Font Size
15px

"Kamu belum mati?"

ndengar kata-kata tersebut, Randika hampir muntah darah.

reka hampir tidak ngenal satu sama lain dan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah nanyakan dirinya belum mati? Apa orang tuanya tidak pernah ngajarinya sopan santun?

Tentu saja aku belum mati, kalau aku mati pasti dunia ini sudah ikut mati bersamaku.

Randika benar-benar jengkel dengan kata-kata perempuan satu itu, kalau saja dia bukan anak kecil mungkin dia sudah nghajarnya.

Elizabeth natap tajam Randika. "Sepertinya reka belum bergerak, tetapi sepertinya nyawamu sebentar lagi akan hilang."

Hmm? Apanya yang belum bergerak?

Randika ngerutkan dahinya dan Elizabeth sudah tidak ingin berbicara lagi. Setelah itu Elizabeth berjalan masuk ke dalam gedung kantor kepolisian Cendrawasih.

"Tunggu!" Randika berlari nuju Elizabeth. "Apa maksud kata-katamu tadi?"

Elizabeth berhenti berjalan dan mbalasnya dengan dingin. "Semuanya hanyalah masalah waktu, kau akan segera ngerti kata-kataku tadi."

Kenapa dia sok misterius?

"Jangan pura-pura misterius seperti itu." Wajah Randika njadi serius. "Siapa yang belum bergerak?"

Elizabeth tidak njawab, dia lalu nggelengkan kepalanya secara perlahan. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa? Kamu hanya mbuang waktuku, enyahlah dan jangan nggangguku lagi."

Setelah berkata seperti itu, Elizabeth berjalan lewati Randika. Randika langsung njadi marah. "Jelaskan padaku atau aku akan mbunuhmu!"

"Saranku tetap sama, berhati-hatilah dan cobalah untuk bertahan hidup." Kata Elizabeth dengan wajah dingin. Bersama dengan Nancy dia lalu masuk ke dalam gedung.

Ketika lihat sosok Elizabeth yang pergi, Randika sedikit rinding.

Hari ini dia nerima sesuatu yang tidak biasa mulai dari peringatan dari Elizabeth, obat dari kakeknya, ramalan kakeknya, otak Randika berputar keras ngenai bahaya apa yang ngintai dirinya.

Bukan sebuah kebetulan dirinya bertemu dengan Elizabeth, mungkin ini adalah peringatan terakhir buat dirinya.

Tetapi pertanyaannya masih tetap sama, bahaya apa yang ngancam dirinya?

Sambil ngerutkan dahinya, Randika terus berpikir sambil terus berjalan.

Sekarang tujuan pertamanya adalah rumah sakit di mana Hannah berada. Hannah masih belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit, dia sendiri belum pernah ngunjunginya. Terlebih, Inggrid tidak ngetahui hal ini dan jika Randika tidak ngunjunginya, bisa-bisa dia nerima serangan balas dendam dari Hannah saat dia keluar dari rumah sakit nanti.

Randika lalu berjalan nuju kantin terlebih dahulu untuk mbeli cemilan.

Ketika Randika berada di kantin, terdengar suara heboh di dalam ruangan Hannah.

"Ibu Ipah, aku ingin pulang! Cepat urusin berkas-berkasnya biar aku bisa pulang."

"Nak, kata dokter kan kamu belum sembuh. Nanti bagaimana kalau kamu ada apa-apa?" Kata Ibu Ipah yang duduk di samping tempat tidur.

"Aku sudah sehat, coba ibu panggil dokternya. Aku sudah bosan tiduran terus." Hannah benar-benar ingin pulang.

Pada saat ini, pasien yang ada di samping Hannah tiba-tiba berkata padanya. "Maaf kalau aku sempat nguping, tetapi kata ibu ini benar. Kalau kamu buru-buru ingin keluar lalu penyakitmu tambah parah bagaimana?"

"Suamiku benar, coba kamu tahan dulu ya. Mungkin mang mbosankan di tempat ini tetapi coba pikirkan perasaan orang-orang yang kamu sayang, reka juga ingin kamu cepat keluar dalam keadaan sehat." Istri si pasien itu nambahkan.

Ibu Ipah tidak ikut nambahkan, dia hanya nghela napas. Dia sudah ngerti kondisi Hannah dari dokter sebelumnya. Hannah mang dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi luka internalnya masih belum sembuh. Jika Hannah ingin keluar dan ngalami pendarahan, maka nyawanya bisa terancam.

ndengar nasihat kedua pasangan itu, jiwa pemberontak Hannah bergejolak. "Siapa bilang aku masih sakit?"

"Bagaimana kalau kamu bertanya lagi saja doktermu?" Sebagai orang dewasa, pasangan di sebelahnya itu berusaha tidak marah dengan sifat Hannah. "Bersabarlah, semua orang juga ingin cepat sembuh sepertimu."

lihat semua orang berusaha ncegahnya, Hannah semakin jengkel dan berkata pada Ibu Ipah. "Ibu, aku hari ini pokoknya harus keluar. Panggilkan dokternya untuk riksaku."

