Pada saat ini para penonton sudah ketakutan setengah mati, monyet itu tidak berniat ncelakai reka bukan?
lihat wajah dan badan si pawang yang penuh luka di hadapanmu jelas jika monyet itu nangkapmu maka reka akan bernasib sama.
mikirkan kemungkinan seperti itu, para penonton ini sudah berlarian ke mana-mana. Si monyet yang sudah jengkel dengan penonton yang tidak nolong dan nertawai dirinya daritadi, mulai raung dan nerjang ke arah para penonton!
"Awas!"
"Minggir!"
"Ah!"
Keadaan njadi kacau dengan cepat. Semua orang lari berhamburan dan tidak dulikan sesama reka. Monyet tersebut berhasil ndarat di salah satu kepala seorang pria. Pria itu njadi panik dan berusaha lempar monyet itu dengan keras.
"Jangan lempar monyet itu ke aku!" Temannya yang di sampingnya nyuruhnya untuk lemparnya ke arah yang lain.
"Awas! Monyet itu nyerang lagi." Seseorang njadi panik ketika lihat monyet itu berlari nuju dirinya. Mulut dengan gigi yang tajam dan kuku tangannya yang tajam itu ngarah padanya.
Monyet itu kembali berteriak dan orang-orang saling ndorong. Di tengah kekacauan ini, beberapa orang terluka karena terjatuh dan juga ada yang njadi korban kemarahan si monyet.
Tidak lama kemudian, orang-orang yang nonton aksi pawang monyet ini sudah berhasil kabur semua. reka berdiri di atas kursi ataupun masuk ke dalam mobil reka sambil lihat monyet itu ngamuk dari jauh.
"Sialan monyet itu, aku sudah bayar mahal-mahal malah harus sembunyi seperti ini."
"mangnya kamu masih mau lihat monyet itu? Silahkan mati sendiri saja, aku tidak mau nemanimu." Kata temannya.
Mungkin kemarahan orang ini cukup dimaklumi karena dia salah naruh uang 100 ribu yang dikiranya 10 ribu itu.
Pada saat ini, seorang anak kecil yang sedang berlari dengan ibunya itu terjatuh karena didorong dari belakang oleh orang. Karena tidak bisa nemukan ibunya, dia mulai nangis.
Si monyet lihat anak kecil ini dan raung seakan-akan bersiap untuk perang. Dengan keempat cakarnya yang tajam, dia berlari nuju anak kecil tersebut.
lihat monyet itu berlari ke arahnya, tangisan anak kecil itu semakin njadi-jadi.
Orang-orang yang berlarian itu awalnya ingin mbantu si anak kecil itu. Tetapi lihat sosok bengis si monyet, kaki reka tidak bisa bergerak.
Tamat sudah si riwayat anak kecil itu.
"Bodoh, kenapa reka ninggalkan anak kecil itu!" Ucap salah satu orang yang sudah bersembunyi di dalam mobilnya.
Namun pada saat ini, sesosok pria berdiri di hadapan anak kecil tersebut. Tapi sayang sekali, sosok itu terlihat lemah dan kurus.
"Wow dia ngorbankan diri untuk anak kecil itu!"
"Sepertinya orang itu akan terluka parah sama dengan si pawang, aku harap ambulans segera datang."
"Hei, mau taruhan berapa lama orang itu bisa berdiri? Aku bertaruh 2 nit!"
Orang-orang tidak optimis Randika dapat ngatasi monyet bengis itu. Si monyet sendiri tidak peduli siapa yang dihadapinya, dengan kukunya dan giginya yang tajam dia lompat ke arah Randika.
Randika tidak bergerak dan ekspresinya tetap tenang, orang-orang yang lihat kejadian ini sudah nahan napas reka. Mati sudah pria itu!
Namun, pada saat monyet itu dekat, Randika dengan santai ngulurkan tangan kanannya. Monyetnya yang awalnya berteriak tanpa henti dan ngayunkan cakarnya tiba-tiba sudah tidak bersuara.
Orang-orang terpana ketika lihat Randika dengan santai gang si monyet yang sudah tidak sadarkan diri di tangannya.
Kenapa monyet itu tiba-tiba tidak sadarkan diri?
Mustahil!
