Font Size
15px

Sambil nahan rasa dingin yang nyakitkan itu, Hannah nuangkan air tersebut ke mulut Randika.

Tetapi Randika yang sekarang telah kehilangan kesadarannya, skipun arwahnya itu bisa lihat dirinya disuapi oleh Hannah, dia sama sekali tidak bisa mbuka bibirnya.

Hannah yang nuangkan air itu lihat Randika sama sekali tidak mbuka bibirnya, air yang susah-susah dia bawa itu terbuang sia-sia.

Hannah tidak nyangka bahwa kakak iparnya ini akan selemas itu sampai-sampai tidak bisa nggerakan bibirnya. Dia lalu mindahkan tubuh Randika sedikit agar tidak ngenai genangan air yang ada di tanah.

lihat kakak iparnya yang sama sekali tidak bergerak itu, Hannah kembali neteskan air matanya.

Tidak, aku tidak bisa terus-nerus seperti ini!

Setelah narik napas dalam-dalam, Hannah berusaha nenangkan dirinya kembali. Kemudian dia berdiri dan berjalan nuju kolam itu lagi.

"Dasar kak Randika, bisa apa kakak kalau tidak ada aku."

Hannah lalu ngambil air dengan kedua tangannya itu dan minumnya. Lalu dia berjalan nghampiri Randika dan mberinya air lalui mulutnya itu.

Pada saat ini, Randika yang sedang berpisah dengan tubuhnya itu sedang bertarung dengan para hantu sebelumnya. Tiap hantu tersebut miliki wajah yang tidak asing baginya. Ada Shadow yang telah mati oleh tangannya, ada musuh-musuhnya ketika dia keliling dunia dan bahkan ada beruang yang telah dia bunuh untuk makanan daruratnya.

Semua hantu itu berusaha lahap sosok arwah Randika itu. Namun, tiba-tiba Randika rasa arwahnya itu tersedot ke tubuhnya dan bisa rasakan kehangatan dari tubuhnya. Di tengah kehangatan itu, ada sebuah aliran air dingin yang lewati tenggorokannya. Namun dia masih belum bisa mbuka matanya sama sekali, sepertinya dia belum sepenuhnya sadar.

Sama seperti Hannah, Randika tidak minum air sama sekali ketika berada di puncak gunung. Air dingin yang masuk ke dalam tubuhnya ini mbuat alam sadarnya ikut terbangun.

Tetapi, sensasi lembut apa ini yang ada di bibirnya? Apakah ini adalah bibirnya Hannah?

Secara insting, bibir Randika yang kering itu ingin rasakan air dingin itu kembali dan kelembutan bibir Hannah. Tetapi karena masih belum sepenuhnya sadar, Randika tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu tiba-tiba bibir lembut itu berpisah dengannya.

Hannah nyadari bibir Randika bergerak sedikit setelah mberinya air. Sepertinya mberinya air adalah keputusan yang tepat, hati Hannah njadi senang. Namun setelah nunggu sekitar 10 nit, Randika masih tidak bergerak sama sekali. Hati Hannah kembali sedih lihatnya.

Berdiri sekali lagi, Hannah kembali mberikan air pada Randika lalui mulutnya. Kali ini, Randika mberikan reaksi yang lebih dari sebelumnya. Ketika bibir Hannah hendak pergi, bibir Randika itu nggigit bibir Hannah secara pelan. Bibir itu seakan-akan tidak ingin berpisah dan minta ciuman yang lebih panas daripada itu!

Randika mulai nggerakan jarinya yang buruk rupa itu, sepertinya insting lakinya ngatakan bahwa ciuman itu kurang lengkap kalau tidak raba dada yang empuk.

lihat jari yang bergerak itu, Hannah terkejut bukan main. Dia lalu berkata pada Randika. "Kak, apa kamu sudah bangun?"

Pada saat ini, Hannah nampar-nampar wajah Randika tanpa henti untuk mastikan kakaknya itu tidak pura-pura tertidur. Jika kakak iparnya ini bangun, dia pasti bisa mbawanya pergi dari tempat ini.

