Di Gunung Batu Jaya, tebing yang ada sangatlah curam dan berbatu. Jadi di celah-celah tebing-tebing ini sering ada pohon yang tumbuh sedangkan bagian dasar gunung hanyalah bebatuan saja.
Sejujurnya ini tidaklah normal, ketika berada di atas gunung, kita bisa lihat hutan yang rindang dan luas.
Di tengah-tengah tebing itu, terdapat dua batu besar yang nonjol keluar. Di belakang batu tersebut terdapat gua yang misterius.
Dari kejauhan, orang tidak akan bisa lihatnya karena batu itu seakan-akan nutupi gua tersebut.
Ketika orang masuk ke dalam gua, yang reka lihat hanyalah kegelapan. Bahkan kita tidak bisa lihat jari tangan kita sendiri saking gelapnya. Tetapi setelah berjalan masuk sekitar 100 ter, tiba-tiba ada sebuah cahaya yang nerangi kita. Cahaya itu bukanlah matahari lainkan sebuah cahaya berwarna oranye. Jika diperhatikan dengan baik, cahaya itu berasal dari celah-celah dinding gua.
Di bagian tengah area ini, terdapat sebuah kolam yang berdiater 10 ter. Air di kolam itu sangat jernih dan tenang, sama sekali tidak ada riak. Namun, kita tidak bisa lihat dasar dari kolam tersebut skipun airnya jernih.
Pada saat yang sama, permukaan air itu ngeluarkan asap putih yang bisa dilihat oleh mata.
Di dalam gua inilah Randika sedang terkapar tidak berdaya dengan baju yang compang camping dan perut yang terkoyak. Belum lagi luka dan mar yang dia terima sebelumnya ketika dia bertarung. Sedangkan luka-luka goresan di tubuhnya, diterimanya ketika nembus pepohonan. Bibirnya yang kering itu sudah ngeluarkan tetesan darah, sedangkan jari tangannya itu bisa dikatakan sangat buruk rupa. Kuku yang retak dan patah nghiasi tangan Randika.
Pada saat yang sama, tidak jauh dari tubuh Randika, Hannah sedang tidur dengan tenang.
.......
Setelah sekian lama waktu berlalu, akhirnya Hannah terbangun dari tidurnya.
Hannah mperhatikan sekelilingnya dan dia tidak tahu dia berada di mana dan jam berapa sekarang. Tiba-tiba dia nyadari kakak iparnya yang sedang terkapar di depannya.
"Kak Randika!"
Dengan cepat Hannah nghampirinya dan riksa keadaan Randika. Mata Randika benar-benar rah dan darah di mulutnya terus ngalir.
"Kak, bertahanlah! Aku sudah ada di sini." Hannah lalu nyandarkan tubuh Randika di pahanya.
Di tengah kesadarannya itu, Randika rasa bahwa dunia ini seperti sedang berputar-putar. Ketika dia lihat wajah cemas Hannah, entah kenapa dia bisa lihat dirinya sendiri juga.
Aneh, kenapa dia bisa lihat tubuhnya sendiri?
Randika mulai khawatir, dia hendak ngatakan bahwa dia baik-baik saja pada Hannah tetapi tubuhnya itu sama sekali tidak respon.
Apakah dia sudah mati?
Hannah yang lihat Randika tidak bergerak itu nangis sejadi-jadinya. Semua kejadian nakutkan ini benar-benar tidak bisa diproses olehnya. Randika selalu njadi andalannya dan sekarang Randika tergeletak tidak berdaya di pangkuannya.
"Kak, bukalah matamu! Kak, aku takut sendirian di sini Kak, aku janji tidak akan njahilimu lagi jadi ayo cepat bangun. Hiks, hiks." Hannah mulai kembali neteskan air matanya. Usahanya itu percuma, Randika masih tidak sadarkan diri. Randika sendiri hanya bisa lihat wajahnya itu penuh dengan tetesan air mata Hannah, dia sama sekali tidak bisa mbuat tubuhnya itu bergerak.
Di gua yang sunyi ini, hanya suara nangis Hannah yang bisa terdengar. Ketika suara tangisan itu makin keras, suara Hannah itu bergema!
Hiks, hiks, hiks.
