Font Size
15px

Selesainya keluar dari kasino bawah tanah ini, Randika nggelengkan kepalanya. Dia berpikir berjudi mang buang-buang waktu, lebih baik waktunya digunakan untuk nggoda perempuan cantik.

Tidak ada yang ngalahkan sensasi bercium atau sensasi tangannya remas dada yang empuk.

Setelah sadar dari delusinya, dia mutuskan untuk pergi ke kantor dan ncari Viona. Setelah diingat-ingat, peristiwa malukan yang dialaminya di rumahnya masih lekat di benaknya. Kalau saja tidak ada orang tua Viona pada waktu itu, dia dan Viona sudah.

Ini sudah ketiga kalinya hubungannya dengan Viona diganggu, Randika selalu selangkah lagi untuk resmikan hubungan reka. Kejadian pertama dan kedua masih dapat dimaklumi, tetapi yang ketiga itu benar-benar malukan, dia sudah tidak punya wajah untuk bertemu dengan orang tuanya Viona lagi.

Mungkin sebaiknya malam ini dia mbuka kamar bersama Viona.

Randika berpikir keras dan rencanakan semuanya dengan detail. Pada saat ini, Richard berhasil nyusul dirinya.

"Kak Randika, kak Randika."

Richard terengah-engah ketika berlari nyusul Randika. "Kakak mang hebat!"

Randika terlihat biasa-biasa saja, pikirannya masih mikirkan bagaimana dirinya berhubungan badan dengan Viona. "Aku cuma sedang beruntung saja."

lihat Randika yang rendah hati ini, Richard makin kagum. Dia lalu bercerita tentang bagaimana kerennya aksi Randika tadi.

Namun pada saat ini, HP milik Richard bunyi. Richard ingin ncuekinya, apa orang yang neleponnya ini tidak tahu bahwa dia sedang sibuk njalin hubungan yang lebih erat dengan Randika?

Namun ketika lihat nomor yang neleponnya adalah adiknya, wajah Richard segera berubah dan masang aura anak baik. Suaranya dibuat-buat seakan-akan dia seorang malaikat. "Apa ada yang bisa aku bantu?"

Randika terkejut ketika lihat Richard berubah njadi sedemikian rupa sampai-sampai suaranya saja ikut berubah.

Namun, Randika tidak tahu bahwa Richard sering njadi korban penindasan adik perempuannya itu. Bisa dikatakan bahwa adik perempuannya itu jelmaan dari iblis. Ini semua salah keluarganya karena terlalu manjakannya, Richard sama sekali tidak berdaya kalau sudah berurusan dengan adiknya. Kehidupan seperti ini sudah dia lalui selama masa hidup adik perempuannya.

Namun, sekarang sudah lebih ndingan. Karena semakin bertambahnya usia, makin banyak laki yang ngejar adiknya jadi bukan Richard lah yang nderita lagi. Dia sudah tidak sabar lihat adik jahatnya itu nikah dan keluar dari rumah.

"Apa katamu! Katakan apa maumu, jangan sakiti adikku!" Richard ndengarkan penjelasan orang asing di balik telepon ini. Wajah baiknya itu segera mburuk. "Baiklah, aku akan segera ke sana."

"Kak, adik perempuanku telah diculik. Penculiknya minta aku untuk datang ke alamat ini secepat mungkin tanpa mberitahu siapapun atau dia akan mbunuh adikku." Richard natap Randika sambil hampir nangis. "Bisakah kak Randika mbantuku?"

Jelas jika Richard datang sendirian maka dia dan adiknya pasti akan terbunuh. Tetapi jika Randika pergi bersamanya, dia yakin pasti akhir cerita ini akan berakhir dengan bahagia.

lihat ekspresi Richard, Randika nyimpulkan bahwa dia berkata jujur. Randika lalu ngangguk. "Tunjukan jalannya."

Lagipula, dia tidak bisa berdiam diri ketika tahu ada orang yang dalam bahaya.

Randika dan Richard segera naik ke mobil sport milik Richard dan berkendara nuju pinggiran kota.

Tujuan reka tidak terlalu jauh dengan posisi reka sekarang dan laju mobil reka benar-benar kencang, hanya butuh waktu beberapa nit bagi reka untuk sampai di tujuan.

lihat gedung terbengkalai yang tertutup itu, hati Richard cukup berdebar-debar. Namun, Randika mberinya keberanian dengan berkata padanya. "Tabrak pagar itu!"

ndengar kata-kata Randika, Richard sama sekali tidak njawab. Dia hanya nginjak pedal gas dengan sekuat tenaga. Dalam sekejap keempat roda mobil laju dengan kencang dan seluruh badan mobil nerobos masuk ke dalam gedung!

