"Inggrid, Hannah!"
Randika berteriak dengan keras di tengah udara, wajahnya benar-benar terlihat cemas ketika lihat kedua orang yang disayanginya itu jatuh dengan cepat.
Kekuatan misterius di dalam tubuhnya tiba-tiba nyatu dengan dirinya dan nyebar ke seluruh tubuh.
Dengan bantuan kekuatan misterius ini, kecepatan jatuh Randika jauh lebih cepat lagi dan berhasil motong jarak dengan Inggrid dan Hannah dengan cepat.
Di bawah reka, terlihat pohon-pohon besar dengan dahan pohon yang banyak. Namun, reka tidak bisa lihat kejutan apa yang dimiliki setelah reka nembus pohon-pohon itu.
"Kak Randika!"
Hannah terkejut lihat sosok Randika yang gang tangannya, Inggrid juga tidak nyangka bahwa Randika juga ikut loncat.
Kedua mata pasangan ini bertemu. Randika natap mata Inggrid yang berlinang air mata, dalam sekejap Randika tahu apa maksud dari tindakan nekat Inggrid ini.
"Bukankah kita sudah berjanji akan hidup bersama hingga tua?"
Dalam sekejap, Randika luk Inggrid dengan satu tangan.
"Randika aku" Inggrid ingin minta maaf atas kebodohannya, tetapi reka bertiga sudah nyaris nabrak kumpulan pohon ini!
"Berjanjilah kamu akan tetap hidup untukku!" Kata Randika sambil tersenyum pada Inggrid, nada suaranya benar-benar nenangkan.
Tetapi, tiba-tiba, dengan bantuan kekuatan misteriusnya, Randika lempar Inggrid!
Dalam sekejap, tubuh Inggrid itu lesat nuju pohon besar yang miliki daun yang banyak dan akhirnya ndarat di sebuah dahan pohon yang besar.
Kekuatan dan akurasi tembakan energi Randika benar-benar tepat, dia berhasil minimalisir bahaya yang bisa nimpa Inggrid dan ndaratkannya dengan sempurna. Namun, Inggrid masih tetap pingsan karena kepalanya mbentur dahan.
Randika sendiri tanpa sadar natap keras sebuah dahan pohon yang besar.
DUAK!
Randika nerima benturan keras itu tepat di belakang kepalanya, hal ini mbuatnya hampir kehilangan kesadaran. Bahkan dahan pohon yang besar itu juga ikut patah dan terjun bersama Randika!
Pada saat yang sama, Hannah masih berada di udara, mulutnya tidak bisa berhenti minta tolong pada Randika.
"Kak Randika tolong aku!"
Hannah takut setengah mati sedangkan Randika masih berusaha tetap tersadar dan kembali lesat nuju Hannah.
Ketika reka berdua berhasil lewati pepohonan yang rindang itu, pandangan reka njadi jelas. Tetapi ini bukanlah kabar baik, karena apa yang nunggu reka adalah bebatuan tajam!
Hannah sudah ngompol, dia lambai-lambaikan tangannya berusaha untuk raih sesuatu. Namun usahanya itu gagal dan dia makin jatuh dengan cepat.
"Han, jangan panik!"
Randika berteriak sekuat tenaga kepada Hannah yang terus terjatuh itu. Pada saat yang sama, dia berusaha ncari sesuatu yang bisa ngurangi kecepatan jatuh reka.
Kedua orang ini sudah bagaikan titik hitam yang layang jatuh dari atas tebing nuju kaki gunung. Orang-orang di bawah sama sekali tidak bisa lihat reka karena saking cepat dan kecilnya reka. Terlebih lagi, kecepatan reka ini mbuat reka tidak bisa ditolong.
Hannah terus berteriak histeris selama di udara.
Apa aku akan mati? Rasa pasrah dan tidak berdaya sudah nuhi hati gadis ini.
"Han, pegang tanganku!" Randika berteriak sekuat tenaga.
Ketika lihat ke atas, Hannah nemukan Randika yang semakin dekat dirinya. Wajah Randika yang terlihat gagah itu ngulurkan tangannya dan berusaha nangkap dirinya.
"Kak Randika!"
Hannah sudah nangis bahagia, namun pada saat ini, mata Randika makin ngecil. Tidak jauh dari Hannah, sebuah batu runcing siap nyambut reka berdua. Jika reka jatuh dengan kecepatan ini, sudah pasti batu itu akan nembus kedua tubuh reka.
