Font Size
15px

Ketika reka lihat gunung itu dari bawah, reka bertiga nghela napas kagum. Tidak heran gunung ini njadi tempat destinasi populer.

Dengan ketinggian 1400 mdpl, gunung ini cukup mudah ditaklukan oleh pendaki pemula. Namun, ada beberapa titik bahaya di gunung ini jadi pendaki tidak boleh terlena dan harus nghindari area yang miliki tanda bahaya.

Pada saat ini, di dekat reka sedang ada lomba panjat tebing.

Lomba panjat tebing dikenal sebagai cabang olahraga ekstrim karena benar-benar berbahaya. skipun sudah ada langkah-langkah keamanan, itu tetap tidak njamin keselamatan peserta 100%. Jika tali yang dipakai reka putus atau reka jatuh di tengah kompetisi, bisa-bisa nyawa reka layang karena benturan.

Di kaki gunung ini, banyak orang sedang nikmati pertunjukan kompetisi cabang olahraga ini. Bahkan beberapa orang bersorak-sorak untuk idola reka. Kompetisi sudah berjalan setengah, para peserta sebentar lagi ncapai garis akhir. Tebing yang reka gunakan cukup tinggi yaitu 40 ter. Terlebih, ini rupakan tebing asli jadi sulit bagi reka untuk nemukan pijakan yang aman.

"Wah kak, sepertinya itu seru sekali! Kita lihat sebentar yuk." Hannah njadi bersemangat, dia ngeluarkan HPnya untuk mfoto kegiatan ini.

Di sekeliling reka, orang-orang juga ikut ngambil foto dengan HP reka masing-masing.

"Wah laki yang di tengah itu benar-benar hebat, dia mimpin jauh."

"Tapi lihat juga perempuan di belakangnya, dia juga hebat. Lengannya benar-benar kuat dan dia juga cantik."

Orang-orang terbagi njadi 2, satu mperhatikan dan nikmati pertandingan ini dan yang lainnya sibuk rekam dan mpostingnya di akun sosial reka.

Randika dan Inggrid termasuk yang nonton dan nikmati pertunjukan tersebut. Di tempat turis seperti ini, banyak atraksi yang narik minat orang-orang. Panjat tebing ini rupakan salah satunya, tiap minggu akan selalu ada kompetisi. Para turis juga bisa ikut bertanding apabila mbayar sejumlah uang. Tentu saja, sudah terdapat berbagai macam keamanan yang disediakan.

Selain panjat tebing, masih banyak kegiatan di kaki gunung ini seperti terjun lenting, flying fox dll. Semua atraksi ini diperuntukan bagi turis yang tidak ingin ndaki, biasanya keluarga yang mbawa anak akan bermain di kaki gunung ini.

Jalur naik gunung ini sudah diberi pengaman dan beberapa langkah keamanan juga sudah dipertimbangkan jadi pendaki hanya perlu ngikuti jalan yang tersedia.

"Han, ayo kita segera manjat. Kalau terlalu siang panas lho." Kata Randika dari samping, lagipula apa serunya lihat orang manjat tebing? Kalau cuma tebing seperti itu, Randika bisa nyelesaikannya hanya dalam 1 nit.

"Sebentar kak, sebentar lagi selesai kok. Aku ingin lihat siapa penangnya." Hannah kembali bersorak bersama orang-orang lainnya.

Inggrid tersenyum pada Randika. "Sudah tidak apa-apa, biarkan dia bersenang-senang dulu."

Karena istrinya berkata seperti itu, Randika tentu saja nurutinya.

Pada saat ini, kompetisi itu nyaris berakhir. Perempuan cantik yang njadi bahasan orang-orang itu mulai tertinggal jauh dari pesaing lainnya. Bagaimanapun juga, lawannya adalah profesional dan laki-laki, tentu saja perempuan ini akan nemukan beberapa kesusahan.

Pada saat ini, perempuan tersebut berada di posisi paling belakang dan kecepatannya makin lama makin turun.

Tangan kanannya berusaha nggenggam batu di atasnya tetapi tiba-tiba batu itu terlepas dan tangan kanan perempuan itu ikut terjatuh. Setelah bergelantung selama 5 detik dengan tangan kirinya, genggaman tangannya itu terlepas dan dia pun terjun bebas.

"Awas!"

Semua orang berteriak ketakutan ketika lihat kejadian itu. Untungnya saja, perempuan tersebut bereaksi dengan cepat dan berhasil berdiri di salah satu pijakan dengan stabil.

"Hei, apa kau baik-baik saja? Berpeganglah." Kata salah satu orang dari bawah.

Perempuan ini jelas ketakutan, dia baru saja ngira bahwa nyawanya sudah layang. Kalau saja bukan karena tali yang ada di tubuhnya itu, mungkin dia benar-benar sudah mati.

Namun, ketika para staf berteriak dari bawah padanya, perempuan itu nyadari sesuatu yang nakutkan. Sepertinya tali yang lilit dirinya itu bergesekan dengan batu yang tajam dan sudah nyaris putus!

Untungnya saja tangannya tadi berhasil raih sebuah batu dan sekarang dia berdiri di tengah pijakannya ini sambil getar ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

"Kenapa sama dia? Kok getar seperti itu."

"Sepertinya ada yang salah dengan peralatannya."

"Kalau dia jatuh dari ketinggian seperti itu tanpa talinya, seharusnya dia langsung mati di tempat."

Semua orang ngeluarkan pendapatnya, Hannah juga mulai cemas. "Bagaimana ini Bertahanlah! Bantuan akan segera datang!"

