"Ibu Ipah, hari ini tolong masakin makanan yang enak!"
"Baik, ibu hari ini akan masak soto ayam kesukaanmu." Kata Ibu Ipah dengan senyuman lebar, dia lega "putrinya" satu ini sudah sembuh.
"Kak, hari ini aku akan tidur sama kak Inggrid." Kata Hannah pada Randika.
Randika yang berjalan santai itu hendak ngangguk sebelum akhirnya dia selesai mproses apa yang telah dia dengar itu. Maksudmu aku disuruh tidur sendirian gitu?
Tidak, aku tidak mau!
lihat Randika yang nggelengkan kepalanya, Hannah njadi cemberut.
Sesampainya di rumah, waktu sudah nunjukan pukul 7 malam. Inggrid juga baru saja pulang. lihat kakaknya itu, Hannah langsung berlari dan luknya.
"Kak Inggrid!"
noleh, Inggrid tiba-tiba dipeluk oleh adiknya itu. Wajahnya penuh dengan keterkejutan. "Han, tumben sekali kamu datang? Kamu juga sudah lama tidak ke sini."
lihat kakak adik itu bertukar kabar, Randika berniat mandi terlebih dahulu sedangkan Ibu Ipah mpersiapkan makan malam.
Ketika Randika selesai mandi, dia mperhatikan kakak adik itu masih berbincang di ruang tamu.
"Kak, bagaimana hubunganmu dengan kak Randika?" Tanya Hannah sambil tersenyum.
Wajah Inggrid njadi rah. "Maksudmu apa?"
"Kak, tolong jangan pura-pura polos seperti itu. Kakak ngerti apa maksudku bukan." Senyuman Hannah benar-benar terlihat jahat. "Ayolah kak cerita, kak Randika juga sedang mandi jadi cuma ada kita berdua di sini."
Wajah Inggrid sudah rah padam, adiknya ini ingin ndengar kehidupan sexnya?
"Sudahlah kak tidak usah malu begitu. Lagipula pada akhirnya aku juga akan lakukannya. Aku cuma ingin tahu bagaimana rasanya dan apakah sakit?" Hannah masih berusaha yakinkan kakaknya.
Inggrid sudah geleng-geleng, dengan tersipu malu dia berkata pada Hannah. "Apa kamu benar-benar ingin ndengarnya?"
"Tentu saja." Hannah segera duduk dengan tegak.
"Awalnya mang sakit tetapi Randika mastikan bahwa pengalaman pertama kakak itu tidak nyakitkan. Lama-lama enak kok rasanya, tapi kakak tidak bisa njelaskannya secara detail." Kata Inggrid.
"Apa kakak sudah hamil?" Wajah Hannah terlihat serius.
"Belum." Inggrid mbenamkan kepalanya di bantal sofa. "Kita belum mbicarakan hal itu."
Pada saat ini, Randika sudah berjalan ngendap-endap ke ruang tamu. Hannah dan Inggrid tidak bisa ndengar suara langkah Randika.
Hannah lalu nundukan kepalanya. "Tapi nanti kalau kakak sudah punya anak, apakah aku masih boleh datang ke rumah ini untuk bermain?"
"Tentu saja boleh." Inggrid lalu luk Hannah. "Apa pun yang terjadi, kamu adalah adikku yang manis dan kamu selalu disambut di rumahku. Kakak juga berharap kamu tidak akan pernah bosan bermain bersama kakak."
"Hmmm kalau begitu apa boleh buat, aku akan njadi adik dan tante terbaik di dunia!" Kata Hannah sambil mbalas pelukan Inggrid dengan erat.
Kedua kakak adik ini tertawa, namun pada saat ini tiba-tiba ada sebuah kepala muncul dari belakang reka.
"Jangan lupakan aku, aku juga ingin bermain."
Inggrid dan Hannah benar-benar terkejut. Ketika reka noleh, rupanya kepala itu adalah kepalanya Randika.
"Kak, bisa berhenti mbuatku kaget seperti itu? Lama-lama aku kena serangan jantung lho." Hannah njadi marah.
Randika lalu berjalan nghampiri reka dan duduk di antara Hannah dan Inggrid.
"Hei kak, ngapain kakak duduk di tengah?" Hannah makin marah. "Aku ingin bicara hal penting dengan kak Inggrid, jadi kakak tunggu saja di kamar."
"Sudahlah, aku itu kakak iparmu. mangnya masalah apa yang ingin kamu bicarakan sampai-sampai ngusirku begini?" Randika tertawa. Di tangan kanannya ada sosok dewasa dan sexy bernama Inggrid dan di kirinya ada Hannah yang masih muda dan bersemangat.
"Ini masalah perempuan, mana mungkin kita mbicarakannya selama masih ada kak Randika." Kata Hannah.
"Hahaha kamu kok marah mulu sih? Apa kamu lagi nstruasi?" Randika lalu noleh ke Inggrid dan mbelai rambutnya. "Kalau kamu rasa sakit katakan saja pada suamimu ini, aku akan mbuatmu tidak rasakannya lagi."
