Font Size
15px

Silvia yang terbuai dengan usapan lembut di rambutnya itu terpesona ketika natap wajah tampan Randika.

"Hmm Bisakah aku nurunkanmu?" Tanya Randika.

"Ah? Oh! Baiklah." Silvia turun dari pelukan Randika dengan berwajah rah. Richard yang mandang adiknya ini sebagai penyihir jahat, rasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sikap adiknya terhadap Randika.

Sepertinya kejadian penculikan ini mbuat adiknya jatuh cinta pada kakak barunya ini. Richard rasa bahwa situasi njadi lebih baik bagi dirinya. Tidak disangka-sangka, sepertinya pernikahan adiknya ini tidak lama lagi. Setelah adiknya itu mpunyai pasangan, kehidupan nerakanya bisa berakhir dan lahirlah masa-masa indah.

lihat loli berdada besar ini, Randika tidak bisa untuk tidak ngingat kembali ketika dia baru pulang kembali ke kota Cendrawasih ini dan salah naiki mobil yang dikiranya taksi. Waktu itu yang njadi supirnya adalah perempuan muda berdada besar dengan wajah kekanak-kanakannya. Kemudian perempuan itu mbawanya ke perjalanan paling ndebarkan dan paling bahaya di dalam hidupnya, waktu itu Randika sempat ngira dia akan mati.

Benar, adik Richard ini adalah loli berdada besar waktu itu.

"Sil, apa kamu baik-baik saja?" Richard berusaha bersikap selayaknya seorang kakak.

Silvia sama sekali tidak mperhatikan kakaknya itu, dia natap tajam ke arah pangerannya itu. Kenapa dia rasa pernah bertemu dengannya?

Silvia mperhatikan Randika dari atas ke bawah, dia semakin yakin pernah bertemu dengan pria satu ini.

Tiba-tiba, sebuah ingatan lintas di ingatan Silvia dan dia tidak bisa nahan rasa terkejutnya. "Kamu, kamu, jangan-jangan yang waktu itu"

Randika tersenyum. "Aku tidak nyangka akan bertemu denganmu lagi, dunia mang sempit."

Wajah Silvia sudah rah padam, dia sangat gugup lihat wajah Randika. Pada saat itu, Randika sudah mberi kesan yang ndalam di dalam dirinya ketika dia ngalahkan pemilik mobil Ferrari. Keahlian ngemudi Randika mbuat dirinya tidak bisa lupakan dirinya.

Richard mperhatikan suasana yang aneh di antara adiknya dan Randika. reka sudah ngenal sejak lama? Mustahil!

Randika ncuri kesempatan untuk mandang Silvia sekali lagi, dia benar-benar perempuan muda yang cantik. Wajahnya yang mirip boneka itu sama sekali berbeda dengan bentuk tubuhnya yang dewasa itu, nggoda sekali!

"Aku belum tahu namamu." Kata Silvia sambil bermuka rah.

Richard lihat adiknya yang tersipu malu itu, dia tidak pernah lihat adiknya berekspresi seperti ini sebelumnya.

.....

Setelah mobil keluarga Richard dan Silvia datang, Randika berniat untuk pergi dari tempat ini. Namun, Silvia minta kontak pribadi Randika, dia ingin bertemu dengannya lagi jika waktunya tepat.

Terlebih, Silvia sangat percaya diri dengan kecantikannya dan tubuhnya dapat mbuat Randika tidak bisa lepas darinya. Tujuan utamanya sekarang adalah mbuat pria gagah ini njadi pacarnya!

"Kak Randika benar-benar hebat. Aku tidak pernah lihat adik perempuanku tergila-gila sama laki seperti itu sebelumnya." Richard benar-benar ngagumi Randika seratus persen. Tidak hanya judi, keahlian bela diri, sepertinya kakaknya ini jago ndapatkan hati wanita!

Luar biasa, Richard sendiri tidak pernah bisa seperti itu.

Ah! Ngomong apa kamu Richard? Kamu sendiri ini tampan dan kaya, mana ada perempuan yang tidak mau sama kamu? Tapi. mang Randika itu berada di level yang berbeda.

"Aku tidak nyangka dia itu adik perempuanmu." Randika tertawa.

"Kak, jika kamu mau ngejar adikku, aku akan mbantumu. Beritahu saja apa yang kamu perlukan untuk naklukan hatinya." Kata Richard dengan penuh percaya diri. Dengan ini dia rasa dirinya dan Randika benar-benar teman dekat.

