Font Size
15px

ndengar kata-kata itu, Randika langsung tersedak. Setelah nenangkan dirinya, dia berkata sambil tersenyum. "Hahaha bentar lagi kok tante, kami juga tidak buru-buru."

Benar, ngapain buru-buru nikah?

"Baiklah kalau itu mau kalian, tante cuma ingin kalian segera resmikan saja."

Ketika kembali ngunyah makanannya, Ayu tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya Dika, anak kenalannya tante ini ada yang kena penyakit jantung, apa kamu bisa nyembuhkannya?"

Penyakit jantung?

Christina yang ndengarnya itu sudah nghela napasnya. Bahkan dengan teknologi jaman ini, penyakit jantung masih tidak dapat disembuhkan secara total. Yang bisa dilakukan oleh para dokter adalah ngendalikannya. Ini jauh berbeda dengan penyakit rematik yang disembuhkan oleh Randika kapan hari.

Namun, Ayu sendiri tidak terlalu berharap banyak karena dia sendiri ngerti penyakit ini seperti apa.

Randika berpikir sebentar lalu berkata dengan santai. "Bisa sih aslinya skipun agak rumit."

Randika berani berkata seperti itu karena dia miliki darah boneka ginseng bersamanya, asalkan bukan penyakit kanker atau tumor, seharusnya bisa disembuhkan. Dengan bantuan tenaga dalam dan tode pengobatan tradisional kakeknya, Randika seharusnya bisa nyembuhkannya.

Wajah Ayu langsung berbinar-binar. "Ini kabar yang luar biasa bagus! Apa kamu besok bisa ke tempatnya?"

"Aku ikut saja sama rtuaku." Randika diam-diam manggil Ayu rtuanya lagi.

"Baiklah kalau begitu, besok aku akan mbawa reka ke rumahku."

Setelah makan malam reka selesai, Ayu nyuruh anaknya itu untuk ngantar Randika jalan-jalan berdua di taman dekat sini.

"Kamu mang benar-benar pintar ya." Kata Christina.

"Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku bisa jadi calon suamimu?" Kata Randika sambil tertawa.

skipun terdengar sombong, Christina harus ngakui bahwa kata-kata Randika itu ada benarnya.

reka berdua bergandengan tangan dan bercanda ria sambil nikmati angin malam. Ketika reka sedang nikmati mon ini, terlihat sebuah kerumunan.

"Hahaha."

"Monyet itu lucu sekali!"

"Lagi, lagi, lagi."

Kerumunan orang itu terlihat antusias lihat pertunjukan topeng monyet. Karena sudah lama tidak pernah lihatnya, Randika juga ikut bersemangat dan narik Christina.

"Ayo kita lihat sebentar."

"Permisi, permisi." Dengan kekuatan yang dimiliki Randika, berjalan nuju depan kerumunan adalah hal yang mudah. Pada saat ini, dia lihat monyet itu sedang ngendarai sepeda super mini.

Ketika sedang ngayuh, monyet itu tiba-tiba berhenti dan ngangkat sepedanya. Lalu di hadapan orang-orang, ia berpura-pura ngangkat beban seperti di gym nggunakan sepedanya.

"Wah pintar sekali!"

Para penonton semakin bersemangat. Monyet itu kemudian naiki salah satu orang dan duduk di pundaknya. Ia lalu loncat dan naik kembali ke orang berikutnya. Tidak lupa dia ncium orang yang dinaikinya, hebatnya hanya perempuan-perempuan cantik yang ia panjat selama ini.

Randika juga bertepuk tangan sambil riahkan suasana. Pada saat ini, monyet tersebut ngambil sebuah topi dari pawangnya dan berjalan nuju orang-orang. Cara berjalannya itu sangat lucu dan orang-orang yang terhibur langsung masukan uang reka ke dalam topi.

Setelah semua uang terkumpul, monyet tersebut kembali ke pawangnya. Pawangnya lalu ngeluarkan sebuah cambuk dan ngayunkannya ke tanah.

"Berlutut!" Kata si pawang.

Ketika monyet itu ndengar kata-katanya, ia langsung berlutut dengan kedua kakinya. Para penonton langsung terpukau dengannya. "Wah monyet itu juga bisa berlutut?"

"Sejak kapan ada monyet sepintar itu?"

"Hahaha sepertinya dia lebih pintar darimu."

"Sialan kau!"

Orang-orang nikmati suasana riah ini, namun pada saat ini, monyet tersebut sepertinya ingin berinteraksi kembali dengan para penonton jadi ia langsung berdiri dan berjalan nghampiri.

lihat hal ini, si pawang ngerutkan dahinya dan ncambuk monyet tersebut.

