Font Size
15px

Inggrid terdiam, apakah ini akan njadi akhir dari kisah cintanya?

Tidak lama kemudian, suara jeritan dari arah bawah sudah tidak dapat didengar. Shadow berjalan nuju belakangnya Inggrid sambil natap tajam ke arah tangga dan gang pisaunya di leher Inggrid.

"Apa kamu pikir dia datang untuk nyelematkanmu? Sayang sekali, dia datang untuk lihatmu mati." Shadow natap tajam ke arah tangga. Sesampainya Randika di lantai ini, dia akan nggorok leher Inggrid. Bahkan lawannya seorang Ares sekalipun, dia tidak mungkin bisa ncegahnya.

Inggrid natap ke depan dan nutup matanya secara perlahan, mungkin kisah cintanya ini mang sudah berada di tahap akhir.

Namun, wajah dingin Shadow itu ngerut. Sudah senit berlalu sejak suara dari bawah itu berhenti, tetapi kenapa tidak ada pergerakan sama sekali?

nurut analisanya, Ares yang dipenuhi oleh api kebencian dan kemarahan itu sudah pasti berlari nuju lantai atas demi nyelamatkan perempuannya. Tetapi, kenapa tidak ada pergerakan sama sekali?

Suasana ruangan njadi aneh, skipun Shadow masih di posisi yang diunggulkan, rasa seperti ini mbuatnya tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini berasal dari perjalanannya bersama Randika bertahun-tahun sebelumnya, dia sangat mahami betapa ngerikannya kekuatan Randika.

Pada saat ini, Shadow masih natap ke depan sambil berkeringat dingin, namun tiba-tiba ada suara yang datang dari arah belakangnya. "Maaf mbuatmu nunggu terlalu lama."

Ketika ndengar suara itu berasal dari belakang, Inggrid, yang sudah mbuka matanya itu, terlihat senang. Sedangkan punggung Shadow sudah basah oleh keringat.

Mustahil, bagaimana bisa Randika berada di belakangnya?

Tanpa banyak berpikir, Shadow respon dengan cepat. Pisau di tangannya sudah ngarah pada Randika. Serangan ndadak Randika ini mbuat Shadow panik dan lenceng dari rencana awalnya, dia sudah lupakan Inggrid yang ada di depannya. Lagipula, buat apa dia berhasil mbunuh Inggrid tetapi nyawanya sudah layang juga?

Serangan pisau Shadow manglah cepat, tetapi semua itu sudah terlambat.

Di hadapan Ares sang Dewa Perang, tidak ada serangan yang bisa mbunuhnya!

Setelah ngelak dari serangan Shadow, Randika mukulnya, dengan tangan yang sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya, dan ngenai dada Shadow. Pukulan keras itu mbuat Shadow muntah darah dan layang nuju tembok. Tetapi, serangan Randika tidak berhenti begitu saja. Ketika Shadow natap tembok, Randika sudah berada di hadapannya dan nangkap pergelangan tangannya. Dengan cepat, Randika lintir tangan Shadow.

Jeritan tragis terdengar dari mulut Shadow, rasa sakit dari tangannya itu mbuatnya tidak bisa berhenti njerit; dia rasa seakan-akan tulangnya sudah remuk.

"ARGH!"

Ketika Shadow masih njerit, dia nerima sebuah pukulan lagi. Pukulan keras itu mbuat Shadow terbenam di lantai dan mbuat retakan yang besar. Darah sudah tidak bisa berhenti ngucur dari mulutnya, sepertinya organ dalamnya yang perlahan pulih itu kembali terluka.

"Kamu bisa lari sekali, tetapi tidak ada kesempatan berikutnya." Randika berdiri di hadapan Shadow dengan wajah yang dingin, kengerian yang dimiliki Shadow sudah lama nuhi wajahnya.

Bagaimana bisa Randika nyerangnya dari belakang?

Ketika Shadow ngangkat kepalanya, dia lihat sebuah lubang di tembok yang belum selesai dibangun. Dari situ, Ares pasti datang dari situ!

lihat wajah Shadow yang masih nunjukan perlawanan, Randika ngangkat kakinya untuk matahkan kedua kaki Shadow. Tetapi, dia rasakan tatapan mata Inggrid.

Ketika Randika ngangkat kakinya, hati Inggrid sudah ngepal. Tubuhnya getar dan keringat dingin tidak bisa berhenti ngalir, kata-kata Shadow tentang Randika telah mpengaruhi dirinya.