Mobil Richard sedang nuju perusahaan Cendrawasih, namun ketika di jalan, Randika lihat Hannah sedang berjalan di tepi jalan. Dia rasa penasaran.

"Berhenti." Kata Randika. Dia lalu keluar tanpa berpamitan pada Richard dan langsung ngejar Hannah.

lihat Randika yang pergi begitu saja, Richard nghela napas sambil tersenyum pahit. Apa pun yang terjadi, dia harus mbuat Randika sekutunya.

Hannah sedang berjalan sambil bermain HP miliknya, namun tiba-tiba pundak kanannya ada yang ngtowel pundak kanannya. Hannah lalu noleh ke kanan belakang tetapi tidak nemukan siapa-siapa, dia rasa bingung. Kemudian tiba-tiba pundak kirinya ditowel oleh seseorang. Ketika dia noleh, tidak ada siapa-siapa.

Hannah lalu berputar-putar sambil ncari tahu siapa pelakunya lalu dia nemukan Randika sedang bersembunyi dengan wajah tersenyum.

"Kak!" Hannah marah karena kakak iparnya ini terus-terusan nggodanya.

"Sedang apa kamu di sini?" Randika tertawa dan marahnya Hannah justru mberinya perasaan nang. Dia sangat suka nggoda adik iparnya satu ini.

"Tentu saja belanja. Ah! Kebetulan kakak ada di sini jadi temani aku belanja ya, aku masih ingin belanja beberapa baju lagi." Hannah langsung nangkap tangan Randika dan nyeretnya.

Randika sudah getar ketika ndengar kata belanja.

Apa yang paling ditakuti oleh laki-laki di dunia ini?

Tentu saja nemani perempuan berbelanja. Kebanyakan perempuan di dunia miliki sifat shopaholic [1], kalau sudah berbelanja reka tidak akan ngenal waktu dan bisa-bisa reka berbelanja 6 jam tanpa istirahat sama sekali. Tentu saja, Hannah adalah salah satu dari reka.

"Aduh aku lupa kalau ada urusan penting di kantor, aku harus segera balik ke kantor." Randika dengan cepat mbuat alasan untuk kabur.

"Ayolah kak, kita tidak akan mungkin bertemu di sini kalau kak Randika benar-benar sibuk. Lagipula aku cuma minta kakak mbawakan barangku tidak lebih! Aku tidak peduli, kakak harus nemaniku belanja atau aku akan tidur di kamar bersama kak Inggrid selama sebulan." Kata Hannah sambil tersenyum. Dia tidak nyangka akan nemukan kakak iparnya di sini, mang lelaki ada untuk mbawakan barang-barangnya.

Randika tidak punya pilihan selain nemaninya.

Di sepanjang jalan banyak toko baju dan Hannah berniat untuk ngunjunginya satu per satu.

Penyiksaan ini berlangsung begitu lama dan prosedur yang dilakukan di tiap toko selalu sama. Pertama, Hannah akan masuk ke sebuah toko dan milih baju sedangkan Randika duduk dengan manis nunggu Hannah selesai milih. Kedua, Hannah ncoba semua baju yang dikiranya bagus dan mperlihatkannya pada Randika lalu minta pendapatnya.

Di sini jawaban yang diberikan Randika nghasilkan nasib yang sama. Ketika dia ngangguk dan ngatakan bahwa baju itu bagus, Hannah rasa tidak puas dan rasa masih ada baju yang lebih bagus jadi dia naruhnya kembali dan ncari baju lagi. Ketika Randika nggelengkan kepalanya, Hannah juga rasa baju yang dipakainya itu tidak cocok lalu dia ncari baju lainnya.

Berpuluh-puluh pakaian telah dicoba oleh Hannah dan Randika dapat nyimpulkan satu hal, Hannah bukannya shopaholic, dia hanya senang berjalan-jalan dan ncoba baju-baju baru dengan gratis. Hal ini justru makan waktu yang lebih lama.

Ketika reka ngunjungi toko kelima, Randika sudah kelelahan.

Hannah sama sekali tidak nunjukan akan berhenti ncoba baju, Randika hanya bisa pasrah.

"Halo mbak, bisa bantu aku? Resleting bajunya nyangkut nih." Tiba-tiba dari ruang ganti terdengar suara Hannah yang sedang kesusahan makai bajunya.

Pada saat ini, penjaga-penjaga toko tidak ada yang berjaga di area ruang ganti karena tokonya yang ramai.

Randika yang ndengar teriakan tolong Hannah itu nggelengkan kepalanya, dia tidak punya pilihan selain mbantunya.