"!!!"

Monyet tersebut langsung berteriak kesakitan sambil berguling-guling di tanah, punggungnya terkena telak. Namun herannya, sebagian besar penonton nganggap hal ini lumrah dan tertawa ketika lihat monyet itu kesakitan.

Randika dan Christina tidak tega lihat adegan ini. skipun reka tidak mpunyai peliharaan, lihat binatang yang tidak bersalah ini disiksa seperti itu, siapa yang tega lihatnya? Apa lucunya lihat hewan disiksa sedemikian rupa?

"Cepat berlutut lagi!" Kata si pawang dengan wajah serius. Dia lalu kembali ncambuk si monyet tepat di kakinya.

Kali ini teriakan si monyet jauh lebih terdengar tragis. Takut dicambuk lagi, monyet itu segera berlutut dan terdiam sambil nahan rasa sakitnya.

lihat monyet itu patuh lagi, para penonton kembali bertepuk tangan.

"Dasar monyet, dikerasi baru nurut. Kayak anak SD saja hahaha."

"Tapi nurutmu berapa lama si pawang itu ngajari si monyet?"

"Seharusnya tidak lama? Kan monyet saudara jauh kita."

"Tapi kalau lihat wajahmu bukankah mirip dengan monyet itu? Jangan-jangan malah saudara kandung kalian!" ndengar hal ini teman-temannya ikut tertawa bersama-sama.

Di tengah tawa itu, si pawang masih natap tajam pada si monyet. "Sekarang tepuk tangan! Cepat!"

lihat cambuk di sampingnya, monyet itu langsung bertepuk tangan skipun pelan. Hal ini justru mbuat si pawang semakin marah.

"Kau mau makan tidak? Cepat kumpulkan uang buatku lagi atau aku kurung kau lagi tanpa makanan!" Kata si pawang sambil njewer si monyet. Setelah selesai njewer, si pawang tersebut ncambuknya sekali lagi!

Karena sudah tidak mau nurutinya lagi, monyet itu nghindar. Ia sudah muak diperlakukan seperti ini setiap harinya. Sedangkan si pawang miliki anggapan bahwa kalau dia sendiri tidak keras seperti ini maka si monyet tidak akan nuruti dirinya dan ia tidak akan nghasilkan uang baginya.

Dengan suara yang keras, si pawang itu berteriak dengan lantang. "Berlutut atau kubunuh kau!" Pada saat ini, cambuk yang dibawanya itu dipukulkan berkali-kali ke tanah. Si monyet itu tidak punya pilihan selain nurutinya atau ia akan benar-benar mati.

Gilanya lagi, para penonton justru bertepuk tangan nyoraki si pawang.

"Sekarang pura-pura tidur!" Teriak si pawang sambil ncambukan cambuknya. Si monyet itu semakin lama semakin jengkel tetapi lihat pemiliknya itu nggunakan cambuk, ia benar-benar tidak berdaya.

Apa pun hewannya dan tidak peduli alasannya, manusia seharusnya tidak boleh nindas hewan seperti itu. Sebagai manusia, kita jauh lebih beradab daripada hewan dan harus nghargai reka.

Monyet itu sudah marah, ketika ia lihat orang-orang di sekitarnya itu nertewai dirinya, monyet itu makin marah.

"Hahaha lihat wajah bodoh monyet itu."

Ketika monyet itu mperhatikan kerumunan, cambukan pawangnya itu ngenai dirinya lagi!

Bersamaan dengan cambuk ini, darahnya sudah ndidih dan insting hewan liarnya mulai bergejolak.

"Diam atau kubunuh!" Si pawang itu sekali lagi ncambuk si monyet.

Monyet itu akhirnya sudah tidak tahan lagi, dia raung keras. Dia lompat-lompat berusaha untuk nyerang si pawang. Cambuk yang panjang itu telat lindunginya dan si monyet pun ndarat di wajah si pawang.

"Kik, kik, kik!"

Monyet itu nggigit telinga si pawang dan ncakar wajahnya. Tidak sampai di situ, dia juga nggigit lengan sekaligus ncakar badan si pawang. Dalam sekejap darah langsung ngucur ke bawah.

Dengan tenaga yang tersisa, si pawang akhirnya berhasil nangkap si monyet dan lemparnya ke tanah.

Sekarang, monyet yang telah dikuasai insting liarnya itu natap arah kerumunan yang nertawai dirinya. Wajahnya terlihat sangat bengis!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 321: Berjalan di Taman on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.