Font Size
15px

Randika dari awal sudah ngerti trik-trik seperti apa yang digunakan Ella. Perempuan itu benar-benar lihai manfaatkan celah, jelas bahwa dia sudah lama bergelut di dunia perjudian sejak lama.

Hal-hal seperti inilah yang mbuat Randika benci berjudi. Dia sangat mbenci bagaimana orang-orang yakin dengan kemampuan nipu reka hingga akhirnya kehilangan segalanya.

Jadi tidak ada salahnya kan untuk ikut curang ketika dicurangi?

lihat kegugupan Ella semakin mbesar, Randika yakin inilah saat yang tepat untuk mainkan triknya. Selama 3 ronde awal, Randika sudah nandai kartu dengan tenaga dalamnya. Hal ini hanya bisa dilihat oleh dirinya, orang-orang awam tidak akan pernah nyadarinya.

Sejujurnya, dia bisa nang sejak awal ronde ketiga tetapi dia mutuskan untuk tidak lakukannya. Kenapa? Jelas agar dia bisa mandangi dada Ella tanpa perlu ngalihkan perhatiannya!

Tetapi sekarang dia rasa lapar dan sekarang baginya adalah waktu yang tepat untuk nyelesaikannya.

Ketika Ella berusaha mbagi kartunya dengan trik second deal, tiba-tiba kartu yang diambilnya tersangkut! Di bawah tatapan semua orang, kartu yang diambil dari bawah itu terlihat dengan jelas.

Tenaga dalam Randika yang ada di dalam kartu bekerja sebagai lem, oleh karena itu kartu yang diambil oleh Ella tersangkut dan mperlihatkan trik yang digunakan oleh Ella.

"Curang! Perempuan itu curang!" Teriak beberapa orang.

"Benar-benar ceroboh, sekarang reputasinya pasti hancur."

Randika hanya tersenyum ketika lihat wajah Ella yang mucat. "Sepertinya akulah penangnya."

Hao, yang berada di samping ja, benar-benar linglung. Bagaimana Ella bisa lakukan hal ceroboh seperti itu? Ini pasti ulah Randika, pikirnya. Dia lalu natap Randika lekat-lekat dan tersenyum pahit sambil nghela napasnya. Sepertinya perlu beberapa tahun agar dia bisa setara dengan pria itu.

Aku pasti akan ngalahkanmu!

Randika natap orang-orang yang ribut sendiri lalu berdiri sambil ngatakan. "Transfer uangku sekarang, aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini."

Randika sudah bosan nghadapi orang-orang seperti ini, lebih baik dia pulang dan bermain-main dengan istrinya.

"Tunggu dulu!" Ella berteriak dengan nada dingin. "Bertarunglah denganku sekali lagi."

Randika nguap. "Baiklah, satu kali lagi."

Ella nggigit bibirnya hingga berdarah, orang ini benar-benar rehkan dirinya.

"Kita hanya bermain dadu." Ella ngeluarkan 2 buah dadu dan sebuah gelas hitam. "Siapa yang bisa ndapatkan jumlah yang paling kecil dialah penangnya."

Sesudahnya njelaskan, Ella segera masukan kedua dadu itu ke dalam gelas dan ngocoknya.

Randika mperhatikan perempuan satu ini sambil nghela napas. Sepertinya penjudi seperti Ella tidak bisa lepas dari trik-trik kotor, perempuan satu ini sudah busuk hingga ke intinya.

Sesuai dugaannya, di bawah tatapan orang-orang, Ella ngangkat gelasnya dan nunjukan isi dadunya yaitu 2!

Ella tersenyum. "Sekarang giliranmu. Sebagai tambahan, jika kita seri maka kamulah penangnya."

Randika nghela napasnya, dia ngambil gelas hitam itu dan ngocok dadunya. Tenaga dalam di tangannya sudah bekerja dengan cepat. Berbeda dengan Ella, dia ngocok gelas itu secara perlahan.

Orang-orang sudah ngira bahwa Randika sudah tidak punya kesempatan nang, ndapatkan angka 2 benar-benar mustahil. Pada saat ini, Randika berhenti ngocok dan belum mbuka isinya.

Ketika semua orang penasaran dengan isi gelas Randika, Randika sudah berdiri dan berkata sambil tersenyum. "Aku harap dengan ini kamu tidak ngejarku lagi."

Kemudian, tidak peduli dengan reaksi orang-orang, Randika berjalan njauhi ja.

Orang-orang yang lihat hal ini terlihat bingung, Ella ngerutkan dahinya dan ngambil gelas yang masih tertutup itu. Matanya terbelalak ketika dia lihat kedua dadu itu hancur njadi debu!

Dadu yang hancur njadi debu, bisa dikatakan, tidak ada angkanya berarti Randika ndapatkan nilai total 0. Lagi-lagi Randika nang!

Ella sudah tidak tahu harus berkata apa, semua orang juga terkejut ketika lihat dadu yang hancur itu. Hari ini benar-benar penuh dengan kejutan.

"Dewa judi Orang itu adalah dewa judi!" Kata beberapa orang.

Mulai dari hari ini, legenda dewa judi yang baru telah lahir di kasino ini.

"narik Nancy, bawa orang itu kemari." Elizabeth, yang mperhatikan Randika sejak awal, tersenyum.

"Baik."

Nancy nyanggupi permintaan nonanya dan berjalan keluar dari ruangan VIP.

