Mata Ivan tertuju pada Dark Knife dan timnya, mau tidak mau akhirnya dia nggunakan jasa reka. Pada saat ini, Dark Knife dan timnya turun ke dan tempur. Wajah reka penuh dengan waspada.
Setelah lihat daya tempur Randika, reka ngerti betapa luar biasa lawan reka kali ini. Dalam pertarungan 1 lawan 1, tentu reka bukanlah tandingannya.
Dark Knife dan timnya mulai ngepung Randika, sedangkan Ivan hanya dikawal oleh 3 orang saja. Setelah mikirkan jumlah uang yang dia sudah keluarkan, Ivan mutuskan untuk lihat kinerja Dark Knife dan timnya sebelum ngeluarkan kartu Asnya yang terakhir.
natap diam Dark Knife dkk, Randika sama sekali tidak bergerak.
Bajak laut perempuan itu natap tajam Randika, tiba-tiba dia nghunuskan pedangnya dan ncopot topinya. Dia lalu mbungkuk dan berkata pada Randika. "Ratu bajak laut Jessica mberi hormat pada Ares."
Pada saat Jessica mbungkuk, beberapa panah hitam beracun lesat ke arah Randika. Dia nggunakan serangan ini sebagai sinyal mulai serangan untuk kawan-kawannya.
nurut rencana reka, panah itu akan mbuat Randika bergerak. Setelah itu Dark Knife dan pak tua bernama Fan itu akan mbunuh Randika yang tidak punya pijakan.
Namun, bahkan panah itu sudah nyaris ngenainya, Randika masih berdiri diam. Wajah Dark Knife sudah terlihat senang, sepertinya pekerjaan reka selesai lebih cepat. Namun detik berikutnya, senyuman itu langsung nghilang!
Panah-panah hitam beracun itu dengan mudahnya ditangkap oleh Randika nggunakan sepatunya!
"Kalian kira trik murahan seperti ini bisa mbunuhku?" Randika nghela napas, dia kemudian perlahan nggoyangkan jari telunjuknya. Kemudian tanpa disangka-sangka, Randika ncabut dan lemparkan panah tersebut dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya.
Wajah Dark Knife dan pak tua Fan langsung berubah ketika lihat laju anak panah itu.
Setelah nghindar dengan susah payah, wajah bodoh Dark Knife sudah njadi serius.
Lawannya kali ini benar-benar kuat!
Dark Knife juga sudah mbuang pern karetnya, dia harus ngerahkan seluruh tenaganya kali ini atau dialah yang akan mati. Jessica dan pak tua Fan juga rasakan hal yang sama dengan Dark Knife.
Kedua belah kubu belum bergerak lagi. Hannah sudah khawatir, suasana puncak gunung ini tiba-tiba njadi berat dan hening. Pada saat ini, tiba-tiba ada botol air yang jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang bertarung itu mulai bergerak.
Dark Knife dan pak tua Fan nerjang ke arah Randika dengan pedang dan pisau di tangan reka. Beberapa petarung yang pingsan juga ikut kembali bertarung setelah sadarkan diri. Pada saat ini, perang sesungguhnya mulai berjalan.
Dark Knife ahli dalam nggunakan pisau, dia nganggap pisau lebih ringan dan lebih mudah dikendalikan daripada sebuah pedang. Sedangkan Jessica, dia suka nggunakan serangan jarak jauh seperti pistol ataupun panah. Kalau pak tua Fan jago bertarung dengan tangan kosong.
Randika sendiri masih berdiri diam, dia nunggu lawannya untuk nyerang dirinya. Ketika 3 pentolan Ivan ini sudah dekat, Randika tidak nahan kekuatannya sama sekali. Dengan satu tangan ngulur ke langit, Randika lalu nembakan energi tenaga dalamnya itu ke arah pak tua Fan yang hendak nebas Randika.
Namun, reaksi dari pak tua Fan juga tidak kalah cepat. Bukannya bertahan ataupun mundur, dia nggunakan tubuhnya sebagai pijakan Dark Knife. Dengan 10 pisau di tiap sela jarinya, Dark Knife lancarkan serangan pisaunya tepat ke arah tubuh Randika. Sedangkan Jessica mberikan serangan panah beracun di titik-titik vital di mana yang akan njadi lajur kabur Randika.
