Pada saat Randika bersumpah akan mbalas dendamnya di hatinya, tiba-tiba suara retakan di dahan itu makin keras.
Sepertinya dahan yang sudah retak itu sudah tidak kuat nahan bobot dua manusia ini dan sudah mulai nunjukan tanda-tanda patah. Perlahan demi perlahan, Randika dan Hannah kembali rosot dan ndadak dahan itu patah dan keduanya kembali jatuh!
Ketika dirinya rosot, Hannah sudah nutup matanya dengan erat dan luk leher Randika.
"AH!!!"
Randika tidak tahu harus berbuat apa, jika reka jatuh dengan kecepatan seperti tadi maka tamatlah riwayat reka.
Setelah noleh ke bawah, hati Randika justru makin ngepal. Bebatuan yang tajam itu ncuat dan tidak sabar nanti kedatangan reka.
Tidak ada pilihan lain, Randika nyalurkan seluruh tenaga dalam di tubuhnya ke tangannya. Dan seperti sebuah cakar, Randika nancapkan tangannya di tebing.
SRAAAKKKKK!
Kesepuluh jari Randika itu berusaha nahan bobot keduanya sambil terus luncur ke bawah.
Bahkan kuku di jari Randika sudah mulai retak dan patah.
Untungnya saja, tindakan cerdas Randika ini sangat efektif. Kecepatan turun reka sudah jauh berkurang dan akhirnya reka bergelantungan di tebing.
Randika nghela napas lega, setidaknya sekarang dirinya bergantung pada tenaga dalamnya sendiri. Hannah masih nutup matanya dan tidak berani mbukanya.
Randika lihat ke bawah dan nemukan tidak ada tempat yang cocok untuk ndarat dengan selamat. Namun, tiba-tiba dia nemukan sebuah batu yang cukup besar yang cocok dijadikan sebagai pijakan kaki.
Dengan hati yang bergembira, Randika ncopot satu genggamannya dan mulai manjat turun ke arah batu tersebut.
Randika sudah seperti spiderman, skipun dia lebih lambat tetapi kecepatan turunnya stabil. Kalau tidak begitu, dia bisa terjatuh dan sudah tidak ada cara lagi untuk nyelamatkan dirinya.
Namun, tiba-tiba tenaga dalamnya itu mulai kehabisan tenaganya. Pada saat ini Randika rasa seluruh tubuhnya njadi dingin, darah di perutnya yang terkoyak itu masih ngucur. Dia sendiri rasakan kedua tangannya itu mulai lemas.
Ini gawat!
Jika bukan karena kekuatan misterius yang mbantunya, mungkin dia sudah jatuh ke bawah sekarang.
"Kak, kenapa kamu berhenti?" Hannah nelan air ludahnya, dia rasakan firasat buruk lagi.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin istirahat sebentar." Kata Randika dengan nada nenangkan. Tetapi wajahnya yang semakin pucat itu tidak bisa disembunyikan.
Sembari turun perlahan nuju batu besar itu, Randika harus nahan rasa sakitnya dengan nggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Randika berhasil mbawa dirinya dan Hannah ke batu tersebut dengan selamat.
Sambil ngatur napasnya, Randika terkejut ketika nyadari ada sebuah gua yang di belakangnya.
Gua? Gua!
Randika benar-benar senang, dia lalu kembali berjalan dan mbawa Hannah masuk ke dalamnya.
Ketika reka sudah di dalam, Randika nurunkan Hannah dan dalam sekejap adik iparnya itu langsung pingsan.
Kejadian ini pasti terlalu nakutkan untuknya jadi Randika makluminya. Tidak seharusnya seorang perempuan ngalami kejadian nakutkan seperti ini.
Tetapi Randika sendiri juga butuh istirahat sejenak dan nghentikan pendarahannya.
Setelah nghentikan pendarahannya dengan jarum akupunturnya, Randika rasa dirinya sangat beruntung bisa selamat dari kejadian ini. Dia juga tidak nyangka bahwa Ivan akan makai taktik pengecut seperti itu.
