali dan Randika natap Inggrid dengan penuh makna. "Selesai!"

Secepat itu?

Inggrid terkejut, dia lalu digendong Randika dan keduanya langsung nuju kamar reka.

Malam hari ini, desahan nikmat dan teriakan yang kan telinga itu terus terdengar.

Benar-benar malam yang nyenangkan bagi keduanya.

[1] Secara kasar artinya adalah mbentur dinding. Tetapi jika kalian sering mbaca manga maupun lihat ani Jepang (khususnya bergenre romantis), terkadang ada adegan beberapa karakter yang nyudutkan orang yang disukainya sambil nempatkan tangan reka ke tembok. Dalam berbagai cerita, kabe don ini biasanya dilakukan oleh karakter pria yang ingin ngatakan sesuatu ataupun 'ncuri' sesuatu dari karakter perempuannya. Posisi tangan yang diletakkan di tembok itu bertujuan agar lawan bicara tidak kabur.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 323: Artikel Internet yang Menipu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.