Deviana sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Randika, jika dia tahu mungkin dia sudah namparnya.
"Tunggu, bagaimana kalau kita pergi ke tata usaha fakultas ekonomi dulu? Mungkin Timmy sedang ada kelas dan kita bisa nangkapnya dengan cepat." Kata Deviana dengan wajah serius.
Setelah Deviana berhenti berbicara, dia nyadari bahwa Randika tersenyum sambil lihat ke samping. Penasaran, Deviana noleh ke samping dan nyadari bahwa Randika sedang tersenyum pada seorang siswi muda, bahkan dia mberikan sebuah kiss bye!
"Huh! Semua laki sama saja, kepalanya hanya berisikan wanita." Kata Deviana sambil cemberut.
Randika lalu mbalas sambil tersenyum. "Tidak semua laki itu sama. Ambil contoh saja aku, mana ada di dunia ini sebaik dan setampan aku yang bahkan nolong teman polisinya dalam sebuah kasus aktif? Atau kamu ini cemburu karena aku nggoda perempuan lain?"
"Kenapa kamu suka mutar balik kata-kataku!?" Deviana mulai kelabakan.
"Hahaha lawan kita itu cuma bocah jahil, apa susahnya nangkapnya?" Kata Randika sambil tertawa.
Deviana benar-benar marah, ketika dia hendak mbuka mulutnya, tiba-tiba dia nutupnya kembali.
"Dev, karena aku sudah janji untuk mbantumu, aku akan nemanimu sampai kasus ini selesai. Tetapi kan tidak ada larangan untuk aku nggoda perempuan selagi bersamamu kan?"
Selama perjalanan, Deviana kembali ngoli Randika. Untungnya saja, reka telah tiba di tata usaha fakultas ekonomi. Setelah ndapatkan informasi, reka berdua akhirnya pergi nuju gedung milik fakultas ekonomi.
Tidak lama kemudian, keduanya telah tiba di gedung. Deviana tidak bisa nahan malunya ketika para murid mperhatikan dirinya yang masih digendong Randika itu. Tentu reka tidak tahu bahwa dia adalah polisi, tetapi perhatian seperti ini mbuat dirinya makin malu.
Para mahasiswa ini geleng-geleng ketika lihat Randika dan Deviana, reka pikir gedung sekolah ini hotel apa?
Sampai detik ini, Deviana belum pernah rasakan namanya pacaran. skipun dia dan Randika sudah lewati masa sulit bersama, reka hanyalah seorang teman. Sekarang setelah digendong dan rasakan rasa aman yang tidak pernah dia rasakan, hatinya njadi campur aduk.
Ditambah lagi tatapan para mahasiswa ini mbuat Deviana makin malu, dia berkata dengan pelan pada Randika. "Ran, tolong turunin aku."
"Tidak bisa Dev, aku tidak ingin kamu terluka. Jika kakimu itu makin parah, bagaimana bisa kita berjalan nuju pelaminan bersama?" Randika sengaja ngeraskan suaranya karena dia tahu bahwa Deviana malu dengan tatapan orang-orang.
"Wah berani sekali pasangan itu!"
Sukses besar! Orang-orang makin mperhatikan reka berdua!
Randika tidak bisa berhenti tertawa, dia lalu berbisik pada Deviana yang sudah tersipu malu. "Jangan khawatir, aku akan mastikan tersangkamu ini tertangkap. Jadi istirahatlah dan percayakan masalah ini padaku."
Tentu saja Randika bercanda, dia hanya ingin rasakan kelembutan paha Deviana ini lebih lama lagi!
Tetapi, tatapan semua orang njadi lebih intens sejak Randika dengan sengaja bercanda akan mbawanya ke pelaminan. Hal ini mbuat Deviana makin mbulatkan tekad. "Ran, turunkan aku!"
"Tidak, ini adalah tugasku untuk lindungimu." Randika sama sekali tidak ingin lepas dari paha empuk ini.
"Aku hitung sampai tiga." Wajah Deviana benar-benar serius.
"Percuma, aku tidak akan nurunkanmu." Wajah Randika juga tidak kalah serius.
Ketika hitungannya itu ncapai tiga, telinga Randika tiba-tiba digigit oleh Deviana! Itu bukan gigitan yang pelan lainkan dengan seluruh tenaga!
Bajingan! Tentu saja, makian itu hanya diteriakan Randika di dalam hatinya. Dia tidak akan pernah maki seorang perempuan, dia adalah jenteln!