Setelah istirahat sejenak dan pendarahannya sudah berhenti, Randika kembali nggendong Hannah dengan kedua tangannya dan berjalan lebih dalam lagi ke gua tersebut. Setelah beberapa saat tidak bisa lihat apa-apa, Randika lihat sebuah cahaya oranye di depan. lihat pemandangan di depannya, Randika terkejut bukan main. Gua ini sepertinya gua sakral.
Di tengah gua ini, terdapat sebuah kolam berdiater 10 ter. Kolam tersebut diselimuti oleh asap putih, dan sepertinya air tersebut jauh lebih dingin daripada air pada umumnya.
Setelah letakan Hannah, Randika bermaksud riksa kolam air tersebut. Namun tiba-tiba, tatapan matanya njadi kosong. Seluruh tubuhnya njadi lemas dan dia pun terjatuh. Bahkan dia tidak bisa rasakan satu pun bagian tubuhnya.
Apa yang sedang terjadi?
Randika rasa bahwa tubuhnya sekarang itu tidak jauh berbeda dengan sebuah cangkang kosong, benar-benar tidak ada tenaganya sama sekali.
Kekuatan misteriusnya yang rembes keluar seperti air terjun itu tiba-tiba surut dan nghilang tanpa jejak. Yang tersisa dari tubuh Randika sekarang hanyalah alam bawah sadarnya saja. Kesadarannya ini sendiri tampak tidak stabil, seakan-akan ada pihak lain yang ingin rebut kesadarannya itu.
Randika benar-benar lemas. Untuk nyelamatkan Hannah dan Inggrid, bisa dikatakan bahwa dia makai seluruh tenaga dalamnya hingga titik terakhir dan ngandalkan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Dengan kondisi Randika yang sekarang, dia belum bisa ngontrol kekuatan ini secara sempurna. Hari ini dia sudah makainya 2x ketika bertarung dan 1x saat dirinya lompat turun dan nyelamatkan Inggrid dan Hannah. Pemakaian seperti ini benar-benar berbahaya baginya.
Pada saat yang sama, perut sampingnya yang terkoyak itu mbuatnya kehilangan sejumlah darah. Hal ini lebih diperparah dengan rasa sakit yang dirasakan di setiap sendi, tulang, saraf dan ototnya. Seakan-akan dia telah digigit oleh 10000 ribu semut rah di tubuhnya. Rasa sakitnya ini mbuatnya berkeringat deras. Ketika dia ingin berteriak untuk lampiaskan rasa sakitnya, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Rasa sakit yang nyelekit itu mbuat Randika rasa ingin mati saja, dia tidak kuat dengan penyiksaan seperti ini. Pada saat yang sama, sosok hitam yang tiba-tiba muncul di gua ini makin hitam tiap detiknya.
Sekarang Randika bukan hanya bisa rasakan kekosongan di dalam tubuhnya, dia bisa rasakan hal yang sama di sekelilingnya.
Sosok hitam itu tiba-tiba berubah njadi sosok Ivan, lalu dengan mulut yang terbuka lebar dan gigi yang tajam, yang bisa nelan Randika secara utuh, nerjang ke arah Randika!
Randika ingin nghindar, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa pasrah sosok hitam misterius itu lahap dirinya, tetapi sosok itu hanya nembus badannya!
Sekarang, di sekitarnya itu sudah banyak sosok hitam misterius seperti hantu ngerumuni dirinya.
Di sisi lain, ketika Ivan sudah sampai di tengah-tengah gunung, dia nyuruh anak buahnya nghentikan pencarian mayat Randika dan Hannah. Di dalam hatinya, dia sudah nganggap pembunuh anaknya itu sudah mati.
Mulai dari hari ini, nama Randika sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan dengan ini pula, anaknya itu bisa beristirahat dengan tenang.
lompat turun dari ketinggian seperti itu sama saja jatuh ke pelukan dewa kematian. Baginya, Inggrid sendiri sungguh sangat beruntung bisa nyangkut di pohon dan tidak terluka sama sekali.
Sebelum Ivan dan bawahannya itu berjalan nuruni gunung, reka telah ngumpulkan mayat-mayat rekan reka yang mati dan lemparkannya ke dasar gunung persis di tempat Randika lompat tadi.
Reviews
All reviews (0)