Randika juga sama terkejutnya dengan kejadian ini. Apa yang sedang dilakukan oleh polisi itu? Apa dia tidak lulus ujian SIM?
Mobil polisi itu, di bawah tatapan mata orang-orang, tiba-tiba kembali macu mobilnya!
Orang-orang langsung nyingkir dengan cepat, reka takut njadi korban dari polisi gila itu.
Deviana yang ada di dalam mobil itu sudah ngucurkan darah sekaligus keringat dingin. Entah kenapa mobilnya itu tiba-tiba lepas kendali dan rem kaki maupun tangan sama sekali tidak berfungsi. Untung saja tadi dia tidak nabrak siapa-siapa, tetapi sekarang mobilnya itu tiba-tiba kembali bergerak.
"Kenapa dengan mobilku ini!"
Deviana benar-benar tidak tahu apa-apa, awalnya mobilnya itu baik-baik saja tetapi ndadak dia tidak bisa ngendalikan mobilnya. Sepertinya mobilnya ini matuhi perintah orang lain dan Deviana tidak bisa berbuat apa-apa lagi. lihat mobilnya itu kembali laju di sisi jalan, Deviana hanya bisa nutup matanya.
Orang-orang njadi panik dan lari ke segala arah. Deviana berusaha nginjak rem kakinya dengan sekuat tenaga tetapi tidak ada perubahan. Pada saat ini, mobilnya laju kencang di sisi jalan.
Randika mperhatikan mobil polisi itu dengan penglihatan supernya, dia nyadari bahwa supir yang ngendarai mobil itu adalah Deviana.
lihat wajah Deviana, Randika sepertinya paham apa yang telah terjadi. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada mobilnya. Tidak mungkin Deviana yang miliki rasa keadilan yang tinggi itu njadi gila seperti itu.
Pada saat ini, mobil Deviana sudah laju di sisi jalan dengan kecepatan ncapai 50 km/jam. Pada saat ini, ada anak kecil yang tidak tahu apa-apa sedang bermain tanpa ngetahui ada mobil yang nuju arahnya.
"Awas!"
Ketika ibunya itu nyadari keributan yang sedang terjadi, otomatis dia segera berlari ke arah anaknya. Orang-orang di sekitarnya langsung terkejut ketika nyadari apa yang telah terjadi. Bukannya nolong, reka segera berlari nyelamatkan diri reka masing-masing.
Deviana sudah ketakutan, keringat dingin sudah mbanjiri punggungnya. Dia berusaha ngubah jalur mobil tetapi semua itu percuma, mobilnya akan nabrak anak kecil itu!
Deviana sudah pasrah. Kariernya sebagai seorang polisi sudah pasti berakhir jika dia nabrak dan mbunuh anak kecil itu. Bukan hanya itu, dia juga akan dipenjara seumur hidup karena kejadian ini.
"Lari!"
"Oi nak, lari!"
Akhirnya orang-orang yang lari itu nyadari keberadaan anak kecil itu. Tetapi semuanya sudah terlambat, posisi reka sudah terlalu jauh dan laju ibu dari anak kecil itu terhambat oleh orang-orang yang berlarian.
ndengar peringatan dan lihat orang yang pada berlarian, anak tersebut dengan polosnya noleh ke arah mobil yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Bukannya berlari, anak kecil itu nangis dan duduk di tanah!
"Anakku!"
Sang ibu sudah hampir pingsan di tengah kerumunan orang. Jarak antara anak kecil itu dengan mobil sudah tidak lebih dari 1 ter. Bisa dikatakan bahwa hidup anak kecil itu hanya tinggal hitungan detik.
Deviana masih berusaha nginjak rem ataupun rubah jalur mobilnya, tetapi semua itu percuma. lihat anak kecil itu duduk nangis, Deviana hanya bisa pasrah.
Selesai sudah!
Semuanya telah selesai!
Deviana sudah nutup matanya dan orang-orang sudah bersiap dengan hal terburuk. Namun pada saat ini, tiba-tiba ada seseorang berdiri di depan anak kecil itu!
Randika berdiri dengan tegak di depan anak kecil yang nangis ini, dia lalu ngulurkan kedua tangannya ke depan.
Apa yang orang itu lakukan?
Orang-orang sudah kehabisan akal, percuma kamu lakukan itu karena kalian berdua akan terlindas!
