Randika kemudian ngambil kembali lauk berwarna hitam yang seharusnya telur dadar itu.
Ketika dia nggigitnya, rasa asin yang begitu luar biasa langsung nggelegar, terlebih masih ada garam yang tidak larut dalam telur.
ASIN!
Benar-benar asin!
Apa Inggrid makai 1 kg garam?
Randika hampir saja muntah, namun ketika dia ngangkat kepalanya, dia lihat wajah Inggrid yang sedang tersenyum dan bahagia.
GLEK!
Dengan susah Randika nelannya, setelah itu dia langsung minum susu satu gelas dalam satu kali teguk.
Syukurlah susu yang diminumnya itu tidak diapa-apakan oleh Inggrid, kalau tidak dia sudah pasti mati sekarang.
lihat Randika makan makanannya, Inggrid tersenyum. "Makannya jangan cepat-cepat begitu, tersedak kan jadinya? Kalau kamu masih lapar, aku akan buatkan lagi kok."
ndengar kata-kata ini, keringat dingin mulai mbanjiri punggung Randika. Dia lalu tersenyum pahit. "Sayang, nanti malam kita makan apa?"
Inggrid berpikir sebentar lalu dia tersenyum. "Kamu mau apa? Tetapi kita harus belanja dulu ya, aku akan masak beberapa makanan buat kamu. Akhir-akhir ini aku semakin nyukai masak, aku rasa tiap hari kemampuanku itu bertambah."
Setelah berkata demikian, Inggrid natap Randika yang mulutnya nganga. Apakah ada yang salah dengan kata-katanya barusan?
"Sayang, kamu kenapa?" Wajah cantik Inggrid terlihat bingung.
Randika langsung njawab. "Sayang, aku tidak mau mbuat capek gara-gara masak untukku. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dan nonton film? Kita juga bisa ke mall dan berbelanja, aku juga dengar kebun binatang kota kita ini baru kedatangan singa dari Afrika yang gagah. Nanti malam kita juga bisa makan di restoran wah yang romantis."
Randika dengan cepat ngalihkan topik pembicaraan, apa pun yang terjadi dia tidak ingin makan makanan seperti ini lagi.
"Kamu tidak usah khawatir, aku suka masak untuk orang spesial di hatiku." Inggrid tersenyum. Inggrid dan Hannah benar-benar berbeda. Hannah suka bermain sedangkan Inggrid lebih suka di rumah dan nyibukkan diri.
"Kalau begitu, aku akan nemanimu belanja nanti. Mungkin di tengah-tengah itu kita juga bisa beberapa cemilan." Randika sudah tidak bisa ngelak lagi, apalagi hatinya itu luluh ketika ndengar Inggrid senang masak untuk orang yang dicintainya.
Setelah nganggukan kepalanya, Inggrid hendak ngambil sarapan untuknya. Namun, dia nyadari bahwa sudah tidak ada makanan tersisa di ja makan. Dia natap tajam Randika yang sedang lahap seluruh lauk yang dibuatnya. Mulut suaminya itu ngunyah dengan cepat, terlihat rakus sekali.
"Sayang, jika kamu masih lapar aku akan masakkannya untukmu lagi. Lain kali jangan sampai makan bagianku ya." Kata Inggrid sambil cemberut, tetapi hatinya sendiri masih senang lihat Randika nyukai masakannya.
Randika ngangkat kepalanya lalu maksakan diri untuk tersenyum. Namun, sudut matanya sudah neteskan air mata dan pahanya sudah rah karena dicubit olehnya. Dia harus nanggung semua penderitaan ini demi Inggrid.
Jika Inggrid sampai ncicipi makanannya, bukankah itu akan nghancurkan hatinya?
Oleh karena itu, untuk mbuat Inggrid percaya bahwa masakannya enak, Randika hanya bisa nahan penderitaan ini seorang diri. Tentu saja, segala macam minuman yang ada di ja telah ludes terminum.
"Sayang, bagaimana kalau kita nyari makan buatmu ketika kita pergi nanti?" Kata Randika.