Ketiga ahli bela diri ini lakukan semuanya tanpa berkomunikasi, gerakan reka benar-benar cepat. Orang awam sama sekali tidak bisa ngikuti pergerakan reka. reka hanya bisa lihat tiba-tiba Randika sudah terpojok dan nyawanya terancam.
Semua pendaki ini sudah khawatir terhadap Randika, sepertinya lawannya kali ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Randika, di sisi lain, mberi jawaban pada reka lalui aksinya.
Tidak disangka-sangka, Randika nghantam tanah dan mbuat lubang di bawah kakinya. Serangan semua orang lewati dirinya dan tidak ada satupun yang ngenai dirinya. Sesaat setelah itu, sosok Randika sudah tidak terlihat di dalam lubang. ndadak, Randika sudah berdiri di hadapan pak tua Fan dan lancarkan tinju nuju perut si kakek ini.
Dark Knife dan Jessica langsung nyadari posisi Randika setelah pak tua Fan itu terpental tinggi ke langit. Tetapi bagi Jessica semua itu sudah terlambat, Randika sudah tiba di hadapannya dan lancarkan sebuah tendangan. Serangan Randika ini benar-benar terlalu ndadak, Jessica sama sekali tidak bisa bereaksi.
OHOK!
Jessica yang nerima tendangan tepat di perutnya itu muntahkan seteguk darah ketika dia terkapar di tanah.
Yang berdiri sekarang hanyalah Dark Knife, tatapan matanya penuh dengan kewaspadaan. Dia tidak ngira Randika bisa ngalahkan dua temannya itu hanyal dalam waktu singkat.
Dark Knife rasakan hawa udara di belakangnya berubah, dia langsung bersiaga dan noleh ke belakang. Kemudian pisau tersembunyi di sepatunya itu keluar dan nendang ke arah Randika.
Namun tiba-tiba, Dark Knife rasakan dadanya remuk dan dia pun terpental jauh ke belakang.
Dark Knife telah kalah!
Ketika berhadapan dengan Ares, bahkan pembunuh kelas atas dunia seperti Dark Knife bukanlah tandingannya!
Semua orang termasuk Ivan dan bawahannya itu terpukau dengan hasil akhir ini, kekuatan Randika mang luar biasa.
Randika lalu natap Ivan dan berkata dengan nada dingin. "Masih ada lagi?"
Dengan kata lain, cuma segini kemampuanmu?
lihat wajah tenang Randika, Ivan sudah benar-benar marah. Sepertinya dia harus mainkan kartu terakhirnya.
Ivan ngangguk pada pengawal di sampingnya. Kemudian 3 pengawal itu mberikan orang-orang yang masih sadarkan diri itu sebuah pil dan nelannya. lihat hal ini, Randika ngerutkan dahinya.
Pada saat ini, orang-orang yang nelan pil obat itu berjalan nghampiri Randika dengan mata yang serah darah. Efek dari obat sepertinya mulai bekerja.
Randika terkejut ketika lihat pergerakan orang-orang ini yang mirip zombie, namun pada saat ini Ivan sudah berteriak pada anak buahnya. "Bunuh dia!"
Ivan tidak peduli lagi, dia hanya ingin Randika mati hari ini.
ndengar teriakan Ivan ini, semua orang yang masih bisa bertarung berdiri kembali dan nerjang ke arah Randika. Tentu saja orang-orang yang minum pil obat tadi itu juga mulai berlari ke arah Randika.
Randika miliki sebuah dugaan dari obat yang telah reka minum itu, tetapi dia tidak berani mikirkannya. Oleh karena itu, dia ingin mbuktikan teorinya itu dan nyerang reka terlebih dahulu.
Tanpa ragu, Randika nancapkan pedang yang dia dapat dari tanah pada pundak seorang musuhnya. Namun, orang yang tertusuk itu sama sekali tidak tumbang skipun darah sudah ngucur deras. Bahkan wajahnya tersenyum lebar pada Randika sambil dia ncabut pedang yang nancap di pundaknya.
Semua orang yang lihatnya terkejut. "Hah, orang itu gila apa? Apa dia tidak bisa rasakan sakit?" Kata Hannah.
Hati Randika langsung ngepal, tetapi dalam sekejap dia sudah terkepung. Dark Knife dkk sudah kembali ikut bertarung skipun terluka.
