Font Size
15px

Timmy mbentur lantai dengan keras, sedangkan mata mahasiswa-mahasiswa lainnya sudah terbelalak lihat berandalan sekolah reka terlempar begitu mudah.

Polisi kerempeng itu ternyata sekuat itu? mangnya orang bisa ngangkat dan lempar orang dengan satu tangan?

Di saat yang lain masih terkejut, Randika nghela napas. Sepertinya dia sedikit keterlaluan lempar bocah itu. Tetapi salahnya dia tidak mau bekerja sama dengan dirinya, jadi jangan salahkan dirinya ketika dia makai sedikit kekerasan.

Sedangkan janjinya pada Deviana sebelumnya, sepertinya dia harus mbuat suatu alasan yang cukup bagus. Lagipula, Deviana tidak ada di tempat ini jadi Deviana hanya bisa percaya dengan apa yang diceritakannya.

lihat Randika yang berjalan nghampiri Timmy, si ketua kelas ndadak berdiri dan berkata pada Randika. "Jika kau benar-benar polisi, kau tidak bisa nyakiti orang tanpa alasan yang jelas."

Randika tidak njawab, mahasiswa yang lain mulai ndukung si ketua kelas. "Benar! Jangan ntang-ntang punya kuasa kau bisa bertindak seenaknya."

Randika nghela napasnya dan tetap berjalan nuju Timmy. Timmy berusaha berdiri dan kabur tetapi dia berhasil ditangkap sebelum bisa lakukannya.

"Lepaskan aku!" Kata Timmy dengan wajah dingin.

"lepasmu?" Randika tertawa, di tangan kanannya sudah terdapat kalung emas.

"Ini barang yang kau curi tadi pagi? Sekarang aku sudah mpunyai buktinya, kau tidak bisa ngelak lagi." Kata Randika.

Ketika orang-orang masih sibuk berkontar, reka semua lihat kalung emas yang dipegang oleh Randika. Sekarang reka percaya bahwa Timmy adalah seorang pencuri.

"Gila, Timmy sekarang berani ncuri?"

"Sepertinya takdir berandalan mang njadi penjahat."

"Sssttt jangan sampai kedengaran, bisa-bisa kita terlibat nanti."

Sedangkan Timmy masih berusaha lepaskan diri dan ronta-ronta. "Kalung? Buktimu hanya kalung itu? Kau tidak bisa mbuktikan bahwa aku ncuri kalung itu, jangan njebak orang yang tidak bersalah!"

"Kalau kau tidak salah berarti kau tidak perlu takut." Randika nggelengkan kepalanya. Sepertinya selama dia masih bernapas, bocah ini akan terus lawan.

lihat fokus Randika teralihkan, Timmy segera lepaskan diri dan berlari keluar dari ruangan kelas. Namun, kakinya yang berlari itu tiba-tiba tertangkap dan dia terlempar lagi. Benturan yang keras mbuatnya kesakitan.

"Kamu miliki hak untuk tetap diam dan apa pun yang kau katakan dapat digunakan di pengadilan. Kau miliki hak untuk berbicara dengan pengacara untuk minta nasihat sebelum kami ngajukan pertanyaan apa pun kepadamu. Kau miliki hak untuk didampingi pengacara selama interogasi. Jika tidak mampu nyewa pengacara, seseorang akan ditunjuk untukmu sebelum kau ditanyai jika mau." Kata Randika sambil mborgol Timmy. Akhirnya kata-kata yang dia hafalkan dari film bisa dia pakai, ternyata njadi polisi asyik juga!

Semuanya sudah berdiskusi satu sama lain ketika Randika dan Timmy berjalan keluar dari ruangan. Tiba-tiba, Randika noleh ke belakang dan berkata sambil tersenyum. "Tolong jangan berbuat kejahatan, kalian pasti tidak ingin bernasib sama dengan temanmu ini."

Ketika Randika nutup pintu, seisi ruangan njadi heboh. Semua murid luapkan pendapat reka masing-masing. Kejadian ini benar-benar terlalu ndadak, reka tidak nyangka bahwa salah satu dari reka adalah penjahat.

Kejadian ini langsung reka laporkan pada pihak sekolah.

Dengan tangan diborgol di belakang, Timmy berjalan di bawah pengawalan Randika. Timmy benar-benar linglung, kenapa dia yang lebih besar dan berotot bisa kalah dengan orang yang kelihatan lemah ini.

Dalam hatinya, Deviana senang ketika lihat sosok Randika.