Tetapi setelah 10 nit tidak ada tanda-tanda kakaknya itu terbangun, sepertinya dia malah kembali tertidur lagi. Hannah yang awalnya senang itu kembali njadi sedih.

"Kak, kamu tidak usah khawatir. Selama ini kakak selalu njagaku, sekarang giliranku untuk njagamu." Kata Hannah sambil ngelus kepala Randika dengan lembut. Entah kenapa, mbelai kepala Randika mbuatnya rasa tenang dan aman.

Hannah kembali ndatangi kolam air tersebut dan robek lengan bajunya. Karena udara di gua ini dingin, dia hanya bisa robek lengan bajunya agar dirinya itu tidak kedinginan.

Setelah kain baju itu basah, Hannah lalu remasnya dan berjalan nghampiri Randika. Hannah kemudian ngelap bagian tubuh Randika yang bersimbah darah itu.

Tanah yang nempel di wajah, kerikil-kerikil yang nancap di kuku, debu-debu yang ada di pipi dan darah kering yang ada di perut sampingnya itu dibasuh oleh Hannah dengan lembut.

"Kak, aku harap kondisi kak Randika semakin mbaik setelah aku bersihkan luka-lukamu ini." Kata Hannah pada Randika yang masih tidak sadarkan diri itu. Wajah Hannah tersenyum hangat pada kakak iparnya yang selama ini mbantunya itu.

Randika dapat ndengar kata-kata tulus Hannah ini tetapi tubuhnya masih belum bisa bergerak.

Hannah kemudian lanjutkan mbasuh luka randika. "Kak, apa kakak ingat ketika kita pertama kali bertemu?"

Hannah kemudian ngingat kembali pertemuan pertama reka, wajah Hannah tersenyum hangat. Kedatangan Randika di hidupnya itu sudah mberinya banyak kenangan berharga, apalagi ketika dia ngancam akan tidur dengan kakaknya, wajah Randika yang kalah itu benar-benar berharga.

mikirkan kenangan berharga ini, Hannah hanya bisa tersenyum lebar. lihat wajah kakak iparnya sekarang, Hannah tidak bisa mbayangkan hidupnya tanpa sosok Randika lagi.

Setelah mbasuh luka Randika, Hannah kembali berjalan nuju kolam air itu lagi.

skipun perutnya sudah bunyi dari tadi, Hannah tidak tahu harus makan apa. Di gua ini sumber makanannya hanyalah ikan sebesar ibu jari ini.

lihat ke dalam kolam, ikan-ikan itu berenang-renang dengan santai. Terkadang reka akan lompat dan tercebur kembali ke dalam kolam.

Kolam dingin ini berdiater 10 ter, cukup besar untuk sebuah kolam. Hannah ncoba ncari tahu seberapa dalam kolam itu tetapi dia tidak bisa lihat apa-apa.

Hannah mutuskan untuk nangkap ikan-ikan itu, tetapi dia tidak bisa masuk ke dalam kolam jadi dia harus nunggu ikan-ikan itu datang ke tepi kolam dan nunggu kesempatan untuk nangkapnya.

Terlebih, dia hanya bisa ngandalkan tangannya saja karena dia tidak punya alat untuk mancingnya.

Hannah nunggu dengan sabar. Karena kolam ini besar, seharusnya ikan-ikan itu ada banyak jadi tinggal nunggu waktu saja untuk ikan-ikan itu berenang ke arahnya.

Tidak lama kemudian, seekor ikan berenang nuju ke tepian. Hannah langsung njadi senang, kedua tangannya masuk secara perlahan ke dalam air. Namun sesaatnya tangannya itu masuk ke dalam air, ikan itu njadi takut karena air di sekelilingnya tiba-tiba tersedot. Ikan itu langsung lari nuju tengah kolam.

lihat kejadian ini, Hannah nyadari bahwa dia harus cepat untuk nangkap ikan ini. Dengan berbekal pengalaman sebelumnya, Hannah sekarang ncelupkan tangannya ke dalam air. Tugasnya sekarang adalah nunggu ikan-ikan itu datang ke dalam jangkauannya.