Deviana terkejut ketika nyadari sosok Randika muncul di hadapannya, tetapi semua itu sudah terlambat. Mobil miliknya ini sudah bagaikan banteng yang siap nyeruduk apa pun yang nghalanginya!
"Tidak!!"
Sang ibu sudah pingsan ketika lihat mobil itu sudah hendak nabrak Randika, orang-orang mulai mbantu si ibu dan sudah ngheningkan cipta atas jatuhnya sang anak.
Semua orang sudah nganggap riwayat Randika sudah berakhir, tetapi sama sekali tidak ada suara apa pun.
Eh?
Apa yang terjadi? Semua orang noleh ke arah Randika dan mata reka terbelalak ketika lihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Mustahil!
Sepertinya tamparan di wajah masih tidak dapat nyadarkan reka dari kelinglungannya. Karena reka telah lihat Randika yang berhasil nghentikan laju mobil polisi itu dengan kedua tangannya!
Benar, reka tidak salah lihat. Roda mobil milik Deviana itu masih bergerak dan suara sinnya makin keras. Randika sudah bagaikan gunung yang tidak dapat bergerak, dia berhasil nahan mobil polisi tersebut! Dan akhirnya setelah diangkat sedikit oleh Randika, roda itu berhenti berputar dan sinnya sedikit demi sedikit mulai tenang.
Semua orang natap bingung ke arah Randika, apakah dia adalah superhero?
skipun tidak bisa dibandingkan dengan sebuah truk, yang dihentikan oleh Randika tetaplah sebuah mobil. Mungkin jika mobil mogok masih masuk akal bisa ndorongnya tetapi nahannya ketika dalam kecepatan tinggi? Apa orang itu masih manusia?
Beberapa orang lihat Randika bagaikan hantu, atau jangan-jangan reka sedang lihat syuting film? mangnya sejak kapan ada mobil polisi berkendara seliar itu? Benar, ini pasti hanyalah akting!
Ibu yang pingsan tadi sudah sadar dan nangis ketika lihat anaknya baik-baik saja. Dia langsung berlari nuju anaknya dan lihat sosok Randika di depannya yang ngangkat mobil polisi itu dengan kedua tangannya.
"Aku pasti sedang bermimpi." Ibu itu kembali pingsan lagi.
Deviana yang ada di dalam mobil sudah kehabisan kata-kata, dia sangat terkejut dengan keberadaan Randika. Sekarang, kedua mata reka saling bertatapan.
"Mungkin kamu ingin matikan mobilnya." Kata Randika.
Deviana yang sadar dari linglungnya itu segera ncabut kuncinya. Akhirnya kejadian ini berakhir tanpa nimbulkan korban jiwa.
Orang-orang yang ada di sekitarnya sudah mulai bertepuk tangan.
"Orang itu kuat sekali!"
"Pahlawan, orang itu pahlawan!"
Beberapa perempuan natap kagum Randika. "Apa kamu pikir dia adalah superhero?"
"Hahaha tenang saja, aku sudah rekam kejadian ini. Biarkan para netizen yang nentukannya."
Semua orang natap kagum pada Randika. Pada saat ini, ibu dari anak itu akhirnya tersadar kembali. Dia lalu natap Randika dan ngatakan terima kasih.
Randika hanya lambaikan tangannya sambil tersenyum.
Deviana lalu turun dari mobilnya, bajunya sudah basah oleh keringat. "Untung saja kamu datang, kalau tidak bisa-bisa nyawa anak itu layang."
Ibu itu langsung maki Deviana karena cara nyetirnya yang berbahaya.
"Tenang ibu, tenang, ini bukan salahnya. Semua hanya kecelakaan, jadi tolong ibu lupakan saja kejadian ini ya." Kata Randika.
"Baiklah kalau begitu, aku lakukan ini karena aku berhutang budi padamu. Tetapi aku ingatkan kamu sekali lagi, polisi ada untuk njaga dan ngamankan rakyat bukan malah mbunuhnya."
Lalu ibu itu noleh ke arah Randika sambil tersenyum. "Bisa minta nomor teleponmu? Aku akan ngirimkan hadiah karena telah nyelamatkan anakku."
Setelah berpamitan, akhirnya ibu itu mbawa anaknya pulang ke rumah.
Deviana tidak peduli dengan kata-kata ibu itu, dia masih penasaran dengan kejadian kali ini. Dia berusaha ngingat-ingat apa ada yang ncurigakan.
"Aku kehilangan kendali dan tidak bisa nginjak rem sama sekali."
