Pada saat ini, Ayu natap tajam pada pria berbadan tinggi itu sambil terus marah-marah.
"Kalian lancang sekali ras orang-orang." Ayu benar-benar marah. Ketika dirinya pertama kali masuk ke dalam salon, dia milih paket bernilai 350 ribu. Ketika dia hendak mbayar, tagihannya sudah lebih dari 3,5 juta. Bagaimana mungkin dia tidak marah?
"Ibu ini bawel ya, cepat bayar atau nanti malam ibu tidak akan bisa berkumpul dengan keluargamu lagi." Pria itu ndengus dingin dan ngepalkan tangannya. Belum pernah ada pelanggan yang lolos dari cengkeramannya. Bahkan jika dia harus nghajar ibu tua satu ini, malam ini dia akan berfoya-foya dengan uang yang diperasnya ini.
Pria besar itu natap bengis Ayu dan berkata dengan wajah serius. "Aku heran kenapa tua bangka sepertimu tidak mau mbayar, bukankah aku mbuatmu terlihat cantik dan muda? Kalau cuma 350 ribu mangnya bisa mbuatmu seperti itu?"
Ketika ndengar kata-kata kasar itu, Ayu semakin marah. Tetapi kata-kata pria itu benar, dia sudah terlanjur nerima jasanya dan salon ini juga bisa makai alasan bahwa dirinya itu tidak mperhatikan harga atau minta jasa lebih ketika di dalam.
Orang-orang yang lihat ini sudah jijik dengan kata-kata pria itu tadi, bisa-bisanya dia nghalalkan cara seperti itu untuk ncari uang. Tetapi reka semua tidak berani lawan, bisa-bisa reka terseret ke dalam masalah ini. Belum lagi kalau pihak salon manggil jasa tukang pukul reka, siapa mangnya yang berani mbela orang tidak dikenal?
Oleh karena itu, reka hanya bisa nonton dan berdoa yang terbaik untuk Ayu.
"Jika saja orang tuamu itu masih ada, reka pasti sudah malu mpunyai anak sepertimu."
Kata-kata itu berasal dari barisan paling depan, semua orang terkejut termasuk pria dari salon tersebut.
Kata-kata itu nusuk hati namun tepat, tidak ada kata yang lebih tepat untuk nggambarkan kejadian ini.
Ayu sangat terkejut ketika lihat Randika yang berdiri di paling depan itu, dia rasa senang.
Nak Dika! Sekarang kamu dalam masalah karena nantuku telah datang."
Randika berjalan nghampiri Ayu dengan berjalan sok keren dan ekspresi yang serius, tetapi ndengar kata 'nantu' Randika hampir terjatuh. Sialan, sejak kapan dia njadi nantunya?
Sepertinya apa pun yang terjadi, Ayu sudah nganggap Randika sebagai nantunya.
Pria dari Grand Majestic Salon itu ndengus dingin ketika lihat Randika. Darahnya ndidih ketika dia berkata pada Randika. "Bocah, kau ingin mati hari ini? Apa kau tidak lihat bahwa rtuamu itu tidak mau mbayar jasaku?"
"mbayar jasamu? Jelas-jelas kau itu rasnya, orang tuamu pasti sangat malu ketika lihat anaknya ras penatua." Kata Randika dengan wajah serius. Orang-orang di belakangnya sudah ngangguk kagum pada Randika, akhirnya ada orang yang berani lawan salon tersebut.
"Kak Bambang, serahkan orang itu pada kita." Di sampingnya kedua bawahannya itu ikut marah ketika bosnya diejek seperti itu.
Siapa yang bisa tetap sabar lihat bos yang njadi panutannya diejek seperti itu?
Bambang ngangguk, tatapan matanya masih terlihat tajam. Kedua bawahannya itu ngepalkan tangan reka, tersenyum dan nghampiri Randika. Akhirnya setelah sekian lama reka bisa nghajar orang lagi.
Keduanya raung dan nerjang ke arah Randika, orang-orang yang lihat ini sudah nutup mata reka. Apa pemuda berani itu akan baik-baik saja?
"ARGH!" ndadak, suara orang kesakitan dapat terdengar dengan jelas. Serangan tinju keduanya itu dapat dengan mudah ditangkap oleh Randika. Randika lalu lintir tangan reka berdua hingga ringkuk kesakitan sambil berlutut.
Keduanya berteriak kesakitan, tangan reka serasa akan patah kapan saja. Randika lalu mbanting reka di tanah.
"Teruskan!"
"Hebat!"