Hannah yang berlinang air mata itu langsung ketakutan. Dia mperhatikan sekelilingnya dan tidak nemukan apa-apa. Dengan berani dia berkata dengan lantang. "Siapa di sana?"
Siapa di sana. Siapa di sana.
Namun, bukanlah sebuah jawaban lainkan kata-kata yang sama dengan pertanyaannya lah yang terdengar. Dalam sekejap Hannah ngerti bahwa suara nakutkan itu tadi adalah suaranya dia sendiri.
lihat Randika yang masih tergeletak lemas di pahanya, Hannah luknya.
"Kak, apa yang harus Hannah lakukan?" lihat masih tidak ada respon, Hannah mutuskan untuk mbiarkan kakak iparnya itu beristirahat.
Setelah nidurkannya kembali, Hannah mperhatikan sekelilingnya. skipun ada cahaya yang keluar dari celah-celah dinding, sebagian besar dari gua ini sangatlah gelap. Hannah sedikit takut tetapi dia harus nghadapi situasi ini dengan lapang dada.
Setelah waktu yang lama, akhirnya Hannah bisa tenang kembali. Pada saat ini, dia rasa haus.
Hari ini dia dan kedua kakaknya itu ndaki gunung bersama. Sesampainya di puncak, Hannah tidak sempat minum karena sibuk ngambil foto pemandangan. Setelah itu dia nyaksikan pertarungan kakak iparnya itu dan terjatuh dari tebing. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tidak minum air, tenggorokannya sekarang benar-benar kering.
Pada saat yang sama, Hannah rasa perutnya mulai lapar. Karena saking semangatnya ingin naik gunung, Hannah bangun lebih pagi dan hanya makan sebuah roti sebelum berangkat. Dan sekarang roti itu telah lenyap dan perutnya minta makanan lebih.
mperhatikan sekelilingnya, Hannah tidak bisa nemukan apa-apa selain kolam yang ada di tengah-tengah gua ini.
Ketika dirinya ndekati kolam itu, Hannah nyadari ada sekumpulan ikan putih kecil yang berenang-renang di permukaan air. Ikan ini sangat kecil, mungkin hanya sebesar ibu jarinya.
Hannah baru pertama kalinya lihat ikan seperti itu, dia njadi penasaran. Dia ngulurkan tangannya dan berusaha nangkap ikan tersebut. Namun ketika tangannya nyentuh air, Hannah langsung nariknya kembali.
"DINGIN!"
Setelah dilihat-lihat, ternyata ada asap putih yang keluar dari permukaan air. Kenapa bisa air di dalam kolam ini begitu dingin?
mang cuaca di gunung itu bisa berubah-ubah, tetapi seharusnya ini musim kemarau dan pagi tadi benar-benar cerah dan hangat. Bahkan gua ini berada di tengah-tengah gunung, seharusnya tempat ini tidak sedingin ini.
Tetapi air sedingin ini tidak berpengaruh pada ikan-ikan putih itu, reka berenang-renang dengan bahagia. Pada saat yang sama, beberapa ikan lompat ke udara dan kembali berenang.
Hannah nelan air ludahnya, dia lalu tersadar bahwa dia sedang kehausan. Tanpa ragu, dia kembali ncelupkan kedua tangannya dan ngambil sejumlah air di tangannya. Dia lalu minumnya sekaligus.
skipun tangannya itu seakan-akan ingin mbeku, dia tidak punya pilihan lain karena dia tidak mungkin masukan kepalanya ke kolam dingin itu.
Gluk, gluk.
Air dingin itu segera mbasahi tenggorokan yang kering itu. Dalam sekejap tubuh Hannah rinding terus nerus, air yang masuk itu benar-benar terlalu dingin.
Hannah rasa bahwa hari ini rupakan hari terburuk selama dia hidup. Sebagai anak dari keluarga Laibahas, seumur hidupnya dia hidup serba berkecukupan. Dia tidak pernah rasa sengsara seperti ini.
Setelah nenangkan diri, dia ngusap kembali air matanya yang entah kenapa jatuh itu. Dia sekarang tidak boleh bertindak lemah kayak seorang gadis.
Hannah lalu ngambil kembali air dingin itu dengan tangannya dan nghampiri Randika.
"Kak, minumlah air ini."
Reviews
All reviews (0)