Sedangkan di rumah sakit, Randika berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas. Dia sudah nunggu berjam-jam hasil perawatan dokter di UGD dan masih tidak ada kabar.
Setelah hari mulai siang, seorang dokter keluar dari UGD dan Randika segera berlari ke arahnya. Dokter itu berkata pada Randika. "Anda sudah tidak perlu khawatir, luka di tubuh pasien sudah teratasi. mang tidak ada masalah serius, tetapi pasien disarankan untuk nginap di rumah sakit beberapa minggu ini. Selama dia di rumah sakit, dia tidak diperbolehkan untuk bergerak terlalu banyak agar tulangnya yang retak itu bisa segera sembuh."
ndengar nyawa Hannah yang tidak terancam, Randika nghela napas lega.
"Bolehkah aku masuk dan lihatnya?"
Setelah ndapatkan persetujuan dari dokter, Randika segera masuk dan ncari Hannah. Sesampainya di kasurnya, Hannah terbaring dengan wajah yang sangat pucat. Randika rasa hatinya sakit.
gang tangan kecil Hannah, dia mulai mbuka matanya.
"Kak, apa aku akan mati?" Kata Hannah dengan suara yang kecil.
"Bodoh, selama ada kakakmu ini, aku tidak akan mbiarkan kamu mati." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu mbelai pipi Hannah sambil neteskan air mata. "Maafkan aku Han, aku gagal lindungimu."
rasakan tetesan air mata itu, Hannah tersenyum. "Kakak ini bicara apa sih. Sudah jangan cengeng gitu, lagipula aku juga bisa bolos sekolah berkat hal ini."
"Kamu ini ya." Randika maksakan diri untuk tersenyum. "Han, aku tadi dijelaskan oleh dokter bahwa kamu harus nginap beberapa minggu di rumah sakit. Selama itu kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak."
Ketika mbandingkan Hannah yang selalu ceria dan bersemangat dengan Hannah yang terbaring lemah di kasur ini mbuat hati Randika benar-benar sakit.
"Kak aku rasa hidupku akan berakhir." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Jangan berbicara seperti itu, aku tidak akan mbiarkanmu kenapa-kenapa."
"Kak, apa kakak bisa nciumku? Aku takut jika aku mati hari ini, aku tidak bisa rasakannya lagi." Hannah natap las ke arah Randika.
Randika tidak tega lihat kondisi Hannah yang seperti ini, dia lalu maju dan mberikan ciuman lembut pada Hannah.
Pada saat ini, Hannah nikmati mon ini dengan nutup matanya. Dia selalu nyukai kakak iparnya ini tetapi dia tidak bisa ngutarakan perasaannya karena kakaknya Inggrid telah nikah dengan pria di hadapannya ini. Tetapi, sekarang pria ini adalah miliknya.
Setelah sekian lama, Randika lepas bibirnya dari bibir Hannah. "Istirahatlah dengan tenang. Aku akan ngabari kakakmu dan Ibu Ipah. Semoga saja dalam beberapa hari ke depan kamu boleh pulang ke rumah."
Hannah cuma tersenyum dan ngangguk.
Pada saat ini, HP milik Randika bunyi. Ternyata yang neleponnya adalah Inggrid.
Randika ngangkatnya, dan ketika dia hendak berbicara, terdengar suara dari balik telepon. Ekspresi wajah Randika langsung berubah.
"Lama tidak berjumpa tuanku."
Yang terdengar adalah suara Shadow yang dingin.
Hati Randika langsung ngepal. Sudah tidak diragukan lagi, Inggrid sudah pasti diculik oleh Shadow.
"Sayang sekali seranganku pagi tadi tidak berhasil mbunuhnya." Kata Shadow dengan suara kecewa, dia sepertinya nyesal tidak bisa mbunuh Hannah. "Tetapi tidak masalah, karena aku berhasil nangkap orang yang lebih berharga. Seharusnya kamu tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi tuanku."
Tangan kanan Randika ngepal dengan keras, urat nadinya seakan-akan ingin ledak. Tenaga dalamnya sudah rembes keluar tanpa dia sadari, aura mbunuhnya juga sama besarnya.
Dapat rasakan kekuatannya yang mulai tidak beraturan, Randika berusaha nahan amarahnya dan narik napas dalam-dalam. Dia lalu berkata pada Shadow. "Lokasi?"
"Tuanku mang ngenal diriku." Shadow tersenyum di balik telepon. "Aku akan mberikan lokasinya nanti malam. Jangan khawatir, aku tidak akan mbunuh Inggrid sebelum dia berpamitan denganmu. Bukankah nyayat urat nadinya dan lihatnya perlahan mati di depan matamu lebih narik daripada langsung mbunuhnya?"
Randika tidak njawab, dia sekarang sedang berfokus nahan amarahnya. Jika Shadow sekarang ada di hadapannya, kepalanya sudah layang jauh ke langit.