Inggrid ngangguk dan berjalan ke atas untuk berganti baju.
Randika sendiri setelah duduk sebentar, dia juga ganti baju dan nunggu Inggrid di bawah. Ketika istrinya itu turun, dia benar-benar terpukau.
Inggrid yang terkenal akan kesan dewasanya itu, sekarang makai dress one piece berwarna putih dengan topi pantai dan sepatu sandal. Kesannya yang dewasa itu berubah njadi terlihat segar, benar-benar berbeda dengan image yang dia miliki sehari-hari.
Baju mang nonjolkan kecantikan seseorang, tetapi untuk perempuan-perempuan cantik teori ini sama sekali tidak berlaku. Mau baju seperti apa pun yang reka pakai, reka tetap terlihat cantik.
"Benar-benar cantik." Randika natap Inggrid yang nuruni tangga. Tanpa berkata apa-apa, Randika luknya dan mberinya ciuman yang sangat panjang.
Kemudian setelah keduanya selesai berciuman, reka bergandengan tangan dan keluar dari rumah. Aksi ini seakan-akan nunjukan dunia bahwa perempuan tercantik di kota Cendrawasih ini telah njadi miliknya.
Sepanjang jalan, keduanya tertawa dan terlihat bahagia. Ketika reka lihat orang ngemis, Randika bahkan mberikannya 200 ratus ribu tanpa pikir panjang.
Tidak lama kemudian, reka tiba di suatu pasar modern.
Di pasar ini, bagian sayur, daging, ikan mpunyai areanya sendiri-sendiri. Tidak hanya itu, kebersihan tiap area juga sangat dijaga.
Banyak orang yang berbelanja untuk nyiapkan makan siang dan makan malam reka. Bisa dikatakan bahwa salah satu mon yang berharga dari sebuah keluarga adalah makan bersama. Khususnya makan malam, mon di mana seluruh keluarga berkumpul setelah seharian bekerja ataupun bersekolah. Tidak ada yang bisa ngalahkan makanan enak dan senyuman keluarga saat nyantapnya bersama.
Randika mperhatikan sekelilingnya, sepertinya kebanyakan orang yang ada adalah ibu rumah tangga dan reka sudah cukup berumur semua. Sepertinya tidak ada perempuan cantik yang bisa njadi mangsanya.
Inggrid pertama-tama pergi nuju area sayur. lihat-lihat sayuran yang ada, Inggrid ragu untuk mbeli apa. lihat keraguan itu, penjual sayur yang sudah berpuluh-puluh tahun berjualan ini mulai masarkan barangnya. "Bagaimana kalau tauge ini? Kamu bisa numisnya atau kamu bisa masaknya dengan daging sapi. Ibu yakin pasangan muda kalian ingin segera mpunyai anak, jadi tauge ini sangat cocok untuk kalian."
Inggrid tersenyum lebar. "Baiklah, aku ambil tauge ini."
"Untuk istri secantik kamu, kamu juga harus njaga kulitmu itu jadi ibu sarankan untuk makan brokoli yang bagus untuk kulit ini."
Wajah Inggrid tersipu malu, dia nganggukan kepalanya. "Kalau begitu aku ambil juga brokolinya."
"Terus labu ini, kamu juga harus njaga tulangmu itu sejak dini sehingga tua nanti kamu tidak mbungkuk kayak ibu."
Inggrid ngangguk. "Baiklah aku juga ambil labunya."
"Terus untuk suamimu itu, ibu sarankan kamu untuk mbeli .. "
Randika sudah geleng-geleng dengan Inggrid, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Inggrid mudah percaya begitu. Di sisi lain, dia juga ngagumi kehebatan ibu-ibu penjual sayur itu. Dia mampu berkata manis dan nekankan bahwa semua jualannya adalah demi kelanggengan hubungannya.
Tapi Inggrid tidak bisa sepenuhnya disalahkan, kemampuan ibu itu benar-benar luar biasa!
Di bawah serangan ibu-ibu itu, Randika sekarang harus mbawa dua kresek berat berisikan sayur-sayuran.