Orang-orang yang lihat hal ini justru makin iri, reka ngira Deviana sudah tidak sabar berhubungan badan dan mulai nyerang telinga Randika. Ah. Cinta itu mang tidak kenal tempat.
"Iya, iya, aku turunin kamu! Tolong hentikan!" Randika makin rasa telinganya itu hampir copot, dia dengan cepat nurunkan Deviana. Tetapi ketika kakinya itu napak, Deviana tidak bisa nyembunyikan rasa sakitnya itu.
"Tuh kan kubilang apa, sini kugendong lagi." Randika nggelengkan kepalanya. Akhirnya keduanya sepakat bahwa Deviana akan berjalan sambil bersandar di pundak Randika.
Akhirnya kedua orang ini sampai di ruangan kelas Timmy. "Serahkan penangkapan ini padaku, kamu sebaiknya duduk di sini." Kata Randika.
"Maksudmu bagaimana? Hanya polisi yang miliki hak untuk nangkap seseorang, kamu bukanlah salah satu dari kita."
Randika lalu njawab. "Kalau begitu, bagaimana kalau hari ini wakilkan dirimu? Atau kamu ingin aku mbawa orang itu ke sini dan kamu tinggal nangkapnya?"
Deviana berpikir sebentar, sejujurnya dia ingin nangkap Timmy dengan kedua tangannya. Namun ketika dia berusaha berdiri kembali, kaki kanannya itu terasa sakit.
"Sudah jangan maksakan diri begitu." Kata Randika.
Deviana akhirnya nyerah dan nghela napasnya. "Kalau begitu aku serahkan orang itu padamu, tetapi jangan buat dia babak belur dan nambah masalahku."
"Hahaha sejak kapan mangnya aku mbuat masalah untukmu?" Randika kemudian ngambil borgol milik Deviana dan berjalan masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum, akhirnya dia bisa rasakan bagaimana rasanya njadi polisi.
lihat sosok Randika yang masuk ke dalam ruangan, Deviana ngerutkan dahinya. Dia berdoa agar Randika tidak ngacaukan penangkapan ini.
Setelah mperhatikan sekelilingnya, Randika nyadari bahwa Timmy duduk di barisan paling belakang dan sedang mainkan HP miliknya.
"Tim, malam ini mau minum-minum?" Teman di sampingnya Timmy ngajaknya berbicara. "Aku dengar nanti banyak perempuan cantiknya lho."
Timmy lalu ngangkat kepalanya dan mperlihatkan wajahnya. Wajahnya benar-benar bengis dan jahat, sepertinya dia adalah preman sekolah ini. Semua orang tahu akan hal ini tetapi reka milih njauhinya karena reka takut berurusan dengan Timmy.
"Aku ada urusan malam nanti, pergilah tanpa aku." Kata Timmy sambil mainkan kalungnya. Pagi tadi dia ngambil kalung emas itu dan belum njualnya.
Ini bukanlah aksi pertamanya, hanya saja ini pertama kalinya dia lakukannya di dekat sekolahnya.
Pada saat ini, seorang pria tampak celingak-celinguk di pintu ruangan. Semua orang terkejut ketika Randika berdiri di atas ja dosen.
Kelas belum dimulai dan murid-murid ini semuanya masih ribut dan bermain HP, tetapi reka segera nghentikan kerjaan reka ketika lihat Randika yang ndadak naik ke atas ja itu.
Randika lalu berteriak dengan keras. "Apa ada yang bernama Timmy di kelas ini? Aku ncari orang yang bernama Timmy."
Semua orang langsung natap satu sama lain, reka sangat bingung dengan tindakan Randika ini.
"Siapa orang itu?"
"Orang gila mungkin."
"Aku dengar geng miliknya Timmy tawuran dengan beberapa preman minggu lalu, apa orang itu datang untuk balas dendam?"
"Kenapa berandalan seperti itu satu kelas sama kita? Kita jadi kena imbasnya."
Semua orang mulai berdiskusi, hanya beberapa orang yang berani natap Timmy yang duduk di barisan belakang.
Akhirnya Randika nemukan Timmy, dia kemudian berjalan nghampirinya.
"Ada apa ya?" Namun, tiba-tiba, ada perempuan berkacamata tebal yang berdiri ncegat Randika.
Setelah mperhatikan satu sama lain, Randika rasa bahwa perempuan ini adalah ketua kelas dari kelas ini. Randika tersenyum, sepertinya dia perlu njelaskan kenapa dia datang ke kelas ini.
"Aku berasal dari kepolisian kota Cendrawasih, kalian bisa manggilku pak Randika." Randika lalu ngeluarkan borgolnya dan tersenyum.
