Font Size
15px

Setelah tenaga dalamnya itu ngalir deras, Randika raung keras sampai-sampai suaranya itu nutupi suara baling-baling helikopter. TIdak sampai di situ, raungan Randika masih nggema ke seluruh tempat. Teriakannya yang lantang itu langsung mbuat semua orang nutup telinga reka karena saking kerasnya.

Teriakannya itu berhasil mbuat para polisi lepaskan jari reka dari pelatuk dan nutupi telinga reka.

Randika yang daritadi berdiri diam itu sudah nunjukan kekuatannya. Seluruh tubuhnya sudah diselimuti oleh tenaga dalamnya dan aura mbunuhnya sudah mancar dengan hebat.

Nama Ares bukanlah dicapai lalui prestasi lainkan ribuan orang yang telah dibunuhnya tanpa pandang bulu. Awalnya Randika enggan mbunuh para polisi ini karena reka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Tetapi jika reka nghalangi dirinya, itu sudah lain cerita.

Sekarang Barkah sudah ngerti ngapa Ivan sampai mintanya untuk mbunuh orang ini, jika dia berhasil mbunuhnya maka hadiah besar pasti akan jatuh ke tangannya. lihat polisi korup satu itu, keraguan Randika sudah hilang dan dia tidak akan sungkan-sungkan untuk mbunuh para polisi yang berani nghalanginya.

Ketika suara teriakan Randika itu sudah tidak terdengar lagi, semua orang, termasuk para ahli bela diri, sudah terkejut bukan main.

"Teknik macam apa itu? Sejak kapan ada orang seperti itu di Indonesia?"

"Bodoh, apa kamu tidak sadar dari raungannya yang mbahana itu? Itu sudah pasti teknik auman singa dari Cina!"

"Sebenarnya siapa orang itu?"

....

Orang-orang mulai berspekulasi ngenai Randika, sedangkan Ivan sendiri sudah pucat pasi ketika raungan Randika masuki telinganya. Dia rasa bahwa kekuatan Randika yang sekarang lebih ngerikan daripada sebelumnya. Untungnya saja raungannya itu tidak sampai mbuat semua orang terpental, para polisi juga sudah kembali bersiaga. Barkah benar-benar sudah marah dan berkata dengan nada dingin. "Ini peringatan terakhir, nyerahlah atau kami akan mbunuhmu!"

Barkah mang sedikit terkejut dengan raungan Randika tetapi dia sama sekali tidak takut dengannya. Bagaimanapun juga, lawannya ini cuma satu orang dan dia miliki persenjataan yang lengkap dan banyak seperti ini. Buat apa dia takut? Justru dia akan lumatkan bocah satu itu!

Terlebih lagi, di antara bawahan yang dia bawa hari ini, dia ndapatkan bantuan dari Densus 88 dan Arwah Garuda. Kekuatan yang ada di tangannya ini benar-benar sudah ngerikan, tidak mungkin dia bisa kalah.

natap pemuda di depannya itu, Barkah ndengus dingin dan mberikan perintahnya untuk nyerang. Beberapa orang dari Densus 88 maju dan bersiap untuk nangkap Randika hidup-hidup.

Ketika orang-orang itu maju, Randika tahu bahwa reka bukanlah polisi biasa. Namun, apakah ada bedanya?

Dia sudah pernah rasakan kehebatannya pasukan Arika yang terkenal paling hebat di dunia, setiap prajuritnya setara dengan 100 prajurit biasa. Keahlian reka mang terhebat dan kemampuan berpikir reka juga kelas dunia, tetapi di hadapan Randika reka bukanlah apa-apa.

Apalagi pasukan yang sekarang bergerak untuk nangkap ini.

Dengan pisau militer di tangannya, seseorang nerjang maju ke arah Randika sedangkan 4 temannya lainnya nyerang dari sisi kanan dan kiri Randika. reka juga berkoordinasi dengan para senapan jitu untuk nghalangi jalur lari Randika.

Randika tiba-tiba bergerak. Di saat pisau militer itu tertuju pada kakinya, Randika hanya mberikannya sebuah tinju di wajahnya. Dia mang terlihat tidak bergerak, tetapi itu karena pukulannya sangat cepat. Insting bahaya yang sudah diasah oleh latihan keras bertahun-tahun mbuat prajurit ini ngangkat tangannya tetapi semua sudah terlambat. Tinju Randika sudah bersarang di wajahnya dengan keras.