Ibu penjual sayur itu senang ketika lihat kedua pasangan ini, dia lalu tersenyum pada Inggrid. "Terima kasih telah belanja di sini, aku berharap kita bisa bertemu lagi."
Keduanya lalu pergi dan nuju tempat ikan.
"Dipilih, dipilih, ikan-ikan masih pada segar bos."
"Ah! Kakak cantik yang di situ, apa ada yang bisa saya bantu? Coba lihat salmonnya ini dulu, benar-benar segar!"
"Sepertinya salmonnya ini terlihat enak, aku ambil potongan ini." Kata Inggrid.
Randika terlihat bingung, dia lalu bertanya. "Kenapa beli ikan yang mahal? Kenapa tidak beli ikan tongkol saja? Lebih murah."
"Tapi itu kan untuk kamu" Inggrid natap Randika dengan tatapan penuh makna. Ketika dia ingin njelaskannya, Inggrid tidak bisa nahan malunya. Randika mang tidak peka dengan hal-hal seperti ini. Bukankah reka sudah main terlalu banyak kemarin dan hari ini? Apa vitalitasnya itu tidak bermasalah?
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Randika ngerti kenapa Inggrid berusaha mbeli salmon.
Namun setelah lihat perbandingan harganya, Randika berkata pada Inggrid. "Tetapi kamu tidak pernah masak ikan salmon sebelumnya."
"Tidak masalah, aku akan ncarinya di internet nanti." Kata Inggrid sambil tersenyum.
ndengar ini, Randika kembali berpikir. Sepertinya dia dijadikan tikus percobaan lagi oleh istrinya.
ngingat rasa telur dadar tadi pagi, dia tidak bisa mbayangkan bagaimana rasanya ikan yang akan dimakannya nanti itu.
Tidak, dia tidak mau rasakannya lagi!
Kepala Randika berputar dengan cepat, setelah beberapa saat matanya terlihat berbinar-binar.
Karena dia tidak bisa nghilangkan rasa antusias Inggrid untuk masak, bukankah solusinya adalah mbantunya secara diam-diam dan ngawasi rasa masakannya itu dari jarak dekat? Dengan begitu dia bisa makan dengan tenang dan tidak mbuat Inggrid curiga.
Randika rasa dirinya jenius, tetapi dia sepertinya lupa bahwa dia juga tidak bisa masak. Tetapi, setidaknya dia tahu dari sebuah rasa dan masakan itu masih ntah atau tidak.
Setelah ngambil potongan ikan salmon itu, keduanya nuju area daging. Di sana reka mbeli beberapa ayam, daging iga dll.
Sekarang yang tersisa adalah bahan-bahan dapur, Inggrid mulai ncari-cari. Sedangkan Randika, kedua tangannya sudah penuh oleh bahan makanan.
Setelah mbeli bahan-bahan dapur seperti kecap, garam dll, reka akhirnya pulang ke rumah naik taksi karena barang bawaannya terlalu berat.
Sekarang waktu nunjukan pukul 12 siang, wajah Inggrid sudah semangat. "Sayang, aku masak dulu ya."
"Ah! Biarkan aku mbantumu, kamu tidak mungkin bisa masak semua ini sendirian."
Randika dengan cepat nawarkan bantuannya, dia tidak bisa mbiarkan Inggrid masak sendirian lagi. Kalau tidak, makan apa dia untuk siang ini?
Demi perutnya dan hati istrinya, Randika harus ikut masak.
Inggrid ngangguk dan naruh bahan-bahan di dapur. Ketika reka bersiap untuk masak, Inggrid tiba-tiba berkata pada Randika. "Tunggu sebentar."
Inggrid kemudian naik ke kamarnya dan turun mbawa sebuah laptop.
Wajah Randika terlihat bingung. "Sayang, kenapa kamu bawa laptop?"
Wajah Inggrid terlihat malu. "Aku ingin lihat caranya motong ayam seperti apa."
".."
Randika nghela napas di dalam hatinya. Bahkan motong ayam saja istrinya ini belum pernah, sepertinya pertempuran ini akan berjalan dengan lama.
Reviews
All reviews (0)