Font Size
15px

Fokus Randika benar-benar terletak pada Hannah dan Inggrid yang tertangkap, dia tidak nyadari serangan yang datang dari belakang! Dalam sekejap, dia nerima 2 pukulan tepat di belakang kepalanya.

Seluruh tubuh Randika tersungkur ke tanah. Setelah berusaha berdiri, Randika nyadari Ivan yang sedang natapnya sambil tersenyum lebar.

"nyerahlah dan matilah atau aku akan mbunuh reka berdua." Ivan tidak main-main.

"Kak, larilah dan tidak usah pedulikan kami." Hannah tidak rela lihat kakak iparnya itu tersakiti. Ini juga rupakan salahnya dan kakaknya karena tidak segera kabur skipun jumlah yang ngawasi reka sudah sedikit.

Randika sudah mulai gila, kekuatan misteriusnya itu tiap detiknya ingin ngambil alih kesadarannya. Sambil nampar tanah, Randika berdiri dan natap tajam ke arah Ivan sambil terus mpertahankan kesadarannya.

"Bukankah kau ingin mbunuhku? Kenapa kau sampai lakukan tindakan pengecut seperti itu? Apa kau takut mati di tanganku?" Teriak Randika.

"Karena aku tahu bahwa reka berdua ini adalah kelemahanmu." Kata Ivan dengan nada dingin. Kedua pengawalnya itu makin erat nggenggam pisau reka di leher Inggrid dan Hannah.

Batas kesabaran Randika hampir ledak ketika dia lihat darah yang ngalir di leher istrinya itu. Pada saat ini, sebuah serangan pisau dari Dark Knife ngarah pada pundaknya dan Randika sama sekali tidak bergerak. Pisau itu nancap dengan kokoh dan ngucurkan darah segar dari balik baju.

Setelah itu, tiba-tiba pak tua Fan nendang wajah Randika dengan keras. lihat kesempatan emas ini, Dark Knife dan pak tua Fan tidak segan-segan manfaatkannya. Dalam sekejap reka nghajar Randika hingga babak belur.

Randika, yang hanya bisa nerima serangan musuhnya ini, sudah hampir di ambang batasnya.

Setelah bertarung sekali dengan Randika, Ivan tahu bahwa ledakan tenaga Randika ini hanya berlangsung sebentar. Sesudahnya ledakan energi itu, Randika sudah bukanlah apa-apa.

Karena Inggrid dan Hannah berada di tangan Ivan, Randika sama sekali tidak berdaya. Ketika dia ingin balas nyerang, Ivan selalu ngancam akan mbunuh Inggrid dan Hannah. Tangan Randika benar-benar terikat.

lihat pemukulan ini, hati Inggrid semakin sakit dan air mata hanya bisa netes. Dia sama sekali tidak berdaya ketika suaminya dihajar hingga babak belur.

Seiring berjalannya waktu, tenaga dalam Randika mulai habis dan dia sudah nyaris pingsan.

Tindakan Ivan ini benar-benar pengecut.

Tidak tahan dengan kejadian ini, Hannah noleh ke arah Ivan dan berkata padanya. "Paman, aku dulu naruh hormat padamu tetapi aku tidak nyangka bahwa paman hanya seorang bajingan."

"Aku bajingan?" Ivan tertawa. "Aku punya uang dan semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Aku hanya makai uangku ini untuk mbunuh bajingan keparat satu itu yang telah mbunuh anakku."

Inggrid juga ikut berusaha yakinkan Ivan agar nghentikan serangannya. "Paman, skipun aku ikut bersedih atas kematian Hans, kita tidak bisa mutar balikkan waktu lagi. Kenapa kita tidak berusaha mperbaikinya? Keluarga kita masih berteman baik dan kami juga siap mberikan kompensasi sebagai permintaan maaf."

"Kompensasi? Apa gunanya hal itu? Apa itu bisa mbuat anakku kembali hidup?" Ivan njadi marah. "Jika bukan karena kamu Inggrid, anakku itu pasti masih hidup! Hari ini aku akan mbuat pria yang kau sebut suami itu mati di depan matamu."

lihat usahanya sia-sia, Inggrid sudah nyerah untuk mbujuk kepala keluarga Alfred ini. Namun, permasalahannya tetaplah dirinya dan Hannah yang tertangkap ini. Jika reka berdua masih tertangkap, maka lama kelamaan Randika akan mati.

mikirkan kemungkinan itu, air mata Inggrid makin deras. Benar, dia telah njadi kelemahan dari Randika. Jika bukan karena dirinya, bagaimana mungkin Randika berada di kondisi yang sekarang?