Ibu Ipah hanya bisa berdiri tanpa daya. Bagaimanapun juga, Hannah adalah majikannya dan dia harus nurutinya.

Pada saat ini, Randika masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum dan naruh cemilan yang dia beli di kantin.

"Han, bagaimana kondisimu?"

ndengar suara familier itu, Ibu Ipah langsung nyapa. "Nak Randika!"

Hannah lihat Randika dan ndengus dingin. Sambil malingkan wajahnya, dia berkata padanya. "Huh, lama sekali untuk kakak datang ke sini. Pasti kak Randika sudah lupa sama aku kan."

Randika nggaruk kepalanya dan terlihat malu. Dia akhir-akhir ini sibuk dan tidak punya waktu untuk ngunjungi Hannah.

"Han, yang penting kan aku sudah ada di sini." Setelah Randika ngantar Hannah ke rumah sakit, dia langsung berusaha ncari Shadow. Kemudian dia nghabiskan beberapa hari berdua bersama Inggrid untuk nghilangkan kenangan buruk yang dimiliki istrinya itu. Dia benar-benar lupakan keberadaan Hannah.

Hannah tersenyum dan masih pura-pura marah. "Kak, hari ini aku akan keluar dari rumah sakit. Aku bisa gila kalau harus nghabiskan satu hari lagi di kamar ini."

"Nak, luka di tubuh Hannah masih belum sembuh total. Dokter ngatakan padaku kalau nona perlu nginap 10 sampai 20 hari lagi untuk sembuh total." Ibu Ipah berbisik pada Randika.

ndengarkan penjelasan Ibu Ipah, Randika sedikit nghembuskan napas lega. Setidaknya nyawa Hannah tidak terancam sama sekali, tetapi luka internal mang tidak bisa dihindari. Tetapi penyakit seperti ini mang mbutuhkan waktu, mungkin bagi orang bersemangat seperti Hannah, hal ini benar-benar mbosankan.

Pada saat ini, pasien yang nasihati Hannah tadi berkata pada Randika. "Anak ini benar-benar tidak mau diomongi, nanti kalau tambah parah bagaimana?"

Hannah rasa tersinggung. "Ulangi lagi kata-katamu."

"Suamiku berkata seperti itu karena dia peduli denganmu, jangan mbuat kami marah." Istri si pasien angkat bicara.

rasa terpojok, Hannah neteskan air mata dan berkata pada Randika. "Kak, aku tidak mau tinggal di tempat ini lebih lama lagi. Aku ingin pulang!"

"Sudah, sudah, aku akan mbawamu keluar hari ini." Hati Randika terasa sakit ketika lihat air mata itu. Lagipula, Hannah sampai terbaring di tempat ini karena dirinya dan dia sekarang nderita sampai nangis seperti itu. Bagaimana mungkin hati Randika sanggup lihatnya?

"Nak, dokter larang Hannah untuk beraktivitas berat atau nanti luka internalnya itu akan semakin parah." Kata Ibu Ipah.

"Apa yang dikatakannya benar, mang terlihat kejam tetapi ini juga demi kebaikannya." Kata pasien di sampingnya Hannah itu.

Randika ngerutkan dahinya, kenapa semua orang suka berkontar?

"Kalian mangnya dokter? Kenapa kalian daritadi nghakimi adikku ini?" Wajah Randika terlihat jengkel, dia lalu noleh ke arah pasien tersebut. "Sebaiknya kamu urus dirimu sendiri baru ngkhawatirkan orang lain."

ndengar hal ini, pasangan itu sudah tidak peduli lagi dengan Hannah dan Randika. reka dengan keras nutup tirai.

"Nak Randika" Ibu Ipah natap Randika dengan wajah cemas. Alasan dirinya tidak mbiarkan Hannah keluar adalah nona mudanya ini pasti langsung ingin bermain dan beraktivitas banyak hal ketika keluar nanti, hal ini benar-benar dilarang keras oleh dokter.

"Ibu tidak usah khawatir." Kata Randika sambil tersenyum dan ngeluarkan tabung reaksi berisikan darah boneka ginseng dari balik bajunya.

Tetesan darah ini diberikan oleh boneka ginseng ketika dirinya nangkapnya di rumah, selama ini Randika belum pernah nggunakannya. Kali ini dia berniat untuk mberikannya pada Hannah. Darah boneka ginseng bisa mbuat nenek dari Viona sembuh kembali dan njadi lebih muda beberapa tahun. Seharusnya darah ini bisa nyembuhkan luka internal yang dialami oleh Hannah.

"Han, minumlah ini." Randika mberikan darah boneka ginseng yang berupa manik-manik itu pada Hannah. Wajah Hannah terlihat bingung dan ragu-ragu.

