Randika berdiri tegak di tengah halaman keluarga Alfred ini dan natap tajam ke semua orang yang ada. Aura mbunuhnya yang sangat pekat itu mbuat suasana njadi berat dan orang-orang mulai kesulitan bernapas.
Dia sebelumnya telah dikejar oleh ratusan mobil polisi, puluhan helikopter dan sekarang dikepung oleh orang-orang yang berada di kediaman keluarga Alfred. Suasana riuh tadi tiba-tiba njadi tenang.
Benar-benar suasana yang canggung.
Wajah Ivan sudah berkeringat dingin ketika lihat sosok Randika. Bukannya bocah itu sudah jatuh dari atas tebing? Kenapa dia masih bisa hidup?
Tetapi karena dia masih berani datang setelah kejadian di gunung itu, Ivan tidak bisa mbiarkannya pergi hidup-hidup. Apa dia kira dia bisa datang ke rumahnya dan keluar setelah nerobos masuk seperti itu?
Di tatapan mata Ivan sudah terkandung kebencian yang sangat ndalam. Niat mbunuhnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Orang yang telah mbunuh anaknya ini tidak bisa dibiarkan hidup, orang itu harus mati!
Pada saat yang sama, pengawal-pengawal keluarga Alfred sudah ncabut senjata reka dan ngepung Randika. Bahkan pembunuh yang dulu bertarung lawan Randika juga ikut ngepung.
Karena hari ini adalah upacara pernikahan keluarga intinya, skipun ini cuma Ghost Marriage, hampir semua anggota keluarga inti hadir di acara ini. Di luar anggota keluarga yang berada di luar negeri, hampir semua anggota inti dari keluarga Alfred berada di tempat ini. Belum lagi keluarga aristokrat yang diundang oleh Ivan, semua orang penting di Jakarta telah berkumpul di tempat ini!
Oleh karena itu, ketika sosok Randika keluar dari dalam mobil, banyak orang yang berdiri dari tengah-tengah tamu. reka yang berdiri itu miliki aura seorang ahli bela diri.
Karena keselamatan diri reka juga terancam, reka dengan senang hati minjamkan kekuatan reka pada Ivan. Lagipula mbuat Ivan berhutang budi pada reka adalah suatu hal yang bagus
Dikepung oleh orang-orang ini, wajah Randika sama sekali tidak berubah. Kenapa? Karena pertarungan seperti ini sangatlah mudah baginya.
Pada saat dia berkeliling dunia dulu, ketika dia bertemu dengan Dion, dia pernah terjebak di sebuah kota. Ratusan orang ngincar dirinya dan reka semua telah binasa oleh tangannya!
Ketika dulu dia berada di Jepang, seluruh orang baik itu polisi, politikus, ahli bela diri lainnya tidak berani berjalan di depannya. Ketika dia lihat Randika, semua orang akan berputar dan lari dari hadapannya!
Ketika dia berada di Eropa, semua orang takluk oleh kemampuannya. Belum lagi para perempuannya, reka semua takluk oleh kemampuan Randika! Tentu saja kemampuan yang dimaksud adalah olahraga di atas ranjang.
Jika dibandingkan dengan semua itu, kejadian hari ini bukanlah apa-apa baginya.
Kemampuan orang-orang ini kurang lebih sama dengan para ahli bela diri yang berada di daftar Dewa, sedangkan Randika belum pernah kalah oleh rendahan seperti reka.
Hal ini terbukti ketika dia bertarung dengan 5 orang sekaligus di Nazumi Bar. Apalagi sekarang kekuatan Randika sudah bukan seperti dulu lagi.
"Orang yang berani napakan kakinya sembarangan di rumah ini tidak pernah keluar hidup-hidup." Seorang pengawal nggelengkan kepalanya dan natap jijik pada Randika. Keluarga Alfred sudah nancapkan akarnya di Jakarta sejak dulu, belum pernah ada orang yang seberani Randika nerobos seorang diri ke kediaman keluarga aristokrat ini.
"Apa pun alasanmu datang ke sini, hanya kematian yang ada untukmu."
lihat kedatangan tamu tak diundang ini, para tamu juga ikut berdiskusi dengan sesama reka.
"Sepertinya orang itu mpunyai dukungan yang kuat, tetapi masalahnya keluarga mana yang berani nantang keluarga Alfred terang-terangan seperti ini?"