Hannah tampak terkejut, dia lalu berkata pada Randika. "Kak, bisa-bisanya kakak bicara vulgar seperti itu."
"Ah maksudku bukan hal sum!" Randika nyadari bahwa kata-katanya itu mang ambigu. "Maksudku aku bisa redakan gejala sakitnya dengan akupunturku."
Hannah tertawa puas lihat Randika yang kelabakan sedangkan Inggrid tertarik dengan kata-kata Randika. "Bagaimana caranya?"
"Sini aku bantu." Randika lalu mbuka baju Inggrid dan riksa pinggangnya. Dalam sekejap, pembuluh darah Inggrid terlihat jelas.
lihat wajah serius Randika, Hannah tidak bisa nahan diri untuk bertanya. "Kak, apa kakak benar-benar bisa nyembuhkan nstruasi?"
"Bukannya nyembuhkan karena nstruasi itu hal yang wajar, yang bisa kulakukan adalah redakan rasa sakitnya."
"Lagipula, apa kamu lupa siapa yang nyembuhkan jerawatmu itu?" Randika tersenyum. skipun dirinya tidak terlalu lama belajar ilmu pengobatan dari kakek ketiga, untuk masalah sepele seperti ini tentu hal yang gampang bagi dirinya.
Hannah dengan cepat ngeluarkan aura anak baiknya. "Kak, kalau begitu setelah kak Inggrid apa kak Randika bisa mbantuku juga? Aku benar-benar kesakitan gara-gara nstruasiku ini."
"Bukannya barusan kamu ingin ngusirku? Buat apa aku mbantumu?"
"Kak." Hannah langsung rangkul Randika dari belakang, dia berusaha las. "Ayolah kak, bukankah kakak ingin adiknya sehat selalu?"
"Sudahlah Ran ngalah saja." Kata Inggrid sambil terus gangi bajunya. Dia sebenarnya sedikit iri lihat keduanya begitu akrab.
"Iya, iya, sekarang buka bajumu juga." Sekarang tangan kanannya Randika berada di pinggangnya Inggrid sedangkan yang kiri di pinggangnya Hannah.
Setelah beberapa lama, Randika berkata pada Inggrid. "Sayang, kamu seharusnya sudah tidak ada apa-apa."
Kemudian Randika noleh ke arah Hannah dengan wajah serius, dia lalu nggelengkan kepalanya. "Han, tubuhmu ini dalam masalah serius."
"HAH!" Hannah benar-benar terkejut ketika ndengarnya, Inggrid yang ndengarnya juga ikut gugup.
"Tapi tenang saja, kamu akan baik-baik saja kalau"
"Kalau apa kak?" Hannah langsung narik-narik Randika. "Kak, apa aku akan mati."
"Kamu akan baik-baik saja kalau kamu sering mberikan kakakmu ini pijatan pundak." Kata Randika sambil tersenyum.
Inggrid yang gugup itu langsung tertawa, Randika juga ikut tertawa bersamanya. Hannah benar-benar marah dan ngambil bantal yang ada di sofa lalu mukulkannya pada Randika.
"Kak Randika sti lho, aku sudah khawatir barusan!"
"Iya, iya, aku yang salah. Aku hanya ingin nggodamu, sudah nanti aku buatkan ramuan obat dan kamu harus minumnya."
Setelah pertengkaran kecil ini selesai, Hannah kembali berbicara. "Kak Inggrid, kalau kakak besok libur, bagaimana kalau kita naik gunung?"
Naik gunung?
Inggrid mikirkannya sebentar dan tersenyum padanya. "Boleh, kita juga sudah lama tidak naik gunung."
Hannah langsung bersemangat. "Akhir-akhir ini banyak orang yang ndaki Gunung Batu Jaya, bagaimana kalau kita ke sana?"
Inggrid ngangguk, sedangkan Randika natap tajam pada Hannah. "Kamu benar-benar ingin naik gunung?"
"Ah aku tidak ngajak kak Randika lho." Hannah malingkan wajahnya. "Cuma kak Inggrid saja yang kuajak."
"Kok bisa begitu?" Randika langsung panik. "Aku hanya ingin lindungimu dan kakakmu, bagaimana kalau ada orang jahat yang nggoda kalian?"
"Kita akan teriak minta tolong, lagipula tujuan kita juga ramai pengunjung jadi tidak masalah." Hannah tersenyum pada Randika, sepertinya dia masih nyimpan dendam pada Randika karena tidak pernah ngunjunginya di rumah sakit.
"Sudah tidak usah ribut begitu, kamu juga bisa ikut kok." Kata Inggrid.
Ketiganya lalu ngobrol selama satu jam, topik reka sangat bervariasi. Setelah makan malam, sekarang waktunya untuk tidur. Awalnya, Hannah berencana untuk tidur dengan kakaknya tetapi setelah lihat wajah serius Randika, Hannah tidak berani lakukannya.