Randika berjalan nuju pintu keluar, tiba-tiba, ada perempuan cantik berwajah dingin ndatanginya. Perempuan ini ngingatkan dirinya terhadap Elva.

Nancy ncegat Randika dan berkata padanya. "Ikut denganku, majikanku mau ketemu."

Randika berhenti berjalan dan natapnya dengan tajam. "Apa aku berhutang pada majikanmu itu?"

Nancy terlihat bingung, dengan nada dingin dia njawab. "Tidak."

"Terus kenapa kamu berbicara seperti itu ke aku?" Jawab Randika dengan santai.

Nancy natap Randika yang penampilannya tidak berkelas itu. Sambil nahan amarahnya, dia berkata kembali pada Randika. "Tuan, majikanku ingin bertemu dengan Anda, maukah Anda ikut denganku?"

"Tidak mau, aku tidak kenal siapa majikanmu itu. Terlebih, kamu nghalangiku berjalan." Randika ncuekinya dan berjalan lewatinya. Tetapi, Nancy kembali ncegatnya.

"Sayangnya aku tidak nerima kata tidak, Anda harus bertemu dengan majikanku." Kata Nancy dengan wajah serius.

"Kamu kira siapa aku?" Randika juga njadi marah. Dia berkata padanya dengan nada sedikit tinggi. "Anjing mati sepertimu tidak bisa nghalangi jalan seorang singa."

Randika paling benci dengan orang kaya yang bertindak sena-na ntang-ntang miliki uang, kalau dia mang butuh sesuatu darinya maka datanglah sendiri bukan nyuruh anjing-anjingnya.

"Apa katamu?" Nancy sudah tidak bisa nahan amarahnya. Dia tidak pernah ngalami kejadian seperti ini. Awalnya rakyat jelata ini ingin ndapatkan rasa hormatnya sama seperti majikannya dan sekarang dia malah ngejeknya sebagai anjing?

"Ternyata kamu bukan hanya tidak punya otak, sepertinya kamu juga tuli." Randika nggelengkan kepalanya. "Sia-sia berwajah cantik tetapi bodoh."

Nancy sudah tidak bisa nahan diri lagi, darahnya sudah ndidih. Dia layangkan sebuah tamparan ke arah wajah Randika.

Namun tanpa disangka-sangka, pergelangan tangannya berhasil ditangkap oleh Randika. Terkejut, Nancy segera ngambil langkah mundur.

Randika lalu berkata padanya. "skipun seekor singa biasanya tidak peduli dengan gonggongan anjing, hari ini aku akan mbuat pengecualian. Aku akan ngajari anjing sepertimu agar tidak macam-macam pada seorang raja."

ndengar kata-kata Randika yang angkuh, darah Nancy sudah tidak bisa lebih ndidih lagi. Namun, sebelum dia bisa ngambil ancang-ancang nyerang, Randika sudah nerjang ke arahnya.

nurut insting Nancy, dia harus nghindar dari serangan ini. Namun, gerakan Randika berubah-ubah selagi dia berlari, Randika berhasil berdiri di depan Nancy dan ninjunya di dadanya.

"Belum selesai!" Teriak Randika sambil berlari ke arah belakang Nancy.

Nancy yang rasakan rasa sakit yang luar biasa itu, ndadak rasakan punggungnya telah ditendang.

"Bersiaplah!"

Setelah nerima beberapa pukulan lagi, Nancy sudah benar-benar tumbang oleh serangan Randika.

Namun, pukulan Randika tidak sekeras biasanya. Randika masih miliki hati ketika lawan seorang perempuan, lagipula dia hanya ingin mberikan pelajaran pada pengawal angkuh ini.

"Lain kali, kenali dulu lawanmu sebelum nggonggong." Kata Randika dengan santai, kemudian dia berjalan nuju pintu keluar. Namun pada saat ini, suara dingin terdengar dari arah belakang. "Kamu mang orang yang repotkan."

Randika noleh dan terkejut, bukankah dia perempuan yang dia selamatkan dari para preman itu?

"Adik kecil, aku tidak nyangka perempuan itu bawahanmu." ngingat sifat remaja perempuan satu itu, Randika nggertakan giginya.

Tatapan mata Elizabeth terlihat dingin, adik kecil?

Elizabeth nghembuskan napasnya dan berkata pada Randika dengan nada dingin. "Aku hanya ingin mberikanmu sebuah saran. Tetapi itu, terserah padamu ingin ndengarkannya atau tidak."

lihat wajah serius adik kecil itu, Randika berhenti berjalan. "Apa saranmu?"

"Berhati-hatilah beberapa hari ini." Elizabeth mbantu Nancy untuk berdiri dan lewati Randika. "Aku harap kamu bisa bertahan hidup."

Apa?

Randika benar-benar tidak tahu apa artinya itu. lihat sosok Elizabeth yang nghilang sambil mbawa Nancy, Randika sudah tidak peduli lagi.

Sedangkan untuk sarannya itu, Randika tidak tahu apa artinya. Hidupnya sekarang masih baik-baik saja, mangnya siapa yang berani ngancam nyawanya?

Sedangkan untuk kalimat keduanya, "Aku harap kamu bisa bertahan hidup", benar-benar mbuat Randika sedikit jengkel. mangnya siapa di dunia ini yang bisa mbunuhnya?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 267: Saran Untukmu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.