"Sepertinya ini juga campur tangan elit global, mana ada orang yang berani nantang Ivan?"
Semua kekuatan keluarga Alfred turun tangan nghadapi Randika. Ditambah dengan para pengawal dari tamu reka, sudah ratusan orang yang ngepung Randika. Ini juga termasuk tim pembunuh elit dari keluarga Alfred.
skipun begitu ekspresi Randika tetap tenang. Matanya natap Ivan yang wajahnya buruk, Jack yang terlihat terkejut, wajah bahagia Ibu Ipah, para tamu yang jijik lihatnya dan pada akhirnya matanya jatuh pada Inggrid yang berbajukan pengantin itu.
Pada saat ini Inggrid sudah berurai air mata.
Randika masih hidup, suaminya itu masih hidup!
Dunia Inggrid yang hitam putih itu kembali berwarna, hatinya yang sudah mati kembali kar ketika lihat Randika.
Dia ngira sudah tidak akan bisa lihat pangeran berkuda putihnya itu lagi di kehidupan ini.
Pada saat ini, Inggrid ingin loncat ke pelukannya Randika tetapi Randika yang tersenyum padanya itu tiba-tiba berkata pada dirinya.
"Dasar perempuan bodoh, kenapa kamu nangis seperti itu? Bukankah aku pernah bilang kalau kamu itu terlihat cantik ketika tersenyum?"
Ketika para tamu ndengar kata-kata Randika, semuanya miliki dugaan tersendiri.
"narik, sepertinya bocah itu punya hubungan dengan Inggrid. Keluarga Laibahas mang sudah sepantasnya jatuh."
"Hahaha ini salahnya maksa Inggrid untuk nikahi anaknya yang sudah mati, sekarang cowoknya itu datang untuk balas dendam."
"Tapi bocah itu sudah pasti gila, mana mungkin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup?" Para tamu itu hanya bisa nghela napas reka. "Sepertinya dunia ini sudah njadi gila."
Ketika orang-orang itu natap Randika, tatapan mata reka sudah dipenuhi oleh rasa belangsukawa. Bagaimanapun juga, musuh keluarga Alfred adalah musuh reka.
Namun, Randika sama sekali tidak peduli dengan orang-orang ini. Tatapan matanya hanya tertuju pada Inggrid. Ketika Inggrid ndengar kata-kata Randika, tangisannya makin njadi-jadi dan dia tidak bisa berhenti nangis.
"Suamiku" Kata Inggrid dengan nada lembut.
Sambil tersenyum hangat, Randika mbalasnya. "Serahkan masalah ini pada suamimu, nanti malam kita akan kembali ke rumah bersama-sama."
Ivan berdiri dan natap Randika lekat-lekat, hatinya sudah tidak tahan lagi. Dia berpikir bahwa lancang sekali bocah itu nganggap dirinya bisa kabur bersama Inggrid, dia pasti akan mbunuh pembunuh anaknya itu.
Sebagai kepala keluarga, Ivan harus lenyapkan musuh-musuh yang berpotensi njadi penyakit bagi keluarganya. Sekarang Randika adalah musuh nomor satunya dan dia harus segera lenyapkannya.
Ivan nendang kursinya dan kursinya itu nabrak ja.
"Karena kau berani nunjukan batang hidungmu ke tempat ini, bersiaplah untuk mati!" Teriak Ivan.
ndengar kata-kata ini, semua orang yang ngepung Randika itu bersiap untuk nyerang. Bagaimanapun juga musuh reka itu cuma satu orang, seharusnya jumlah reka cukup untuk mbunuh Randika.
Tetapi orang-orang yang pernah rasakan kemurkaan Randika sebelumnya nunjukan jejak-jejak ketakutan di mata reka. Kekuatan Randika pada hari itu lekat di benak reka dengan sempurna. Jika reka nyerang dengan gegabah maka reka sudah pasti akan mati dalam sekejap.
Ketika semua orang sudah ngharapkan darah mulai berjatuhan, tiba-tiba suara sirene polisi kembali terdengar. Ketika para tamu ini noleh, reka semua terkejut bukan main.
Kenapa polisinya begitu banyak?
Di pintu pagar rumah, para polisi sudah mblokade dengan mobil reka. Ratusan orang sudah mbidik ke arah Randika, dan di saat yang sama, lebih dari 15 helikopter sudah ngudara dan ngarahkan senapan sin reka pada Randika.
