Font Size
15px

"Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mbiarkan dia mati begitu saja. Aku masih ingin lihat raut mukamu ketika dia mati di depan matamu hahaha. Apakah kau akan pingsan? Atau kau akan nangis seperti anak kecil? Aku benar-benar nantikannya."

Shadow tertawa keras, sedangkan hati Randika ngepal. Shadow benar-benar sudah gila.

"Bagaimana mungkin kamu bisa mbunuhku jika kamu sudah tidak punya jaminan?" Randika berusaha ngulur waktu, di waktu yang sama, dia sudah nelepon Safira.

"Ares, di dunia ini tidak ada yang ngenalmu sebaik diriku ini." Suara Shadow penuh dengan sarkas. "Nafsumu tidak terpuaskan apabila hanya satu perempuan saja, setelah aku mbunuh Inggrid, aku masih punya daftar nama lainnya. Apa kau sudah ngerti situasimu sekarang?"

Pada saat yang sama, Safira sudah terhubung dengan HP Randika dan Randika nahan panggilan dari Shadow. "Saf, tolong lacak lokasi dari nomor yang nghubungiku ini! Aku butuh lokasinya dalam 1 nit!"

Safira terkejut, dia tidak pernah ndengar Randika yang tergesa-gesa seperti ini.

"Baik kak tunggulah sebentar, aku akan ngaturnya."

Randika berusaha nahan rasa marahnya itu ketika panggilannya kembali ke Shadow.

Shadow tidak nutup teleponnya, dia lalu ngejek Randika. "Kau mang mudah ditebak, nurut dataku kamu pasti minta bantuan dari temanmu dari Arwah Garuda. Tapi jangan lupa, kau sendiri yang telah latihku."

Randika ngerutkan dahinya, keahlian Shadow dalam intelijensi dan nutupi jejaknya benar-benar luar biasa, tetapi Randika tidak nyangka bahwa organisasi Arwah Garuda sudah masuk dalam radar Shadow.

"Jangan khawatir, tahap pertama kita ini cuma awal. Tahap selanjutnya adalah permainan yang sesungguhnya. Aku akan nunggumu di sini Ares, aku harap kamu tepat waktu. Bagaimanapun juga, jika suasana hatiku jelek, aku mungkin tidak sengaja lukai wajah cantik istrimu ini hahaha."

Kemudian Shadow nutup teleponnya, Safira ngambil alih panggilan HPnya.

"Kak, aku ndapatkan lokasinya. Lokasi nomor itu tidak jauh darimu, hanya berjarak 1 km dari tempatmu berada. Dia ada di gedung yang masih dibangun di jalan Mawar."

Setelah ndapatkan lokasinya, Randika tidak ragu-ragu untuk berlari nuju lokasi.

Tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di tempat ini, suasananya benar-benar sunyi. Sepertinya malam ini tidak ada pekerjaan konstruksi sama sekali.

Gedung ini baru setengah jadi dan banyak alat-alat yang digeletakan begitu saja.

Randika berjalan masuk ke dalam gedung yang gelap dan sunyi tersebut. Dia sama sekali tidak tahu di mana saklar lampu berada. Jadi Randika hanya bisa ngandalkan cahaya bulan dan lampu jalan. Namun, kegelapan masih ndominasi seluruh gedung ini.

Sedangkan untuk Shadow, kegelapan ini rupakan zona nyamannya. Dulu di pasukan Ares, Shadow bertanggung jawab dalam divisi intelijensi jadi dia sering nyatu dengan kegelapan agar bisa ndapatkan informasi yang lebih. Dengan ini, gedung gelap ini sangat cocok njadi panggung kecerlangan Shadow.

Namun bagi Randika, mau ini di kutub utara ataupun di gurun sahara, semua itu bukan masalah. Terlebih, Shadow tetaplah Shadow, perempuan itu bukan tandingannya.

Di hadapan kekuatan yang absolut, semua ikan teri sama sekali tidak berdaya!

Randika langkahi alat-alat yang berserakan itu. Sepertinya pembangunan gedung ini tertinggal dari deadlinenya. Besi-besi yang bertumpuk juga mantulkan cahaya bulan.

Sepertinya lantai pertama dari gedung ini tidak ada orangnya. Randika lalu berjalan nuju tangga yang ngarah ke lantai dua sambil terus berwaspada.