Tetapi, Randika lagi-lagi raung keras. skipun nerima serangan bertubi-tubi, kembali terjadi ledakan tenaga pada Randika. Matanya yang rah sudah bagaikan dewa pembunuh yang ncari mangsa. Ledakan tenaga ini mbuat musuhnya kembali waspada.

Ketika lihat hal ini, Ivan hanya ndengus dingin dan nyuruh kedua pengawalnya itu ngikat Inggrid dan Hannah njadi satu.

"Lepaskan aku!" Hannah berusaha lepaskan diri tetapi semua itu tetap percuma. Dia dan Inggrid tidak bisa lawan sama sekali. Setelah tali itu berhasil ngikat reka, para pengawal itu tinggal ndorong kedua kakak adik ini dan reka akan terjun bebas ke bawah gunung.

"Randika!"

Ivan berteriak pada Randika yang sedang bertarung. Di tengah pembantaiannya, Randika noleh dan lihat situasi yang dialami oleh Inggrid dan Hannah. Dalam sekejap Dewa Perang ini berhenti bergerak.

"Inggrid, Hannah!"

Randika kehilangan fokusnya dan Dark Knife dan pak tua Fan manfaatkan kesempatan ini untuk lukai Randika lagi.

Para pendaki yang rekam kejadian ini hanya bisa kasihan pada Randika. reka ingin nolongnya tetapi pertarungan seperti ini bukanlah panggung milik reka, adanya reka akan terbunuh dengan mudah. Cara para penjahat itu mang sangat licik.

Hannah berusaha larikan diri tetapi ikatan talinya itu benar-benar erat. Inggrid hanya bisa nangis lihat suaminya itu dipukul habis-habisan.

Jika saja dia tidak njadi beban, Randika tidak akan njadi seperti itu.

Ivan sangat puas ketika lihat Randika muntahkan seteguk darah segar, sekarang dialah yang ngontrol pertarungan ini. Jika Randika berani macam-macam, maka dia harus ngucapkan selamat tinggal pada istri dan adik iparnya itu.

Tubuh Randika sudah dipenuhi luka dan mar, dia sama sekali tidak bisa lawan. Selama kondisi Randika masih ngamuk, Ivan akan selalu ngingatkan bahwa nyawa Inggrid dan Hannah berada di tangannya.

Inggrid sudah tidak tahan lihat kejadian ini, dia akhirnya mbulatkan tekadnya. Dia lalu berkata pada Hannah. "Han, setelah ini kamu harus lari sekuat tenagamu ya. Kakak harap kamu bisa nemukan kebahagian di hidup ini."

Hannah rasakan firasat buruk ketika ndengarnya. "Kak, jangan berpikiran bodoh."

Dan tentu saja, Inggrid berhasil lepaskan diri dari ikatannya dan nggigit tangan pengawal yang njaga reka dan ndorongnya hingga terjatuh di tanah. Kemudian setelah mastikan Hannah telah bebas, Inggrid loncat dari atas tebing!

"KAK!"

Hannah dengan cepat berusaha nangkap tangan Inggrid. Namun, Hannah justru ikut jatuh bersama Inggrid dan keduanya terjun bebas nuju kaki gunung!

"Ahhhhh!!"

Inggrid dan Hannah hanya bisa berteriak.

"Inggrid, Hannah!" Randika yang sibuk bertahan itu nyadari tindakan nekat Inggrid, tetapi semua sudah terlambat.

Tatapan mata Randika terpaku pada ujung tebing.

Randika tanpa ragu-ragu nyalurkan tenaga dalamnya ke kakinya dan berlari nuju Inggrid dan Hannah. Namun, Dark Knife dan pak tua Fan tidak mbiarkan Randika kabur. Tetapi, aura mbunuh Randika yang sangat pekat itu mbuat reka berhenti bergerak sejenak. reka belum pernah rasakan aura mbunuh yang sepekat ini.

Setelah sadar dari linglungnya itu, reka berdua terlambat setengah langkah oleh Randika. Dark Knife langsung lemparkan pisaunya sedangkan pak tua Fan lemparkan pedang yang dia pungut dari tanah. Dengan tenaga dalam yang sudah ngalir di kedua tangannya, Randika ntalkan semua serangan itu dengan ledakan energi. Kemudian tanpa ragu-ragu, Randika loncat ke arah Inggrid dan Hannah.

Semua ini terjadi begitu cepat, orang awam sama sekali tidak bisa mproses kejadian ini dengan cepat. lihat sosok Randika yang terjun itu, wajah Ivan njadi muram.

