Aksi Randika yang luar biasa ini mbuat semua orang kagum. Dia sudah seperti seakan-akan berjalan lewati tebing yang datar, benar-benar luar biasa.
Beberapa orang langsung ngeluarkan HP reka untuk rekam kejadian ini.
"Apanya yang spiderman, orang lokal juga bisa!"
"Benar-benar luar biasa."
Pada saat penonton-penonton ini sibuk ngabadikan kejadian ini lewat HP reka, Randika sudah bergelantungan di samping perempuan tersebut.
Pada saat ini, perempuan tersebut sudah nutup matanya dan sudah di ambang tenaganya. Wajah dan punggungnya sudah basah oleh keringat dingin dan dia sudah bersiap nyambut ajalnya. Dia sama sekali tidak sadar bahwa Randika sudah berada di sampingnya.
"Jangan takut, bukalah matamu itu."
Pada saat ini, tiba-tiba perempuan tersebut ndengar suara lembut. Ketika dia mbuka matanya, dia lihat wajah senyum Randika.
Apakah dia berhalusinasi?
Perempuan itu terkejut, dan pada saat ini, tangannya itu sudah tidak kuat lagi dan lepaskan genggamannya. Dalam sekejap seluruh tubuhnya terjun bebas nuju bawah!
Semua orang berteriak ketakutan. Selesai sudah, perempuan itu sudah pasti mati!
Namun pada saat krusial, Randika ikut lompat nuju perempuan tersebut. Tangan kirinya berhasil nangkap erat tangan perempuan tersebut sedangkan tangan kanannya berhasil nangkap tali baru yang diulurkan dari atas tebing.
Semuanya berlangsung hanya dalam 1 detik, Randika berhasil nyelamatkan perempuan tersebut dan dirinya sendiri dengan nangkap tali tersebut.
Semua orang yang tidak tega lihat perempuan itu mati langsung terkejut ketika Randika berhasil nyelamatkannya.
"WOW, kak Randika mang luar biasa!" Hannah sudah bertepuk tangan gembira, kakak iparnya itu benar-benar hebat!
Inggrid juga tersenyum lega, sepertinya istrinya itu sudah terbiasa dengan aksi nekat Randika.
Setelah linglung reka hilang, para penonton mulai bersorak untuk Randika.
"Pahlawan! Orang itu pahlawan kita!"
"Lihat ototnya itu, aku yakin perutnya juga sexy seperti itu."
"Ya Tuhan, semoga saja dia masih jomblo." Kata beberapa perempuan yang terpukau oleh aksi Randika.
"Ibu, aku nanti kalau sudah besar bisa sehebat orang itu tidak?" Tanya seorang anak kecil.
Si ibu nggendongnya lalu berkata pada anaknya. "Pasti nak, yang penting kamu makan makanan sehat."
Sambil dilihat oleh banyak orang, Randika perlahan turun sambil terus gang perempuan tersebut dengan satu tangan. Benar-benar kekuatan fisik yang luar biasa.
Setelah ndarat di bawah, Randika berjalan nghampiri para panitia sambil nggendong perempuan tersebut dengan kedua tangannya.
Namun, tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan masang wajah penuh senyuman yang lebar sekaligus hangat. Dia ingin nikmati sorakan hangat para penonton ini lebih lama.
Di pelukannya Randika, perempuan itu natap senyumannya Randika dan wajahnya njadi rah. Salah satu tangan Randika itu tepat berada di dadanya dan sedikit demi sedikit mulai remas dadanya, dia tidak tahu apakah sang penyelamatnya ini sengaja atau tidak sengaja lakukannya.
Namun, perempuan ini sama sekali tidak marah justru dia sangat nikmatinya. Sosok Randika benar-benar sudah lekat di hatinya.
Seorang pahlawan yang datang di keadaan terdesak mang selalu mudah ndapatkan hati perempuan.
Randika yang berdiri diam sambil tersenyum itu sangat nikmati pujian-pujian yang dilontarkan oleh orang-orang. Pada saat yang sama, dia rasakan sensasi empuk di tangan kanannya. Secara tidak sadar, tangan Randika itu makin kuat nggenggamnya.
Tetapi nurut pengalamannya, seharusnya yang dia pegang ini adalah .. Dalam sekejap, dia noleh ke arah perempuan yang diselamatkannya itu dan nyadari wajahnya sudah rah padam.