Siapapun yang ndengar cerita Shadow ngenai Randika pasti rasakan rasa tidak percaya dan nganggapnya berlebihan. Namun, setelah lihat dengan mata kepalanya sendiri, Inggrid mulai ragu.

Apakah Randika benar-benar seorang iblis?

skipun Inggrid tidak mau mpercayainya, dia tidak bisa lepaskan pertanyaan itu dari kepalanya.

Shadow terbatuk dan ngeluarkan seteguk darah segar, wajahnya masih sempat tersenyum. "Sepertinya aku salah perhitungan, aku benar-benar rehkanmu."

Randika mbalas. "Dari awal kamu tidak punya kesempatan untuk nang."

Kemudian, Randika ngepalkan tinjunya dan mukul Shadow dengan tinju yang berisikan tenaga dalam!

Tenaga dalam Randika ngalir deras ke Shadow lalui tinjunya itu. Kalau diumpamakan, sekarang sedang terjadi ledakan nuklir di tubuh Shadow. Seluruh organ, sel tubuh, otot Shadow terkena oleh tenaga dalam Randika. Darah sudah ngalir dari seluruh pori-pori kulitnya dan organ dalamnya mulai gagal berfungsi.

skipun pukulannya ini tidak langsung mbunuhnya, nasib Shadow sudah pasti tamat. Waktunya hanya satu jam sebelum hidupnya berakhir!

Shadow yang kejang-kejang itu akhirnya tenang kembali, wajahnya yang berlumuran darah itu tersenyum. "Kamu tidak mbunuhku hanya karena ada perempuanmu di depanmu? Ares, kamu sudah berubah."

Randika hanya natap dingin pada mayat berjalan bernama Shadow itu. Tidak mbalas kata-kata Shadow, Randika berjalan dan nghampiri Inggrid.

Kali ini Shadow sudah tidak akan bisa ngganggunya lagi. Mulai hari ini, nama Shadow akan tertera di daftar korban Ares sang Dewa Perang.

Takdir seorang pengkhianat adalah kematian!

Tidak ada yang lebih nyakitkan daripada ditusuk dari belakang oleh orang kepercayaan.

natap sosok Randika yang berjalan njauh darinya, sebuah tombol tiba-tiba muncul di tangan Shadow.

"Ares, kamu kira aku tidak bisa mbunuh perempuanmu itu?"

Shadow tertawa keras, kemudian dia nekan tombol di tangannya itu.

Ketika ndengar kata-kata Shadow itu, Randika sudah rasakan firasat buruk. Dan benar saja, setelah tombol itu ditekan, kursi yang ngikat Inggrid itu tiba-tiba bunyi dan lesat dengan cepat nuju sebuah lubang besar di tembok.

"AH!!"

Sepertinya kursi itu didesain khusus untuk luncur dengan cepat apabila tombol aktivasinya ditekan. Karena tombol itu sudah aktif, kursi itu laju dengan cepat nuju bagian bawah gedung!

"Inggrid!"

Randika ngalirkan tenaga dalamnya nuju kakinya, namun kursi itu laju terlalu cepat. Tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara adalah nyelamatkannya di udara. Tanpa ragu, Randika nyusul Inggrid yang sudah terjun bebas itu.

lihat kedua orang itu sudah ninggalkan dirinya, Shadow tertawa.

"Ares, apakah nanti pagi kita akan makan bersama di neraka?"

Sesudahnya berkata demikian, Shadow tidak bisa berhenti terbatuk dan darah terus keluar dari mulutnya.

Shadow berusaha narik napasnya tetapi tidak bisa, sepertinya nyawanya akan berakhir. Lalu dia nekan tombol yang ada di tangannya untuk kedua kalinya.

DUAR!

Tiba-tiba, suara ledakan bisa terdengar dari lantai tempat Shadow berada. Dengan ini juga, Shadow telah ngaktifkan seluruh bom yang berada di tiap lantai. Tidak hanya satu, tetapi berpuluh-puluh ledakan di tiap lantai sudah siap ledak. Dari atas hingga bawah gedung, semua pilar pondasi telah dipasangi oleh bom. Gedung ini hanya butuh satu nit njadi reruntuhan batu.

Ketika Randika terjun bebas nyusul Inggrid, dia dapat rasakan ledakan di lantai Shadow. Tetapi fokusnya kali ini adalah nyelamatkan Inggrid, dia sudah tidak peduli dengan Shadow.

Untungnya saja, Randika jatuh lebih cepat dan dia berhasil nyusul Inggrid yang terikat di kursi. Sepertinya besi-besi yang digunakan Shadow untuk ngikat Inggrid terbuat dari logam khusus, sangat sulit untuk mbukanya!