Orang-orang di belakangnya sudah bersorak untuk Randika, sedangkan Ayu makin puas dengan nantunya ini. mang anaknya itu tidak salah milih, nantunya ini sudah pintar, baik, sabar, kuat pula! Dia sekarang bisa tenang nyerahkan anaknya pada pria semacam Randika.
Bambang ngangguk ketika lihat kedua bawahannya itu terkapar. "Sudah lama aku tidak nemukan lawan sepertimu."
Namun sebelum kata-kata itu selesai, sosok Randika tiba-tiba nghilang. Randika sudah berada di belakangnya dan nendangnya dengan keras.
Serangannya benar-benar sederhana tetapi ngandung kekuatan yang besar, Bambang yang besar itu akhirnya tumbang dan terkapar di tanah. Randika lalu langkahi tubuhnya itu dan nghampiri Ayu.
Para penonton itu sudah terkagum-kagum lihat Bambang yang tinggi besar itu tumbang dalam sekali serang. Randika lalu nggandeng tangan Ayu dan ngajaknya pergi dari situ.
"Luar biasa!"
Orang-orang sudah bersorak karena keadilan sudah diberikan pada pria busuk itu. reka natap kagum pada sosok Randika yang mulai nghilang dari pandangan reka. Orang itu pasti utusan Surga!
Di sisi lain, Randika nemani 'ibu rtuanya' ini berjalan dengan hati yang terasa gelisah.
Kenapa? Karena Ayu natapnya dari atas ke bawah dan ngangguk terus-nerus.
"Tante, apa tante baik-baik saja?" Tanya Randika. "Kalau tidak apa-apa, aku ada urusan."
Randika benar-benar tidak berdaya terhadap perempuan tua satu ini. Terutama dengan rentetan pertanyaan yang sama banyaknya dengan bintang di langit, dia harus kabur sebelum hal itu terjadi!
"Aduh Dika, tante harus berterima kasih sama kamu karena pertolonganmu. Tetapi kenapa kamu buru-buru pergi seperti itu, tante harus mberimu hadiah terlebih dahulu." Ayu ingin ngenal nantunya ini lebih jauh.
"Aduh tante maaf, aku sebenarnya ada kerjaan."
Ayu langsung nangkap tangan Randika dan berkata padanya. "Biarkan tante berterima kasih sama kamu. Kamu juga sudah janji makan malam di rumah tante kan? Hari ini tante nagih janjimu dan kebetulan Tintin hari ini makan di rumah."
"Tante, malam ini aku sudah ada janji." Randika tidak berdaya ketika diseret oleh Ayu. Terakhir kali dia makan di rumah keluarga Christina, pertanyaan-pertanyaan njerumus ke pernikahan tidak bisa berhenti ditanyakan oleh ibu satu ini. Bahkan Randika tidak sempat makan hanya untuk mbalas pertanyaan.
"Oh benarkah? Sudah batalkan saja, malam ini kamu akan makan di rumahnya tante." Ayu tersenyum dan kembali nyeret Randika ke rumahnya.
"."
Sepertinya Randika ditakdirkan untuk makan malam bersama Christina dan ibunya.
lihat Randika yang setuju, Ayu semakin bersemangat. "Kali ini bicarakan masa depanmu dengan Tintin dengan baik ya."
Randika hanya bisa tersenyum pahit dan nganggukan kepalanya. Kata-katanya itu sangat mudah dipahami, ibu ini ingin dirinya segera nikah.
Ah. Kenapa ibu ini sangat ingin njadikan dirinya nantunya?
Tidak lama kemudian, Randika dan Ayu akhirnya sampai di depan rumah.
"Ma, kok lama sekali?"
Sesudahnya pintu rumah dibuka, suara Christina dari dalam bisa terdengar. Kali ini, Christina yang makai tank top putih dan celana pendek keluar nyambut ibunya yang baru datang.
lihat anaknya yang berpakaian minim seperti itu, Ayu geleng-geleng. Sedangkan Randika tidak bisa berhenti lototinya.
Tubuh Christina benar-benar kelas atas, karena tidak pakai beha, dadanya itu seakan-akan mau tumpah dari sisi baju. Terlebih lagi, celana pendek yang dipakainya sudah hampir sama dengan celana dalam. Kakinya yang panjang dan mulus itu benar-benar nuhi bola mata Randika.
Christina terkejut ketika lihat Randika datang bersama ibunya, dia segera berlari ke kamarnya sambil nutupi tubuhnya.
malukan, benar-benar malukan! Karena hari ini dia libur, Christina baru bangun tidur jadi dia tidak makai riasan dan rambutnya masih berantakan. Terlebih lagi, dia makai baju minim seperti ini di hadapan Randika!
Wajah Christina benar-benar rah.
Reviews
All reviews (0)