Font Size
15px

Tetapi skipun sudah terbiasa, tindakan paksa seperti ini tetaplah tidak baik. Deviana langsung ngoli Randika sembari mukulnya pelan.

Randika tertawa, dia tidak nyangka bahwa Deviana akan tertipu begitu mudah.

Deviana sudah tidak peduli lagi, dia berniat untuk masuk ke kantornya. Tetapi dia lihat Randika njilati bibirnya sendiri, seakan-akan sedang nikmati sensasi yang dia rasakan tadi. Wajah Deviana segera njadi rah. nghentakan kakinya, dia berjalan masuk ke dalam gedung kantornya.

Hasil akhir ini sudah diperkirakan oleh Randika, tetapi dia rasa ada sesuatu yang salah. ngingat sifat Deviana, bukankah seharusnya dia sudah ditampar atau dicaci maki?

Ketika Randika hendak pergi, dia nemukan sosok kaki cantik tidak jauh darinya.

Ketika dia masih ngagumi kaki tersebut, tiba-tiba ada suara. "Kak Randika."

Randika ngangkat kepalanya dan ternyata pemilik kaki itu adalah Safira!

"Saf, benar-benar kebetulan!"

Randika lalu nghampiri adiknya itu. "Kenapa kamu ada di sini?"

"Aku ada urusan sama kantor polisi ini, tetapi aku tidak nyangka bisa bertemu dengan kak Randika di sini."

Safira benar-benar senang, dia tidak nyangka akan bertemu dengan kakak tersayangnya.

lihat senyuman manis itu, Randika tidak bisa nahan dirinya untuk tidak mbelai pipinya.

"Omong-omong kak, kapan hari aku pulang ke gunung dan kakek ketiga mberikanku ini untukmu." Safira ngeluarkan sebuah kotak. Randika mbukanya dan ternyata itu adalah sebuah pil obat berwarna putih.

"Awalnya kakek ingin mberikanmu sebelum reka berangkat tetapi tidak sempat lalu dia minta tolong padaku."

Randika natap obat itu, benar-benar tidak ada spesialnya. Tetapi dia tahu bahwa obat racikan kakeknya itu tidak bisa dinilai dari sampulnya saja.

"Kata kakek ketiga obat ini adalah obat terbarunya khusus untukmu." Kata Safira.

Randika lalu ngambil satu dan minumnya. Ketika obat itu masuk ke dalam tubuhnya, sebuah energi halus mulai nyebar ke dalam tubuh Randika. Di sepanjang jalan, energi itu lewati saraf, otot dan pembuluh darahnya lalu beristirahat di setiap organ dalamnya.

"Obat apa ini?" Randika mulai khawatir kenapa kakeknya itu tiba-tiba mberikannya obat baru padanya. Obatnya sebelumnya masih belum habis dan dia sama sekali tidak ndapatkan kabar ngenai obat ini. Pasti ada gambaran besar yang tidak bisa dilihatnya.

"Aku sendiri juga tidak tahu." Safira terlihat bingung. "Aku sendiri juga kaget ketika kakek ingin aku pulang waktu itu. Setelah racik obat itu, reka langsung pergi ke reruntuhan dan mpercayakan aku obat ini untuk mberikannya pada kak Randika."

"Mungkin ini ada kaitannya dengan kakek keempat. Kata kakek, dia sempat ramalkan masa depan kak Randika dan hasilnya ngatakan bahwa akan ada bahaya besar yang ngintai. Sepertinya obat ini adalah senjata buat kak Randika untuk nghadapi bahaya itu."

Ketika ndengar kata-kata Safira, hati Randika ngepal. Ramalan kakek keempat mbuatnya sedikit ketakutan, mangnya bahaya yang seperti apa yang akan nimpa dirinya?

Kemampuan ramalan kakek keempatnya patut diacungi jempol, dia belum pernah ndengar bahwa ada ramalan kakeknya yang pernah leset. Dan sekarang setelah ndengar ramalan kakeknya itu, Randika harus siap terhadap bahaya apa pun.

Namun pertanyaan terbesarnya adalah bahaya apa itu? Masalah ini sampai mbawa kakek ketiganya yang terkenal dingin itu mbuatkan dirinya obat baru untuk nghadapi bahaya tersebut.

Kerutan di dahi Randika makin besar, dia sama sekali tidak bisa ngeluarkan masalah ini dari benaknya. Seharusnya tidak ada ancaman besar yang bisa ngancam dirinya. Shadow sudah mati, Bulan Kegelapan sudah kabur ke Arika dan tidak mpunyai kekuatan untuk lawannya.

Randika sama sekali tidak kepikiran pihak mana yang bisa ngancamnya.