Di saat paling krusial, Randika berhasil nangkap tangan Hannah dan ndorongnya ke samping.
Namun, Randika gagal nyelamatkan dirinya dan batu itu nggores perut sampingnya dengan hebat.
CRAT!!
Baju pada bagian samping perutnya itu njadi penuh dengan darah, untung saja usus Randika tidak sampai keluar dari tubuhnya. Namun, Randika masih belum bebas dari bahaya. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya kembali bergejolak dan berusaha ngambil alih inangnya yang lemah itu.
UHUK!
Randika muntahkan seteguk darah segar. Sentara luka di perutnya itu makin berdenyut dan ternyata daging perutnya itu sudah terkoyak dan hilang di udara.
Di tengah kesakitan ini, Randika nggenggam erat tangan Hannah.
"Kak bertahanlah!" Hannah benar-benar ketakutan dan sudah berlinang air mata.
Randika rasakan rasa sakit luar biasa dari perutnya dan darah tidak bisa berhenti keluar. Terlebih lagi, tenaga dalamnya sedang bertempur dengan kekuatan misterius di dalam tubuhnya.
nahan rasa sakitnya itu, Randika berkata pada Hannah. "Berpeganganlah yang erat padaku."
Hannah dengan cepat rangkul Randika erat-erat. Di tengah udara, Randika mbetulkan posisinya sehingga Hannah bisa rangkul dirinya di punggungnya.
reka masih terjatuh, Randika berusaha ncari tempat yang tepat untuk ndarat.
Tetapi, yang ada hanyalah batu-batuan tajam yang akan nyambut reka.
Randika berusaha ngulurkan tangannya dan bergelantungan di tebing, dia berharap bisa nurunkan kecepatan jatuhnya. Tetapi semua itu percuma, ketika tangannya berhasil raih sebuah batu, batu itu akan ikut terlepas karena montum Randika yang terlalu cepat.
Pada saat ini, Randika nyadari ada sebuah pohon yang cukup besar. Hal ini mbuat dirinya senang tidak karuan.
"Han, pegangan yang erat."
Dalam sekejap Hannah langsung luk leher Randika dengan erat. Kedua dada Hannah yang besar itu segera penyet di punggung Randika, tetapi Randika tidak punya waktu untuk nikmati sensasi empuk itu. Nyawanya masih terancam, jika dia nuruti nafsu birahinya itu maka reka berdua akan mati hari ini.
Jatuh dari tebing ini rupakan kejadian paling berbahaya yang pernah dirasakan oleh Randika.
lihat sosok pohon itu makin dekat, mata Randika natapnya dengan tajam. Dalam sekejap dia berusaha nangkap dahan pohon tersebut!
Kecepatan tinggi itu tiba-tiba njadi 0, kalau ini bukan Randika maka tangan orang itu sudah pasti patah dan lepas dari sendi bahunya.
Pada saat yang bersamaan, pohon ini nerima seluruh energi yang diberikan oleh Randika dan terus nerus bergetar. Namun, dahan yang dipegangnya itu mulai nunjukan tanda-tanda patah.
Randika belum nyadari suara retakan dahan tersebut, dia masih nikmati udara yang dia hirup itu. Sedangkan Hannah nutup matanya sambil terus luk leher Randika.
Setelah nenangkan diri, Randika noleh ke atas dan nyadari hal buruk tersebut. Dia sampai kehabisan kata dengan nasib sialnya ini.
Bahkan jika dia berhasil selamat berkat pohon ini, kembali jatuh ke bawah sama saja dengan mati. Sepertinya petualangannya jatuh ini masih jauh dari kata selesai.
"Kak apa kita sudah selamat?" Hannah mulai mbuka matanya sedikit demi sedikit. lihat dahannya yang akan patah itu, dia njadi panik. Bajunya juga sudah compang camping, untungnya dia tidak terluka dan hanya miliki mar yang sedikit.
"Kakak tidak akan mbiarkanmu mati, percayalah padaku." Randika tersenyum pada Hannah.
Namun, senyuman itu juga ngandung kepahitan dan kebencian. Dia pasti akan mbalaskan dendamnya ini pada Ivan dan keluarganya itu.
Reviews
All reviews (0)