"Percayalah padaku, setelah kamu minumnya kamu bisa keluar dari tempat ini." Kata Randika.

ndengar kata 'keluar' mata Hannah langsung bersinar. Dia sudah berhari-hari tinggal di tempat mbosankan ini jadi dia tidak ragu minumnya. Ketika masuk ke dalam tubuhnya, energi yang terkandung di darah boneka ginseng itu langsung nyatu dengan darah dan masuki organ dalam Hannah.

Tanpa rasakan rasa sakit, energi itu bekerja dengan cepat dan efektif. Rona wajah Hannah semakin mbaik dan tubuh lemasnya itu segera bertenaga kembali.

Bisa dikatakan bahwa ketika darah boneka ginseng itu masuk ke dalam tubuhnya, Hannah langsung rasakan manfaatnya.

"Kak, apa dengan ini aku boleh pulang?" Hannah benar-benar rasa tubuhnya ringan.

Randika tersenyum, dia lalu riksa denyut nadi Hannah. nurut pengamatannya, luka internal Hannah sudah sembuh total dan tidak akan mbawa bahaya ke depannya.

"Tentu saja." Randika ngusap-usap kepala Hannah.

"Yei! Kakak mang terbaik." Hannah tertawa dan tersenyum lebar, sentara pasangan di samping reka itu geleng-geleng. Bocah tetaplah bocah, reka sangat rehkan yang namanya penyakit.

"Nak Randika." Wajah Ibu Ipah masih terlihat khawatir. Namun, Randika tersenyum padanya dan ngatakan. "Ibu sudah tidak perlu khawatir, tolong ibu panggilkan dokternya."

Ibu Ipah ngangguk dan berjalan keluar untuk ncari dokter. Pasangan di samping tempat tidur Hannah itu tidak sabar nertawai kebodohan Randika. reka tidak sabar lihat dokter tersebut marahi pemuda tidak sabar dan tidak tahu diri itu.

"mang ini bukan urusanku, tetapi belum terlambat kalau kalian ingin nyelamatkan muka kalian." Si pasien itu tiba-tiba mbuka tirai pembatas. Kalau bukan karena rasa hormatnya pada yang lebih tua, mungkin Randika sudah nghajarnya.

Tidak lama kemudian, dokter paruh baya datang ke ruangan dan natap Hannah. Dokter itu nghela napas. "Ini sudah berapa kalinya dalam sehari kalian manggilku."

"Dokter Wang, tolong periksa aku lagi." Kata Hannah sambil njulurkan lidahnya. Sepertinya hubungannya dengan si dokter cukup bagus.

"Mau berapa kali pun kuperiksa tetap sama, bukankah tadi pagi aku sudah riksamu? Mungkin kalau seminggu sekali gitu aku bisa mberikanmu kabar baik." Dokter Wang tersenyum pahit. Setiap hari dia akan dipaksa oleh Hannah untuk riksanya dan nandatangani surat kepergiannya.

"Dokter tidak perlu khawatir, aku yakin aku sudah sembuh sekarang."

Di bawah tatapan Ibu Ipah dan kedua orang di samping, dokter Wang mulai riksa Hannah. Ketika dirinya riksa pernapasannya, dokter tersebut terkejut bukan main. Sepertinya keadaan internal Hannah jauh lebih baik dari tadi pagi.

Dokter Wang terlihat bingung dan riksa sekali lagi. Sial, rupanya dia mang tidak salah lihat.

Luka itu jelas ada tadi pagi, terus kenapa sekarang dia tidak dapat rasakannya lagi? Dilihat-lihat tubuh lemas Hannah itu terlihat bertenaga.

Sebagai orang berpendidikan, dia tidak terlalu percaya dengan namanya keajaiban jadi dokter Wang riksanya berkali-kali. Kemudian dengan tersenyum pahit dia berkata pada Hannah. "nurut analisaku, kamu bisa keluar dari rumah sakit setelah ini. Keajaiban macam apa ini? Padahal hasil periksaanmu tadi pagi tidak seperti ini."

"Asyik!" Hannah benar-benar tersenyum lebar. Dia lalu berdiri dan mberikan pelukan hangat pada dokter Wang dan Randika.

Kedua orang yang ada di samping itu benar-benar terkejut bukan main, bukannya luka pemuda itu parah sekali? Bagaimana bisa dia keluar hari ini?

"Dok, apa kamu riksa dengan benar? Apa benar dia bisa keluar?"

"Kamu kira aku berbohong? Aku sudah riksanya empat kali dan semuanya nunjukan hasil yang sama. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, benar-benar ajaib." Kata dokter Wang.

"Kalau begitu Anda harus riksaku juga, siapa tahu aku bisa keluar juga." Kata si pasien.

Setelah riksanya, dokter Wang berkata padanya. "Maaf, tapi kamu masih butuh 3 bulan di rumah sakit ini."

Saking senangnya, Hannah sudah berganti baju di toilet dan sudah tidak dulikan pasien di sebelahnya. Dengan senyum lebar, dia nyeret Randika keluar dari ruangan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 287: Keajaiban pada Hannah on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.