Seiring berjalannya waktu, rasa dingin mulai nyelimuti tangan Hannah. Rasa dingin itu bagaikan nusuk tulang-tulang yang ada.

Pada saat yang sama, beberapa ikan berenang ke tepian. Hannah berkonsentrasi penuh dan dalam sekejap dia nutup kedua telapak tangannya.

Tetapi kecepatan berenang ikan itu benar-benar cepat, setelah Hannah ngeluarkan tangannya dari air, dia nyadari bahwa tidak ada ikan satupun yang berhasil dia tangkap.

Sialan!

Usahanya yang ketiga juga gagal.

Keempat? Gagal lagi.

Hannah sudah tidak tahu berapa kali dia berusaha nangkap ikan-ikan kecil ini. Terlebih, dia semakin frustasi dan tubuhnya semakin kedinginan. Rasa frustasi bercampur lapar mbuat dirinya kehilangan kesabaran, air mata mulai netes kembali.

"Demi kak Randika, aku tidak boleh nyerah!" Hannah dengan paksa nghentikan air matanya.

Benar, kakak iparnya itu selalu mbantunya selama ini dan dia belum pernah mbalas kebaikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mbalas budi.

Bagaimanapun juga, dia tidak boleh nyerah. Jika dia nyerah, kakak iparnya itu akan mati.

Hannah mbuang emosi-emosi yang tidak perlu dan kembali fokus nangkap ikan.

Tangan Hannah yang berada di dalam air itu mulai sakit, bahkan dia hampir tidak bisa rasakan tangannya itu.

Namun, tiba-tiba ada sekumpulan ikan yang berenang ke tangannya. Hannah natap tajam ikan-ikan ini, dia benar-benar gugup. Tangannya perlahan naik ke atas dan ketika ikan-ikan itu tidak ncurigai apa pun, tangannya tiba-tiba nutup dan nyambar ikan-ikan itu!

Kena kau!

Ketika tangannya keluar dari dalam air, Hannah dapat lihat ada seekor ikan dari celah-celah tangannya itu.

"Hore aku dapat!"

Hannah benar-benar senang, akhirnya dia berhasil nangkapnya. Dengan cepat, dia berlari ke arah Randika.

skipun dia kelaparan, kakak iparnya ini pasti lebih mbutuhkannya daripada dirinya. Lagipula, kakak iparnya ini adalah pria yang dicintainya, mana mungkin Hannah mbiarkannya nderita? Ikan ini harus dimakan oleh Randika terlebih dahulu.

"Kak, aku berhasil mancing ikan buatmu."

Ketika dia tiba di tubuh Randika, Hannah mbuka tangannya dan gang ikan sebesar ibu jari itu dengan tangannya. Ikan itu berusaha kabur tetapi usahanya percuma.

Sekarang masalahnya adalah bagaimana makannya pada Randika.

lihat ikan kecil di tangannya itu, Hannah mbulatkan tekadnya. Dengan mata yang tertutup, Hannah masukan ikan itu dan ngunyahnya.

Satu-satunya cara adalah ngunyahnya terlebih dahulu lalu mberikannya pada Randika, kalau tidak Randika tidak akan bisa makannya.

Hannah tidak pernah makan makanan ntah sebelumnya, dia tidak pernah makan makanan Jepang dan tidak terlalu suka dengan yang ntah-ntah. Bisa dikatakan bahwa dia berusaha keras demi Randika.

Ketika ikan itu tergigit, bau amis mulai nuhi mulut dan hidungnya. Bau tersebut hampir mbuat Hannah muntahkan ikan tersebut.

Namun, dia berhasil nahannya. Untuk nyelamatkan Randika, dia harus ngunyah ikan ini hidup-hidup.

Dengan mata tertutup, Hannah ngunyahnya perlahan. Rasa ingin muntah itu selalu ada di setiap gigitannya, tetapi dia berhasil nahannya hingga akhir.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 298: Perjuangan Hannah untuk Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.