Dari balik telepon, Christina dapat ngetahui kegalauan Randika. Dengan nada sedikit marah dia berkata padanya. "Kenapa kamu terdengar malas begitu? Ini cuma makan malam bukan interview nikah!"
"Tapi mamamu itu agak unik."
"Sudah, kamu mau datang atau tidak?" Nada Christina mulai tinggi. "Jika kamu tidak mau jangan harap kita bertemu lagi." Christina sebenarnya rindukan Randika, tetapi dia tidak ingin terlihat terang-terangan seperti itu jadi dia nggunakan nama ibunya untuk nutupinya.
"Aku bercanda kok, tentu saja aku mau. Siapa mangnya yang tidak mau bertemu dengan malaikat cantik bernama Christina dan ibunya itu?" Randika langsung tidak ragu-ragu lagi ketika ndengar ancaman Christina. ndengar kata-kata ini, mulut cemberut Christina kembali tersenyum.
"Kalau begitu aku tunggu di rumah mamaku ya, jangan makan banyak-banyak siang ini! Sampai ketemu nanti!"
Randika tidak sempat mbalas satu kata pun, dia tidak nyangka bahwa acaranya itu akan berlangsung malam hari ini.
Randika lalu nghela napasnya, kenapa bisa ada ibu yang semangat sekali seperti itu di dunia ini? Dia benar-benar tidak berdaya di hadapan Ayu.
Namun, nasi telah njadi bubur.
Setelah jam pulang kantor, Randika langsung berangkat nuju rumah Ayu. Tidak lama kemudian, dia telah sampai dan terdiam di depan pagar. Sambil nghirup napas dalam-dalam, dia akhirnya nekan bel pintu rumahnya.
TING TONG!
Bel pintu rumah yang nyaring langsung berbunyi. Setelah beberapa waktu, Ayu keluar sambil tersenyum.
"Aduh nantuku sudah datang, ayo masuk, masuk."
Ayu langsung nangkap tangan Randika dan nyeretnya masuk.
Randika tidak tahu harus nangis atau tertawa. Terakhir kali reka bertemu dia dipanggil Dika dan sekarang nantu? Cepat sekali berubahnya.
Namun, Randika sama sekali tidak berani komplain. Dia hanya pasrah diseret masuk oleh Ayu.
"Kamu duduk dulu sama calon istrimu itu dulu ya, makanannya bentar lagi siap kok." Kata Ayu dengan semangat. Randika lalu mperhatikan Christina yang luk bantalnya sedang duduk di sofa.
Randika lalu duduk di samping Christina yang ternyata juga sedang mbaca buku.
"Tin, apakah kamu rindukanku selama ini?" Randika tersenyum dan naruh lengannya di sandaran sofa tepat di belakang kepala Christina. Setelah bersama dengan Inggrid dan Viona, Randika ngerti tindakan kecil seperti ini berarti ketika dirinya berduaan.
Christina langsung nyingkirkan tangan Randika sambil cemberut. Bibirnya yang kecil itu terlihat imut ketika cemberut. Belum lagi kulitnya yang putih, bulu mata yang lentik dan kacamatanya itu mbuat sosok Christina terlihat intelektual.
Pada saat ini, Randika tidak tahan mikirkan dirinya bermain roleplay guru dan murid bersama Christina. Kecantikannya Christina berbeda dengan Inggrid dan Viona. Sebagai guru di universitas, sosok tegas yang dia tampilkan itu berbanding terbalik dengan sifat imut yang dia perlihatkan selama reka berduaan. Yang mbuat Randika tidak tahan adalah kacamata yang dia kenakan itu, sudah lama dia ingin ncoba ngeluarkan muncratannya itu di atas kacamata.
Christina lalu lepas kacamatanya dan naruh buku yang dia baca. Matanya tertuju pada Randika. "Kamu kenapa selalu tidak ngabariku kalau mau pergi?" Setitik air mata terjatuh dari mata Christina.
Randika tersenyum, dia lalu mbelai pipi Christina dan ngusap air matanya. Dia lalu nempelkan dahinya di dahi Christina.
"Maafkan aku, tetapi urusanku itu benar-benar ndadak." Setelah ncium pipinya, dia berbisik di telinganya. "Biarkan aku lihat wajahmu yang cantik itu tersenyum."
Ketika Christina ngangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan mata Randika yang terlihat lembut.
"Sungguh nawan." Tangan Randika mbelai pipi Christina. Dia lalu rangkul pinggang Christina dan hendak ngajaknya berciuman.