"Seperti yang kujanjikan padamu, ini tersangkanya dan ini barang buktinya." Randika nunjukkan kalung emasnya.

Deviana ngangguk dan berdiri.

"Bagaimana kakimu?" Tanya Randika.

"Yah setidaknya sekarang aku bisa berjalan lagi." Deviana lalu berusaha nghampiri Timmy tetapi kakinya masih tidak mampu nahan berat badannya dan dia pun terjatuh. Tetapi, dia jatuh di pelukan hangat seseorang.

"Kenapa kamu maksakan diri?" Randika benar-benar tidak habis pikir. "Kamu harus nyayangi dirimu sendiri, sudah biarkan aku mbawa orang ini ke kantormu."

Tangan kiri Randika masih nahan Timmy sedangkan yang kanan nopang Deviana, Timmy lihat hal ini sebagai kesempatan untuk kabur. Lalu dia mutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur. Ketika dia hendak lari, kakinya itu tersandung dan dia mbentur lantai dengan keras.

"Jangan kira kau bisa kabur, selama aku masih bernapas, kau tidak akan bisa kabur." Kata Randika dengan wajah serius. Lalu sambil mbantu Deviana berjalan, ketiga orang ini berjalan nuju pintu keluar.

Di luar gedung universitas, mobil Deviana sudah tidak layak pakai. Namun, Deviana sudah ngabari markas dan minta bantuan untuk mbantunya mbawa tahanan ke kantor polisi. Tetapi, bantuan itu belum tiba dan Randika sudah tidak sabar. Randika lalu manggil taksi dan berangkat nuju kantor polisi.

Sesampainya di sana, Timmy diproses oleh bawahan Deviana.

skipun sudah lepas dari cengkeraman maut Randika, Timmy sudah tidak berusaha kabur lagi. Sekarang dia dikawal oleh 2 polisi dan dimasukan ke sel penjara sentara.

Di sisi lain, Deviana nghela napas lega ketika lihat Timmy sudah berada di balik jeruji. Dengan ini kasus pencurian ini berakhir dengan sempurna.

Randika tidak tinggal lama di kantor polisi. nurut aturan, dia harus mbuat keterangan dan dia sama sekali tidak ingin terlibat masalah ini lebih jauh lagi. Lagipula, dia hanya berniat mbantu Deviana.

"Aku akan ngantarmu keluar." Kata Deviana sambil nuntun Randika keluar.

"Terima kasih untuk bantuanmu kali ini." Kata Deviana sambil tersenyum. Randika benar-benar penolongnya, banyak kasus telah terselesaikan berkat bantuan Randika.

Terakhir kali adalah kasus perempuan yang ingin loncat dari gedung tinggi. Jika bukan karena bantuan Randika, masalah itu akan semakin rumit.

Hari ini, jika Randika tidak nghentikan mobilnya, sudah dipastikan bahwa dirinya telah mbunuh seorang anak kecil. Sepertinya Randika adalah bintang keberuntungannya.

"Dev, apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita?" Kata Randika sambil tersenyum. Wajah Deviana sudah rah ketika ndengar kata-kata tersebut.

Perjanjian reka ngenai hadiah yang didapatkan Randika sudah reka bahas sebelumnya, selama ini Deviana sudah berkali-kali ngakalinya.

"Hmm mangnya aku tadi minta bantuanmu?" Deviana malingkan wajahnya.

"Bukannya kamu minta tolong padaku?" Randika tersenyum. Perempuan ini benar-benar licik, dia sudah mbantunya berkali-kali dan dia masih berusaha ngelak?

"Kalau begitu mana buktinya?" Deviana tersenyum dan berjalan ninggalkan Randika. "Lain kali aku akan mbalas kebaikanmu tadi, sekarang aku ada urusan jadi aku masuk dulu."

Randika tidak sabar nunggu hadiahnya itu, tiba-tiba dia punya sebuah ide brilian. "Hei, bukankah orang itu sedang dirampok." Katanya sambil lihat ke arah kejauhan.

Perampokan?

Deviana langsung noleh dan dia tidak dapat nemukan apa-apa.

Ketika dia ingin bertanya pada Randika, Randika sudah ngunci bibirnya dengan bibirnya. Deviana sama sekali tidak mpunyai waktu untuk bereaksi.

Setelah 3 detik, Deviana langsung ndorong Randika.

".." Deviana kehabisan kata-kata. Tetapi ketika dirinya lihat senyuman Randika, dia hanya bisa tersipu malu. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tindakan Randika yang satu ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 285: Menagih Janji on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.