BOOM!

Pagar itu terbuka dengan lebar dan mobil wah Richard berhenti di sebuah halaman.

Tiba-tiba, dari balik kegelapan, terdengar suara tepuk tangan.

"Luar biasa, aku tidak nyangka anak baik-baik yang njadi kesayangan ayahnya ini punya keberanian untuk nerobos masuk seperti itu." Randika noleh ke arah suara itu dan nyadari bahwa banyak orang telah ngepung mobil reka. Sepertinya pemimpin dari para penjahat ini berada di barisan paling belakang.

"Bunuh! Bunuh!"

Kumpulan para penjahat ini bersorak-sorak, bahkan ada yang sedang mabuk. Seluruh halaman gedung ini njadi berisik dan liar. Pada saat yang sama, pagar yang hancur tadi sudah dihalangi oleh beberapa mobil dan dijaga oleh beberapa orang yang gang tongkat besi.

lihat orang-orang berwajah bengis itu, Richard sedikit rasa takut. Tetapi dia mberanikan diri untuk berteriak dengan keras. "Di mana adikku!"

ndengar teriakan itu, si pemimpin para penjahat itu njetikan jarinya. Tiba-tiba, pintu di belakangnya itu terbuka dan sebuah kurungan besi terlihat nggantung di udara. Di dalamnya terlihat seorang perempuan muda yang ketakutan, sepertinya dia masih trauma karena penculikannya ini.

Hati Richard rasa sedikit lega, sepertinya adiknya itu terlihat baik-baik saja. Namun, dengan penglihatan supernya, Randika terkejut ketika lihat perempuan cantik itu. Bajingan, kenapa kakak adik bisa jauh begini bedanya?

"Itu adikmu?" Randika noleh ke arah Richard.

Richard ngangguk.

Randika benar-benar tidak nyangka, perbedaan keduanya benar-benar bagaikan bumi dengan langit.

"Kita akan kaya!"

Segerombolan orang keluar dari gedung dan ikut ngepung mobil milik Richard. reka semua gang tongkat besi di tangan reka.

"Kalian yang ada di dalam mobil, jangan bergerak."

Randika terdiam sebentar lalu keluar dari dalam mobil secara perlahan.

"Apa kamu yang bernama Richard?" Tanya penjahat di dekatnya Randika itu. Para bawahan ini tidak tahu wajah mangsanya seperti apa, jadi reka hanya bisa nebak.

"Kalau bukan, buat apa aku keluar dari mobilku?" Kata Randika. "Katakan apa maumu? Bisa-bisanya kalian nculik adikku."

"nculik? Adik bajinganmu itu nabrak mobil pemimpin kami dan mau kabur." Kata penjahat itu dengan nada dingin.

"Bohong! Kalian nculikku untuk minta ras dan minta tebusan dari keluargaku! Kak, jangan percaya sama reka. reka pasti orang suruhan keluarganya Anthony, aku yakin ini sebuah jebakan." Teriak adik perempuannya Richard.

Namun, setelah dia perhatikan lagi, sejak kapan kakaknya terlihat gagah seperti itu?

Randika natap si pemimpin dari para penjahat ini dan berkata padanya. "Terus apa maumu?"

Pemimpin itu mbalas sambil ndengus dingin. "50 miliar atau adikmu tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup."

Bersamaan dengan itu, bawahannya di sebelahnya mberikannya sebuah tombol, dia lalu berdiri dan ngangkat tinggi tangannya untuk mperlihatkan detonator di tangannya. "Selama aku nekan tombol ini, bom di kurungan adikmu akan ledak. Sekarang pilih pilihanmu dengan baik atau kamu tidak akan pernah lihat adikmu lagi."

Randika nggaruk kepalanya, seakan-akan terlihat bimbang, kemudian dia berkata dengan santai. "Tekan saja."

Adik perempuan Richard benar-benar terkejut ketika ndengarnya, semua orang juga sama terkejutnya. Richard yang di dalam mobil sudah mbuka mulutnya dengan lebar.

"Ulangi lagi kata-katamu." Bahkan penjahat di dekat Randika rasa reka telah salah ndengar. Orang ini tuli apa? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada adiknya sendiri.

