lihat kulit mulus, kaki panjang, dada yang hampir nyembul keluar dari balik bajunya, Randika benar-benar terpukau olehnya.
Pemandangan cantik seperti itu, Randika tidak akan pernah bosan untuk lihatnya!
skipun Randika pernah lihat tubuh Christina sebelumnya, dia belum pernah rabanya dengan sepenuh hati. Hanya tinggal nunggu waktu sebelum hal itu akan terwujud.
Sangat disayangkan tubuh seindah itu tidak digunakan dengan baik, seandainya saja Christina njadi model, Randika yakin fotonya akan nuhi seluruh majalah. Tetapi ada keuntungan tersendiri baginya, Randika bisa nikmati tubuh indah itu untuk dirinya sendiri!
Bisa dikatakan bahwa jika tubuh perempuan itu sebuah karya seni, maka tubuh Christina itu sudah setara dengan lukisan Mona Lisa!
Randika rasa kejadian ini sangat disayangkan sekali, kalau saja tidak ada Ayu di sini, Randika mungkin sudah nerjang ke arah Christina. Terlebih, dia sudah lama tidak berjumpa dengan Christina. Mungkin ajakannya dulu untuk mbuat anak untuk ibunya itu sudah dipikirkan oleh Christina.
Sejujurnya, Randika sudah banyak berhubungan badan dengan perempuan sebelumnya tetapi dia baru resmikan hubungannya hanya dengan Inggrid. Rencana haremnya mbutuhkan sebuah ikatan yang tidak bisa terputuskan, jika tidak reka tidak lebih dari sekedar FWB.
Setelah bertahun-tahun keliling dunia, banyak perempuan yang sudah takluk oleh tekniknya. Dengan keperkasaannya, dia pernah mampu naklukan 7 perempuan sekaligus dalam 1 kali main ketika dia ada di Eropa. Namun, bukan sex yang dicari Randika lainkan ikatan resmi yang nghubungkan dirinya dengan perempuannya.
Jadi untuk resmikan hubungan reka, Randika ingin mbuat anak dengan Christina!
Kejadian malukan ini tidak berlangsung lama. Setelah Christina lari terbirit-birit seperti kelinci, Ayu dan Randika masuk ke dalam rumah.
"Tante ini kadang heran sama anak tante itu, di luar terlihat dewasa dan sopan tetapi sesampainya di rumah langsung malas dan teledor." Ayu geleng-geleng ngingat anaknya satu itu.
"Tante tidak usah khawatir, aku sendiri sudah tahu sejak lama." Randika tahu bahwa kata-katanya ini sedikit ambigu, dia seperti ngatakan bahwa dia sering lihat Christina berpakaian seperti itu di rumahnya.
ndengar kata-kata itu, Ayu tersenyum dan berkata pada Randika. "Baguslah kalau begitu, sudah ayo masuk. Kamu duduk manis sebentar ya, tante mau masak dulu. Sebentar lagi Tintin juga harusnya turun jadi kalian berdua santai-santai saja dulu sambil nunggu tante. Kamu juga sudah lama tidak ke rumah ini jadi banyak yang harus kalian kejar."
Randika kembali diseret nuju pintu kamar Christina oleh Ayu.
"Sudah kalian santai saja ya, tante mau masak dulu dan tante janji tidak akan ngganggu kalian lagi." Setelah itu Ayu berjalan ke dapur dengan wajah tersenyum. Dia sudah nganggap Randika nantunya sendiri. Entah kenapa, dia sangat nyukai Randika apalagi berkat kejadian hari ini. nantunya sudah pintar ilmu pengobatan tradisional, kuat, perhatian dan bisa diandalkan, di mana lagi dia bisa nemukan nantu idaman seperti itu?
Randika natap pintu kamar yang tertutup sambil nghela napas, dia lalu ngetuk pintu tersebut.
"Sebentar." Dengan pendengaran Randika, dia dapat ndengar Christina yang mondar-mandir. Sepertinya Christina sedang sibuk ncari baju yang cocok untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Tak lama kemudian, Christina mbuka pintu dan lihat sosok Randika yang tersenyum padanya. skipun penampilannya yang tadi malukan, dia berusaha lupakannya.