"Maaf, aku tidak sengaja." Kata Randika sambil tersenyum. Perempuan itu ngangguk dan tidak marah, malahan dia mberanikan diri untuk bertanya. "Terima kasih telah nolongku, boleh aku tahu siapa namamu?"
"Namaku adalah Randika."
Pada saat ini, semua orang sudah ngerumuni Randika.
"Malam ini kamu nganggur tidak? Hatiku kesepian nih butuh seseorang untuk ngisi."
"Hei, aku berminat untuk njadi manajermu ketika sudah terkenal nanti. Bersama kita akan njadi artis kaya!"
"Minta tanda tangannya!"
Suara yang serentak itu mbuat Randika pusing.
.....
Namun setelah Randika nurunkan perempuan yang dia tolong itu, tiba-tiba sosoknya nghilang dari tengah kerumunan.
"Lho? Bukannya dia barusan di depanku?"
"Hilang ke mana dia?"
Pada saat ini, Randika sudah berada di samping Hannah dan Inggrid sambil nyembunyikan wajahnya.
"Kak, kamu benar-benar luar biasa! Kamu harus ngajariku kapan-kapan."
"Sudah lupakan itu dulu, ayo cepat kita pergi dari sini dan daki gunungnya." Kata Randika.
"Tidak mau, kakak harus berjanji dulu." Kata Hannah sambil cemberut.
"Han, apa kamu pikir berlatih seperti itu tidak berbahaya? Apa kamu mau miliki luka seperti punyaku ini?"
Ketika diperlihatkan luka di punggung Randika, Hannah njadi takut. "Masa sampai segitunya kak? Tidak jadi deh, aku masih ingin nikah."
"Tentu saja berlatih sampai di tahapku ini sangat berbahaya. Jika kamu ingin berlatih ilmu bela diri, kamu harus siap nerima seribu luka. Luka-luka ini lebih parah daripada jerawatmu kapan hari. Kedua, fisik dan ntalmu mang lebih kuat tetapi kamu harus rela relakan hal-hal duniawi seperti berbelanja, nonton TV dll untuk sampai ke tahapku. Ketiga ."
"Stop kak, stop! Baiklah aku tidak akan minta kak Randika untuk ngajariku." Ketika ndengar tidak bisa berbelanja ataupun bermain-main, hal itu sudah cukup mbuat Hannah nyerah untuk belajar dari Randika.
Inggrid ncubit pinggang Randika. "Kamu ini ya, kok sukanya nakut-nakutin adik sendiri."
Randika tertawa, Hannah yang marah langsung marahinya. "Kak, kenapa kakak selalu jahil sih!" Dia sudah lepas sepatunya dan sudah siap lemparnya.
"Ampun Han, ampun." Kata Randika sambil berlari dan berlindung di belakang Inggrid.
Ketiganya lalu ndaki gunung dengan gembira, reka tidak lupa nikmati pemandangan alam yang luar biasa.
Di perjalanan reka, tentu saja reka juga bercanda dan sambil bermain-main. Hannah, yang baru saja keluar dari rumah sakit, sangat bersemangat dan terus-nerus berbicara ngenai banyak hal.
Banyak orang yang ikut ndaki gunung ini bersama reka, bagaimanapun juga hari ini adalah akhir pekan. Banyak orang yang datang ke gunung ini untuk bersantai dan nikmati pemandangan alam.
Setelah satu setengah jam berjalan, reka akhirnya ncapai puncak.
"Wah, udaranya benar-benar bersih." Hannah nghirup udara dalam-dalam sedangkan Inggrid natap langit yang seakan berada di genggamannya.
Di hadapan reka, reka bisa lihat kota Cendrawasih yang sibuk beraktivitas dan pemandangan hutan yang sungguh nakjubkan.
"Kak Randika, coba lihat patung batu ini." Hannah terlihat masih miliki energi yang banyak.
Randika lalu mperhatikan patung manusia yang sudah cukup rusak itu, sepertinya batu ini berumur ratusan tahun.
Randika lalu berjalan nuju tepi, ketika dia natap ke bawah dia tidak bisa lihat kaki gunung karena banyaknya pohon itu. Sepertinya dia masih berharap bisa bertemu dengan perempuan yang diselamatkannya tadi itu dan ingin rasakan dadanya sekali lagi.
Reviews
All reviews (0)