"Ran, aku rasa semuanya sudah terlambat. Kita akan mati." Inggrid sudah pasrah.

"Bodoh! Jangan ngomong yang tidak-tidak, percayalah padaku!"

Randika masih sibuk berusaha mbuka pengait itu dengan paksa.

Dengan kecepatan dan ketinggian reka ini, sudah tidak ada harapan hidup apabila reka ndarat. Bahkan jika Randika adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, dia sama sekali tidak kemampuan untuk selamat dari kejadian ini. Dia bukanlah makhluk abadi seperti yang ada di novel-novel.

lihat Randika yang masih sibuk berusaha lepaskan dirinya, Inggrid tidak bisa berhenti nangis.

Inggrid awalnya tidak percaya ada orang yang bisa ngisi hatinya yang dingin itu penuh dengan kehangatan. Dia rasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Randika di dalam hidupnya ini.

nggenggam tangan Randika, Inggrid berkata padanya. "Tidak peduli berapa kali aku terlahir kembali, aku akan selalu njadi istrimu."

Randika ndengar kata-kata Inggrid ini sambil neteskan air matanya, dia benar-benar ncintai Inggrid.

Sialan, kenapa susah sekali mbuka kunci ini! Pengait yang ngikat Inggrid tinggal satu yaitu yang berada di pinggang.

"Sepertinya selama pernikahan ini aku belum pernah manggilmu suami, di saat-saat terakhir kita bersama ini, biarkan aku nciummu sekali lagi suamiku." Selesainya itu, Inggrid langsung ncium Randika!

Setelah bersusah payah, Randika berhasil lepaskan semua pengait yang nahan Inggrid. Hatinya benar-benar lega, namun pada saat ini, Inggrid nerjang dirinya dan nciumnya!

Hmm?

Keduanya berciuman disinari oleh sinar rembulan, air mata Inggrid tampak ninggalkan jejak di udara.

Randika sendiri nikmati ciuman ini, tangannya juga mulai bergerak secara otomatis ke dada Inggrid. Eh tapi reka belum selamat!

Semua kejadian ini berlangsung dengan cepat, keduanya sudah berada di lantai 4 dan masih terjun dengan cepat. Jika Randika gagal mperlambat kecepatan reka, bisa dipastikan bahwa reka akan nyusul Shadow ke alam baka.

Randika lepaskan bibir Inggrid dan berkata padanya. "Pegangan!"

Randika lalu ncopot sabuk celananya dan ngikatnya pada pegangan kursi yang telah dia patahkan. Dengan tenaga penuh, dia lemparnya ke arah gedung di seberang. Keduanya lalu lesat dengan cepat nuju gedung yang diseberang dan pegangan kursi itu nancap di tembok.

Dengan tenaga dalamnya yang ngalir di kakinya, Randika berhasil ncegah dirinya natap tembok dengan keras. Keduanya yang sebelumnya jatuh dengan cepat itu sekarang bergelantungan di udara.

Kejadian kali ini benar-benar nyaris mbunuhnya, jika tidak ada kursi itu, maka reka sudah pasti tamat.

Inggrid yang luk erat leher Randika sambil nutup matanya itu berkata padanya. "Sayang, apa kita selamat?"

"Hahaha ternyata istriku bisa bodoh juga kadang-kadang ya, tentu saja kita selamat, kalau tidak mana mungkin kamu bisa lihat wajahku yang tampan ini bukan?"

Jika tangan Randika tidak sibuk, mungkin dia sudah nyentil dahi Inggrid.

Inggrid mbuka matanya dan sadar bahwa reka bergelantungan di sebuah besi yang nancap di tembok.

Kita masih hidup?

Air mata Inggrid tidak bisa berhenti ngalir, hatinya rasa lega masih bisa hidup di kehidupan ini.

Randika yang rasakan air mata itu tertawa. "Boleh aku rasakan ciuman tadi itu sekali lagi?"

Ketika ndengarnya, Inggrid tersipu malu dan berbisik padanya. "Akan kuberikan segalanya ketika kita pulang nanti."

Namun pada saat ini, ledakan dari tiap lantai mulai terdengar. skipun reka berada di gedung seberang, gedung berlantai 20 yang mulai roboh itu benar-benar ngandung bahaya yang besar. Barang-barang seperti besi, pecahan tembok, alat-alat konstruksi lainnya berhamburan ke mana-mana. Randika dan Inggrid masih belum aman dari bahaya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 274: Aku Akan Selalu Menjadi Istrimu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.