Di bawah tatapan mata orang-orang, prajurit tersebut layang ke tengah-tengah mobil polisi parkir dan langsung tidak sadarkan diri.

Hanya satu pukulan, Randika dapat ngalahkan satuan khusus anti teror Indonesia itu!

Barkah benar-benar terkejut, namun sekarang beberapa orang nerjang Randika bersamaan. reka manfaatkan mon hening tadi itu untuk nangkap Randika. Ketika reka layangkan pukulan reka, reka sudah disambut oleh sebuah kaki yang tertuju pada perut reka.

Tidak ada yang bisa lihat kapan Randika layangkan serangannya ini. Prajurit yang ndapatkan serangan tersebut langsung terpental. Begitu pula 2 prajurit yang nyerang Randika dari samping, keduanya langsung tak sadarkan diri begitu nerima serangan yang sama.

Hal yang sama juga terjadi pada prajurit-prajurit yang nerjang ke arahnya. Hanya dalam 1 nit, semua satuan khusus tersebut sudah tidak punya kekuatan untuk lawan balik.

Semua yang lihat kejadian ini nahan napas reka. Para tamu undangan Ivan terkejut, begitu pula dengan Barkah dan Ivan.

Para keluarga aristokrat itu benar-benar tidak percaya bahwa ada orang yang sekuat Randika.

Randika yang masih berdiri dengan tegap itu natap Barkah dengan dingin.

"Segitu saja kemampuan orangmu?"

Barkah njadi marah, begitu pula para bawahannya. Tetapi reka tidak punya pilihan, bahkan satuan khusus Densus 88 tidak berdaya apalagi reka.

"Aku akan mberimu kesempatan sekali lagi untuk nyingkir. Hari ini keluarga Alfred akan hancur, tidak ada yang bisa ncegahku untuk lakukannya." Kata Randika dengan wajah serius. ndengar kata-kata ini, semua orang terkejut. Pemuda ini datang untuk nghancurkan keluarga Alfred?

Gila. Dia sudah gila!

"Jika ada yang berani nghalangiku, aku akan mbunuhnya!" Kata Randika sambil nekankan kata-katanya.

Wajah anggota keluarga Alfred njadi pucat pasi, apakah ini akan njadi awal dari kehancuran keluarga reka?

Wajah Ivan benar-benar dingin, lalu dia berkata pada Randika. "Bermimpilah 1000 tahun sebelum kamu bermimpi nghancurkan keluargaku."

Darah Barkah juga njadi ndidih. "Bisa-bisanya kamu ngancam keluarga Alfred seperti itu? Apa kamu tidak peduli dengan hukum?"

Bersamaan dengan ini, Barkah mberi isyarat untuk bersiap nembak kepada bawahannya. Ratusan senapan sekarang tertuju pada Randika dan siap nembak kapan saja!

Tidak peduli seberapa hebat lawannya ini, dia tidak mungkin bisa nghindari senjata sebanyk ini.

"Masih tidak mau nyingkir?" Randika ndengus dingin. Ketika semua orang berfokus pada dirinya, dia tiba-tiba berubah njadi asap. Randika benar-benar hilang dan tidak ada yang bisa nemukan dirinya. Tiba-tiba dia sudah berdiri di tengah para tamu dan ncekik salah satu anggota keluarga Alfred.

KRAK!

Suara leher yang patah terdengar renyah.

Kejadian ini benar-benar cepat. Barkah belum sempat mberi perintahnya, Ivan dan ratusan moncong senjata masih natap tempat Randika sebelumnya berada.

Randika lalu mbuang mayat di tangannya itu ke hadapan Ivan. "Kau berani ncoba mbunuhku saat di puncak gunung, apa kau kira aku tidak berani berbuat hal yang sama pada keluargamu?"

Barkah benar-benar marah, dia lalu berteriak keras pada bawahannya. "Tembak!"

Dalam sekejap, seluruh tamu itu berlarian ke mana-mana sedangkan para polisi itu tidak ragu nembakan senjata reka.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Rentetan senjata mulai ditembakan bersamaan.

Dibantu oleh senapan sin helikopter dan senapan jarak jauh, semua peluru sekarang lesat cepat nuju Randika.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 312: Pernyataan Perang oleh Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.