Christina sudah nganggap Randika adalah pacarnya sendiri, lama kelamaan tubuhnya pada akhirnya akan dilihat oleh Randika jadi tidak ada salahnya nggodanya agar mpercepat kejadian itu.
Namun, Christina masih belum mpersiapkan hatinya.
"Mamamu minta aku untuk nemanimu." Kata Randika sambil tersenyum.
Christina hanya ngangguk dan mpersilahkan Randika masuk ke dalam kamarnya.
Pintu kayu tersebut langsung tertutup rapat.
Ayu dapat ndengar pintu itu tertutup dan tidak bisa nahan rasa senangnya. Akhirnya dia bisa nciptakan kesempatan untuk anak perempuannya njadi dewasa, seharusnya 2 jam cukup buat reka bukan?
Jika Randika bisa ndengar isi pikiran Ayu, entah dia akan nangis atau terharu. Bisa-bisanya seorang ibu nyuruh dirinya untuk berhubungan badan selagi orang tuanya di rumah?
Di sisi lain, di dalam ruangan, Randika mperhatikan kamar Christina dan narik napas dalam-dalam. "Harum sekali!"
Christina terlihat bingung, dia juga ikut nghirup udara dalam-dalam. Tapi anehnya, dia tidak terlalu ngerti bau apa yang dimaksud oleh Randika.
"Kamu ncium harum apa?" Christina mulai gugup, apakah ini sindiran?
Randika ngedipkan matanya, dia nghampiri Christina dan berkata padanya. "Tentu saja ini"
Sebelum nyelesaikan kata-katanya, Randika luk pinggang Christina dan berkata padanya sambil tersenyum. "Tentu saja ini adalah bau badanmu."
"Sangat harum!" Randika narik napas di leher Christina dan rasa layang.
"Hentikan!" Christina malingkan wajahnya dan ndorong pelan Randika.
"Biarkan aku nciumnya." Randika masih maksa.
Dengan wajah rah, Christina berbisik di telinga Randika. "Mamaku ada di bawah."
Randika lalu tersenyum padanya. "Mamamu nyuruh aku masuk ke kamarmu, kalau dilihat dari sifatnya itu, dia nyuruhku untuk mberinya cucu sebelum masakannya jadi."
Wajah Randika benar-benar serius sedangkan wajah Christina sudah rah padam. ngingat sifat ibunya terhadap Randika, Christina tidak bisa mbantahnya sama sekali. Kehabisan ide, Christina hanya bisa ngubah topik. "Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumah keluargaku?"
"Kebetulan saja." Randika lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Ayu.
Ekspresi Christina benar-benar buruk ketika ndengar cerita ini. "Dia manggil ibuku tua bangka? Kurang ajar sekali! Kita harus laporkan kejadian ini ke polisi."
Randika lihat Christina yang sudah gang HP miliknya dan berniat untuk manggil polisi. "Aku sudah nghubungi kenalanku di kepolisian, seharusnya orang itu sudah tertangkap."
"Omong-omong." Randika luk Christina dari belakang. "Apakah kamu rindukanku akhir-akhir ini?"
"Rahasia." Sebagai perempuan, Christina tidak mau ngakuinya. Sejujurnya dia sangat rindukan Randika dan sekarang setelah dipeluk oleh Randika, dia tidak ingin berpisah dengannya.
"Rahasia?" Randika mbelai pipi Christina.
"Kalau kamu bagaimana? Apa kamu rindukanku?" Kata Christina dengan wajah serius. Sejujurnya, Randika sibuk dengan masalah Shadow dan Bulan Kegelapan sehingga dia lupa dengan Christina.
"Tentu saja, tidak ada satu detik pun aku lupakan dirimu." Kata Randika sambil ncium Christina dan raba dadanya.
Randika miliki keberanian untuk bertindak sedangkan Christina ragu-ragu karena ibunya ada di dapur.