Yang paling mbuatnya khawatir adalah para kakeknya itu tidak bisa nolongnya, reka sedang bekerja.

"Kak Randika tidak perlu khawatir. Kakek keempat juga nyampaikan bahwa masalah ini tidak sebesar yang kakak kira." Safira mahami apa yang ada di benaknya Randika.

Hati Randika langsung terasa lega, kalau kakeknya berkata seperti itu berarti artinya benar.

"Omong-omong urusan apa yang mbuatmu sampai ke sini?" Randika langsung mbuang kekhawatirannya itu dan ngalihkan topik pembicaraan.

"Arwah Garuda baru saja nangkap teroris jadi kami sedang mbicarakan prosedur penyerahan tersangka." Kata Safira sambil tersenyum, tetapi wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. "Kak, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan aku sangat rindukanmu."

"Saf, jangan sedih begitu. Kalau kamu rindu tinggal telepon aku, aku akan datang ke tempatmu." Kata Randika sambil tertawa.

"Benarkah?" Wajah Safira langsung bersinar.

"Tentu saja, ngapain aku bohong?" Randika lalu mbelai pipi Safira. "Ketika waktunya kita nikah nanti, kita akan bersama selamanya."

Wajah Safira benar-benar rah, tatapan matanya penuh dengan ekspetasi. Dia dan Randika sudah berjanji nikah sejak kecil dan para kakeknya itu sudah restui hubungan reka.

"Kalau begitu apa boleh buat, aku akan njadi istri kak Randika nanti." Kata Safira sambil nundukan kepalanya.

Randika lalu ngangkat kepala Safira dan berbisik di telinganya. "Saf, sebelum kita nikah sepertinya kamu harus makan buah pepaya lebih banyak."

Wajah Safira terlihat bingung. "Kak, apa hubungannya dengan makan buah pepaya dan nikah?"

"Karena." Randika kembali berbisik di telinga Safira. "Aku ingin tubuhmu itu lebih montok lagi."

Kali ini wajah Safira benar-benar lebih rah, dia langsung noleh ke arah dadanya. Sepertinya aset miliknya itu terlalu kecil.

"Hahaha aku bercanda." Randika lalu mbelai rambut Safira. "Aku tidak peduli dengan gumpalan lemak di dada, yang aku inginkan hanyalah kamu."

Apakah kata-kata Randika itu benar? Tentu saja tidak! Mimpi seorang lelaki adalah dada!

Kriteria pertama seorang pria ketika dirinya milih pasangan adalah dada yang besar!

Kriteria kedua adalah dada yang besar!

Kriteria ketiga adalah dada yang besar!

Ini nunjukan bahwa dada besar adalah impian para lelaki. Tetapi tentu saja, jika wajahmu jelek dan tidak punya uang maka jangan harap bisa ndapatkan perempuan cantik berdada besar.

Namun, dada Safira itu tidak kecil tetapi juga tidak terlalu besar. Bisa dikatakan bahwa dadanya itu normal. dium is premium!

Ketika rambutnya dibelai, wajah Safira nunjukan dirinya seolah-olah sedang layang. Selama di Arwah Garuda dia selalu bersikap dingin dan tegas, tetapi di hadapan Randika dia seperti njadi seorang gadis yang tidak tahan apabila diperlakukan lembut.

"Kalau begitu kembalilah bekerja, maaf aku sudah ngganggu waktumu. Nanti kalau kamu tidak sibuk, bagaimana kalau kita pergi berkencan?"

Safira ngangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu ya kak. Kak Randika sendiri harus hati-hati."

"Hahaha, sejak kapan ada orang yang berani lawan kakakmu ini?" Randika lalu ncubit pipi Safira.

Ketika Safira kembali masuk ke dalam gedung, Randika berjalan nuju rumah.

Hari ini penuh dengan kejutan, pertama dia dipaksa ke rumah Christina oleh ibunya dan dia juga mbantu Deviana nangkap penjahat. Waktu mang tidak kenal ampun, ketika dia lihat jam, waktu sudah nunjukan pukul 4 sore.

Ketika Randika berjalan nuju rumah, dia tiba-tiba nyadari ada sesosok perempuan yang dia kenal hendak masuk ke kantor polisi.

Randika benar-benar terkejut, bukankah itu perempuan muda yang nyuruhnya waspada di kasino? Dia juga sempat berkelahi dengan pengawal perempuannya itu.

Pengawalnya Elizabeth yang bernama Nancy itu sama dinginnya dengan majikannya, keduanya bisa mbuat rinding siapapun yang noleh ke arahnya.

Elizabeth sendiri terkejut ketika lihat sosok Randika, dia lalu berkata dengan nada dingin. "Kamu belum mati?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 286: Ramalan Kakek Keempat on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.