Wajah Christina sudah tersipu malu. "Ran jangan, mamaku ada di dapur."
Randika lalu noleh ke arah dapur dan mperhatikan keadaannya. Dia lalu tersenyum dan berkata dengan suara yang pelan. "Tidak apa-apa, mamamu tidak tahu kalau kamu nahan suaramu."
Tangan Randika sudah luk leher Christina dan kedua bibir reka bertemu setelah sekian lama berpisah. Bibir yang lembut itu mbuat Randika nyaman dan tidak ingin berpisah lagi. Ketika dia ingin berbuat lebih, Christina mperingatinya sambil terengah-engah. "Jangan Ran, nanti saja."
Sambil tersenyum, Randika kembali nikmati bibir lembut dosen cantik ini.
Setelah sekian lama, kedua bibir reka berpisah dan Randika berkata padanya. "Kamu sedang baca buku apa?"
"A dream of Red Mansions." Jawab Christina sambil ngatur napasnya kembali.
"Ah aku pernah nonton film itu, aku mang sedikit bingung dengan ceritanya. Tetapi aku tidak nyangka kamu suka buku erotis semacam itu."
"Ngawur saja, sekolahku sedang ngaji literatur Cina klasik jadi aku mbacanya agar bisa mbahasnya lebih detail lagi."
"Hahaha tapi apakah kamu suka dengan ceritanya? Aku bisa mbantumu mpraktekkan beberapa kejadian di dalam buku itu kalau kamu mau."
"Kejadian apa?" Christina terlihat bingung.
"Tentang bagaimana Jia Baoyu mbuat keturunan."
"Kamu ini ya!" Wajah Christina njadi rah dan mukulkan bukunya ke Randika.
"Hahaha aku bercanda kok, ampun, ampun." Kata Randika sambil lindungi dirinya. Namun pada saat ini, Randika berhasil nangkap tangan Christina. Dia lalu narik Christina ke dalam pelukannya dan nciumnya sekali lagi.
"Apakah kita perlu mpercepat keinginan mamamu itu untuk punya cucu?" Kata Randika di telinga Christina sambil raba-raba dadanya.
Christina awalnya ingin ndorong dan lepaskan diri, tetapi di bawah serangan Randika yang intens, Christina rasa tidak punya kekuatan untuk nolak.
Pada saat ini, Ayu yang sudah ngintip reka daritadi, akhirnya manggil reka untuk makan karena khawatir makanannya itu akan dingin.
ndengar panggilan ibunya itu, Christina ngumpulkan kekuatannya dan ndorong Randika. Setelah nenangkan dirinya, dia berjalan nuju ja makan.
Randika juga berdiri sambil tersenyum puas dan duduk di samping Christina.
"Ayo, ayo, cepat dimakan. Dika, ini masakan tante yang paling baru." Kata Ayu dengan semangat, dia ngambilkan beberapa lauk sekaligus untuk Randika.
"Aduh tante tidak usah repot-repot, aku bisa ambil sendiri kok. Mana mungkin aku repotkan rtuaku terus-terusan." Randika langsung ngatakan kata-kata manis yang sudah lama dia persiapkan. Ketika ndengar ini, mata Ayu terlihat berbinar-binar lalu dia pun tersenyum.
"Benar juga ya, Dika mang nantu yang perhatian. Kalau begitu ambil makanan yang kamu suka."
Ketika Christina ndengar ini, dia natap tajam pada Randika. Namun, Randika hanya tertawa padanya dan ncubit pipinya. Christina ndengus dingin dan ngangkat kakinya lalu nginjak kaki Randika.
"...."
Randika hanya bisa nahan rasa sakitnya itu, dia hanya ingin sekali-kali ngikuti alur dan ncoba jadi nantu dari Ayu.
"Tin coba makanan ini." Randika ngambilkan makanan untuk Christina. Adegan ini mbuat Ayu makin bahagia. Suaminya sendiri tidak pernah perhatian seperti itu, anaknya ini sungguh beruntung ndapatkan lelaki perhatian seperti Randika.
Christina yang awalnya cemberut itu hanya ngangguk dan tidak nolak.
Akhirnya ketiganya mulai makan bersama-sama. Tentu saja, pembicaraan reka bertiga tidak terlepas dari kata pernikahan dan kapan punya anak.
"Dika, kapan kamu nikahi anak tante ini?"
Reviews
All reviews (0)