Akhirnya Hannah berdiri dengan wajah cemberut dan berkata pada kedua kakaknya. "Baiklah aku akan tidur sendiri, pastikan jangan ra."
"Maksudnya?" Wajah Inggrid terlihat bingung.
"Tentu saja apa yang akan dilakukan kak Inggrid dan kak Randika sebentar lagi, terakhir kali teriakan kalian benar-benar keras sampai aku tidak bisa tidur. Kali ini pastikan kakak jangan teriak terlalu keras." Wajah Hannah benar-benar terlihat jengkel.
ndengar penjelasan Hannah, wajah Inggrid berubah njadi rah. Randika, yang sedang minum air, hampir muntahkan minumannya. Sejak kapan Hannah njadi terus terang seperti itu?
Wajah Inggrid benar-benar rah padam, dia hanya bisa ngangguk pelan.
lihat wajah kakaknya yang malu itu, Hannah tersenyum. "Sudah kak tidak usah malu. ndesah nikmat itu wajar kok tetapi usahakan jangan terlalu keras nanti takutnya aku tidak bisa tidur."
Ketika Hannah masuk ke dalam kamarnya, Inggrid berbisik di telinga Randika. "Apa benar aku terlalu keras?"
Ketika berbisik, Inggrid mikirkan ketika dirinya berada di posisi kesukaannya yaitu saat dirinya di atas. Dia berpikir mungkin mang dirinya itu terlalu keras.
"Hahaha tidak usah khawatir, dia itu cuma jahil. Mana mungkin desahanmu itu sekeras itu." Randika lalu ncium Inggrid dan berkata di telinganya. "Dia itu hanya cemburu padamu."
"Lagipula, aku ingin ncoba gaya baru hari ini. Aku harap kamu siap tidak tidur." Kata Randika.
Inggrid tersipu malu, kemudian reka berdua masuk ke sarang cinta reka. Malam ini mang ditakdirkan sebagai malam tanpa tidur.
.........
Keesokan harinya, tiba-tiba gorden kamarnya itu terbuka dan cahaya matahari yang terang nusuk mata. Randika mbuka matanya dan lihat ada Hannah di kamarnya.
"Kak jangan tidur lagi! Ayo cepat bangun, kita mau naik gunung kan hari ini."
skipun Hannah berkata seperti itu, Randika kembali mbenamkan kepalanya ke bantal.
Hannah benar-benar marah, dia langsung ngguncang tubuh Randika tanpa henti. Namun, semua usahanya percuma, kakaknya itu tetap tidur. Tidak ada pilihan lain, Hannah kemudian nghirup napas dalam-dalam dan berteriak di telinganya Randika. "BANGUN!"
Bajingan!
Ini sudah bukan level mbangunkan orang lagi, ini sudah seperti upaya pembunuhan! Sakit tahu!
Randika sampai loncat jatuh dari kasurnya sambil nutupi telinganya. Hannah lalu berkata padanya. "Salah sendiri kakak tidak mau bangun-bangun. Sudah cepat siap-siap kalau tidak aku tinggal lho ya."
Tanpa daya, Randika hanya bisa berdiri sambil terus nutupi telinganya yang berdengung. "Jam berapa sekarang?"
"Sekarang jam 6 pagi, kak Inggrid sudah siap-siap dari tadi. Ini tinggal kak Randika saja yang belum siap."
ndengar jam 6 pagi, Randika kehabisan kata-kata. "Ini baru jam 6 pagi, biarkan aku tidur lagi."
"Jangan tidur lagi kak!" Wajah Hannah yang sekarang sudah mirip setan, Randika tidak berani lawannya lagi. "Iya, iya, kakak cuma bercanda. Ini sebentar lagi aku siap-siap."
Randika yang garuk-garuk kepala itu segera bersiap untuk ncuci muka. Setelah sarapan pagi, reka bertiga bersiap nuju gunung Batu Jaya.
Gunung Batu Jaya
Di dekat kota Cendrawasih, terdapat beberapa gunung. skipun gunung-gunungnya tidak tinggi-tinggi, tiap gunung miliki daya tarik sendiri. Sebagai contohnya adalah gunung Kelok tempat Randika njadi raja drift sebelumnya, tempat itu mang terkenal dijadikan sebagai tempat balapan.
Dari semua gunung, yang sekarang lagi populer adalah gunung Batu Jaya. Gunung ini tidak terlalu tinggi dan curam sehingga cocok untuk pendaki pemula. Ketika berada di puncak, kita juga disuguhkan oleh pemandangan yang indah. Oleh sebab itu, gunung ini sangat popular di kalangan masyarakat yang ingin ndaki dengan santai.
"Hahaha kak Inggrid benar-benar lambat." Hannah yang bersemangat itu berlarian penuh tenaga. Ketiga orang ini sudah sampai di kaki gunung dengan nggunakan bis.
Karena hari ini rupakan akhir pekan, banyak orang yang datang untuk ndaki.
Setelah mastikan barang bawaan, reka sudah siap untuk ndaki gunung yang indah ini.
Reviews
All reviews (0)