Ketika sesampainya di ruang ganti, Randika langsung mbuka pintu tempat Hannah berada. Dia lihat Hannah munggunginya dan resleting bajunya di belakang tidak bisa dinaikkan.

Punggung mulus berwarna putih itu nuhi matanya sekaligus beha berwarna biru muda, Randika mau tidak mau nelan air liurnya. Jika dia lepas pengait behanya itu, apa yang akan terjadi pada dirinya?

Hannah sudah nyadari ada orang yang masuk ke dalam ruangan gantinya, dia ngira itu adalah pelayan toko. Dia lalu ngatakan. "Tolong bantu aku, aku tidak bisa nariknya ke atas."

"Han, bajumu itu kekecilan." Kata Randika sambil nghampiri Randika.

Hannah yang ndengar suara lelaki itu noleh dan langsung terkejut. Dia langsung nutupi kedua dadanya dengan tangan.

"Kak! Sedang apa kamu di sini?" Hannah natap tajam pada Randika.

Bukannya kamu butuh bantuan untuk makai bajumu itu? Namun kemarahan Hannah ini mang masuk akal, bagian belakang bajunya mang terbuka sekali dan mperlihatkan punggungnya itu.

Randika lalu mbalasnya sambil tersenyum. "Han, aku hanya berusaha mbantumu makai bajumu itu. Sini, keburu nanti ada orang yang mikir tidak-tidak."

Randika nghampiri Hannah dan Hannah berhasil ngelak. Tetapi pada saat ini, kakinya Randika terpeleset karena nginjak baju Hannah yang ada di lantai. Tubuh Randika lesat ke arah Hannah.

Hannah hanya bisa terdiam ketika kakak iparnya itu jatuh ke arahnya.

Sekarang, kedua wajah reka sangat dekat dan reka saling bertukar tatapan mata.

Namun, kedua bibir reka sudah saling ngunci dan salah satu tangan Randika ndarat di dada Hannah.

Keduanya berdiri kaku di tempat.

Ini pertama kalinya Randika rasakan bibir adik iparnya ini, Randika sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Namun, bagaimanapun juga, instingnya sebagai lelaki mbuatnya remas tangannya itu.

Empuk Benar-benar empuk.

Hannah tersadar dari kelinglungannya itu ketika rasakan tangan Randika yang remas dadanya itu, dia dengan cepat ndorong Randika.

Namun, Hannah sama sekali tidak marah. Malahan wajahnya njadi rah padam dan hatinya berdebar-debar.

"Kak, jika kakak macam-macam lagi sama aku, aku akan nceritakan semuanya pada kak Inggrid." Hannah pura-pura terlihat marah, tetapi wajah malunya itu tidak bisa dia sembunyikan.

"Han, ini gara-gara bajumu yang kamu taruh di lantai." Randika juga sedikit malu. Ketika dia berjalan keluar dari ruang ganti, Hannah sudah berjongkok sambil tersipu malu di dalam ruangan.

Hannah gang bibirnya itu dan rasakan hatinya yang berdebar-debar itu, ciuman pertamanya telah diambil. Dia sama sekali tidak mbenci perasaan ini justru dia ingin lebih. Tetapi, akal sehatnya mbuatnya sadar bahwa pria yang disukainya itu adalah kakak iparnya.

Randika kemudian nunggu di luar sambil duduk. Kejadian ini murni kecelakaan, tidak ada yang bisa disalahkan.

Namun, ketika ngingat kelembutan dada Hannah di tangannya, Randika dalam hati berpikir bahwa sesekali rasakan dada adik iparnya itu bukanlah sebuah masalah. Dan terlebih Hannah sepertinya tidak mpermasalahkannya.

mikirkan rencana haremnya, Randika bisa lihat masa depan di mana Hannah dan Inggrid tersenyum bersama di pelukannya.

mikirkan hal itu, entah kenapa Randika rasa bersemangat!

Tidak lama kemudian, Hannah keluar dari ruang ganti dan terlihat tenang.

"Kak, aku mau ke kamar mandi. Tunggulah di sini, aku tidak lama." Kata Hannah sambil berjalan nuju toilet.

Randika kembali duduk sambil nunggu Hannah. Tetapi, tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah kamar mandi. "Kak Randika tolong aku!"

[1] Suatu kondisi di mana seseorang tidak lagi mampu ngontrol dirinya untuk nahan keinginan berbelanja skipun sebenarnya barang-barang yang dibeli tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 269: Ciuman Pertama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.