"Jangan mbuatmu terselimuti oleh emosi, kalau tidak emosimu itu akan mbunuhmu malam ini." Shadow tertawa keras. Dia dapat mbayangkan wajah Randika yang sedang nahan amarahnya. Semakin nderitanya Ares, semakin bahagia Shadow.
Jika aku tidak bisa berkuasa di dunia bawah tanah maka aku akan mbunuh orang yang kau cintai, terdengar adil bukan?
"Hari ini akan njadi pertemuan kita yang terakhir." Kata-kata Shadow terdengar dingin. Setelah itu Shadow nutup teleponnya.
Hannah natap Randika yang tubuhnya getar itu lalu bertanya. "Kak, apa orang yang neleponmu itu orang yang lukaiku?"
noleh ke arah Hannah, Randika maksa dirinya untuk tersenyum. "Hahaha bukan, sudah kamu istirahat dengan tenang saja. Aku akan nelepon Ibu Ipah untuk nemanimu di sini. Nanti jangan rewel sama makanan rumah sakit ya, kalau tidak kamu tidak sembuh-sembuh."
Hannah tersenyum. "Kak, kakak tidak perlu khawatir. Ketika aku sudah sembuh, kamu harus nemaniku belanja sekali lagi. Dan mungkin kamu bisa mbantuku makai pakaianku."
mikirkan kata-kata Hannah tersebut, Randika tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Kemudian Randika keluar dari ruangan UGD dan langsung nelepon Ibu Ipah. Setelah ndengar kabarnya, Ibu Ipah langsung bergegas ke rumah sakit.
Ibu Ipah sudah nganggap Hannah dan Inggrid seperti anak sendiri, sekarang ketika ndengar Hannah terbaring di rumah sakit, insting ibunya langsung mbara.
Ketika Ibu Ipah tiba di rumah sakit dan lihat Hannah yang terbaring lemah di kasur, hati Ibu Ipah terasa sakit. Dengan sigap dia ngatur segalanya agar Hannah bisa tidur dengan tenang.
Setelah semuanya selesai, Ibu Ipah berbisik pada Randika. "Nak, Ibu malam ini akan nginap di rumah sakit. Jadi tolong awasi rumah dengan nona muda ya."
Randika tersenyum dan ngangguk. Dia sama sekali tidak mberitahu masalah Inggrid pada Ibu Ipah. Kalau tidak, bisa-bisa Ibu Ipah kelabakan.
Namun, apa pun caranya, Randika harus mbawa Inggrid pulang ke rumah dengan selamat!
Benar, hari ini adalah malam penentuannya dengan Shadow.
Entah Shadow yang mati atau dirinya yang mati!
Keluar dari rumah sakit, Randika lihat jam. Waktu sudah nunjukan pukul 4 sore, sepertinya masih ada beberapa jam lagi hingga Shadow neleponnya kembali. Saat-saat seperti ini bagaikan penyiksaan untuk Randika.
Seiring berjalannya waktu, waktu sudah nunjukan jam 9 malam, Randika masih lototi HP miliknya. Dan tiba-tiba, HPnya berbunyi.
"Tuan, bagaimana perasaanmu nunggu begitu lama?" Suara Shadow bisa terdengar jelas dari balik telepon. Shadow sangat senang mbuat Randika marah, semakin marah maka semakin besar perasaan senangnya.
Randika njawabnya. "Di mana lokasinya?"
"Jangan terburu-buru, kita punya waktu seharian." Kata Shadow sambil tertawa.
Randika ngerutkan dahinya, dia tidak tahu siasat apa yang akan dipakai oleh Shadow. Sudah bukan rahasia lagi Shadow ingin mbunuhnya, tetapi cara apa yang dipakainya itu rupakan suatu masalah.
"Cepat katakan di mana."
ndengar kata-kata itu, Shadow tersenyum. "Sepertinya kita sudah lama tidak bermain ga bersama-sama. Reuni kita kali ini rupakan waktu yang tepat untuk bermain dan nebus waktu kita yang telah hilang. Oh, jangan lupa, kalau kamu gagal maka aku akan mbunuhmu dan aku juga akan mbunuh Inggrid."
Randika tidak mbalas sama sekali, apa pun trik yang akan dipakai oleh Shadow, Randika tidak punya pilihan selain nurutinya.
"Baiklah." Kata Randika.
Shadow mbalas. "Permainan kita cukup sederhana. Tetapi pertama-tama, kamu harus nemukan keberadaanku dulu. Waktumu hanya sepuluh nit. Jika kamu telat satu detik saja, maka aku akan motong anggota tubuh Inggrid dan kamu akan ndengarnya njerit kesakitan. Bagaimana nurutmu? Permainan kita seru bukan? Hahaha."
Reviews
All reviews (0)