Kali ini, semua orang terkejut kembali.
Polisi?
Semua mata sekarang tertuju pada Timmy, apakah dia lakukan kejahatan?
Hati Timmy ngepal, dia tidak nyangka polisi akan datang ke sini secepat ini. Dia awalnya ingin njual kalung yang dipakainya itu untuk mbayar utang, sepertinya rencananya tidak berjalan semulus itu.
Kali ini dia benar-benar tamat.
Randika nghampiri Timmy dan berdiri di hadapannya, Timmy berusaha terlihat cuek. Dia masih sibuk mainkan HPnya.
"Ikutlah denganku, ada yang ingin kutanyakan." Randika natap tajam Timmy, dia tahu bahwa bocah ini pura-pura tidak lihat dirinya.
"Apa kegiatanmu tadi pagi?" Tanya Randika.
"Tidur." Jawab Timmy dengan dingin.
"Kamu tidak pergi rampok toko emas?" Tanya Randika sekali lagi.
"Hah? Buat apa aku lakukan hal itu?" Timmy tetap berusaha terlihat tenang.
"Jadi kalung emas yang ada di lehermu itu bukan hasil rampok?"
"Bicara apa kau pak tua?" Timmy tiba-tiba berdiri dan mbanting janya. Sosok tinggi besar segera mbayangi Randika. Tinggi Randika hanya 170 cm, sedangkan Timmy lebih dari 180 cm! Tetapi tinggi bukanlah faktor yang nentukan hasil pertarungan.
"Gila, Timmy mau mukulnya?"
"Mana mungkin, orang itu polisi tahu!"
Orang-orang mulai khawatir, skipun orang itu polisi, dia hanya sendirian dan dia terlihat lemah. Timmy dapat nghajarnya dengan mudah kalau dia mau.
Randika nghela napas di hatinya, dia sendiri tidak ingin narik perhatian banyak orang.
Timmy natap tajam Randika dan berkata dengan nada dingin. "Aku tidak peduli kamu polisi atau siapa, jangan ikut campur dengan urusanku."
"Jadi apakah kamu pagi tadi rampok toko emas itu?" Tanya Randika dengan santai.
"Bukan urusanmu!" Timmy sudah muak dan hendak pergi ninggalkan kelas, tetapi dia dicegat oleh Randika.
"Minggir!" Bentak Timmy. "Aku tidak mau berurusan dengan polisi yang asal nuduh tanpa bukti, kalian hanya butuh kambing hitam untuk disalahkan."
Sepertinya nonton film seri Arika mbantu Timmy sedikit, dia tahu bahwa dia tidak dapat disentuh kecuali ada bukti yang kuat.
Randika berusaha nenangkan dirinya, jika bukan karena janjinya pada Deviana, dia mungkin sudah nampar bocah tidak tahu diri ini.
"Kami mpunyai bukti." Kata Randika sambil maksakan diri untuk tersenyum. "Kami telah riksa kara keamanan dari toko dan berhasil nemukan kecocokan wajah. Oleh karena itu kami ingin minta keterangan darimu."
Kara?
Wajah Timmy langsung njadi pucat pasi, hal ini langsung narik perhatian Randika. Sepertinya gertakannya berhasil, pelakunya adalah Timmy!
"Aku tidak peduli dengan penjelasanmu, pagi tadi aku masih tidur di kamarku. Sekarang cepat minggir atau kupatahkan kakimu." Kata Timmy dengan nada serius, sentara murid-murid yang lain sudah nahan napas reka. Reputasi Timmy sebagai berandalan sudah legenda di universitas ini. Dia benar-benar jago berkelahi, terlebih lagi lawannya kali ini terlihat lemah.
"Maaf tapi kamu tidak bisa lawan, kamu harus ikut aku ke kantor polisi." Randika nggelengkan kepalanya. Timmy sudah muak, dia berteriak. "Mati kau!"
Pada saat yang sama, tinju Timmy sudah layang ke wajah Randika. Tetapi, Randika dengan mudahnya nangkap kepalan tinju berandalan satu ini.
Timmy benar-benar terkejut, dia berusaha lepaskan diri tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak.
"Bukankah kalian diajari sejak kecil bahwa polisi adalah penegak keadilan?" Kata Randika sambil tersenyum, detik berikutnya dia ngangkat Timmy hanya dengan satu tangan. Kemudian di bawah tatapan semua orang, Randika lemparnya.
Semua orang langsung terkejut bukan main!
Reviews
All reviews (0)