Font Size
15px

Randika lalu berjalan nuju lantai 2 yang lantainya sudah bolong tersebut. Keadaan kembali njadi sunyi senyap. Mayat-mayat yang tersisa dari bom bunuh diri itu berceceran di lantai, benar-benar pemandangan yang ngerikan.

Randika tidak dulikan reka lalu berjalan naik kembali.

Gedung ini berlantai 20, benar-benar tinggi. Ketika Randika berjalan naiki tangga, HP miliknya tiba-tiba bunyi.

"Kau mang layak nyandang nama Ares." Suara dingin Shadow dapat terdengar dengan jelas. "Tetapi jangan kira permainan kita cuma segitu saja, permainan ini masih jauh dari kata selesai."

Randika tidak mbalas sama sekali, dia dengan cepat nutup teleponnya. Dia sudah bertekad mburu Shadow di mana pun dia berada, tidak perlu baginya untuk ndengarkan suaranya yang njengkelkan itu.

Di lantai paling atas, Shadow natap HPnya yang panggilannya terputus itu. Tatapan matanya ngandung kebencian yang amat sangat dalam.

"Tuanku sepertinya masih marah." Shadow tertawa dan noleh ke arah Inggrid, yang terikat di sebuah kursi.

Pada saat ini, Inggrid terikat mulai dari pinggang, kaki, dada dan kedua tangannya. Kursi yang diduduki Inggrid itu rupakan kursi listrik yang biasanya digunakan untuk pidana yang divonis mati, jadi mustahil untuk Inggrid bisa bebas dengan sendirinya.

Inggrid, yang sudah lama tersadarkan kembali, natap sosok Shadow yang sedang tertawa. Wajahnya benar-benar ngerikan, penuh dengan luka.

Orang yang nculiknya itu benar-benar gila, dia masang bom pada bawahannya dan sama sekali tidak takut bom-bom tersebut akan nghancurkan pondasi gedung ini. Dan semua itu dia lakukan hanya untuk mbunuh Randika!

"Aku heran, kenapa dia rela mbuang nyawanya demi nyelamatkanmu? Apa itu yang namanya cinta?" Shadow tersenyum ngejek. Ketika dia lihat wajah Inggrid, hatinya njadi senang. Semakin nderita lawannya, semakin senang hatinya.

Inggrid berusaha lepaskan diri tetapi dia nyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa bergerak.

Percuma kamu ncoba untuk kabur." Di tangan Shadow tiba-tiba muncul sebuah pisau. "Lihat aku."

Inggrid kemudian ngangkat kepalanya dan lihat senyuman jahat milik Shadow. "Sesampainya Ares di lantai ini, aku akan nggorok lehermu dengan pisau ini dan kamu akan mati di hadapannya."

Hati Inggrid ngepal, dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang dia ketahui adalah dirinya digunakan sebagai umpan untuk mbuat Randika datang ke gedung ini.

"Bukannya kamu seharusnya mbunuh Ares duluan?" Tanya Inggrid.

Shadow lototi Inggrid kemudian dia berbalik badan dan natap ke langit. Angin malam yang dingin nerpa wajahnya dan kain yang ada di lehernya. Namun tiba-tiba, kain itu terangkat dan nunjukan leher yang tidak ada dagingnya!

Pada hari itu, di saat dirinya tenggelam di laut, Shadow lewati cengkeraman maut itu dengan susah payah. Dia tidak punya cara lain untuk lari dari genggaman Randika di kapal dan milih pilihan yang paling berisiko yaitu pura-pura mati digigit oleh hiu. Namun, semua itu bukanlah akting dan Shadow harus mbayarnya dengan mahal. Dia tergigit oleh beberapa hiu dan kehilangan beberapa daging tubuhnya, organ di dalam tubuhnya juga terluka parah.

Untungnya saja, di saat-saat hidupnya hampir layang, dia berhasil nyusul ke Indonesia dan minum darah boneka ginseng. Hal itu mbuat tubuhnya mulai sembuh secara perlahan.

"Tidak, aku ingin mbuatnya gila terlebih dahulu. Aku ingin lihat dia hanya bisa luk perempuan yang dicintainya mati di pelukannya. Aku ingin lihat dia nderita!" Nada suara Shadow perlahan njadi tinggi dan penuh dengan kebencian.

Inggrid tahu bahwa Randika sudah tiba di gedung ini. Dia harus ngulur waktu agar Randika bisa datang ke tempatnya ini. "Bukankah mbunuhku hanya mbuatnya makin marah? mbunuhku mbuatmu kehilangan kartu As."

Shadow berbalik dan natap Inggrid sambil tersenyum. "Kamu benar-benar pintar, tetapi apa kamu ngira aku hanya punya satu kartu As? Kamu benar-benar naif."

Tentu saja, Shadow miliki banyak kartu andalan di tangannya. Penyelidikannya terhadap Randika beberapa hari ini mbuatnya ngerti bagaimana kehidupan Randika di kota Cendrawasih ini. Tentu saja, perempuan-perempuan seperti Viona, Christina dan Deviana sama-sama berharganya dengan Inggrid.