"Sebentar, aku pindahkan mobilmu ini dulu agar tidak nghalangi jalan." Lalu di bawah tatapan mata orang-orang, Randika dengan santainya nyeret mobil milik Deviana itu ke tempat parkiran mobil.
Kejadian ini benar-benar narik perhatian orang-orang!
Jelas dia bukan manusia.
"Pertama-tama, kamu harus nghubungi markasmu ngenai kejadian ini. Belum lagi kita sudah mbuat kemacetan gara-gara tiang lampu yang roboh itu." Kata Randika sambil nyeret mobil.
Deviana ngangguk, dia sendiri hampir lupa dengan tiang lampu yang roboh di jalan itu karena kejadian hampir nabrak anak kecil itu.
Setelah letakan mobilnya, Randika kembali nghampiri Deviana.
"Bagaimana?"
Wajah Deviana terlihat serius sekali. "Aku sudah nghubungi markas dan reka segera ngaturnya." Deviana lalu natap mobilnya yang rusak itu. "Sepertinya mobil itu sudah tidak layak pakai, kenapa bisa mobil itu bisa lolos dari inspeksi?"
Randika tidak mau terlibat masalah internal seperti itu, dia segera rubah topik pembicaraan. "Terus kenapa kamu datang ke daerah sini? Jangan-jangan kamu ndaftar jadi murid di sini?"
"Kamu kira aku bebas sepertimu? Aku datang ke sini karena ada kasus di universitas ini." Kata Deviana.
Kasus?
Randika penasaran, dan pada saat ini Deviana neruskan ceritanya. "Toko emas di daerah sini tadi pagi telah dirampok. Setelah nyelidiki dan riksa kara pengawas, kami nemukan bahwa salah satu tersangka adalah murid di universitas Cendrawasih. Aku diutus dan nyamar ke tempat ini untuk nyelidikinya terlebih dahulu."
Randika ngangguk. "Baiklah, aku akan nemanimu."
reka berdua lalu berjalan nuju gedung universitas. Pada saat ini, tiba-tiba Deviana berhenti berjalan dan berlutut sambil riksa kakinya.
"Kenapa?" Randika yang berjalan di depan langsung berhenti dan noleh ke arah Deviana, sepertinya kakinya keseleo. "Apa kakimu baik-baik saja?"
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Deviana berusaha nahan rasa sakitnya itu. Kakinya tadi terus-terusan nginjak rem sekuat tenaga, sepertinya adrenalin mbuatnya tidak rasakannya waktu itu.
"Tenang saja, aku akan nggendongmu." Randika tidak ragu-ragu langsung nggendong Deviana dengan kedua tangannya. Deviana ingin lepaskan diri tetapi Randika tidak mbiarkannya.
"Sudah diam dan pasrah saja, kalau tidak aku akan lemparmu." Kata Randika sambil tertawa. Deviana tidak miliki kulit tebal seperti Randika, digendong seperti tuan puteri ini mbuat dirinya malu apalagi orang-orang mperhatikan reka.
Semua perempuan lihat Randika dan Deviana dengan tatapan penuh arti. Idaman para perempuan adalah digendong seperti itu oleh pangeran berkuda putih reka lalu reka akan bertarung di atas ranjang! Ah. reka pasti sedang nuju kamar untuk berhubungan badan!
Selama tidak ada pihak universitas yang tahu, para perempuan akan mbawa laki reka ke kamar reka dengan bebas. reka tidak perlu khawatir akan ada yang mbeberkan masalah ini, itu sudah seperti semacam peraturan tidak tertulis.
Sedangkan untuk para laki-laki, reka terpukau ketika lihat Deviana yang makai baju casual itu. Benar-benar wanita cantik, kecantikannya setara dengan dosen cantik reka!
Tidak bisa untuk dipungkiri, beberapa orang natap iri Randika yang nggendong malaikat itu. Sepertinya reka sedang nuju kamar reka untuk lakukan hubungan badan.
"Aku sudah nelepon beberapa siswa sekolah ini. Sepertinya tersangka kita bernama Timmy dari fakultas ekonomi." Kata Deviana.
Randika sendiri tidak ndengarnya dengan baik, dia sibuk nikmati paha Deviana yang dipegangnya dan dadanya yang nempel di perutnya. Mungkin hari ini dia akan mberi polisi cantik satu ini skor 80.
Reviews
All reviews (0)