"Ran jangan, mama ada di bawah." skipun Christina nolak, bibirnya seakan tidak mau lepas dari bibir Randika. Dia juga tidak larang Randika untuk njelajahi dadanya, justru rangsangan yang diberikan Randika mbuatnya tergila-gila.
ndengar hal ini, Randika tertawa dan juga tidak berani maksa. skipun dia disuruh masuk oleh ibunya untuk mberinya cucu, keputusan akhir tetap ada di tangan Christina. Randika tidak ingin berhubungan badan apabila pihak lain lakukannya dengan setengah hati.
"Kalau begitu, ceritakan hari-harimu." Kata Randika sambil nggandeng tangan Christina. Randika kemudian mangku Christina di kursi.
Di saat Christina bercerita, Randika dapat rasakan pantat Christina yang nempel di pahanya itu dengan sangat jelas. Dia harus ngerahkan seluruh energinya untuk larang tangannya untuk remasnya.
"Kamu dari mana saja akhir-akhir ini, aku tidak pernah bisa nemukanmu." Christina nikmati tangan Randika yang mbelai rambutnya dari belakang, perasaan hangat ini hanya bisa diberikan oleh Randika.
"Aku ada pekerjaan di luar kota selama sebulan, waktu itu aku buru-buru jadi aku tidak sempat ngabarimu." Dari mbelai rambut, Randika mulai nurunkan tangannya dan nuju pantatnya.
rasakan tangan Randika, Christina sama sekali tidak lawan. Justru dia terlihat nikmatinya!
Karena Christina adalah seorang guru, dia harus mpertahankan citranya di luar rumah. Sedangkan di rumah, dia bebas berekspresi apa pun. Terlebih setelah Randika nyelamatkan dirinya, sifat Christina pada Randika berubah drastis!
Setelah kejadian itu, Christina benar-benar seperti seorang gadis ketika reka berdua. Bahkan ketika reka berdua awal kali bertemu, Christina akan mbentaknya apabila Randika jika mbuat lelucon sum. Sekarang, tangan Randika sudah berenang-renang di tubuh Christina dan dia sama sekali tidak lawan!
Christina berbeda dengan Inggrid, Inggrid rlukan waktu yang sangat lama sebelum akhirnya hatinya yang dingin itu terbuka untuk dirinya.
Christina lalu nceritakan kehidupan sekolahnya, sedangkan Randika sibuk rasakan keempukan pantatnya itu jadi dia hanya pura-pura ndengar.
Untuk sesaat, tiba-tiba suasana kamar ini njadi hening. Tetapi tangan Randika sama sekali tidak berhenti bekerja, tangannya berusaha masuk ke dalam celana milik Christina.
"Jangan!" Christina kembali ncegah Randika untuk berbuat lebih, dia benar-benar khawatir dengan keberadaan ibunya.
"Jangan khawatir, aku akan pelan-pelan." Kata Randika dengan suara pelan, dia ingin remas pantat itu secara langsung. Dan tentu saja, sensasinya benar-benar beda!
Namun, nafsu Randika tidak cukup terpuaskan. Perlahan, tangannya itu mulai gang paha Christina.
"Kenapa kamu makai celana panjang di rumah?" Celana yang dipakai Christina ini nutup kelembutan paha yang dimilikinya.
Ketika Randika ingin mbuka celana Christina, tiba-tiba ada HP bunyi. Dalam sekejap, Christina berdiri dan ngambil HP miliknya.
Ketika Christina sibuk dengan teleponnya, Randika mperhatikan sekelilingnya. Namun, dia tidak dapat nemukan sesuatu yang narik sampai matanya tertuju pada suatu lemari. Sepertinya ada sesuatu yang ncungul dari dalam.
"Baiklah, aku akan ke sana." Christina masih sibuk dengan teleponnya.
"Baiklah, aku akan bawa berkas-berkasnya juga." Setelah beberapa saat, Christina nutup panggilannya dan noleh ke arah Randika. Dia lihat Randika yang sedang gang sebuah pakaian dalam.
Dalam sekejap, wajah Christina njadi rah seperti tomat. Pakaian dalam yang dibawa Randika itu adalah pakaian dalam yang barusan dia pakai.
Randika nerawang celana dalam tersebut dan rasa terpukau. Terlebih, hidungnya rasakan sesuatu yang harum nempel di bagian tengah-tengah.
Reviews
All reviews (0)