Perempuan itu mulai berkeringat dingin, dia tidak miliki banyak pengalaman dalam manjat tebing khususnya tebing asli. Ini rupakan pertama kalinya dia ikut kompetisi seperti ini, dia dari awal sudah gugup.

Ketika lihat ke bawah, kepalanya njadi pusing. Pijakannya yang stabil itu tiba-tiba mulai goyah dan batu-batu mulai berjatuhan.

lihat hal tersebut, semua orang mulai ketakutan.

Para peserta yang berada di atasnya juga nyadari kejadian ini, semuanya natap perempuan tersebut. Para staf juga njadi panik, tali perempuan yang terikat di tubuhnya itu akhirnya putus. Sekarang nyawa perempuan itu hanya bergantung pada kekuatan genggamannya.

"Tahan dan ambil napas dalam-dalam, jangan lihat ke bawah."

Peserta yang ada di atasnya sangat khawatir ketika lihat tali yang njaga perempuan itu putus. Kalau perempuan itu ketakutan dan kehilangan kekuatan genggamannya, dia akan terjun bebas!

ndengar kata-kata itu, perempuan tersebut berusaha tenang.

Hati para penonton di bawah sudah ngepal keras, reka takut bahwa akan ada yang mati hari ini.

"Lihat itu! Talinya sudah putus!"

"Apa? Tamat sudah riwayat perempuan itu."

"Aku tidak tega lihatnya."

"Olahraga ini mang terlalu berbahaya."

Para staf yang berada di atas tebing itu berusaha mberikannya sebuah tali padanya, namun karena kejadian ini belum pernah terjadi, reka tidak mpunyai tali sepanjang itu.

"Sepertinya nyawa perempuan itu sudah tidak tertolong." Pikir salah satu staf.

Perempuan itu masih berusaha tenang, namun pada saat ini, ketika salah satu peserta ingin datang nyelamatkan dirinya, sebuah batu kembali berjatuhan. Batu-batu itu ngenai perempuan tersebut dan dia pun njadi panik. Pada saat ini, pijakan kakinya itu runtuh dan sekarang dia hanya bergelantungan dengan kedua tangan.

Dalam sekejap semua orang berteriak ketakutan.

"Hoi panitian, cepat lakukan sesuatu! Perempuan itu bisa mati!"

"Aku akan manggil ambulans dan polisi."

Seorang panitia lalu ngambil sebuah HT dan berkata pada temannya yang berada di atas. "Cepat mana talinya! Dia sudah tidak akan bertahan lebih lama lagi."

Para staf di atas itu masih berusaha ngikatkan beberapa tali njadi satu, kalau ikatannya ini tidak kuat berarti sama saja mbunuh perempuan tersebut."

"Tahan, tahan, bantuan akan segera datang." Seorang panitia berteriak lalui alat pengeras suara pada perempuan tersebut. Perempuan tersebut berusaha dengan sekuat tenaga nggenggam batu di kedua tangannya, tetapi tanpa pijakan kaki, dia tidak akan bertahan lama.

Randika natap perempuan malang itu dan ngerutkan dahinya. Jika situasi ini terus seperti ini, perempuan itu akan mati.

Pada saat yang sama, seorang panitia bersiap-siap untuk manjat dan nyelamatkannya. Namun, untuk makai alat-alat yang diperlukan rlukan waktu sekitar 3 nit, reka tidak yakin bahwa perempuan tersebut akan bertahan selama itu.

Pada saat ini, perempuan itu nyadari ada tali yang njulur dari atas. Namun, karena tidak ada pijakan sama sekali, dia harus lompat dan lepaskan kedua genggamannya untuk raih tali itu. Taruhan ini benar-benar terlalu berisiko.

"Sial, sepertinya kakinya itu tidak ada pijakannya. Satu-satunya cara untuknya adalah lompat!"

Panitia yang mbawa pengeras suara itu lalu berkata pada si perempuan. "Jangan lompat, tetap bertahanlah! Akan ada orang yang nyelamatkanmu sebentar lagi."

"Aduh bagaimana ini" Hannah ikut ketakutan, namun pada saat ini, dia nyadari bahwa Randika sudah tidak ada di sampingnya.

Ketika orang-orang fokus lihat ke atas, tiba-tiba ada seorang pria yang ndatangi tebing dan bersiap untuk manjat tanpa peralatan.

"Siapa orang itu!"

"Hoi keamanan, sepertinya ada orang yang berusaha njadi pahlawan."

Para petugas keamanan langsung berteriak pada Randika. "Cepat pergi dari sini, di sini bahaya!"

Namun, Randika sama sekali tidak ndengarnya dan lompat tinggi bagaikan kangguru. Setelah itu, dia manjat tebing dengan sangat cepat.

Para panitia yang hendak nangkap Randika itu terkejut lihat betapa tingginya Randika loncat, para penonton juga tidak kalah terkejutnya ketika lihat Randika yang manjat begitu mudah.

"Wow, orang itu cepat sekali!"

"Bukan hanya cepat, gerakannya terlihat elegan."

"Apa orang itu pertapa gunung?"

skipun tanpa peralatan, Randika dengan cepat manjat naik nuju perempuan yang sedang dalam bahaya tersebut. Semuanya yang lihat betapa mudahnya Randika manjat sudah terheran-heran, apa orang itu dewa manjat?

Tetapi yang orang-orang ini tidak tahu adalah idenditas asli Randika. Siapa dia? Dia adalah Ares sang Dewa Perang!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 289: Panjat Tebing on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.