Sedangkan para pendaki yang sibuk rekam itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Dia lompat turun demi kedua perempuan itu? Apa dia berniat mati bersama-sama?

Setelah Randika loncat turun, puncak gunung ini sudah dipenuhi oleh mayat bertebaran. Suasana berat dan ncekam itu kembali njadi tenang. Dark Knife dan pak tua Fan nggotong Jessica yang pingsan dan pergi dari situ. Jika pertarungan tadi tidak ada campur tangan dari Ivan, mungkin reka bertiga ini sudah mati.

Orang-orang yang tersisa dari pertempuran ini nghampiri tuan reka Ivan. Hasil dari pertarungan ini benar-benar di luar dugaan Ivan. Randika, Inggrid dan adiknya Hannah sama-sama mati karena jatuh dari puncak gunung.

Wajah Ivan terlihat tidak puas, dia natap ke bawah dari atas tetapi tidak dapat nemukan apa-apa. Asal tahu saja, ketinggian gunung ini ncapai 1500 mdpl. Jika dia ngerahkan seluruh kekuatan keluarganya, kesempatan dirinya nemukan ketiga mayat itu masih tetap kecil.

Terlebih lagi, jika orang berani loncat dari puncak gunung ini, sudah hampir 99,99999% reka akan mati.

"Tuan, apa langkah berikutnya?" Para bawahannya itu nunggu perintah. Tetapi Ivan sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya, hasil seperti ini bukanlah hasil yang dia inginkan. Dia hanya ingin mbunuh Randika, sedangkan untuk Inggrid dan Hannah dia bisa manfaatkannya untuk ngeksploitasi kekayaan keluarga Laibahas.

Tetapi di luar dugaannya, Inggrid Elina lompat dari atas tebing agar tidak njadi beban bagi Randika!

Kejadian ini pasti sampai di telinga keluarga Laibahas dan tentu Ivan akan njadi pelaku utamanya. Jika sampai itu terjadi, kedua keluarga aristokrat ini akan perang habis-habisan sampai salah satu dari reka hancur!

"Kirim beberapa orang untuk nemukan mayat reka." Kata Ivan.

Setelah para bawahannya itu pergi dan ncari mayat ketiga korban itu, Ivan sama sekali tidak berharap banyak. Gunung yang luas dan hutan yang rindang ini benar-benar terlalu luas untuk diperiksa seluruhnya.

Tidak sampai 15 nit, seseorang berlari nuju Ivan sambil tergesa-gesa. "Tuan, kami nemukan nona Inggrid! Beliau masih hidup!"

ndengar hal ini, Ivan dengan cepat berlari nuju lokasi. Apa yang dilihatnya benar-benar keajaiban, dia lihat Inggrid yang pingsan sedang tersangkut di pohon tanpa terluka sama sekali.

"Turunkan dia!"

Di puncak gunung, para pendaki itu akhirnya bisa bernapas lega setelah lihat Ivan dan bawahannya itu ninggalkan tempat ini. Apa yang telah terjadi di puncak gunung ini benar-benar mon yang tidak terlupakan. reka tidak nyangka bahwa di Indonesia terdapat kekuatan tersembunyi seperti itu.

Setelah nurunkan Inggrid, para bawahan Ivan itu kembali ncari Randika dan Hannah selama beberapa saat. Tetapi reka tidak nemukan petunjuk sama sekali.

Bisa dikatakan bahwa Randika dan Hannah terjatuh ke kaki gunung sedangkan Inggrid benar-benar beruntung tersangkut di pohon tidak jauh dari tempat dia loncat tadi.

"Tuan, kami sudah riksa sekeliling sebanyak 3x dan tidak nemukan apa-apa."

"Aku yakin orang itu sudah pasti mati di kaki gunung."

Ivan sama sekali tidak njawab. skipun dia ingin mastikan Randika telah mati, ncari mayatnya di gunung ini bagaikan ncari jarum di tumpukan jerami.

Pada akhirnya, Ivan hanya bisa percaya bahwa Randika telah mati. Tidak ada manusia yang bisa selamat jika jatuh dari ketinggian ini.

"Bersiaplah untuk turun." Kata Ivan.

Orang-orang mungkin tidak nyangka bahwa orang yang telah berhasil mbunuh Ares sang Dewa Perang bukanlah salah satu dari 12 Dewa Olimpus lainkan seorang ayah yang ingin mbalaskan dendam anaknya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 294: Hasil yang Tidak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.