Setelah dirinya mbunuh Inggrid, berikutnya adalah Viona. Dia akan nghabisi satu per satu wanita yang dicintai oleh Randika itu!

mikirkan bagaimana marahnya, sengsaranya, dan rasa tidak berdayanya Randika, Shadow tidak bisa berhenti tertawa. Tawanya ini nggema ke seluruh ruangan, benar-benar keras.

Inggrid sama sekali tidak tahu kartu apa yang dimiliki Shadow, dia hanya ngira bahwa Shadow mungkin akan ngincar keluarga Randika.

Setelah beberapa waktu terdiam, Inggrid bertanya. "Apakah Ares itu adalah Randika yang kukenal?"

Wajah Shadow njadi serius, hatinya rasa kejadian ini akan narik. "Kamu benar-benar ingin tahu?"

Inggrid ngangguk. Dari awal dia mang ngerti bahwa Randika itu bukan orang biasa, apalagi dia pernah ngobati tubuh Randika yang penuh luka itu. skipun dia tidak bertanya tentang masa lalu Randika, Inggrid masih rasa penasaran. Setidaknya, dia ingin ngetahui siapa identitas asli Randika.

skipun awal kali reka bertemu Randika sedang berjualan mie ayam, Inggrid tahu bahwa itu semua hanyalah tipuan belaka. Dia sama sekali tidak tahu siapa Randika yang sebenarnya.

Setelah mikirkannya baik-baik, Randika yang berhasil nyelamatkan dirinya dari keluarga Alfred itu juga rupakan kejadian yang sangat luar biasa. Tidak ada orang biasa yang mpunyai kemampuan nentang keluarga aristokrat.

"Baiklah kalau itu maumu, aku akan nceritakan siapa Ares sang Dewa Perang itu." Shadow mulai berjalan nghampiri Inggrid dan berhenti tepat di depannya. "Legenda ini berawal dari Ares yang mbangun kerajaannya di dunia bawah tanah di Jepang, di situ dia njadi raja dunia bawah tanah. Ada cerita yang ngatakan bahwa jika Ares ngamuk, seribu mayat tidak akan mampu nghapus hasrat haus darahnya. Itulah Ares sang Dewa Perang."

Inggrid terkejut ketika ndengarnya, dia terdiam.

"Setahuku, Ares berkeliling dunia sebagai pedagang sekaligus ncari lawan untuk ngasah kemampuannya. Tetapi setelah berpetualang, dia nyadari sesuatu. ncari uang bukanlah hal yang dia sukai, dia lebih nyukai lihat cipratan darah ngenai wajahnya ketika dia mbunuh lawannya. Setelah itu, dia neruskan perjalanannya sambil ninggalkan mayat ratusan orang sebagai jejaknya. Dia lalu mbangun kerajaannya di Jepang dan mbangun pasukannya di sana."

"Dia ndapatkan nama Ares sang Dewa Perang setelah mbunuh seribu orang dalam semalam!"

"Dia pernah nghancurkan pangkalan militer tentara Arika hanya bermodalkan pedang dan panah."

"Orang yang telah njadi korbannya sudah tidak terhitung lagi."

Shadow berjalan ke belakang Inggrid dan luknya dari belakang. "Apakah selama ini kamu tidak tahu bahwa setiap hari kamu tidur di samping Dewa Kematian? Apakah kamu tidak pernah ncium bau darah yang nempel di tubuhnya? Atau kamu pernah ndengar jeritan tragis korbannya ketika tidur di sampingnya? Apakah kamu tidak pernah nyadari bahwa kamu selama ini telah berhubungan badan dengan iblis?"

ndengar semua hal ini, Inggid sudah getar tanpa henti. Matanya terbelalak, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Bahkan jika dia pernah mbunuh orang banyak sebelumnya, aku tidak percaya bahwa dia itu iblis."

Inggrid tidak percaya dengan omongan Shadow yang nuduh Randika itu iblis. Senyumannya yang hangat, skipun terkadang terlihat seperti om-om sum, hatinya yang peduli dengan orang susah, orang yang selalu ngingatkan dirinya untuk makan itu tidak mungkin seorang iblis.

"Bodoh!" Shadow ndengus dingin. "Ketika dia datang ke sini, kamu akan lihatnya dengan kedua matamu itu."

"Kalau dia iblis, kamu itu apa?" Tanya Inggrid.

"Aku?" Shadow mainkan pisau yang ada di tangannya. Tiba-tiba, pisau itu layang dan nancap dengan kuat di tembok.

Shadow kembali ngeluarkan sebuah pisau dan berkata pada Inggrid. "Aku hanyalah sebuah bayangan yang bekerja di bawah seorang iblis. Sekarang aku ingin njadi iblis dan rebut takhtanya sebagai yang terkuat."

Senyuman Shadow yang sekarang dapat mbuat siapapun yang lihatnya rinding.

Pada saat yang sama, dari arah bawah terdengar suara jeritan tragis. Shadow lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Sebentar lagi."

Inggrid terdiam, dia lototi tangga. Jika Randika benar-benar naik ke tempat ini, apa yang akan terjadi?

Apakah dia akan mati sesuai dengan kata Shadow? Atau dia akan lihat Randika mati di depannya?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 273: Bayangan yang Ingin Berubah Menjadi Iblis on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.