Serangan tangan kanan Randika berhasil matahkan kaki musuhnya tetapi dengan santai orang tersebut nyerang Randika tanpa dulikan rasa sakitnya. Randika lalu nyerang lagi dan berhasil matahkan lengan musuhnya. Namun hal itu tidak mbuat orang itu berhenti nyerang Randika, bahkan sepertinya lengannya yang patah itu tidak terasa sama sekali bagi dirinya.
Obat zombie?
Setelah beberapa kali nyerang, dugaan Randika terbukti benar. Orang-orang itu telah minum pil yang sama dengan para pembunuh dari mafia Italia utusan Naoki Moretti. Bahkan efek dari pil obat itu jauh lebih gila lagi daripada yang dulu.
Ivan natap Randika, wajahnya sudah dipenuhi dengan aura kebencian. Kali ini apakah dia bisa mbunuh pasukan yang telah mbuang sisi manusiawinya?
Orang-orang yang telah makan pil itu sama sekali tidak takut oleh Randika, reka tidak segan-segan untuk nukar salah satu tubuh reka apabila reka berhasil lukai Randika. Ditambah dengan serangan Dark Knife, Jessica dan pak tua Fan, Randika mulai terpojok.
Randika mulai kewalahan, serangan tanpa henti Dark Knife dkk dan para ahli bela diri lain datang dari segala arah. Belum lagi zombie-zombie yang terus berdiri skipun kaki reka patah.
"Kak Inggrid bagaimana ini? Bisa-bisa kak Randika mati kalau terus-terusan seperti ini." Hannah dan Inggrid natap Randika sambil berdoa dalam hati reka.
skipun terpojok, Randika baru nerima luka pertamanya setelah bertarung selama 2 nit penuh. Orang yang minum pil zombie itu berhasil nangkap tangan Randika skipun dia sudah tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Kesempatan ini digunakan oleh Dark Knife untuk mbunuh Randika. skipun serangan pisau Dark Knife leset, Randika masih ndapatkan pukulan telak dari pak tua Fan.
Randika tidak sempat narik napas karena serangan berikutnya sudah datang. Sepertinya Randika benar-benar terpojok kali ini!
Ivan ndengus dingin dan tersenyum lebar, kali ini Randika pasti mati.
Randika mulai nangkis serangan itu satu per satu, tetapi pada saat ini kekuatan misterius dalam tubuhnya mulai bergejolak.
"Tidak, jangan sekarang!"
Dalam sekejap, Randika yang terlihat tenang itu raung keras nghadap ke langit. Setelah itu dia nerjang ke depan bagaikan serigala dan mbunuh siapapun yang berani nghadangnya.
Dark Knife, pak tua Fan dan Jessica langsung ngambil jarak, reka tahu bahwa ada perubahan di dalam diri Randika. Namun, semua itu sudah terlambat bagi Jessica. Di tengah langkah mundurnya itu, Randika berhasil nangkap kakinya dan mbantingnya dengan keras. Untung saja Jessica ndarat di salah satu badan orang yang sedang pingsan, kalau tidak dia pasti sudah mati. Perempuan bajak laut itu langsung tak sadarkan diri.
Randika benar-benar seperti berubah njadi binatang buas, tidak ada orang yang bisa ngimbangi dirinya. Satu per satu orang dibunuh oleh Randika tanpa ampun, tidak ada yang bisa nghentikannya!
Ketika Ivan lihat perubahan dan tempur ini, ekspresi wajahnya berubah njadi muram. Jika terus seperti ini maka semua bawahannya itu pasti mati tanpa tersisa.
Ketika dia bimbang, dia nyadari sosok Inggrid dan Hannah yang sedang bersembunyi. Dalam sekejap dia miliki ide brilian.
Randika, yang sedang mbunuh, tiba-tiba ndengar suara Ivan yang keras. "Berhenti atau aku akan mbunuh reka."
Ketika Randika noleh, dia nemukan bahwa Ivan dan pengawalnya sedang nyandera Inggrid dan Hannah. Leher kedua perempuan itu sudah terancam oleh bilah pisau yang tajam.
Api amarah Randika justru semakin luap-luap.
"Bedebah! Berani-beraninya kau nyentuh perempuanku!"
Tidak takut dengan gertakan Randika, Ivan lalu nyayat pinggang Hannah tanpa ragu. Teriakan sakit bercampur ketakutan Hannah nuhi dan tempur yang ngenaskan ini.
Reviews
All reviews (0)