Sesaatnya langkah kakinya nginjak anak tangga, hampir bersamaan, raut wajah Randika berubah dan tubuhnya sudah layang mundur dengan kecepatan yang luar biasa.

Ketika kakinya langkah ke anak tangga, sepertinya itu micu sebuah bom untuk ledak dari lantai atas. Ledakannya cukup dahsyat dan besi-besi yang numpuk di ujung tangga itu berhamburan ke mana-mana. Di bagian tembok lantai pertama, senjata tajam, yang tiba-tiba muncul dari balik tembok, mulai lesat dan ngarah pada Randika.

Jika tadi Randika tidak sempat mundur dengan cepat, mungkin nyawanya sudah layang.

Pada saat dia ndarat, terasa pergerakan udara dari segala arah. Randika ngerutkan dahinya ketika lihat begitu banyak orang berbaju hitam nerjang dirinya sambil nggenggam erat senjata tajam dan siap untuk ngambil nyawanya kapan pun.

Orang-orang itu berdatangan dari segala arah, dan ketika Randika ngangkat kepalanya, dia terkejut ketika lihat begitu banyak orang ngintip dirinya dari lantai atas. Setengah dari reka lalu terjun ke bawah dan sisanya sepertinya sedang nunggu kesempatan ketika Randika loncat di udara dan nghujaninya dengan lautan manusia.

Ini adalah siasat yang dipersiapkan oleh Shadow untuknya. Ketika Randika langkahkan kakinya ke lantai 2, aksi pembunuhan itu dimulai.

Namun, semua kejadian ini tidak mbuat Randika kehilangan ketenangannya dan akal sehatnya. Orang yang bisa mbunuhnya belum lahir di dunia ini!

nghentakan kakinya, dia luncur dengan cepat untuk nghindari serangan pisau yang tersisa. Dengan tubuh yang diselimuti oleh tenaga dalamnya, dia lesat ke arah 2 musuhnya. Karena lawannya ini rupakan bawahan Shadow, dia tidak sama sekali tidak nahan tenaganya. Dengan satu tendangan, musuhnya itu layang ke arah tembok dan nancap di batang baja di pilar.

lihat jumlah musuhnya yang banyak, Randika rasakan firasat buruk yang seperti nandakan bahwa nyawanya sedang terancam. mang lawan-lawannya ini bukan orang sembarangan, tetapi di mana Shadow? Tidak mungkin dia hanya mpersiapkan jebakan bau kencur seperti ini untuk mbunuhnya.

Pada saat ini, Randika ndengar suara detikan jam dari segala arah, hal ini mbuat bulu kuduknya rinding. Dia sangat ngenal suara tali terbakar ini dengan baik.

Bisa disimpulkan bahwa setiap musuhnya yang nerjang ke arahnya ini semuanya miliki bom waktu di tubuh reka. reka sudah mpersiapkan diri reka untuk mati, dan reka ingin mbawa Randika bersama dengan reka nuju neraka!

Tanpa ragu-ragu, Randika segera mbunuh reka sambil mbuka jalur kabur. Tetapi, lautan manusia ini seakan tidak ada akhirnya.

DUAR!

Orang yang barusan dia tendang itu tiba-tiba ledak dan dia hancur njadi gumpalan daging. Ledakan yang dihasilkannya cukup mbuat besi-besi yang tergeletak itu berhamburan. Besi itu lesat ke arah Randika dan para bawahan Shadow berada.

Beberapa besi lesat dengan cepat dan nuju tepat ke arah Randika. Namun, Randika bergerak ke samping untuk nghindari serangan ndadak ini. Dia sama sekali tidak bisa mblokirnya soalnya besi-besi itu lesat terlalu cepat.

Berbeda dengan Randika, beberapa lawannya tidak bisa nghindar dan harus mati sebelum bisa ledakan dirinya pada Randika. Pada saat yang sama, Randika terus nghindar dari pelukan maut musuhnya ini

DUAR! DUAR!! DUAR!!!

Beberapa orang sudah mulai ledakan diri sebelum sempat ndekatkan dirinya pada Randika. Beberapa ledakan ini untungnya tidak robohkan pilar-pilar penyangga gedung ini jadi asalkan Randika nghindar sekaligus mbuat reka njauh dari pilar-pilar tersebut, maka dia akan aman.

Setelah tidak ada orang lagi yang berdiri selain dirinya, Randika telah berhasil nyelesaikan stage 1 dari permainan ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 272: Stage Satu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.