Tidak jauh dari sana, puluhan penembak jitu sudah ngambil posisi dan siap nembak.
Situasi macam apa ini?
Para tamu ini sudah ketakutan, reka belum pernah lihat polisi sebanyak dan selengkap ini. Apakah reka juga akan ikut hancur bersama keluarga Alfred?
Tetapi, reka langsung bernapas lega ketika reka ngetahui bahwa para polisi ini datang untuk Randika. Ratusan titik rah tersemat di seluruh tubuh Randika.
lihat hal ini, semua orang langsung nyingkir dan bersembunyi. Inggrid pun juga bersembunyi atas perintah Randika.
Para polisi itu sudah siap nembak kapan saja, pada saat ini salah satu dari reka ngambil pengeras suara dan berkata pada Randika. "Anda sudah terkepung, nyerahlah atau kami akan nembak."
Namun, Randika tidak peduli dengan reka sama sekali. Tatapan matanya masih tertuju pada Ivan. Aura mbunuhnya yang pekat itu semua tertuju pada Ivan, hal ini mbuat nyali Ivan ngerut. Sudah jelas bahwa Randika datang untuk ncabut nyawanya.
Polisi itu ngerutkan dahinya dan berkata kembali. "Tenang kami tidak akan nembakmu selama kamu tidak lawan. Angkat kedua tanganmu dan berlutut di atas tanah."
Ivan tiba-tiba ndapatkan ide, kenapa dia tidak nggunakan para polisi ini untuk mbunuh Randika?
"Kamu ditangkap atas tuntutan langgar hukum karena mbajak sebuah pesawat, lukai puluhan aparat penegak hukum, ncuri mobil milik polisi dan mbuat kekacauan di dalam kota. Dan sekarang kamu telah nerobos ke dalam rumah orang, lebih baik kamu nyerah sekarang sebelum kejadian ini nuai korban yang lebih banyak." Polisi itu kemudian ndengus dingin. "Jangan pikir kamu bisa kabur lagi."
"Barkah, apakah benar orang ini telah lakukan kejahatan sebanyak itu?" Ivan tiba-tiba berteriak.
Polisi yang bernama Barkah ini natap Ivan dan langsung terkejut. Kemudian ekspresi wajahnya itu langsung berubah.
"Aku tidak nyangka bahwa penjahat ini bersembunyi di rumah Anda." Barkah dengan cepat nghampiri Ivan, dia sepertinya miliki hubungan yang akrab.
Ivan ngangguk, Barkah rupakan salah satu sekutu keluarga Alfred di kepolisian.
"Penjahat seperti itu tidak layak masuk ke penjara, lebih baik bunuh dia di tempat ini." Kata Ivan dengan santai.
Barkah ragu-ragu, lalu akhirnya dia ngangguk dan tersenyum. "Sepertinya Anda benar."
Pada saat ini Barkah tahu bahwa jika dia berhasil mbunuh orang ini, maka keluarga Alfred akan berhutang budi padanya. Terlebih lagi, kejahatan Randika mang sudah terlalu banyak jadi tidak masalah mbunuhnya sekarang juga.
Bruno, yang sudah ngejar Randika sejak dari bandara, sudah ngerutkan dahinya. Dia tahu bahwa Randika bukanlah seorang teroris.
Karena dia tahu bahwa Randika bukanlah orang berbahaya, Bruno jadi malas turun tangan. Tugasnya itu lindungi negaranya bukan sebuah keluarga orang kaya.
Ivan natap Randika sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba Randika berkata pada Barkah yang berada di samping Ivan. "Masalah ini adalah masalahku dengan keluarga Alfred, jangan ikut campur atau jangan salahkan aku jika aku makai kekerasan."
Ketika ndengar kata-kata Randika, Barkah langsung marah. Dia tidak nyangka orang ini masih berani berkata lancang seperti itu.
Dengan tangannya yang terangkat, semua polisi sudah siap nembak dan senapan sin helikopter sudah ngarah pada Randika.
"nyerahlah atau kami akan mulai nembak!"
Barkah sekali lagi mperingatkan Randika.
"Baiklah kalau itu maumu, matilah bersama anjing-anjing tidak berguna itu."
Dalam sekejap tubuh Randika sudah dialiri oleh tenaga dalamnya.
Reviews
All reviews (0)