Semua orang terkejut dan tidak tahu harus berkata apa, sepertinya pria itu benar-benar kuat! reka bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya untuk mbuat si monyet itu pingsan. Tahu-tahu monyet itu sudah bergelantungan tidak sadarkan diri di tangan Randika.
Randika lalu letakan monyet itu di tanah lalu nggendong anak kecil yang masih nangis itu. Dengan wajah yang tersenyum Randika berkata padanya. "Jangan nangis lagi, tuh coba kamu lihat monyetnya yang tidur itu. Lucu bukan?"
Setelah berkata seperti itu, anak kecil itu lihat si monyet yang tertidur lelap dan tersenyum. Namun tiba-tiba monyet itu kembali sadar dan terlihat bingung, sepertinya ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Ketika monyet itu lihat Randika, insting hewannya ngatakan bahwa orang itu bukan lawannya dan njadi patuh olehnya.
skipun hanya rasakan sekali kekuatan Randika, monyet itu sudah sangat paham betapa berbahayanya Randika.
Ketika lihat monyet itu tiba-tiba bangun, anak kecil itu sedikit ketakutan dan bersembunyi di belakangnya Randika.
"Cepat minta maaf ke anak ini!" Randika ngerutkan dahinya dan monyet itu ketakutan. Ia lalu ngulurkan tangannya dan mbungkuk ke arah anak kecil itu.
Ketika anak kecil tersebut lihat monyet ini berusaha minta maaf, dia langsung tertawa. Orang-orang di sekitar reka sudah terkagum-kagum lihat hal ini. Pria itu justru lebih hebat daripada si pawang. Hanya satu kata dan monyet itu patuh?
Orang-orang di sekitar Randika mulai bertepuk tangan, berkat Randika anak kecil itu bisa selamat.
"Hebat!"
"Hei, kenapa kamu tidak liharanya saja? Kamu bisa punya banyak uang nanti!" Teriak salah satu orang.
Tanpa monyet ini aku juga sudah kaya bro, pikir Randika.
Suasana kacau tadi dengan cepat njadi tenang, monyet yang bengis tadi itu sekarang duduk di pundak Randika dengan tenang.
Ketika orang-orang mulai nolong reka yang terluka, perut si monyet berbunyi. Sepertinya ia belum makan seharian ini.
Pada saat ini, si pawang monyet nghampiri Randika dengan keadaan compang-camping.
"Kembalikan monyetku, binatang itu milikku."
Ketika lihat si pawang, monyet itu mperlihatkan taringnya dan ndesis lalu bersembunyi di belakang Randika.
Jelas Randika tidak akan mbiarkan pawang ini ngambil monyet ini lagi. Pawang ini benar-benar biadab dan kejam, monyet ini akan mati apabila dia kembali ke tangan pemiliknya itu.
Monyet itu terus nerus ndesis, seakan-akan sedang mprotes bahwa dirinya sudah keluar dari bisnis pawang monyet.
Randika mperhatikan monyet yang berdiri di belakangnya dan berkata pada si pawang. "Jika kamu nyiksa monyet ini berlebihan, ia tidak akan ikut lagi denganmu. Percuma kamu berharap dia patuh."
"Itu bukan urusanmu. Binatang itu milikku dan terserah aku bagaimana caraku ndidiknya." Wajah si pawang dengan cepat njadi marah. "Kembalikan atau kulaporkan ke polisi jika kau ncurinya."
Randika dengan santai njawab. "Aku tidak pernah ncuri, aku berniat untuk mbeli monyet ini darimu."
Si pawang itu makin marah. "Monyet itu tidak untuk dijual!"
Bersamaan dengan ini, si pawang berniat nyeret monyetnya dan pergi dari tempat ini. Namun, tiba-tiba langkah si pawang terhenti ketika dia lihat tatapan tajam Randika.
Randika yang sekarang benar-benar terlihat nakutkan, jelas dia bukan orang awam.
Randika terlihat raba-raba saku celananya, dia lalu tersenyum pahit ketika nyadari dia tidak mbawa uang. Dia lalu berkata pada Christina yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Kamu bawa uang?"
Orang-orang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan si pawang yang masih terluka itu dengan Randika. reka ngira bahwa pria itu berniat mbalas dendam karena kekacauan yang ditimbulkan oleh si pawang tetapi reka tidak akan ngira bahwa Randika sebenarnya ingin mbeli kebebasan si monyet.
Reviews
All reviews (0)