Randika nggelengkan kepalanya dan berteriak sekali lagi. "Tips buat kalian, jangan ragu mbunuh sebelum kalian terbunuh."

Setelah berkata seperti itu, kaki Randika yang penuh dengan tenaga dalam itu lesat. Di bawah tatapan mata orang-orang, Randika nghilang lalu kembali di tempatnya berdiri sambil gang bom yang tertempel di kurungan dan lemparnya ke tanah. Sepertinya mainan ini tidak layak dibilang bom, lagipula mana ada orang bodoh masang bom tepat berada di belakangnya?

"Hajar dia!" Si pemimpin itu marah. Gertakannya telah gagal dan dia tidak punya pilihan nggunakan kekerasan untuk ndapatkan uangnya. Lagipula bawahannya ini ncapai 30 orang, jadi dia tidak perlu khawatir nghadapi seorang bocah.

Richard yang ada di dalam mobil sudah natap kagum pada Randika, begitu pula adiknya yang ada di dalam kurungan.

"Gagah sekali." lihat aksi Randika yang nghajar para penjahat itu, dia benar-benar terpukau dan mutuskan untuk mbuatnya njadi pangeran berkuda putihnya.

Di sisi lain, Randika nghadapi para penjahat ini dari segala arah. Bahkan tadi ada yang nggunakan mobil untuk berusaha lindasnya.

Kemudian, tanpa disangka-sangka oleh kedua saudara itu, Randika sama sekali tidak nghindar!

Randika berhadapan dengan puluhan orang yang bersenjatakan tongkat besi itu dengan tangan kosongnya seperti seorang ahli bela diri. Dia nangkis dan nyerang balik tanpa berpindah posisi. Semua serangan lawannya tidak ada yang ngenainya. Setiap orang yang berani langkah ke jangkauan serang Randika akan nerima sebuah pukulan keras yang tidak terlupakan.

Satu orang jatuh, dua orang jatuh, bahkan orang ketiga sudah tidak mampu berjalan dengan kedua kakinya lagi.

Ini sudah bagaikan seorang pahlawan di dalam ga yang mbasmi monster-monster lemah. Satu per satu para penjahat ini tumbang dan mulai kehabisan orang, sedangkan yang terkapar kesakitan bertambah tiap detiknya.

Pemimpin reka sudah rasakan keringat dinginnya ngenai matanya, apa lawannya ini masih manusia?

Kecepatan Randika benar-benar luar biasa, kurang dari 3 nit dia telah berhasil ngalahkan 30 penjahat yang bersenjatakan tongkat tersebut. Sekarang sisa si pemimpin dan 1 pengawalnya, tubuhnya sudah tidak bisa berhenti bergetar ketakutan.

"Sudah kubilang bukan, jangan ragu mbunuh sebelum pada akhirnya kamu lah yang terbunuh." Randika tersenyum dan nerjang maju. Kedua orang sisa ini berusaha semampu reka, tetapi cecunguk seperti reka bukanlah tandingannya Randika. Namun, yang Randika tidak tahu adalah reka miliki sebuah tombol darurat.

Setelah si pemimpin itu nekan tombol tersebut, lantai dari kurungan yang bergantung di udara itu terbuka dan adik Richard langsung terjun bebas!

Randika langsung tersadar akan situasinya dan ngerutkan dahinya. Dia lalu nggunakan si penjahat ini sebagai pijakan dan lesat ke arah kurungan besi tersebut. Randika berhasil nangkap adiknya Richard sebelum dirinya ndarat dengan keras di lantai.

Bau parfum mahal segera masuk ke hidung Randika ketika perempuan cantik ini luk dirinya dengan erat, keempukan dadanya ini tidak kalah dengan Inggrid.

Benar, Randika ngenal loli berdada besar ini. Dia hampir lupakan wajahnya tetapi dia tidak pernah lupa dengan dadanya yang begitu besar walaupun masih muda.

Dia tidak akan nyangka akan bertemu dengannya lagi di saat-saat seperti ini.

Adiknya Richard, yang bernama Silvia, luk erat Randika sang pahlawannya. Dia rasa bahwa pertemuan ini bagaikan benang rah yang mpertemukan dirinya dengan suaminya.

Setelah sesampainya di bawah, Richard sudah berlari nghampiri reka dan lihat adik perempuannya yang jahat itu masih luk erat Randika.

"Kamu tidak perlu takut lagi, para penjahat itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa padamu lagi." Kata Randika sambil ngelus rambut Silvia.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 268: Itu Adikmu? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.